Bad Reality

Bad Reality
-Duapuluh-


__ADS_3

Detik terus berganti menjadi hitungan jam yang merubah langit pagi sampai menjadi seterik ini. Tepat sekitar 20 menit yang lalu, aku sudah menginjakkan kaki dirumah Bram untuk pertama kalinya. Kesan pertama aku melihat rumah Bram adalah rumah ini mewah sekali tapi mengapa Bram terlihat seperti….. “Selama ini aku tinggal di apartemen, tidak mungkin aku tinggal dirumah ini seorang diri.” Penjelasannya membuat mataku terbelalak sempurna, bagaimana bisa dia bicara seperti itu tepat saat batinku menanyakan hal yang sama, tidak salah lagi Bram pasti punya kemampuan membaca pikiran seseorang.


Tidak mungkin tinggal seorang diri dirumah seluas ini katanya? Lalu bagaimana denganku? Apa keadaanku ada bedanya dengan Bram sekarang? Ya walaupun aku masih ditemani beberapa pelayan, ku yakin Bram juga akan menyewa beberapa pelayan untuk membantunya menjalankan kegiatan sehari-hari. Memang dasarnya dia saja yang lemah.


Aku menyusuri setiap inci ruang tamu milik Bram, melihat-lihat foto masa kecil Bram dan piala-piala yang berjajar rapi disampingnya. Sesekali aku tertawa melihat ekspresi datar Bram dalam foto keluarganya, tidak jarang aku berdecak kagum melihat semua piala bergelar “First Win” yang dibawahnya tertera nama Bram. Ternyata dia hebat juga.


Sama dengan ukuran rumahnya, ruang tamu Bram besar dan rapih, sayang sekali ruangan ini cukup berdebu karena belum pernah tersentuh alat kebersihan lagi setelah sekian lamanya. Tema yang dipasang pada ruang tamu ini bernuansa hitam dan merah membuat siapapun yang lihat ruang tamu ini berpikir bahwa si tuan rumah memiliki tipe pendiam dan tegas. 


Tersadar bahwa sedaritadi aku seorang diri di ruangan besar ini membuat langkahku berbalik mencari keberadaan Bram, aku memasuki setiap ruangan yang ada sembari memanggil nama Bram. Mobilnya masih terpakir apik di bagasi, tidak mungkin dia kabur tanpa membawa kendaraannya sedangkan rumah ini berada di antara hutan rimbun dan gelap.


“Bramm!”


Merasa bahwa Bram pasti masih ada dirumah ini entah apa yang dia lakukan pasti dia akan kembali dan membawaku pulang. Selama itu aku mengelilingi rumah Bram sembari melihat-lihat.


Beberapa langkah aku berjalan dari tempat asal, aku menemukan setumpuk batu di pinggir kolam renang. Jantungku berpacu cepat ketika melihat batu itu. Batu itu sama persis dengan semua batu yang datang menerrorku termasuk batu bercat merah. Oh Tuhan apalagi ini.


“Kau sedang apa disana?”

__ADS_1


Aku menoleh memperhatikan Bram dari ujung kaki sampai ujung kepala. Entah apa maksudku melakukan itu, tapi dengan aku memperhatikannya aku bisa menangkap sebuah benda yang sedang berada dalam genggamannya.


Cat merah


Aku merasa seperti kepalaku baru saja terhantam batu besar yang membuatku pusing. Batu itu, cat merah.  Apa aku sedang dijebak seseorang, mengapa teka-teki ini sangat sulit dipecahkan.


“Untuk apa cat merah itu?”


Seketika aku bisa melihat perubahan raut wajah Bram, dia terlihat seperti maling yang baru saja tertangkap basah. Tiba-tiba kaleng cat itu dipindahkannya kebelakang agar aku tidak melihat lebih jelas. Matanya berpendar ke segala arah mencari-cari alasan yang tepat untuk mengelabuiku. “Isi dari kaleng ini bukan cat merah Neira, lebih baik kita pulang sekarang.”


Perasaanku tidak enak, setiap netraku bertemu dengan manik kembar milik Bram kutemukan banyak hal yang dia sembunyikan dariku. Aku tidak mengharapkan hubuganku berjalan romantis dan terbuka satu sama lain seperi pasangan pada umumnya. Tapi setidaknya, Bram bisa menjadikan aku tempat untuk membagi keluh kesah yang dia terima di luar sana.


“Langsung istirahat ya, aku pulang.” Sebuah tangan menyapa permukaan kepalaku, mengusapnya lembut dengan panuh kasih sayang. “Oke, hati-hati.” Kuangkat kedua sudut bibirku tinggi-tinggi, meyakinkan Bram bahwa aku akan segera melakukan perintahnya.


Sebenarnya aku bingung perasaan apa yang bisa kujelaskan tentang hubunganku dengan Bram, rasa ini terlalu abu-abu untuk ku tampakkan jelas menjadi kata-kata. Dari sekian banyak cerita yang kuungkapkan disini, kurasa Bram seperti pasangan kekasih pada umumnya. Dia baik, selalu berhasil membuatku nyaman berada didekatnya, dia juga pandai mencairkan suasana itu yang menyebabkan aku tidak pernah bosan dengannya.


Tapi satu hal yang membuatku dilemma, Bram masih belum bisa terbuka denganku. Sudah banyak hal ku ceritakan pada Bram, dari mulai cerita tidak penting, sampai tentang orang tuaku yang tidak ada kabar. itu semua kulakukan agar Bram terpancing untuk bercerita juga, bukan karena aku ingin tau atau ingin mencampuri urusannya. Manik kembar milik Bram selalu memancarkan aura kesedihan yang mendalam, untuk hal ini Bram tidak pandai menyangkalnya, sehebat apapun dia menutupinya, kesedihan itu tetap terbaca olehku.

__ADS_1


Bram seakan-akan membangun sekat untuk membatasi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Aku hanya ingin dia membagi bebannya padaku. Aku tidak suka melihat dia tersenyum sedangkan bola matanya memancarkan kesedihan yang sangat jelas. Tidak adil bagiku yang selalu dibuat senang sedangkan aku tidak bisa menghilangkan keredupan dimatanya.


Bukkk


“aahhwsss”


Sebuah benda berhasil membuat tubuhku limbung kebawah. Mataku memejam erat kala merasakan denyutan hebat diarea bokongku. Mengalihkan rasa sakit yang mengujam, mataku memicing ketika melihat batu bercat merah itu tepat disebelah kananku.


Hari ini entah kenapa fokusku tidak stabil seperti biasanya, ditambah dengan adegan jatuh ini membuatku menghabiskan waktu untuk berpikir bagaimana bisa batu ini sampai kebawah.


Dengan keadaan yang masih terduduk dihalaman rumah, mataku berpendar untuk berpikir dan mencari segala keanehan. Yass! Kenapa pintu jendela kamarku terbuka.


Tidak peduli dengan rasa sakit, aku bangkit dan bergegas menuju kamarku, tapi bau makanan gosong yang menguar dari dapur membuat langkahku berbelok menuju tempat penghasil lauk makanku itu.


Saat sampai di dapur, ada makanan yang mulai berubah warna dan menghasilkan bau tidak sedap.


‘kemana bibi, tidak biasanya dia lalai dalam memasak’ ujarku dalam hati

__ADS_1


Saat aku ingin berbalik, ada sesuatu yang membuat seluruh persendianku melemas, membuat bendungan air mataku tumpah ruah tak kenal batasan.


“BIBII!!”


__ADS_2