
Valdi
Tidak, aku yakin itu bukan kau, orang yang berdiri di sana memiliki postur tubuh lebih tinggi dan besar dari postur tubuhmu, juga orang itu tidak mengenggam handphone jika itu kau, kau pasti sedang menggenggam handphone mu sekarang.
krek krek krek
Mataku memandang horror jendela kamar, ku genggam sejumput selimut yang berhasil masuk kedalam genggaman saat diriku terlonjak tadi.
Berbagai opini buruk menggema di kepala, aku terus merapalkan doa apapun itu, ponselku juga tidak berhenti berdering, Valdi pasti sudah tau kalau yang berdiri di balkon kamar itu bukan diriku, ingin ku angkat teleponnya tapi aku tidak sanggup untuk berbicara padanya, nafasku tertahan saat mendengar ketukan dari jendela kamarku.
Seseorang tolong aku.
Orang itu mencoba membuka jendela kamarku.
Pandanganku terpaku pada jendela kamar, aku takut tapi aku harus melihat wajah orang yang melakukan ini padaku. Dia berhasil membuka jendela kamarku, aku tidak bisa melihat wajahnya, dia memakai masker yang hanya memperlihatkan matanya. Aku memandangi dirinya dari atas sampai bawah, postur tubuhnya tidak asing bagiku, dan tatapanku terhenti pada sebilah pisau yang di genggamnya.
"Tidak, jangan mendekat!" dia terus berjalan mendekati ranjangku, tatapan matanya yang tajam membuatku menunduk ketakutan. Jika saja aku sedang memegang senjata atau benda apapun yang bisa menghancurkan kepalanya, aku pasti tidak akan setakut ini, yang bisa kugenggam saat ini hanya selimut tebalku, ingin menenggelamkan tubuh pada selimut dan berharap orang itu pergi juga mustahil sekali, sialnya lagi posisiku sekarang jauh dari kotak nakas yang menyimpan benda-benda tajam, dia sangat menakutkan.
Langkahnya lambat tapi pasti, dengan mengenggam pisau tajam yang siap di hunuskan ke tubuh siapapun nanti, dan tatapannya yang bisa melumpuhkan korban agar tidak lolos dari jangkauannya. Aku takut.
Ku lemparkan semua barang yang ada ke wajahnya, tapi itu gagal, dia berhasil menghalau benda-benda yang hampir menghantam wajahnya. Dia berhenti, tepat di depanku. Aroma alkohol langsung menguar menusuk indra penciumanku, itu membuatku mual. Sekarang aku pasrah, aku tidak bisa melakukan apa pun lagi, ku harap saat aku buka mata nanti, aku masih ada di dunia ini.
__ADS_1
brakk
"NEIRAAA!!!" hanya itu yang bisa ku dengar sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.
~
"Tolong buatkan surat izin Neira hari ini tidak bisa ke sekolah Pak."
"Baik akan saya buat surat izin untuk Non Neira."
"Tuan masih mau disini?"
"Iya, bapak boleh sarapan dulu di kantin, saya akan menunggu Neira disini."
"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang saat dia melihat aku memijat keningku.
Dari aromanya aku sudah bisa menebak kalau ini di rumah sakit, dan orang yang bertanya barusan adalah Valdi. "Aku tidak baik baik saja," percuma berbohong sejauh apapun padanya ingin mencoba menyembunyikan juga tidak akan bisa, Valdi punya rasa kepekaan yang tinggi, dia bisa membaca raut wajah walaupun sedang ditutupi dengan senyuman sekalipun. Kadang aku bingung, aku harus bersyukur atau malah menyesal telah bersahabat dengannya.
"Bagian mana yang masih sakit?" tanyanya dengan nada interogasi yang tak pernah luput dari dirinya. "Bagaimana aku bisa disini Di?" aku tau dia akan marah atau mengoceh tidak jelas, tapi untuk pertanyannya yang satu itu aku tidak bisa menjawab, aku sendiri bingung bagian mana dari tubuhku yang sakit. Kalau aku jawab pasti dia akan mengeluarkan pertanyaan berikutnya, melihat aku tidak pandai mengendalikan raut wajahku itu semakin membuatnya bisa menilai kejujuranku.
Flashback
__ADS_1
Seperti biasa saat malam Valdi suka bermain ke rumah sepupunya, malam ini Valdi berniat untuk mengajak sepupunya itu duel dengannya dalam game. Saat dalam perjalanan Valdi melewati rumah Neira, Valdi tidak hanya melewati rumahnya. Valdi berhenti sebentar untuk melihat apakah sahabatnya itu sudah tidur atau belum. Tapi saat melihat balkon kamar Neira, Valdi melihat seseorang sedang berusaha memanjat pagar balkon kamar Neira. Karena tidak mau di curigai satpam komplek akhirnya Valdi meninggalkan rumah Neira dengan perasaan tidak tenang tentunya.
