
Anak baru itu
Bram?!
"Neira? Tunggu apa lagi? Sana duduk,"suara Bu Rosa kembali menyadarkanku pada kenyataan yang baru saja ku anggap halusinasi. Sebelum kalimat kalimat sarkas berikutnya keluar dari mulut Bu Rosa aku melangkah untuk menghampiri meja ku dan duduk di samping Bram. Valdi yang ku lihat sedang memperhatikanku mulai membuat tatapan yang berarti "ingat apa kata-kataku di mobil tadi" untung saja aku memahaminya, karena raut wajah Valdi tadi lebih terkesan seperti orang yang sedang menahan buang air besar.
Beralih dari Valdi, aku mulai fokus untuk memperhatikan penjelasan dari Bu Rosa, membosankan memang tapi itu lebih baik daripada aku melakukan hal-hal seperti orang kurang kerjaan, seperti orang di sebelahku ini tepatnya. Aku diam-diam memperhatikan Bram dari ekor mataku, dan dari apa yang ku lihat, dia sedang mencoret-coret buku bagian belakang dengan pulpennya. Dia tidak terlihat seperti anak baru pada umumnya, biasanya anak baru akan lebih tekun memperhatikan semua penjelasan guru entah karena memang niat belajar atau untuk menghilangkan rasa canggung kepada teman baru. Bram justru terlihat seperti anak yang sudah lama sekolah disini, penampilannya juga tidak mendukung berbagai opini bahwa dia anak baru. Sudahlah, itu juga tidak penting untukku.
"Kau diam-diam memperhatikanku rupanya," ucap orang di sampingku, sekarang Bram sedang menopang wajahnya dengan sebelah tangan, memposisikan kepalanya agar bisa menatapku penuh.
"Tidak," aku kembali melihat papan tulis untuk mencatat beberapa materi dari Bu Rosa.
"Aku jelas-jelas melihat kalau kau sedang melirikku dengan ekor matamu," orang ini keras kepala rupanya, aku melirik juga tidak ada pentingnya untuk dia. Memang aku salah karena melihat dia? Aku punya mata tidak mungkin aku tidak bisa melihat. Kalau akan terjadi perdebatan seperti ini aku tidak akan melihatnya lagi nanti.
"Bisa tidak kau fokus dulu dengan materi yang di berikan Bu Rosa, aku ingin belajar! Kau mengerti? Setelah pelajaran ini selesai kau boleh bertanya hal tidak penting seperti tadd-
__ADS_1
"Kalian yang disana ngobrolnya bisa nanti, sekarang perhatikan apa yang Ibu jelaskan," belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, suara Bu Rosa kembali mengisi gendang telinga. Sudah ketiga kalinya dalam satu hari ini aku mendapat kalimat tajam dari guru killer dan itu baru terjadi hari ini selama tiga tahun aku bersekolah disini, di tambah hal itu terjadi karena kedatangan Bram, pantas saja Valdi memintaku untuk menjauhi Bram, ternyata memang Bram pembawa sial.
~
Kriinggg
Bel istirahat menggema di seluruh penjuru sekolah, biasanya saat mendengar Bel ini semangatku akan terisi kembali dan langsung bergegas menuju kantin untuk sekedar membeli air mineral. Anehnya hari ini semangatku tidak kunjung kembali bahkan saat bel istirahat sudah lewat sepuluh menit, aku masih terdiam di kelas dengan sebuah pulpen yang ada di antara jari telunjuk dan jari tengahku dan juga dengan seseorang yang sedaritadi ku tunggu kepergiannya, Bram.
"Tidak ke kantin Nei?" Valdi tiba-tiba datang dan menduduki kursi depanku, dia memberiku roti bakar dan susu coklat, menu yang biasa aku pesan di kantin. Setelah melihat makanan favorit tersaji di depanku, mood ku kembali walaupun hanya sedikit. Aku mengambil roti itu dan mulai melahapnya.
"Kau terlihat lapar, kenapa tidak ke kantin?" tanya Valdi di sela-sela acara makan bersama kami, kecuali Bram anak itu tetap di kelas saat Valdi datang dan tidak ada tanda-tanda dia akan bangkit dari tempat duduknya. "Entah, mood ku buruk hari ini," ku letakkan kembali gelas susu coklat yang sudah kandas isinya.
