
[mommy: Hai Angel, annaku apa kabar sayang?]
Angel? Siapa Angel?
Ingatanku menjajah ke setiap bagian otak, mencari-cari nama Angel yang ku kenal, tapi tidak ada seorang pun yang ku kenal bernama Angel. Bahkan bagian dari nama panjangku tidak tertulis nama Angel. Apa orang tuaku benar-benar sudah melupakanku? Bahkan untuk menyebut namaku saja salah, miris sekali. Oke untuk saat ini aku tidak peduli dengan semua pikiran buruk yang membuat suasana hatiku makin kacau, aku kembali menarik senyum senang karena mommy membalas pesanku, ini cukup untuk mengobati rinduku, walau sedikit.
[Neira: Hai mom, aku baik-baik saja bagaimana denganmu?]
Aku berusaha untuk membenahi suasana buruk yang tercipta sebelum mommy membalas pesanku, mengelap air mata dan mencoba mengangkat senyum setinggi yang ku bisa, mengatakan pada diriku bahwa semua akan baik-baik saja, mereka akan pulang dan semua kembali seperti dulu lagi. Anganku mengambang jauh memikirkan bagaimana serunya nanti bertukar pesan dengan mommy, apalagi bisa bertukar pesan dengan daddy juga. Aku tersenyum simpul memikirkannya, sembari menunggu balasan dari mommy, aku beranjak menuju dapur untuk membuat coklat panas. Untuk hari ini, aku akan berusaha membuat diriku senang.
"Tumben sekali kau mau membuat coklat panas sendiri," suara khas laki-laki memenuhi pendengaranku sebelum akhirnya ku jatuhkan gelas berisi bubuk coklat favoritku--terjejut. Mataku menatap naas pada gelas yang sudah hancur bersatu dengan bubuk coklat di bawah sana. Segera ku tolehkan kepalaku ke belakang, mencari seonggok makhluk yang sedang berusaha merusak hariku. Valdi lagi! Anak ini benar-benar.
"Kau ini bisa tidak sehari sajj---
"Ada tugas kelompok Neira, kau belum berubah menjadi pemalas sepertiku kan?" Valdi mengambil pecahan gelas di bawah kakiku dan membuangnya, sesaat dia kembali dari membuang sampah ternyata dia juga membawa sapu juga pengki untuk membersihkan pecahan halus dan bubuk coklatnya. Rahangku hampir terjatuh saat melihat apa yang dilakukan Valdi, cara kerja tangannya memang sangat apik sampai aku yang perempuan merasa kalah dengannya, tidak bisa dibiarkan. "Kalau mau meminta maaf ya ucapkan saja jangan sok jadi pahlawan kesiangan seperti ini, kemarikan sapunya biar aku saja," pandangaku bertemu dengan Valdi sebelum aku menemukan senyum kecil terpantri di wajahnya.
"Silahkan tuan putri, niat awal ku membersihkan ini karena untuk mengurangi kerjaan pelayanmu, bukan untuk berpura-pura ingin meminta maafmu, buat apa juga aku meminta maafmu. Ini, jangan lupa di kolong sana masih ada pecahan yang tertinggal." Jelasnya panjang lebar sambil memberikan alat-alat kebersihan padaku. "Cerewet kamu, sudah sana aku mau membersihkan ini!" seruku membuatnya berpindah dari tempat pecahan gelas coklat panasku.
Awal-awal memang aku baik-baik saja mengoperasikan alat-alat ini untuk bekerja membersihkan pecahan gelas, tetapi setelah teringat kalau di kolong meja juga ada pecahan gelas tertinggal tanganku otomatis terjulur ke dalam kolong meja tanpa memperhatikan posisi pecahan gelas yang bagian tajamnya mengarah pada tanganku. Aku berhasil menggapai pecahan itu sebelum akhirnya aku meringis karena merasakan benda tajam menusuk tanganku.
