Bad Reality

Bad Reality
-Tujuh-


__ADS_3

Dimana-mana yang namanya sakit itu pasti tidak enak. Sakit membuat kita sulit untuk melakukan sesuatu, sulit untuk berfikir jernih karena fokus kita pada saat itu hanya untuk meredam dan menahan rasa sakit yang menyerang. Selain itu, orang yang sedang sakit pasti merepotkan karena tentu saja dia tidak bisa merawat dirinya saat kondisinya sedang tidak stabil, setidaknya ada satu orang yang bisa memantau proses kesembuhannya. Sebagai manusia normal tentu saja aku benci kalau aku terserang penyakit walaupun hanya flu, itu sangat merepotkan. Dan anehnya lagi, banyak orang di luar sana malah menginginkan sakit menyerang dirinya, dimana pikiran mereka.


Dan pagi ini, tubuhku sedang di serang hal merepotkan itu. Seluruh persendian ku terasa ngilu dan kepalaku pusing sekali. Padahal aku rasa, aku hanya mengalami syok yang membuat aku pingsan pada akhirnya. Tapi kenapa pagi ini sakit yang ku rasakan tidak sinkron dengan kejadian yang kulalui semalam, harusnya pagi ini aku sudah merasa lebih baik setelah makan dan langsung di perbolehkan pulang. Mungkin memang tubuhku saja yang lemah.


Melihat kondisiku yang tidak memungkinkan untuk mengikuti pelajaran, aku kembali izin pada sekolah untuk hari ini. Dan sekarang aku disini, di rumah sakit bersama seseorang yang setia menemaniku, ya siapa lagi kalau bukan Valdi. Katanya dia yang membawaku kesini malam tadi, aku sempat bertanya apa ada seseorang yang dia lihat di kamarku dan hanya gelengan pelan yang kudapatkan sebagai jawabannya.


Dari raut wajahnya saja aku bisa membaca kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu, ingin sekali aku mencecar dia untuk berbicara yang sebenarnya. Tapi dengan kondisi lemah seperti ini tidak mungkin aku bisa berdebat panjang dengannya, bukannya mendapat informasi sebenarnya, malah nanti sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi.


"Kau tidak ke sekolah?" Valdi mengalihkan pandangan ke arahku, tatapannya teduh tapi aku tidak bisa menyelam lebih dalam ke dalam netranya, bola mata kembar itu terlalu pekat seolah menyimpan banyak kenangan kelam di dalamnya. Aku yakin pasti ada kenangan kelam yang terjadi di hidupnya tapi aku tidak akan memaksanya untuk bercerita. Sebagai sahabat aku tau apa yang harus kulakukan, memaksa adalah satu hal yang kurang tepat dalam persahabatan, sebagai gantinya aku akan datang dan selalu menyediakan bahu ku untuknya, walaupun dia tidak akan menceritakannya setidaknya aku ada untuk menenangkan jiwanya. "Aku akan pergi sebentar lagi," jawabnya masih menatapku.


"Lima belas menit lagi gerbang di tutup, apakah bisa kau masuk dengan tenang jika di waktu sempit ini kau masih bisa berkata sebentar lagi?" sentak ku, dan tanpa di sadari aku telah berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Aku harap dia tidak salah paham, maafkan aku. Aku hanya khawatir dia terlambat mengingat jarak dari rumah sakit ini dan sekolah yang terbilang cukup jauh. "Kau mengusirku?" tanyanya dengan nada kesal.


"sebelumnya maafkan aku karena sudah membentakmu tadi, tapi jujur aku khawatir kau akan terlambat, saranku apa tidak sebaiknya kau berangkat sekarang? Dan aku sama sekali tidak berniat untuk mengusirmu Valdi sungguh," aku memandangnya penuh permohonan, berharap dia akan mengerti maksud ucapanku, tapi setelah apa yang terjadi sepertinya dia tidak memahami ucapanku. Sebelum pintu kamar rawatku di banting cukup keras, Valdi memandangku dengan tatapan dingin dan langsung melangkah keluar tanpa mengucapkan apapun lagi.


~


Beberapa jam berlalu, matahari yang tadinya tepat di atas kepala mulai turun untuk mengistirahatkan tubuhnya. Harusnya sekarang Valdi sudah duduk menemaniku disini karena waktu pulang sekolah sudah berlalu sekitar setengah jam yang lalu, tapi kenyataannya aku masih mendekam di ruangan ini seorang diri, bosan sekali. Tidak ada pikiran lain selain mengira kalau sahabatku itu sedang menjauhiku karena kesalah pahaman tadi pagi.

