Bad Reality

Bad Reality
-Sembilan-


__ADS_3

“Terimakasih, tapi apakah ini tidak mengganggumu berm—


Ceklek


“Menganggu apa? Neira?”


“Neira? Kau masih disana?” Valdi belum menyelesaikan panggilannya.


“S-siapa kau?” tanyaku setelah melihat seseorang berhasil masuk ke dalam ruang rawatku, dan dengan mudahnya dia masuk saat pintu itu tertutup bahkan terkunci, bagaimana bisa. Itu orang yang tadi berdiri di depan ruang rawatku.


Dia masih diam berdiri disana, keberadaannya cukup jauh dariku jadi masih ada kesempatan untukku berpikir mengusir manusia sialan ini.


“Neira?!! Apa yang terjadi denganmu? Jawablah Nei!” Valdi, ah baguslah dia belum mematikan sambungannya. Keberadaan hanphoneku yang entah kapan sudah berada di bawah selimut membuatku agak menunduk untuk mengirimkan pesan pada sahabatku. Dengan gerakan cepat aku mengetikkan sesuatu yang langsung ku kirim pada Valdi. Setelah selesai mengirimkan pesan, aku masih menunduk bahkan makin memperdalam tundukkanku agar ketakutanku tidak terlihat oleh manusia ini.


Langkah kaki terdengar memekakkan telingaku. Dia berjalan ke arahku, kali ini aku tidak bisa menundukkan kepalaku lagi, setelah memastikan pesanku sudah di baca oleh Valdi, aku segera mengangkat kepalaku dan memberikan tatapan tajamku padanya.


Setelah ku perhatikan, pisau yang dia genggam tadi kini sudah tidak ada di genggamannya lagi. Tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa dia membawa sesuatu yang lebih berbahaya dari sebilah pisau. Aku berusaha untuk terlihat normal dan tidak takut, walaupun keringat dingin terus membanjiri pelipisku, mata elangku terus menusuk seakan bisa membunuhnya hanya dengan sebuah tatapan. Lagi-lagi itu hanya ada dalam imajinasi dadakan ku saja, nyatanya kini yang terjadi adalah kebalikan dari imajinasiku.


“Jangan takut gadis manis, aku hanya ingin menjengukmu,” katanya, pendengaranku mulai bekerja untuk mencocokkan suara ini dengan suara semua temanku, mencoba mencari barangkali ada salah satu temanku yang mempunyai suara seperti ini. Ini seperti suara laki-laki, tapi di buat-buat, kelihatannya dia tau kalau aku akan berbuat seperti ini jadi dia tidak menunjukkan suara aslinya.


“Terimakasih telah menjenguk saya, tapi bukankah ini sudah lewat dari batas waktu jenguk pasien? Dan siapa kau? Kenapa memakai pakaian seperti itu? Apa sedang tren di luar sana?” tanyaku basa-basi sekaligus berusaha mencairkan suasana, siapa lagi yang bisa berbuat santai bahkan bercanda dengan orang misterius seperti ini selain aku. “Kau sedang melawak? Sayangnya itu sama sekali tidak lucu bagiku, Hai Neira selamat datang dan selamat bermain,” setelah melambaikan tangannya orang itu pergi begitu saja.


Sudah? Dia tidak jadi membunuhku?


Tapi apakah orang itu yang selama ini menerorrku. Jika benar, sayang sekali aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup rapat dengan topeng. Mataku menatap langit-langit kamar rawatku, memikirkan apakah aku pernah berbuat kesalahan fatal pada orang lain sampai aku harus terkena terror ini.

__ADS_1


“Neira?! Mana? Dimana orangnya?” belum lama aku tenang, diriku kembali di kejutkan lagi dengan kedatangan cecunguk satu ini. Melihat wajahnya yang bersimbah keringat di tambah singlet dan celana pendek yang dia kenakan membuat tawaku meledak seketika. Dia terlihat seperti atlet yang sedang marathon sekarang. Lucu sekali.


“Kenapa kau terkatakanTidak ada yang lucu disini! Sekarang katakana dimana orang itu? Kenapa tidak ada disini?” tanyanya mulai emosi. Aku memalingkan wajahku ke jendela agar bisa menahan tawaku “Dia baru saja pergi, apa kau tidak berpapasan dengannya?” tanyaku balik tetap dengan wajah yang terfokus pada jendela.


“Bohong,” dia segera menjawab tanpa berpikir apapun. “Kau tidak percaya padaku?” sela ku sambil sesekali melirik ke arahnya yang mulai berjalan mendekatiku. Ah tidak jangan mendekat, aku tidak akan bisa menahan tawaku lagi nanti. “Kalau kau tidak berbohong, kenapa memalingkan wajahmu seperti itu?” astaga apa dia tidak sadar dengan penampilannya. Ku yakin semua orang yang di lewatinya tadi akan tertawa setelah melihatnya.