"Aawwhhss---
__ADS_1
Ah sial, ceroboh sekali aku. Perlahan darah mulai keluar menetes menjatuhi lantai, aku menggigit bibir bawahku meredam rasa perih yang menjalar di jariku. Tanganku yang satu lagi kembali mengambil pecahan gelas itu agar darah yang ada di pecahan gelas tidak terlihat oleh Valdi, soal tangan dan lantai aku mudah saja menutupinya. Tapi, sesaat sesudah aku bernafas lega karena berhasil memasukkan pecahan gelas itu ke plastik sampah, suara Valdi mengejutkan lagi.
"Tangan kiri sudah terluka, masih saja mencoba mengambil pecahan gelas dengan tangan kanan, kau sedang mencoba melukai diri sendiri?" mataku membulat bersamaan dengan telinga dan pipi memerah-malu. Rupanya Valdi masih berada disana memperhatikan kerjaku. Dehamannya menyadarkanku beberapa saat, sebelum akhirnya aku menetralkan diri membalas pertanyaannya. "Tidak bisakah kau menyingkir dariku barang sehari saja?! Bukankah kau sudah paham dimana seharusnya tempatmu sebagai tamu, TUAN VALDI?" keringat membanjiri pelipisku tatkala amarah terus meningkat dan memuncak tepat sampai di ubun-ubun kepala, bagus sekali dia memancing emosi saat tamuku yang lain sedang datang.
"Kemarikan tanganmu." Tubuhku limbung saat dia berhasil menarik kedua tanganku, tanpa aba-aba apapun dia segera menghisap jariku yang terluka membuatku memekik saat merasakan lidahnya menyapu permukaan jariku. Menggelikan. Mendapat perlakuan seperti itu, refleks tanganku tertarik menjauhi mulutnya, liur yang bercampur dengan darah menjadi pemandangan indah saat jariku berhasil keluar dari rongga mulutnya. "Apa tidak ada cara lain untuk membersihakn lukaku selain dengan menumpahkan semua liurmu di jariku?!"
Ting tong
"Bram sudah datang," Valdi menatap lurus kedepan tepat di pintu utama rumahku, air mukanya berubah drastis setelah mendengar bunyi bel berdengung kencang memenuhi ruangan. "Bagaimana bisa dia ada disini?" tanyaku tak kalah kesal dengan Valdi, hanya itu pertanyaan yang bisa ku lontarkan dari sekian banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di otakku.
"Dia satu kelompok belajar dengan kita, apa kau tidak dengar saat guru membagikan kelompok kerja?" jawabannya menguar di udara bersamaan dengan langkahnya yang menjauh. Sejak kapan ada pembagian kelompok belajar? Apa separah itu efek melamunku sehingga untuk mendengar saja terasa abu untuk runguku.
Satu jam berlalu, dan tidak ada tanda-tanda akan terjadinya masalah dengan kerja kelompok hari ini. Semua berjalan sesuai semestinya, ku lihat juga Valdi dan Bram tidak banyak cekcok seperti di sekolah tadi, aku menghela nafas lega untuk itu. Biar bagaimanapun aku tidak boleh mengambil pikiran negatif terlalu dalam untuk Bram, dia hanya anak baru yang tidak tau apa-apa tentangku, walau aku sempat berpikir bagaimana bisa Bram sampai di rumahku sedangkan melihat Valdi dan Bram seperti singa dan harimau seperti ini, mustahil rasanya Valdi mau bertukar pesan dengan Bram walaupun hanya untuk memberikan alamatku.
Lagi-lagi aku membuang pikiran negatifku, mecari jawaban logis untuk membunuh pikiran negatifku agar tidak meraung-raung semakin menjadi. Meyakinkan diriku bahwa Bram hanya orang asing yang akan hadir mengisi hari sekolahmu sampai akhir tahun pelajaran nanti, selebihnya dari itu aku bisa menghindari Bram agar kita tidak berada dalam lingkup ruang yang sama. Itu cukup mudah ku jalankan mengingat tahun ini adalah tahun terakhir aku berada di sekolahku jadi itu tidak terlalu bermasalah untuk ketenangan jiwaku. Monolog ku berakhir setelah merasa kantung kemihku mulai penuh melesak ingin di keluarkan.
