Bad Reality

Bad Reality
-Delapanbelas-


__ADS_3

“Kau sudah menjauhi Bram?” pertanyaan Valdi yang satu ini berhasil menghentikan langkahku tepat di depan pintu, ku kulum bibirku untuk menetralisir rasa bingung. Bingung, di satu sisi aku tidak mau mengkhianati sahabatku, tapi disisi lain Bram adalah kekasihku, aku tau betul seberapa dalamnya permusuhan mereka walau ku tak paham apa penyebabnya.


“E-eh? Ayo masuk dulu,” langkahku kembali tertahan, bukan, bukan aku yang menghentikan langkahku, tapi lenganku yang ditarik oleh Valdi. Mataku terbelalak mendapati presensi itu menatapku nyalang. Menatap sekaligus membius tubuhku agar tetap ditempat, selama itu dia beraksi untuk menyelami mataku, mencari-cari kebohongan yang berpendar di manik kembar ku, sampai akhirnya dia menarik ku kedalam rengkuhannya.


“Terserah jika kau ingin berbohong padaku, tapi satu hal yang kamu harus tau Neira, Bram bukan orang baik seperti yang kamu pikirkan


--untuk kali ini saja, tolong hargai rasa khawatirku padamu,” aku tidak membalas, tidak juga menolak pelukannya. Ini terasa nyaman, mungkin karena Valdi sudah seperti keluarga yang selalu melindungi ku, oh apakah dia bisa ku sebut sebagai kakak laki-lakiku?


Perlahan Valdi melepas rengkuhannya, membiarkan aku mengolah kata-katanya di dalam otak yang tak seberapa ini. Mataku menilik kearah lain selain wajahnya, aku sudah paham dengan kata-katanya barusan. Tapi aku masih terlalu bingung untuk menceritakan semuanya. Bodoh memang, aku juga berpikir kalau terus menyembunyikan hal penting dari Valdi pasti dia akan marah besar dan menjauhiku, tapi di satu sisi Valdi berhak memberikanku kebebasan, aku bukan istrinya yang harus setiap waktu perlu pengontrol kegiatan. Jika mereka tidak terlibat dalam kasus permusuhan pasti aku akan mudah menceritakannya, masalahnya mereka tidak pernah akur huftt, Valdi si posessif akan marah besar jika tau bahwa aku sudah menjadi kekasih Bram.


“Aku sudah cukup dewasa untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk untukku, untuk kali ini saja, hargai keputusanku,” aku segera beranjak meninggalkan Valdi kedalam bersama kekesalan yang tertahan, kali ini aku tidak suka pola pikirnya yang terkesan kekanakkan, seenaknya menilai orang. Jika dia tidak menyukai Bram silahkan saja tapi pantaskah dia melarangku untuk mendekati Bram juga? Aneh.


Baru beberapa langkah kakiku melewati pintu, udara yang dihasilkan oleh pendingin ruangan langsung memelukku erat membuat tubuhku bergetar menggigil ditambah dengan cuaca diluar yang tiba-tiba mendung membuatku teringat Valdi diluar. Aku segera memutar badan, berjalan menghampiri Valdi yang nyatanya dia sudah tidak ada disana. Sial, cepat sekali perginya anak itu.

__ADS_1


Tidak mau menyerah begitu saja, kepalaku menengok ke segala arah mencari-cari seonggok manusia yang sebentar lagi diedikasikan sebagai manusia setengah vampire karena kemampuannya berteleportase.


Setelah mengorbankan tulang leher sampai pegal, kakiku tidak mau kalah bersaing menemukan manusia itu. Walaupun titik-titik air sudah mulai mengisi keringnya permukaan bumi, aku tetap berjalan mencari. Yang aku khawatirkan hanya satu, luka Valdi. Jika esok fans Valdi tau bahwa aku yang menorehkan luka itu, bisa-bisa besok aku sudah tidak menapaki planet hijau biru ini.


Setengah jam aku berjalan ditemani hujan deras, dan tidak menemukan Valdi. Menyebalkan memang berada di situasi seperti ini, ingin tidak peduli tapi resiko yang ditanggung nantinya terlalu besar, ingin peduli juga targetnya berwujud makhluk lain yang amat menyebalkan. Oke, lebih baik aku pulang.


~


Dalam kehidupan sehari-hari, melupakan suatu hal atau peristiwa dianggap sebagai hal yang biasa. Lupa adalah hukum alam yang tak bisa dirubah. Lupa juga merupakan bagian dari manusia itu sendiri. Tapi bagaimana jika lupa itu datang disaat yang tidak tepat, disaat dimana IQ rendahku sedang menguasai wilayah otak hampir seluruhnya. Saat seperti ini tepatnya, buat apa tadi aku berjalan selama setengah jam, mengejar seseorang yang bahkan aku tak tau keberadaannya, padahal ada ponsel yang bisa langsung menghubungiku dengan sang lawan bicara tanpa harus hujan-hujanan, tanpa harus kedinginan, dan tanpa-tanpa lain yang membuatku geram merutuki kebodohan.


“Hei kau dimana?”


“...”

__ADS_1


“Bagaimana dengan lukamu?”


“...”


“Baiklah, baiklah cepat sembuh ya maafkk—


Beep


Sialan


Darahku berdesir cepat memuncak keatas kepala. Membiarkan amarah meletup-letup keluar tanpa jeda. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa aku bisa segeram ini, mungkin karena kebodohan yang membuatku kedinginan hampir demam, atau mungkin karena sifat Valdi yang membuatku terus mengumpatinya dengan “Terkutuklah kau anak iblis” terus menerus aku mengumpatinya, tidak peduli dengan rasa besi yang tiba-tiba menjalar di lidahku karena tergigit.


Neira bodoh sekali~~

__ADS_1


Bodoh sekali~~


Bodoh sekali sampai dia tidak bisa mengontrol kebodohannya lagi.


__ADS_2