“Apakah kau tidak memperhatikan penampilanmu sedikit saja agar lebih rapi hah? Penampilanmu sekarang mengundang tawa banyak orang kau tau? Jika ini di rumah, pasti kau sedang mendengar tawaku yang tidak berkesudahan,” jelasku sambil diselingi kekehan. Aku bingung antara ingin kasihan atau tertawa setelah melihat persensinya yang tiba-tiba muncul di balik dinding tadi.


Bughh


“Awwhss"


“Aku sedang panik seperti ini dan dengan mudahnya kau tertawakan aku! Hei aku sedang tidak main-main sekarang gadis gila, apa kau mecoba membuat prank untukku?”


“Prank? Percaya diri sekali kau, aku tidak biasa membuang waktuku untuk hal tidak penting, temasuk mambuat prank untukmu. Aku tidak berbohong tentang seseorang yang berhasil masuk kamar rawatku dalam keadaan terkunci. Orang itu berpakaian serba hitam dan dia masuk kesini dengan alasan ingin menjengukku, bukankah itu terdengar aneh?”


“Tidak aneh, tapi cukup menyeramkan. Aku tidak berpapasan dengan siapapun saat menuju kesini, lorongnya sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di lorong itu, karena sekarang hampir tengah malam. Apa ‘dia’ tidak mengatakan apapun selain ingin menjengukmu?”


“Ummm.. ahh ada, dia berkata selamat datang dan selamat bermain seperti itu,”


Mata Valdi membulat lagi, ada apa dengan anak ini. Kenapa matanya sering membulat seperti itu? Apa itu semacam penyakit?


Valdi beranjak dari kursi yang di dudukinya tadi dan mulai menelpon seseorang, cukup lama Valdi berurusan dengan orang di telepon sampai langkahnya mendekat kearah jendela ruang rawatku, dia melihat sekeliling jendela kamarku, menarik tirai untuk menutupinya dan memberi kursi di tengah tengah jendela itu.


“Aku akan menemanimu malam ini, tenang saja aku bisa tidur di sofa sebelah sana, kau tidurlah ini sudah larut, besok kau baru di perbolehkan untuk pulang,” setelahnya dia tidak berbicara apapun. Aku melirik aneh ke arahnya, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.

__ADS_1


~


Aku terbangun di pagi hari, netraku menyapu ruangan rawat yang sudah kutempati dua hari ini, dan pandanganku terhenti pada seonggok manusia yang sedang berkelana dalam mimpinya di sofa. Wajahnya terlihat lelah dan banyak beban sepert orang tua saja.


Bosan melihat wajah Valdi, aku menyingkap selimutku, berjalan ke kamar mandi lalu mulai membersihkan tubuhku. Di tengah-tengah sesi pembersihan tubuhku, seseorang mengetuk pintu kamar mandiku, dan siapa lagi kalau bukan Valdi.


“Tunggu aku sebentar lagi selesai,” kataku setengah berteriak.


Setelahnya tidak ada jawaban lagi, mungkin dia kembali tidur entahlah aku tidak peduli. Di ingat-ingat hari ini aku pulang, dan tentu tidak ada yang akan menyambutku saat pulang nanti, setidaknya “Syukurlah kau sudah sembuh” hanya mimpi.


Dan di ingat-ingat lagi tentang terror yang terjadi di kamarku membuat diriku sedikit takut itu akan terjadi lagi. Apa aku menginap di rumah teman saja untuk beberapa hari? Ah tapi temanku hanya Valdi, tidak mungkin aku menginap di rumah laki-laki dalam jangka waktu yang tidak tentu, walaupun Valdi bersedia tapi telingaku pasti tidak akan bersedia untuk mendengar ocehan para tetangga.


“Kau ingin aku mengompol di depan pintu hah? Keluarlah cepat," ternyata cecunguk itu masih di depan pintu setelah teriakanku tadi.


“Iya ini aku mau keluar," jawabku malas, tidak ada artinya teriak lagi, toh dianya sedang di depan pintu, aku masih sayang dengan pita suaraku.


Ceklek


Setelahnya Valdi masuk ke dalam kamar mandi dengan raut wajah kesal, dan lagi-lagi aku tidak peduli dia terlalu menyebalkan bagiku.


Seorang perawat masuk ke dalam ruang rawatku, dia memintaku menandatangani sebuah berkas dan menawarkan dirinya untuk mengemas barang-barangku. Aku berpikir tidak biasanya seorang perawat mengemasi barang pasiennya, tapi setelah dia berkata bahwa ini sudah aturan untuk perawat jadi ku izinkan dia mengemasi barang-barangku.


“Aoa kau tidak bisa mengemas barangmu sendiri sampai-sampai merepotkan perawat disini?”


“Bukan begitu Di, perawat ini yang menawarkan dirinya untuk mengemasi barang-barangku, lagipula katanya ini adalah salah satu peraturan rumah sakit,”

__ADS_1


“Sebentar, maaf apa yang kau masukkan ke dalam tas sahabatku?” tanya Valdi kepada perawat yang sedang mengemasi barang-barangku.


__ADS_2