__ADS_1


Aku benci ketika sifat kekanakan itu kembali pada diri Valdi, dia akan berlaku semaunya, tidak mau mengerti orang lain tapi dirinya sendiri harus di mengerti, memuakkan. Dan disaat seperti itu, aku yang harus turun tangan membunuh sifat kekanakannya.


Neira


Di, kau tidak kesini untuk menemaniku?


Valdi


Nanti


Neira


Valdi


Aku tidak pernah marah padamu Neira


Aku akan segera kesana setelah menyelasaikan remedial ku

__ADS_1


Neira


Baiklah


Suara denting sepasang sumpit besi yang menyenggol mangkuk telah mengisi hening ruangan sejak beberapa menit lalu. Sosok pria tampan dengan setelan seragam yang sudah berantakan tengah menikmati makan siangnya, ia tak peduli dengan tatapan gadis yang ada di depannya.


Valdi makan dengan begitu lahap sampai membuatku menyemburkan napas dan merasa iba. Dia menghabiskan makanannya dengan terburu dan rakus seakan telah melewatkan kebutuhan pangannya sejak berhari-hari. "Selapar itu?" tadi Valdi datang kesini tentu tidak dengan tangan kosong, ia membawa rantang berisi makan siang yang dibuatkan ibu nya. Sebenarnya itu di buatkan untukku, tapi setelah melihat Valdi yang tidak melepaskan tatapannya pada isi rantang itu, aku jadi memberikan kembali rantang itu padanya lagipula aku sudah menerima jatah makan siang dari rumah sakit. "Tentu saja, aku melewatkan sarapanku pagi tadi dan saat istirahat aku menjalankan hukumanku karena telat," jawabnya acuh.


"Untung aku suruh buru-buru tadi ke sekolahnya, kalau tidak pasti udah dapat hukuman yang lebih berat." Valdi menatapku dengan wajah masamnya. Satu lagi sifat buruknya adalah keras kepala, baginya semua keputusan ada di tangannya, dan saat dia sudah memutuskan, keputusan itu harus di setujui semua pihak, aku tau keputusan dia untuk 'sebentar lagi berangkatnya' pada pagi tadi itu adalah keputusan mutlak, mungkin karena aku sakit akhirnya dia menuruti kemauan ku, ya walaupun harus membanting pintu dan menunjukkan tampang dinginnya.


"Ya terserah kau saja lah," jawabnya pasrah sembari membersekan bekas makan siangnya. Banyak pertanyaan bersarang di otak ku, mulai dari kejadian semalam yang ku yakin Valdi tahu sesuatu tentang kejadian itu, dan tentang perubahan mood nya sejak tadi pagi. "Kau baik-baik saja?" tanyaku memastikan.


"Tentu saja, bahkan hal itu tidak perlu di tanyakan Nei," dia terkekeh menatapku, tangannya masih sibuk dengan alat makan sampai akhirnya suara dering dari handphonenya lah yang bisa membuat tangan itu teralihkan. Alisnya berkerut dalam saat membaca pesan yang baru saja dia terima. "Ada apa?" dia tetap fokus pada benda pipih yang ada di genggamannya saat aku bertanya. Perlahan kerutan di dahinya memudar tergantikan oleh tatapan tajam yang bahkan aku pun jarang melihat tatapan itu.


"Aku harus pergi, kalau ada sesuatu hubungi aku," belum sempat aku bertanya balik, sosoknya sudah hilang di balik pintu, apa yang terjadi dengan anak itu?


Aku mulai mengkaitkan hal ini dengan kejadian tadi pagi dan semalam, sebelum aku pingsan malam itu Valdi datang ke kamarku, tidak mungkin dia tidak melihat sosok lain selain diriku di ranjang, pasti orang asing yang berhasil menembus jendela kamarku masih disana. Dan pagi tadi saat aku bertanya apakah ada orang lain di kamarku, dia hanya menjawab dengan gelengan kepala serta raut wajah yang tidak seperti biasa.

__ADS_1


"Tolong ikuti mobil Valdi dan perhatikan gerak-geriknya"


__ADS_2