"Tidak! Tidak bisa!" Bram berseru dengan lantang sambil bangkit dari kursinya. Benar dugaanku, pertanyaan Valdi hanya sebuah pancingan untuk mereka. Kini kedua manusia itu sudah saling berdiri dan menatap lawan dengan tatapan nyalang. Menit demi menit terlewat dan mereka masih terus di tempatnya masih dengan posisi dan gaya yang sama, seolah-olah dengan sebuah tatapan tajam bisa memenangkan kompetisi dadakan ini.
"Jangan ganggu Neira!" ucap Valdi dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya. Bram hanya mengangkat ujung bibirnya--meremehkan. Ku kira Valdi akan marah setelah menerima senyum remeh dari Bram, tapi ternyata Valdi cukup pandai menguasai emosinya agar tetap stabil . "Apa hubungannya denganmu?" dari sini aku bisa menilai kalau Bram adalah orang yang cukup berani saat menghadapi hal-hal seperti ini, terlihat dari raut wajahnya yang santai dan jangan lupakan senyum remeh yang setia menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Aku sahabatnya dan aku tidak akan membiarkan sahabatku di ganggu pria brengsek sepertimu," Bram kembali duduk di kursinya, menumpukan dagunya di antara genggaman tangan yang tetumpu pada meja "Apa kau belum merasa kalau dirimu lebih brengsek dari ku?" semakin lama suasana yang tercipta di antara keduanya semakin panas, aku mulai panik karena di antara Valdi dan Bram belum ada yang berniat untuk menyudahi debat penuh ketegangan ini. Waktu istirahat tersisa lima menit lagi dan aku masih berpikir keras untuk menyingkirkan mereka dari mejaku, seluruh murid yang baru masuk menatapku dan dua lelaki di depanku bergantian yang langsung di susul dengan acara bisik berbisik para murid perempuan di ujung kelas.
"Kalau kau punya dendam denganku, kau bisa langsung membalasnya padaku, kau tau? Dengan memakai cara seperti ini kau lebih terlihat seperti seorang pengecut!" setelah mengatakan kalimat itu Valdi berbalik menuju mejanya, mengabaikan segala tatapan yang tertuju padanya terutama tatapan tajam Bram yang terus mengikuti langkah Valdi sampai ke tempat duduknya.
~
Melelahkan.
Ku rasa akhir-akhir ini hidup yang ku jalani lebih berat dari sebelumnya. Dimulai dari terror yang entah siapa pelakunya, Bram yang berhasil merusak ketenanganku di sekolah, dan kalimat yang di ucapkan Valdi tadi tentang Bram yang punya dendam padanya. Hidup monoton yang biasa ku jalani terlihat lebih buruk karena kejadian terror ini, wajahku memang tidak terlihat bahwa aku tersiksa mendapat terror, tapi di dalam hatiku banyak hal mengganjal yang seringkali membuat dadaku sesak usai memikirkannya.
Jariku terus mengetuk meja sambil menunggu balasan dari orang yang sejak lama kurindukan, mencari kesibukan lain-menscroll layar ponsel yang menampilkan chattinganku dengan orang tuaku satu tahun lalu, aku merindukan mereka, sangat. Aku terus menunggu, berharap notifikasi balasan dari orang tuaku masuk ke ponselku dalam waktu dekat.
10 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda orangtuaku akan membalas pesanku, apakah mereka tidak merindukanku? Apa mereka tidak khawatir padaku yang tinggal sendiri di sini? Kemana orang tuaku yang dulu, yang memberiku perhatian lebih tanpa aku harus repot memintanya, sesibuk itu kah pekerjaan mereka sampai untuk menjawab pesanku saja tidak sempat. Cairan bening yang sedari tadi membendung di pelupuk mataku tidak bisa lagi ku tahan, ku tumpahkan semua rasa yang selalu mengganjal hatiku.
Hari ini, seorang Neira yang lebih di kenal dengan sifat acuhnya berhasil menunjukkan semua kelemahan yang selama ini menekan hatinya, lewat air mata yang turun di antara celah jarinya, bersama dengan ruangan sunyi yang menjadi saksi bisu semua jatuh bangun yang di hadapi Neira, bersama langit sore yang mengintip malu di balik jendela. Terkadang memang orang acuh yang lebih banyak menyimpan kenangan pahit tanpa kita sendiri menyadarinya.
__ADS_1
Tringgg
[mommy: Hai Angel, annaku apa kabar sayang?]