
Sesampainya dirumah ku, Bram langsung pergi tanpa mengucapkan pamit. Meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan yang sedaritadi hilir mudik di kepala. Melihat perubahannya hari ini, aku lebih baik disuguhkan oleh sifat Bram yang arogan dan keras kepala daripada diam yang membingungkan seperti ini.
Terlalu lelah memikirkannya, aku memilih beranjak untuk masuk kedalam rumah, setidaknya berendam dengan air hangat mampu membunuh pertanyaan pertanyaan sialan dikepala ku.
07.00 PM
Mataku menatap nanar semua buku tugas yang tertumpuk di atas meja. Atensinya seakan memanggilku untuk ikut bergabung dengan mereka sampai tengah malam nanti. Sesaat mulutku berkomat-kamit mengucapkan berbagai sumpah serapah untuk semua guruku, berharap sekelompok manusia yang disebut “pelita bumi” itu tidak hadir ke sekolah untuk satu minggu kedepan. Terlalu menyebalkan saat guru-guruku tidak mengindahkan larangan pemerintah tentang guru yang dilarang memberikan pekerjaan rumah untuk muridnya, mungkin bagi mereka menyiksa murid adalah hal yang menyenangkan.
Beralih dari meja, pandanganku turun kebawah tepat pada kotak nakas yang berisi batu bercat merah didalamnya, benda didalam nakas itu berhasil membawa pikiranku melayang jauh memikirkan kenapa penerror itu tidak memamerkan aksi memuakkannya padaku lagi. Payah jika dia sudah menyerah sebelum sempat menampakkan wajahnya dihadapanku.
Tanganku menarik kotak nakas, mengeluarkan benda yang bersemayam didalamnya dilanjut dengan tatapanku yang beralih sepenuhnya pada batu itu. Tidak ada yang menarik dari batunya, hanya saja orang dibalik semua tragedi yang berkaitan dengan batu ini cukup menarik untuk dijadikan buronan polisi sekarang. Sayang sekali aku tidak mempunyai bukti-bukti kuat untuk membuat para petugas keamanan itu bergerak mencari pelaku.
Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam kepalaku.
Tidak peduli dengan tugas yang melambai-lambai meminta agar cepat diselesaikan, aku segera mengganti bajuku dengan pakaian yang lebih hangat. Beberapa menit terlewati, aku sudah siap dengan hoodie biru dan celana jeans yang membungkus rapi tubuhku, tidak lupa topi bak pengemis yang tergantung mesra dipucuk kepalaku yang akhirnya aku lepas kembali karena dengan tampilan seperti itu aku terlalu terlihat seperti penguntit yang sedang mengejar (penguntitnya). Walaupun sebenarnya memang begitu, aku hanya tidak ingin terlihat mencolok yang akhirnya membuat si penerror merasa sedang berada dalam jebakan dan memutuskan untuk kembali pulang.
Sentuhan terakhir jatuh pada sepasang sepatu snikers lusuh yang sudah lama terdiam disudut kamar. Selesai. Semoga kali ini aku bisa menemukannya.
Aku memilih melewati jalan sepi di dekat rumah, rute ini sudah aku pikirkan matang-matang saat aku mengganti baju tadi, jalan ini lumayan panjang dan menurutku ini cukup untuk menjerat si penerror, aku juga tidak perlu terlalu takut karena tepat diujung jalan ini ada pos polisi yang selalu terbuka dan siap setiap saat, cutter juga sudah terbingkai cantik dalam saku celana ku.
__ADS_1
Sekali lagi aku menghela nafas, sebelum akhirnya aku benar-benar memasuki jalan sepi itu.
Baru beberapa menit aku menyusuri jalan, aku mendengar suara ketukan langkah lain selain sepatuku. Mataku menilik tajam kedepan, mengeratkan pegangaku pada ujung hoodie dan lanjut berjalan.
Selama perjalanan tidak ada hal berbahaya yang terjadi padaku, ‘kita’ hanya berjalan biasa seperti orang asing yang tidak punya riwayat apapun antara satu sama lain. Apa dibelakangku ini memang orang asing (bukan si penerror).