"Aku izin ke toilet sebentar." Tanpa menanti jawaban mereka, aku mulai beranjak berlari kecil menuju toilet di ujung sana. Sekian menit aku berada di dalam ruangan sempit itu sampai akhirnya ku putuskan untuk keluar setelah merasa sudah tidak ada lagi zat yang perlu ku buang.
Sesampainya di ruang tamu, aku melihat mereka masih sibuk dengan tugas-tugasnya. Belum sempat aku menyelesaikan tugasku, suara Valdi membuatku menatapnya heran. "Ku rasa kerja kelompok hari ini sudah cukup, dilihat juga hanya beberapa paragraf yang belum di selesaikan, itu bisa kau kerjakan dan di kirim ke email ku kan Nei?" tanyanya padaku yang hanya ku balas dengan anggukan aku masih belum mencerna betul-betul apa yang terjadi, sebelum aku pergi ke toilet ku rasa keadaan tidak setegang sekarang, mengapa perubahannya jatuh cepat sekali. "Kalau begitu aku pamit, terimakasih suguhannya Nei jangan lupa kirim tugasmu tadi ke email ku," ku lihat Valdi seperti sedang mengejar sesuatu penting yang tidak bisa di sikapi dengan tenang, terbukti dari caranya memasukkan buku-buku ke dalam tas nya dan langsung lari keluar rumahku begitu saja.
Kini hanya ada aku dan Bram di ruangan ini, canggung? Itu pasti. Ingin aku bertanya kenapa dia tidak ikut pulang tapi gengsiku terlalu mendominasi saat ini. "Ekhmm" dehaman Bram membuatku menatapnya, menanti kata apa yang akan keluar dari kedua ceruk bibir Bram.
__ADS_1
"Hari ini kau jadi milikku"ucapnya telak dengan menekankan semua suku kata dari ucapannya. Hari ini, apa mungkin otak ku bekerja lebih lambat dari biasanya atau memang semua ini terjadi secara tiba-tiba padaku. Aku masih sulit untuk memahami semua yang terjadi pada diriku.
"Aku tidak menerima penolakan darimu, jika itu terjadi maka akan ku sebar berita tentang ayahmu. Seorang Nara Pidana yang sekarang menjadi pengacara sukses dengan cara kotornya." Jantungku berpacu cepat mendengar penuturan yang baru saja terlontar dari mulut Bram. Nafasku tercekat di tenggorokan, bagaimana bisa dia tau pekerjaan daddy? Terlalu banyak pertanyaan "Bagaimana" dariku untuk Bram yang sampai aku pun tidak bisa menghitung jumlah pertanyaanku untuknya.
"Bram? B-ba-bagaimana bisa?" tanyaku akhirnya.
"Bagaimana bisa aku tau tentang itu? Mudah saja bagiku, mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk aku memberitahumu yang sebenarnya, kau pikir pertemuan kita saat itu adalah sebuah ketidak sengajaan? Dan karena kau tidak memunculkan tanda-tanda ingin menolakku, maka untuk saat ini status ayahmu masih aman ku simpan dalam otakku, tapi penyebaran tentang status ayahmu berlaku kapan saja termasuk saat di tengah masa berpacaran kita nanti kau mecoba memutuskan hubungan kita. Aku pamit, jaga dirimu sayang," Usapan kecil menyapa puncak kepalaku sebelum Bram benar-benar pergi meninggalkan rumahku. Mataku memanas disusul dengan likuid bening yang melapisi netraku, aku mendongakkan kepalaku berusaha menahan air mata itu agar tidak keluar dari kelopak mata. Tidak, aku tidak akan menangis lagi, cukup. Janjiku hari ini adalah untuk membuat diriku senang, mengapa sulit sekali untuk mewujudkannya.
