Bad Reality

Bad Reality
-Tiga-


__ADS_3

Drrttt drrttt


"Halo?"


"...."


"Halo??"


"...."


"Maaf kalau anda tidak menjawab ini, saya akan memutuskan teleponnya."


"...."


Ck menganggu saja.


Sekarang banyak sekali, orang-orang iseng yang mengganggu orang lain dengan cara seperti ini, entah apa tujuan mereka melakukan itu. Beruntung nomor yang di hubungi adalah orang biasa, bagaimana jika kebetulan yang di hubungi adalah salah satu dari anggota polisi? Ku harap hal itu segera terjadi supaya mereka berhenti.


Sekali lagi ku lirik layar handphone, orang itu memakai kode nomor Negara ini, tapi siapa?


Entah kenapa hari ini aku banyak memakai feelingku, seperti kali ini aku percaya bahwa nomor ini ada hubungannya dengan batu bercak merah itu, dan aku percaya bahwa akan terjadi sesuatt-


Brukkk


"awhss," tempat ini sungguh menyiksa. Aku kesini ingin mencari ketenangan bukan untuk dijatuhkan berkali-kali seperti anak kecil.


"Maaf maaf," mohon orang yang menabrak ku tadi. Tunggu, kemana batu bercak merah yang kugenggam tadi? Tanpa pikir panjang aku kejar orang itu, ku yakin batu itu ada di tangan dia.

__ADS_1


"Heiii tunggu, berhenti di sana!!" teriak ku sambil terus berlari mengejar.


Sial, dia lari cepat sekali, dan sekarang aku kehilangan jejaknya, aku terus berlari sambil menyapu semua pandangan. Tidak ada tanda-tanda dirinya yang bisa ku jadikan petunjuk untuk menemukannya. Aku membungkuk, meraup segenap oksigen dengan rakus agar cepat masuk dan bertukar udara di paru-paru ku. Sepertinya aku salah menyinggahi tempat, tidak ada ketenangan seperti yang ku bayangkan. Tempat ini hanya memberiku banyak siksaan.


"Non Neira!" Seru seseorang di belakang sana. Ku balik tubuhku mengikuti arah datang suara itu. Pak Yadi? Oh apakah aku sudah melewati dua jam ku disini?


Ku sapukan pandanganku lagi, jujur aku masih mau mencari orang itu, aku masih mau mencari tau hubungan orang itu dengan batu bercak merah yang kugenggam tadi. Tapi, karena Pak Yadi sudah disini, tidak mungkin aku berlari lagi untuk mecari seseorang yang menabrak ku tadi, Pak Yadi pasti ikut berlari jika aku memutuskan untuk mencari orang itu lagi, dan terjadilah syuting film Hollywood dadakan.


"Non baik baik saja? Kenapa non berkeringat seperti ini?" tanyanya.


"Ahh aku tadi habis itu, aku baru saja ikut senam jadi aku seperti ini" ku angkat senyumku tinggi-tinggi dengan harapan dia akan percaya bualanku ini.


"Benarkah? Disini ada tempat untuk senam juga?" tanyanya sembari melihat sekitar, mencari tempat senam yang ku maksud. Tatapannya yang seolah menunjukkan ketidak percayaan nya membuatku panik takut ketahuan berbohong.


"Ayo kita pulang" sentakku membuat kegiatan dia-melihat sekitar terhenti. Ku tinggalkan dia disana dan segera berjalan menuju mobil, pintu mobil sudah ku tutup, dan dia masih disana. Astaga sepenasaran itu kah dia?


"Maafkan saya karena membuat non menunggu" ucapnya setelah berhasil duduk di kursi kemudi. Aku tidak minat untuk menjawab maaf darinya, pikiranku sedang kacau ku harap dia mengerti. Lelah, itu yang aku rasakan, ku senderkan kepalaku pada sandaran kursi mobil, berharap cepat sampai kerumah.


Kling kling


Valdi


Kenapa tidak masuk hari ini Nei?


Bisa kau temui aku di kafe biasa setelah jam kedua berakhir?


Valdi adalah temanku, tepatnya sahabatku. Jangan kira aku yang punya sikap acuh ini tidak memiliki teman, sebenarnya awal pertemuanku dengan Valdi juga tidak baik, dimana saat aku yang melaporkan dia ke polisi waktu itu.

__ADS_1


Flashback


Pagi itu aku pergi ke kafe, hanya sekedar membeli minuman favoritku. Saat menunggu pesanan, aku tidak sadar dompetku jatuh, saat pesanan datang dengan santainya aku mengangkat bokong dan beranjak keluar tanpa sadar ada benda penting yang ku tinggalkan disana.


Mungkin Valdi yang duduk di kursi tunggu itu setelah aku yang duduk disana, jadi dia mengambil dompetku. Setelah menemukan alamatnya dia langsung berjalan ke rumahku untuk mengembalikan dompetku.


Saat itu entah kemana satpam di depan rumah, rumahku saat itu tidak terkunci bahkan gerbangnya terbuka lebar, awalnya Valdi menunggu di luar menunggu sampai seseorang dari dalam rumahku keluar, tapi ternyata tidak ada yang keluar bahkan satpam di depan tidak ada, dengan ragu Valdi masuk ke halaman rumahku, baru sampai beberapa langkah satpam di depan malah membawa Valdi ke hadapanku, Valdi mengira maksud satpam itu baik ingin mengantar dia ke tempat seseorang yang memiliki dompet ini, tapi saat Valdi sampai di hadapanku satpam itu berkata bahwa dia adalah orang asing mencurigakan yang berusaha masuk diam diam ke dalam rumahku, dan dengan gampangnya aku percaya.


Saat itu juga aku laporkan Valdi ke polisi, kurang lebih satu minggu dia ada di dalam penjara sebelum dia menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dan mengembalikan dompetku. Kebetulan dia satu sekolah denganku, pada saat itu aku minta maaf karena telah membuat dia bolos satu minggu dan pasti membuat orang tuanya khawatir.


Dari hari itu aku dan dia mulai dekat, aku tidak tau kenapa aku bisa dengan mudahnya terbuka dengan dia, mungkin karena dia nyaman untuk diajak berbicara, menurutku.


Flashback off


Setelah jam kedua berakhir katanya, berarti sekitar 15 menit lagi, aku melihat keluar dan mengira-ngira apakah aku bisa sampai kesana dalam 15 menit.


"Antarkan aku ke kafe Melati di dekat sekolah"ucapku yang di balas anggukan oleh Pak Yadi.


Neira


Oke


Ku matikan daya ponselku setelah membalas pesan dari Valdi, ponselku sudah habis daya sebelum aku berangkat ke tempat menyebalkan itu, jadi aku berusaha untuk menghemat daya ponselku agar aku bisa menelpon Pak Yadi sepulang dari kafe.


Sekitar 25 menit aku sampai di kafe itu, jalanan padat sekali dan hal itu tambah merusak moodku. Lonceng berbunyi setelah aku buka pintu kafe, cukup sepi. Baguslah aku bisa memperbaiki moodku sebelum Valdi datang.


10 menit aku menunggu tapi belum ada tanda-tanda Valdi akan datang. Mata ku selalu fokus dengan pintu kafe, siapa tau Valdi sudah datang tapi tidak melihat keberadaanku.

__ADS_1


"hai"


__ADS_2