
Paket itu berisi sebuah boneka lusuh yang sudah ditusuk-tusuk dan di beri pewarna merah ditubuhnya, di dalam paket itu juga ada setangkai Bunga Matahari dan sisanya diisi dengan batu-batu yang membuat paket ini berat.
Siapa yang melakukan ini?
Tanganku masih setia membongkar isi paket yang ada di pangkuanku, mencoba mencari kertas berisi pesan atau apapun itu yang menunjukkan identitas si pengirim. Satu persatu batu mulai ku keluarkan dari kardus dan setelah semuanya terkumpul rapi di lantai ternyata tidak ada kertas atau benda apapun yang menunjukkan identitas pengirim. Aku kembali menatap boneka yang tergeletak di kasur ku, menyeramkan memang tapi itu tidak membuatku syok yang berlebihan.
Ku raih boneka itu dan mengangkatnya, tidak ada yang aneh, boneka ini terlihat seperti boneka baru beli dan sepertinya habis di lumuri sesuatu agar boneka ini terlihat lusuh dan menyeramkan tapi nyatanya itu tidak menyeramkan bagiku, karena warna merah di tengah tubuhnya berasal dari cat air yang sudah mengering di tubuh boneka itu, cih tidak kreatif. Kalau aku yang menerror pasti sudah ku berikan boneka asli yang ku pungut dari rumah kosong.
Aku masih penasaran dengan boneka yang ada di genggamanku, setelah sekian lama meraba-raba aku merasakan ada sebuah benda di dalam tubuh boneka ini. Tanganku langsung mengoyak boneka itu menggali terus menerus dengan ritme cepat, deskripsinya terlalu berlebihan mengingat boneka itu yang ukurannya kecil tapi benda yang ada di tubuh boneka itu juga sepertinya kecil, terbukti sudah beberapa menit waktu ku habiskan banyak untuk mengoyak tubuh boneka dan benda itu tidak kunjung ku temukan.
Setelah melewati penantian panjang akhirnya aku menemukan sebuah silet di dalam tubuh boneka, hanya sebilah silet yang berwarna merah pekat. Warna merah ini ku rasa bukan warna asli dari silet, ini seperti warna darah, silet ini juga berbau amis.
Ternyata noda merah ini darah sungguhan.
~
"Non mau kemana malam-malam begini?"
"Mau beli camilan di minimarket depan sana."
"Biar Pa Yadi yang antar ya non?"
"Tidak usah."
Langkahku berjalan ringan di atas aspal komplek rumahku, sengaja aku memperlambat jalan agar aku bisa menghirup udara malam lebih banyak. Ingin rasanya aku mengambil jalan lain yang membuatku lebih lama sampai di minimarket agar aku bisa berlama-lama dengan udara malam yang menyejukkan, sayangnya minimarket sudah berada tepat di depanku.
Aku melewati beberapa lorong tempat makanan ringan, tadi memang benar kalau aku untuk membeli makanan ringan, tapi itu kan tadi, kalau sekarang beda lagi.
Aku berhenti di sebuah tempat alat-alat seperti perkakas dan semacamnya. Benda yang kucari sekarang berada di genggamanku, tanpa sadar aku menyunggingkan sebelah ujung bibirku karena memikirkan sebuah rencana untuk menjebak si penerror. Mungkin dia berpikir kalau aku adalah gadis lugu yang hanya bisa menangis saat mendapat serangan seperti ini. Tapi nyatanya, aku menyimpan banyak rencana untuk hal-hal membahayakan yang terjadi padaku, termasuk terror ini.
Agar tidak membuat pelayanku curiga, aku mengambil beberapa Snack, minuman, dan juga coklat untuk mengisi kantong belanjaanku. Setelah memasuki semua itu ke dalam keranjang belanjaan, aku mendekati kasir untuk membayar belanjaanku.
__ADS_1
Awalnya sang kasir curiga, karena cutter yang ingin ku beli di keluarkan dari saku jaket ku. Tapi dia pandai memainkan raut wajahnya sehingga tampak normal kembali.
Aku hanya jaga-jaga kalau penerror itu mengikutiku. Makanya, aku sembunyikan cutter ini di dalam saku jaket.
Tapi, satu hal yang tak kusadari, dia sudah melihat semua pergerakan ku selama di minimarket.
~
Kriiinnggg
"Eungh"
05.45 AM
Mataku membulat setelah melihat angka yang tertera dalam jam kamarku. Telat sudah. Seharusnya aku segera bangun tapi karena aku terlalu cinta dengan kasur dan kawan kawannya jadi ku biarkan mereka memelukku sampai 15 menit kedepan. Sudah telat juga, mau buru-buru juga tetap saja aku sudah telat jadi siap-siap ke sekolahnya nanti saja.
Belum lama aku kembali mencari bunga mimpi, suara klakson mobil merusak kencanku dengan bantal.