Sejenak aku menghela napas tetapi masih dengan perasaan waspada yang besar. Di sela-sela langkahku, aku sempat menoleh kebelakang, aku melihat rupanya, dia memakai hoodie hitam, memakai topi yang sama seperti topi yang aku lepas kembali dirumah tadi, lagi postur tubuhnya tidak asing bagiku. Meskipun pencahayaan di jalan ini kurang bagus, tapi aku bisa melihat jelas sosoknya yang lebih tinggi dariku.
Dap
Dap
Dap
Semakin cepat aku berjalan, semakin besar langkahnya untuk mengejar langkahku. Tangan dan dahiku mulai menghasilkan keringat dingin yang membuatku semakin panik. Ditambah kakiku yang bergetar karena tidak tahan dengan keadaan, satu satunya harapanku saat ini adalah segera sampai diujung jalan.
Ayo sedikit lagi, bantu aku untuk sampai diujung jalan sana, maka aku akan bangga memilikimu.
Aku sudah tidak kuat lagi, sekeras apapun aku berusaha nyatanya aku tidak kuat jika dihadapi dengan suasana mencekam seperti ini. Aku membalikkan tubuhku membuat orang dibelakangku refleks menghentikan langkahnya. Mataku memicing tajam sebelum akhirnya aku daratkan cutter itu pada sebelah tangannya.
__ADS_1
“Beraninya kau brengsek!”
Cratt
“ARGHH” suaranya tidak asing bagiku...
“VALDI?!” aku melempar cutter itu ke sembarang arah kemudian menghampiri Valdi yang sedang memegangi sebelah tangannya dengan erangan memilukan.
“Neira kau gila?” ucap Valdi disela-sela erangannya. Perlahan darah segar mulai merembes dari balik hoodie tebalnya. Semakin lama semakin deras darah yang keluar membuat sang empu terduduk lemas diatas tanah. “Valdi maafkan aku, ayo bangun aku akan mengobati lukamu,” tanganku menarik sebelah lengan Valdi agar dia segera berdiri. Setelah Valdi berhasil mengambil kesadarannya untuk bangkit lagi, aku memapahnya perlahan menuju rumahku.
“Valdi maafkan aku," seonggok manusia disampingku tidak memberi respon apapun selama perjalanan, membuat pikiranku ketar-ketir diterjang rasa panik karenanya. Lagipula aku tidak sengaja melakukannya, ku harap dia juga mengerti.
“Kau sudah mengatakan itu lima kali ditambah ini jadi enam kali,” suara serak itu mendengung ditelingaku. Aku tau percuma kalau mengucapkan maaf pada Valdi, entah akan berakhir ditinggal pergi atau seperti ini. Keadaannya sekarang membuatnya tidak bisa berjalan sendiri, kalau dia dalam kondisi baik-baik saja, aku yakin dia sudah berada jauh didepanku saat ini, berjalan menjauh dan ujung-ujungnya tidak akan kembali. Menyebalkan.
Valdi adalah orang yang anti menerima kata maaf, bukan berarti hatinya keras. Dia lebih suka jika seseorang mengganti kata itu dengan “aku sadar ini salah” walaupun dalam kalimat itu tidak ada tanda-tanda permintaan maaf, Valdi justru mengerti itu, baginya meminta maaf itu mudah daripada menyadari kesalahan. Banyak orang diluaran sana memakai kata maaf untuk memperbaiki retaknya hubungan tapi pada akhirnya dia mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lagi. Jadi, sadarlah dulu dengan kesalahanmu, pikirkan dan cari cara agar kesalahan itu tidak terulang lagi, lalu meminta maaf lah.
“Apa kita akan terus berdiam disini sampai pagi datang?” aku terperangah, salah tingkah karena Valdi selalu saja menangkap aku yang sedang melamun. Besi yang tersusun tinggi itu berhasil ku dorong, memperlihatkan keadaan luar rumahku pada manusia menyebalkan disampingku ini. Dia tidak banyak bereaksi mengingat bahwa ini bukan pertama kalinya dia menginjakkan kaki dirumahku. Mungkin sedikit terkejut karena ayunan yang biasa mengisi taman rumahku sudah tidak ada.
Sekian menit tidak ada tanda-tanda Valdi akan bertanya kemana perginya ayunan itu, aku kembali memapahnya kedalam rumah. Membantunya melangkah sembari menahan bobot tubuhnya yang melebihi tubuhku. Ya bagaimanapun juga ini salahku. Salahku. Tidak boleh dendam Neira.
__ADS_1
“Kau sudah menjauhi Bram?”