
“Hai”
Ku tolehkan kepalaku mencari sumber suara.
Siapa dia? Kenapa Valdi jadi seperti ini wajahnya?
“hai?” sapanya sambil melambaikan tangan di depan wajahku--berniat untuk menyadarkan.
“Si-siapa ya?” tanyaku. Aku bisa melihat raut wajahnya yang berubah seperti orang terkejut. Apa kata-kataku terlalu kasar tadi? Aku tidak peduli, aku menunggu Valdi datang kenapa justru dia yang datang.
“Maaf namaku Bram senang bertemu denganmu,” dia menjulurkan tangannya dan hanya lirikan yang bisa ku beri padanya. Salahkan mood ku yang sedari tadi tidak kunjung membaik.
Aku hanya butuh Valdi, dimana cecunguk satu itu, apakah Valdi sudah pulang karena sebelumya sudah menungguku? Tidak mungkin, dia bukan orang yang lelah dalam menunggu sesuatu, apalagi aku hanya telat 10 menit setelah jam kedua berakhir, ku yakin guru yang mengajar pasti akan mengambil sedikit waktu untuk menuntaskan materinya kebiasaan—korupsi waktu.
“Ekhmm, kau tidak mau menerima jabatan tanganku? Maksud ku baik, hanya untuk berkenalan denganmu," tangannya masih setia menggantung di hadapanku, sesaat ku tatap dia yang sedang memberikan senyuman menyeramkannya kepadaku. Ku hela nafas sebentar sebelum ku jabat tangan besarnya itu.
“Terimakasih, siapa namamu?” banyak tanya pentingkah buat dia tau namaku.
__ADS_1
“Neira.” jawabku acuh.
“Nama yang bagus seperti orangnya yang cann—“
“Neira! Ayo”
Seseorang berhasil membuat tubuhku terhuyung ke belakang. Kalau dia tidak gesit menangkap tubuhku, mungkin aku akan terjatuh lagi. Melihat tangannya aku sudah bisa mengenal siapa yang menangkapku.
"Kau baik-baik saja?" Suara khas Valdi merangsak masuk menyapu gendang telingaku membuatku tersenyum kikuk hampir salah tingkah.
Merasa tidak akan ada jawaban dariku, Valdi merubah pandangannya ke orang di depanku, "siapa dia?" Valdi adalah makhluk possesif dan protektif pada orang yang dekat dengan dia. Jadi tidak aneh jika sekarang Valdi sedang memberi tatapan intimidasi pada orang di depanku—Bram. Aku ingin menjawab tapi aku sendiri tidak tau jelas siapa orang di hadapanku ini—hanya mengenal nama. Bagus jika Valdi akan bungkam setelah ku beri tau namanya, tapi sayangnya Valdi tidak akan seperti itu, dia akan bertanya terus sampai otak dan jiwa keponya puas.
Setelahnya hanya ada kecanggungan sampai Bram tidak kuat dengan lomba diam-diaman seperti ini dan memilih untuk pamit.
Di antara persahabatan kita, Valdi yang selalu mendominasi di bagian percakapan, sebenarnya bagian apapun di persahabatan kita pasti Valdi yang selalu mendominasi agar hubungan kita tidak kaku. Biasanya orang yang mempunyai sifat sepertiku susah untuk mendapat teman apalagi sahabat. Tapi Valdi, aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dia, beruntung wanita yang mendapatkan dia nantinya.
~
__ADS_1
Tidak ada yang penting dari pertemuanku tadi dengan Valdi. Kami hanya sekedar basa-basi, Valdi memberi tau tugas yang di berikan guru pada jam pertama dan kedua, dan aku menjelaskan kenapa aku izin hari ini,aku tidak cerita tentang batu bercak merah itu. Sejujurnya lebih ke belum siap jika nanti Valdi bersikap berlebihan—over protektif membuatku risih jika sifat itu mendadak kambuh.
Pertemuanku dengan Valdi juga tidak berlangsung lama karena jam ketiga akan segera di mulai terpaksa Valdi meninggalkanku di taman.
“Non, sudah waktunya makan malam” panggil bibi dari luar, karena tidak mau tenggelam lagi dalam pikiranku, ku putuskan untuk beranjak dari kasur dan segera makan malam.
Makan malam, hanya namanya makan malam. Nyatanya di meja ini aku hanya minum air mineral, entah sudah berapa gelas air masuk kedalam perutku. Cuma cara ini yang bisa membuat pikiranku teralih, bagiku suara air yang mengalir dari teko ke gelas atau air yang menyapa langsung dasar permukaan gelas adalah suara yang menenangkan. Sebenarnya aku tidak haus, bahkan ini aku sedang merasakan perutku penuh dengan air, tidak enak rasanya. Bisa saja aku membuang airnya, tapi aku malas sekali untuk bangkit, entahlah yang bisa aku lakukan untuk mengalihkan pikiranku adalah cara ini, mendengar suara yang menenangkan.
“Non tidak ingin makan? Jangan minum air terus dong non, nanti kembung itu perutnya,” ucap Bibi sembari menyiapkan piring dan menempatkan nasi di sana.
“Tidak perlu bi, aku belum lapar,” aku langsung beranjak meninggalkan bibi disana, aku butuh hal yang menenangkan lagi, itu tadi tidak cukup. Gila, ini benar-benar gila. Ku rasa cuma aku yang merasa cemas, khawatir, dan takut saat aku hanyut dalam pikiranku sendiri. Pikiranku seperti kaset rusak yang terus memutar ulang kejadian hari ini dan semalam. Dimana saat batu itu mulai mengusik pikiranku, dan esoknya batu itu ada lagi tepat di genggamanku, kehadiran Bram, sederhana memang, tapi aku orang yang berpikir panjang, kelemahanku adalah tidak bisa tinggal diam dan melupakan hal-hal yang menurut kalian sederhana atau tidak pantas untuk di ambil pusing.
Aku terlalu mencemaskan sesuatu yang berhasil mengusik pikiranku, entah apa tujuannya aku sendiri tidak mengerti. Ingin ku buang jauh-jauh sifat itu tapi nyatanya sifat itu sudah mendarah daging di dalam diriku.
Aku butuh ketenangan.
Terror yang terjadi ini berhasil memporak-porandakan kesehatan mentalku. Jika ini memang perbuatan teman-temanku, aku akan melakukan apapun supaya mereka berhenti. Aku benci saat-saat seperti ini, saat dimana seharusnya aku menunjukkan sifatku yang biasanya berani dan tidak takut apapun malah di paksa mundur oleh mentalku sendiri. Sebeneranya apa yang terjadi dengan diriku? Kenapa aku jadi lemah akhir-akhir ini.
__ADS_1
Tok tok tok