"Non, di depan sudah ada Tuan Valdi,"
Ceklek
"Tumben sekali kamu kesini," ucapku setelah berhasil menuruni tangga dan berjumpa langsung dengan si biang kerok. "Sedang ingin saja," jawabnya sambil meminum teh hangat buatan pelayanku.
"Sudah sana siap-siap 15 menit lagi gerbang di tutup," ucapnya lagi, mau tidak mau aku menuruti perintahnya. Aku termasuk anak baik-baik di sekolah, tidak mungkin nama ku hadir di daftar siswa yang telat hari ini. Bisa hancur reputasiku.
20 menit kemudian
"Ayo cepat, kita sudah telat!" Seruku dari luar saat melihat Valdi masih santai menonton siaran bola sambil minum teh hangat. Aku buru-buru menyimpulkan tali sepatu dan bergegas menuju mobil Valdi.
"VALDIIII!" ah sial, anak itu tidak bisa di pisahkan dengan siaran bola. Aku kembali memasuki rumah untuk memanggil Valdi.
__ADS_1
"Yang buat kita terlambat kan kamu, ga perlu marah-marah."
"Ya tapi kamu ngapain nonton bola?! Jadi tambah telat!"
"Makanya jangan lama-lama kalau dandan, dandan atau tidak tetap saja jelek."
Aku mencubit pinggang Valdi dengan cukup kuat yang membuatnya segera berlari menuju mobil dan menyalakannya. Aku segera berlari untuk menyusul Valdi, setelah melihat arloji yang menempel di tanganku, kelihatannya mengepel adalah asupan pertama yang ku dapat setelah melewati gerbang sekolah nanti.
Yang membuatku tambah kesal adalah jalanan yang kami lewati lumayan macet, padahal sudah sekitar 10 menit yang lalu gerbang sekolah di tutup. Entah ada kejadian apa hari ini. Intinya menyebalkan.
"Kamu kenal dengan Bram?" tanya Valdi di tengah-tengah macet. Mungkin mengobrol dengannya bisa menghilangkan rasa kesalku.
"Tidak, hari itu aku hanya mendengar namanya saja," jawabku sambil memainkan layar handphone yang mati.
"Jika kalian bertemu lagi nanti, hindari dia ya. Jangan sampai kalian punya hubungan apapun, walaupun hanya sebatas teman saling kenal, itu jangan. Pokoknya kalau kamu bertemu dengannya usahakan kamu membuat jarak yang jauh yang tidak dapat di jangkau olehnya ya," Jelas Valdi panjang lebar, kenapa tiba-tiba dia melarang ku seperti ini. Biasanya dia justru senang kalau aku bisa berkenalan dengan orang asing.
"Ayo keluar," terlalu lama memikirkan penjelasan Valdi membuatku tak sadar kalau mobil yang ku tumpangi sudah sampai di sekolah. Saat ku buka pintu mobil, suasana sekolah sudah cukup sepi karena memang jam pelajaran pertama sudah di mulai.
Aku sudah pasrah dengan hukuman yang ku terima, seperti saat ini kami sedang berjalan dengan santainya menuju meja guru piket. Berjalan dengan santai dan damai seolah-olah keterlambatan yang baru saja ku lalui adalah sebuah perlombaan yang baru saja kami menangkan.
"Valdi, Neira ngapain kalian disana, cepat ambil alat untuk mengepel, lalu pel koridor ini!!" suara guru piket mengalun merdu memasuki gendang telinga. Seruannya bagai radar yang membuatku otomatis mencari alat untuk mengepel koridor.
20 menit aku dan Valdi menyelesaikan hukuman. Kami sudah di perbolehkan untuk mengikuti pelajaran, walaupun sudah terlewat satu jam pelajaran, tapi kami tetap harus masuk karena di kelas akhir ini pasti akan ada ujian yang menjadi titik puncak dan pengakhiran, aku tidak mau ketinggalan pelajaran.
Tok tok tok
Aku dan Valdi memasuki kelas, dan melihat suasana kelas yang hening, tatapan kami langsung beralih pada guru killer yang sedang menduduki kursi guru. Dengan grogi kami menghampiri guru tersebut untuk meminta salam.
"Maaf Bu, kami terlambat," ucap Valdi sambil mencium tangan Bu Rosa di ikuti denganku. "Kenapa bisa terkambat?! Ga punya jam di rumah?!" Seru Bu Rosa ditambah dengan tatapannya yang menyorot tajam padaku dan Valdi.
"Ya sudah sana duduk, oh iya Neira tadi ada murid baru masuk, karena kamu selama ini duduk sendiri, nanti kamu duduk sama murid baru ya. Ajak dia berteman dengan baik," Bu Rosa menunjuk murid baru yang di maksud, dan aku mengalihkan tatapanku pada anak baru yang sekarang menduduki kursi sebelahku begitu juga dengan Valdi.
__ADS_1
Anak baru itu
Bram?!