Selama perjalanan menuju rumah sepupunya, Valdi terus bertukar pesan dengan Neira. Neira mersepon dengan cepat membuat Valdi agak sedikit tenang, karena penasaran dengan orang yang memanjat pagar balkon kamar Neira, akhirnya Valdi bertanya dimana keberadaan Neira sekarang. Baru saja keluar dari mobil, Valdi mendapat pesan kalau Neira sedang di balkon kamarnya. Dari situ Valdi mempunyai firasat buruk tentang orang yang memanjat pagar balkon kamar Neira.
Karena khawatir Valdi memutuskan untuk kembali menuju rumah Neira, Valdi yakin sekali kalau Neira sedang tidak berada di balkon kamarnya sekarang. Pasti ada sesuatu terjadi belakangan ini. Kenapa Neira tidak cerita padanya, jujur Valdi kecewa kalau saja ego nya lebih besar saat ini, tidak mungkin dia mau menuju rumah sahabatnya itu sekarang, dia pasti memutuskan untuk pulang dan marah-marah tidak jelas. Tapi sifat ego Valdi sedang hilang entah kemana.
Benar saja, orang itu sudah tidak lagi di balkon kamar Neira. Yang Valdi lihat sekarang adalah jendela kamar Neira terbuka dan Valdi yakin orang itu sudah masuk kamar Neira. Sialan, siapa yang berani masuk ke kamar sahabatnya.
Valdi meminta satpam untuk membuka gerbang agar dia bisa memastikan Neira baik-baik saja, walau sebenarnya pasti Neira sedang tidak baik-baik saja, setidaknya Valdi datang untuk mencegah hal-hal buruk yang akan terjadi nantinya.
Valdi segera berlari ke kamar Neira, jujur ini pertama kalinya Valdi ke rumah Neira, untung saja Valdi bisa menemukan kamarnya dengan cepat karena melihat tulisan di sebuah pintu 'Neira's room' Valdi tidak langsung masuk ke kamarnya, karena disana seperti aman-aman saja, bodoh memang tapi jika langsung masuk ke kamar Neira dan taunya disana tidak terjadi apa-apa bisa malu Valdi, juga jika seorang tamu dengan lancang masuk ke kamar tuan rumah bukankah itu tidak sopan.
Pikiran-pikiran yang menahan kaki Valdi hilang saat mendengar teriakan Neira dari dalam, Valdi sudah tidak bisa menahan lagi. Dia segera berjalan mendekati pintu itu dan membukanya, sial pintu itu terkunci. Dengan terpaksa Valdi mendobrak pintu itu beberapa kali sampai akhirnya pintu itu terbuka dan terlihat Neira yang terbaring lemah di kasur juga seseorang yang sedang mengarahkan pisaunya ke tubuh Neira. Valdi mengenal orang itu, orang itu adalah sahabat yang berubah menjadi musuh Valdi, Bram.
Singkat cerita, Bram bisa menjadi musuh Valdi karena seorang perempuan. Namanya Mia, dia adalah tunangan Bram, saat itu Bram harus pindah sekolah ke Australi karena pekerjaan Papanya, itu membuat Bram dan Mia melakukan hubungan jarak jauh. Saat itu Valdi dan Mia memang sudah dekat dari sebelum Mia mengenal Bram. Jadi saat Bram sekolah di Australi, Mia suka bermain dengan Valdi. Tidak ada yang terjadi dengan Mia dan Valdi mereka menganggap hubungan mereka seperti saudara untuk satu sama lain.
Karena kesalahpahaman Bram yang menganggap Valdi mencintai tunangannya, Bram mulai membenci Valdi, hubungan persahabatan mereka tidak lagi dekat seperti dulu, Bram menjauhi Valdi bahkan memutuskan kontaknya dengan Valdi. Saat itu Mia sudah berusaha menjelaskan yang sebenarnya, tapi Bram seolah menganggap penjelasan Mia adalah angin lalu. Mulai saat itu Valdi dan Bram menjadi musuh. Semua orang yang dekat dengan Valdi selalu di ganggu bahkan di ancam oleh Bram. Maka dari itu saat pertemuan Neira dengan Bram, Bram segera menjauhi Neira, tapi sia-sia ternyata Bram sudah mengetahui kalau Neira dekat dengan Valdi dan sekarang manusia keparat itu sedang mencoba mengganggu Neira
Bughh
"Belum puas lo ganggu hidup gua hah?!" satu pukulan berhasil menyapa pipi mulus Bram.
__ADS_1
"Siapa yang awalnya suka ganggu hidup orang? Lo atau gua?" jawab Bram menantang.
Flashback end.