Aku berlari cepat menuju kamarku, mengabaikan kakiku yang beberapa kali terantuk ujung tangga. Setelah membuka pintu kamar aku segera menenggelamkan kepalaku pada bantal, akhirnya aku menumpahkan cairan sialan itu lagi. Ku rasa sekarang hobiku sudah berganti menjadi menangis, aku benci diriku yang sekarang, terlalu lemah dan rapuh. Membuat diriku mudah di hancurkan hanya dengan melontarkan masa laluku.
Aku tidak pernah membayangkan pacaran pertamaku dengan orang seperti Bram. Membayangkan bahwa itu terjadi karena sebuah paksaan untuk menyelamatkan nasibku di hari kemudian. Tidak ada kata yang lebih indah untukku kali ini selain menyedihkan. Aku menghadapi semua yang kualami sendiri, tanpa ada seorangpun yang berniat membantuku keluar dari jurang yang mengukung hidupku selama ini.
Sejak hari itu, aku merubah diriku yang tadinya tertutup menjadi lebih terbuka dan mudah bergaul, alasannya karena saat itu daddy terjerat kasus narkoba yang membuatnya menerima hukuman penjara selama dua tahun. Beruntungnya tidak ada siaran atau berita mengenai penangkapan daddy, karena daddy bukan orang terpandang di negaraku. Aku merubah diriku agar teman-temanku tidak menaruh curiga yang berlebih karena pada jamannya murid di sekolahku selalu membanggakan pekerjaan ayahnya dan hanya aku murid yang tidak pernah membicarakan tentang pekerjaan orang tuaku dan juga aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan, ku rasa mencari teman adalah ide bagus untuk melupakan kesedihanku.
Aku memulai sifat baruku dengan mendekati dua orang teman dan mulai bercerita tentang apapun selain tentang pekerjaan orang tua, semakin lama temanku bertambah banyak dan aku semakin terbuka tentang diriku tapi aku masih memakai batasan untuk itu. Aku mulai mengenal shopping, hangout, dan menurutku itu tidak terlalu buruk demi membuat temanku nyaman denganku. Setelah temanku cukup banyak, daddy sudah terbebas dari hukumannya, tiga bulan setelah itu, entah apa yang terjadi sehingga daddy menjadi pengacara terkenal dalam waktu sesingkat itu. Teman-temanku yang mendengar bahwa ternyata aku anak dari seorang pengacara sukses semakin mendekatiku dan malah sering mengajakku keluar untuk sekedar membeli make up keluaran terbaru, dan tentunya itu memakai uangku. Saat aku tau ternyata mereka memanfaatkan aku untuk mendapat uangku, aku mulai menjauhi mereka dan semakin lama aku kembali menjadi Neira yang tertutup lagi.
Satu tahun setelahnya, daddy memutuskan untuk bekerja di luar negri di susul dengan mommy yang ingin ikut dengan daddy ke luar negri. Padahal sehari sebelum keputusan itu di buat mereka bertengkar hebat sampai memikirkan perceraian, aku berusaha keras untuk menahan mereka agar tidak pergi, tapi semakin aku melarang semakin banyak pula alasan mereka agar tetap pergi. Awalnya aku di rawat oleh tanteku, tapi karena tante sudah bercerai dengan om ku jadilah aku tinggal bersama pelayan-pelayanku, sebelum kepergiannya tante banyak mengajarkan hal tentang pekerjaan rumah padaku, jadi untuk hal itu aku masih bisa mengurus diriku sendiri.
Berakhir hingga sekarang, hingga tidak ada seorang pun yang dapat ku andalkan dengan pasti. Bahkan untuk orang tuaku sendiri, aku tidak tau keberadaannya dimana. Jujur saja aku lelah dengan semua ini, dulu Valdi pernah mengingatkanku pada Tuhan di sela sesi bermain kami. Katanya,,,
Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuanmu.
__ADS_1