
Tok tok tok
Siapa yang mengetuk jendela kamarku malam-malam begini?
Hewan? Manusia?
Balkon kamarku cukup tinggi untuk di panjat seseorang. Apa hewan? Tapi hewan macam apa yang bisa sampai ke balkon kamarku, ku yakin di luar sangat gelap.
Karena penasaran, ku beranikan diri untuk membuka jendela kamarku, dan yang kulihat hanya
Sebuah batu?
Benarkah ini? Batu ini memiliki bercak merah di salah satu sisinya.
Ku lempar asal batu itu keluar, dan melanjutkan kegiatan menonton idola.
Tok tok tok
LAGI?!
“BATU SIALAN! BISAKAH KAU MENDARAT DI JENDELA KAMAR LAIN SELAIN KAMARKU!!” kutatap jendela kamarku dengan tatapan horror, jujur aku takut tapi aku penasaran siapa yang melempar batu itu. Setelah sepersekian detik mengendalikan perasaan akhirnya ku putuskan untuk tidur, menenggelamkan tubuhku di pulau kapas yang empuk, memejamkan mata dan berharap hari ini segera berakhir.
__ADS_1
“Bangunlah, bukankah kau ingin ke sebuah tempat pagi ini” ucap seseorang sembari menepuk\-nepuk pelan pundak ku.
Aku melenguh mencoba membuka mata, menelan banyak\-banyak cahaya matahari yang masuk. Silau sekali.
“Non, tempat yang akan kita kunjungi akan ramai sebentar lagi, bukankah non ingin tempat yang menenangkan, bangunlah” kuperjapkan kedua mataku dan melihat presensi supir pribadiku yang menjulang tinggi di sana.
“Non?” panggilnya sembari menatapku.
Ah sial, aku lupa rencanaku hari ini.
“Iya iya kau bisa menungguku di bawah, aku akan segera kesana," jawab ku kala mengerti apa yang di maksudnya.
Niatku untuk menutup kembali tirai kamar terhenti saat aku mengingat batu itu, aku mungkin akan mudah melupakannya kalau saja batu itu seperti batu pada umumnya, anehnya disini batu itu memiliki bercak merah di satu sisinya, bercak itu terlihat sengaja di buat karena aku bisa melihat bercak itu seperti dilukis menggunakan kuas.
~
“Jemput aku setelah dua jam," setelahnya Pak Yadi tidak menjawab, ia langsung menjalankan mobilku yang sudah sejak lama menjadi alat kerjanya.
Kulangkahkan kakiku masuk kedalam dan mulai menikmati pemandangan, aku berusaha keras untuk tidak mengingat kenangan yang pernah terjadi di tempat ini, untuk hari ini sungguh aku hanya butuh suasana tempat yang menenangkan, kuharap tidak ada yang merusak hariku untuk hari ini saja.
Brukk
“Awsshh” ringisku.
__ADS_1
"Maaf” setelahnya hanya ada derap langkah terburu\-buru yang kudengar, aku masih sadar tapi tubuhku tidak bisa di ajak kerja sama, terbuat dari apa bahu orang itu? Kenapa keras sekali?
Aku masih berusaha menyesuaikan pandanganku yang sempat kabur, sambil memandangi sekitar dengan tubuh terduduk mengenaskan mataku menangkap sebuah benda yang dari beberapa jam lalu memenuhi relung otak ku untuk di pikirkan.
Mataku terbelalak setelah berhasil menggenggamnya.
“Ti\-tidak mu\-mungkin, haha ini kebetulan saja kan?” gumamku saat melihat benda itu. Benda itu kembali lagi, ini persis sekali bahkan kurasa benda ini yang semalam menjamah jendela kamarku dengan keras, mengapa bisa ada disini? Siapa yang membawa batu bercat merah ini kesini?
Batu ini persis seperti batu yang semalam membentur jendela kamarku, persis sekali bahkan aku bisa membuktikan bahwa batu ini memang batu yang semalam membuatku tidak tenang di kamarku sendiri.
Apa lagi ini? Belum sempat ku selesaikan doa dan harapan agar hari bolosku ini bisa membuat diriku sedikit tenang, batu ini malah menjadi awalnya pikiranku liar kemana\-mana.
Apa maksud batu ini?
Dimana aku harus mengembalikan batu ini agar tidak menganggu hari ku lagi?
Siapa yang membawanya kesini?
Mengapa selalu aku yang menemukan batu ini?
Bagaimana bisa batu ini berpindah tempat secepat itu?
Berbagai pertanyaan bersarang di otak ku, jika hal seperti ini hanya terjadi sekali aku tidak terlalu ambil pusing, ini sudah kedua kalinya bisakah aku bersikap normal seperti biasanya? Aku tidak bisa tinggal diam, jika hal ini terulang lagi aku akan mencari pelakunya.
__ADS_1
Drrttt drrttt