Bad Reality

Bad Reality
-Sepuluh-


__ADS_3

“Sebentar, maaf apa yang kau masukkan ke dalam tas sahabatku?” tanya Valdi kepada perawat yang sedang mengemasi barang-barangku.


Mataku beralih pada perawat yang masih sibuk mengemasi barang-barangku. Dari awal memang gerakannya mencurigakan,selama mengemasi barang-barangku dia selalu memunggungiku seolah-olah yang dia kemas adalah barangnya dan itu sangat privasi. Tapi mungkin saja aku terlalu berfikiran negatif dan Valdi salah melihat.


“Ak—aku tidak memasukkan apapun ke dalam tasnya,” jawab perawat itu.


“Mungkin kamu salah liat Valdi,” ucapku sambil memandang wajah Valdi yang di selimuti rasa curiga. Jika dilihat akhir-akhir ini Valdi jadi lebih banyak memunculkan raut wajah curiga dengan apapun yang berkaitan padaku, aneh memang tapi aku sudah terlanjur tidak peduli karena sifat tertutupnya yang tidak mau bercerita padaku.


~


Mobil Valdi berhenti tepat di depan pintu rumahku, setelah keluar dari mobil aku segera beranjak masuk ke rumah. Rasa lapar membawaku ke ruang makan yang sudah tersaji beberapa menu masakan di meja, sesaat aku kaget dan kecewa karena sebelum aku pulang, aku membeli beberapa ayam tepung dan pizza di salah satu restoran cepat saji. “Ada apa Nei?” kedatangan Valdi sukses membuatku terkejut, tangannya masih setia menggendong tas ku, sekilas dia melirik kearah meja makan yang penuh lauk pauk dan kembali menatapku.


“Bukankah kau lapar? Makanlah” ucapnya lagi sebelum melangkah membawa tas ku ke kamar. Rasanya ingin memanggil salah satu pelayan untuk menyimpan makanan ini tapi aku takut mereka kecewa karena sudah masak banyak makanan. Mata ku memandang makanan yang baru saja ku beli, mengajak perutku untuk ikut memilih antara makan cepat saji atau makanan yang ada di meja makan ini.


Akhirnya aku memilih makan lauk yang di buatkan pelayanku. Dokter menganjurkanku untuk menjaga pola makan, agar aku cepat pulih. Kepulanganku ini karena aku berhasil negoisasi dengan dokter di rumah sakit, untung saja Valdi tidak berbicara apapun tentang kepulanganku yang cepat.


“Wah curang, kamu sudah makan duluan tidak ajak aku?” tanya Valdi setelah berhasil duduk di bangku sampingku. “Tadi kau menyuruhku makan, kalau kau mau ikut makan kenapa lama sekali di atas, aku kan sudah lapar,” jawabku cepat dengan mulut yang penuh terisi makanan. “Kalau begitu, makan yang banyak yaa aku pulang dulu,” belum sempat aku bertanya dia sudah berlari kecil menghampiri pintu dan keluar.

__ADS_1


“Kenapa sekarang dia suka kabur-kaburan begitu” ucapku setelah mendengar suara pintu yang tertutup. Pertanyaan-pertanyaan segera muncul di otakku, tapi langsung ku buang jauh-jauh karena percuma saja aku membuat beragam pertanyaan tapi tidak ada satu pun jawaban yang kutemukan. Aku memutuskan hari ini untuk beristirahat mengingat besok aku sudah harus kembali ke sekolah.


Selepas makan aku segera beranjak menuju kamarku, sekian menit aku terdiam sambil menonton acara di televisi, sebenarnya aku tidak minat menonton acara-acara di televisi tapi karena sebentar lagi akan di tayangkan sebuah drama dimana idola ku yang menjadi pemeran utamanya jadilah aku bersedia untuk menatap layar kaca ini.


Drrttt drrttt


Dering dari ponselku membuat kepalaku beralih ke arah tas yang tergeletak di ujung kamar. Dengan malas aku mencari keberadaan ponselku sampai sebuah benda aneh berhasil masuk ke dalam genggamanku.


Batu bercat merah


Jantung ku berpacu dua kali lebih cepat setalah berhasil mengenggam batu ini. Aku tidak melupakan ponselku yang berdering beberapa saat lalu, setelah menemukannya kubuka isi pesan yang masuk.


Bermain seperti apa yang dia maksudkan disini. Aku kembali melirik batu bercat merah yang berada di genggamanku, ini batu yang sama dengan batu bercat merah yang sebelumnya aku temui. Ternyata Valdi benar, mungkin perawat tadi yang memasukkan batu ini ke dalam tasku. Pantas saja dia menawarkan dirinya untuk mengemasi barang-barangku. Sesaat muncul ideku untuk melihat CCTV di ruangan rawatku dan ruang lain yang di datangi perawat, siapa tau perawat itu bertemu dengan orang yang menerrorku di salah satu ruangan rumah sakit.


Batu itu aku simpan ke dalam nakas, ku pikir orang yang menerrorku hanya memiliki satu batu bercat merah melihat dia memberiku batu yang sama selama tiga kali berturut-turut. Dengan begini ku harap orang itu tidak menerrorku dengan memberi batu bercat merah atau benda apapun lagi, karena batunya sudah ku simpan.


Tok tok tok

__ADS_1


“Nona ada sebuah paket untukmu,” ucap pelayan yang masih berdiri di depan pintu kamarku. “Masuk saja, itu tidak di kunci,” jawabku cepat.


Ceklek


Pelayanku masuk dengan membawa sebuah paket besar, seingatku aku tidak memesan barang apapun minggu ini. Atau mungkin Valdi yang mengirim paket ini? Entahlah aku mau mandi. Setelah pelayanku menaruh paket itu di atas meja rias aku segera bangkit untuk membersihkan tubuhku.


5 menit


10 menit


15 menit


20 menit


Aku membuka pintu kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuhku. Biasanya setelah mandi aku akan melakukan beberapa perawatan wajah, tapi karena di meja rias ada benda besar yang membuatku penasaran, akhirnya ku bawa benda itu ke atas kasur untuk di buka.


"AAAAKKHHH."

__ADS_1


Paket itu berisi sebuah boneka lusuh yang sudah ditusuk-tusuk dan di beri pewarna merah ditubuhnya, di dalam paket itu juga ada setangkai Bunga Matahari dan sisanya diisi dengan batu-batu yang membuat paket ini berat.


Siapa yang melakukan ini?


__ADS_2