Bad Reality

Bad Reality
-Enam belas-


__ADS_3

Hari mulai meredup, lampu-lampu jalan bersinar melengkapi malam menyenangkan kami. Aku dibawa ke salah satu tempat hiburan oleh Bram, kami sudah menaiki banyak wahana termasuk beberapa wahana pemicu andrenalin. Aku menemukan beberapa fakta tentang Bram di tempat ini, Bram tidak menyukai wahana pemicu andrenalin, Bram sangat menyukai sesuatu yang kecil dan lucu itu cukup menggelikan ketika Bram rela mengantre panjang hanya untuk mendapatkan gantungan kunci berkarakter pisang, lagi Bram ternyata takut memasuki wahana rumah hantu, walaupun dia tidak menunjukkan rasa takutnya tapi aku sudah bisa menilai dari caranya bersikeras menolak untuk masuk ke dalam wahana itu. Ini sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang tegas dan sangar, aku terus terkikik geli memikirkan hal itu.


“Apakah hari ini menyenangkan?" suara Bram membuatku menoleh seketika, terkadang aku masih tidak percaya bisa menjadi kekasih Bram, selalu ada rasa marah, sedih, senang, dan bahagia secara bersamaan ketika aku berada di dekat Bram. Jujur, Bram bukan tipe idealku, ingin sekali aku menolaknya saat itu, tapi apalah dayaku yang mempunyai nyali mudah ciut hanya dengan pelototannya.


“Hei kamu melamun terus ada apa? Sebelum pulang aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat, tidak keberatan kan?” Bram kembali bertanya. Aku memikirkan pertanyaannya beberapa saat sebelum akhirnya menjawab “Tentu, tidak masalah.” Jawabku disertai senyum yang membuat Bram ikut tersenyum melihat itu.


Sekitar setengah jam aku menempuh perjalanan. Semakin malam hari semakin dingin cuacanya, tapi itu tidak terasa bagi kami karena Bram pandai dalam mencairkan suasana. Selama perjalan aku dan Bram sibuk bernyanyi, bercerita, berfoto bersama dan hal lain yang menyenangkan.


Saat mobil berhenti, aku segera membuka pintu untuk melihat seperti apa tempat yang Bram maksudkan. Indah sekali. Mobil Bram berhenti tepat di sebuah pembatas jalan layang, terdengar sederhana memang, tapi ini bukan seperti pembatas jalan layang biasanya. Jalan Layang ini berada di sudut kota, membuat siapapun yang berada disini akan merasa seperti hadir dalam dua dunia yang berbeda Di sebelah kanan terdapat pemandangan hiruk-pikuk kota dengan gedung-gedung tingginya, sedangkan disebelah kiri terdapat pemandangan hutan lebat dan rimbun yang gelap gulita. Perbedaan yang sangat jelas disini justru membuatku senang dan terkesan.


“Neira ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Apa itu? katakan saja.”


“Jika nanti ada seseorang yang berhasil membuatmu jatuh cinta, lalu setelahnya orang itu membuatmu kecewa sampai kamu membencinya, apa kamu masih mau bertemu dengannya?”

__ADS_1


“Aku tidak pernah bisa membenci seseorang sampai sedalam itu.”


“Bahkan jika orang itu membuat kesalahan fatal dalam hidupmu?” Bram masih bersikeras menanti jawaban. Seketika suasana menjadi canggung, pertanyaan terakhirnya membuatku terdiam berpikir keras, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu sedangkan aku yang menjalankan hidupku tidak bisa berpikir sampai sejauh itu. Bram sungguh membingungkan.


“Bram mengapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?” aku kembali menjawab setelah beberapa menit kami mengarungi suasana dengan keheningan. Sesaat aku menangkap cairan bening yang tiba-tiba melapisi sepasang bola mata pekat itu. “Bram apa maksud dari semua pertanyaanmu?” langkahku berjalan mendekati tubuh Bram yang berdiri tegak didepan.


Hari ini aku tidak melihat sosok Bram yang biasanya, sempat aku berpikir bahwa Bram masih sakit jadi pikirannya tidak stabil untuk dibawa berkomunikasi. Hari ini Bram terlihat lebih ceria dari biasanya, pertama kalinya aku melihat Bram tertawa lepas tanpa hambatan apapun. Bram benar, secara tidak langsung dia telah menunjukkan sisi rapuhnya padaku.


Aku bisa melihatnya, aku bisa melihat banyak sesuatu yang disembunyikan dibalik mata htiam pekatnya. Aku bisa melihat jelas kesedihan yang terpancar jelas tepat setelah tawa lepasnya. Masalah apapun yang terjadi padanya, ku harap itu akan berakhir baik dan tidak merugikan siapapun.


“Bram apa yang kau lakk—


“Neira aku mencintaimu, maafkan aku, aku mengaku kalah.”


Lengan Bram semakin erat merengkuh pinggangku, membiarkan nafasku yang sudah tercekat semakin tercekat karena ucapannya. Perlahan aku merasakan lengan bajuku basah diikuti sesenggukan yang membuatku menoleh mengamati sang lawan bicara.

__ADS_1


Untuk saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untukku menuntut penjelasan darinya. Karena sepertinya Bram juga tidak paham betul tentang apa yang terjadi. Melihat malam yang semakin larut aku membawa tubuhnya mendekati mobil, menyenderkan tengkuknya pada jok mobil dan membiarkan dia istirahat bersama pikirannya.


Setelah mendapat persetujuan untuk mengendarai mobil Bram, aku membawa mobil itu perlahan membelah jalanan kota di malam hari. Suasana yang tidak aku suka kembali terjadi, berada di antara lingkup kecanggungan yang membosankan, ingin keluar tapi masih ada sesuatu yang harus diselesaikan.


“Neira. Kau tau kesalahan terbesarku saat ini?” Bram kembali membuka percakapan yang membuatku lagi-lagi harus menjawab pertanyaannya.


“Tidak, apa itu?”


“Kesalahan terbesarku saat ini adalah mencintaimu.” Bram menoleh menatapku miris sambil tersenyum kecil. Setelahnya dia kembali menatap keluar jendela menunggu giliranku untuk berbicara.


“Mengapa?”


“Ini terjadi terlalu cepat di luar dugaanku—


Terlalu cepat sampai aku tidak tega untuk menjatuhkanmu lebih dalam.”

__ADS_1


__ADS_2