Bad Reality

Bad Reality
-Limabelas-


__ADS_3

Segelas susu dan sepotong roti bakar tersaji di hadapanku, sedikit demi sedikit ku lahap mereka dengan malas. Pagi yang buruk. Tidak! Tidak ada kata ‘buruk’ dalam kamusku, komitmen ku sudah sangat jelas tertanam di dalam otak “Jiwa yang bahagia adalah pelindung terbaik untuk dunia yang kejam” ini tidak terlalu sulit, melihat setiap hari hidupku penuh dengan kepura-puraan.


Tekadang ada masa dimana aku tenggelam dalam ingatan yang membawaku pada semua kebohongan-kebohongan yang ku perbuat, sempat terpikir bagaimana cara meminta maaf kepada mereka semua yang telah kubohongi, tapi pikiran itu terus berakhir dengan erangan tangis yang membius setiap inci ruang hatiku untuk segera sadar, sadar, sadar, dan sadar. Sadar dengan apa yang selalu kuperbuat, sadar dengan semua kesalahan fatalku, sadar kalau aku tidak bisa menghentikan kesalahan itu walau sebentar saja.


“Non, ada telepon,” belum selesai aku meratapi nasib seorang pelayan datang dengan membawa gagang telepon rumah. “Siapa bi?” tanyaku sambil menerima gagang telepon itu.


“Dia tidak memberitahu non, tapi katanya ini penting.” Dengan ragu kutempelkan gagang telepon itu pada daun telinga. Di menit pertama tidak ada tanda-tanda seseorang akan bicara, hanya terdengar suara krasak krusuk dari benda yang bergesekan. Sekian menit aku tetap menunggu sampai akhirnya kuputuskan untuk membuka percakapan lebih dulu “Maaf, ada perlu apa dengan saya?” masih tidak ada jawaban, dengan geram aku jauhkan gagang telepon itu dari telingaku—berniat menutup. Tapi sebelum itu


“Satu persatu dari mereka akan mati”—tut—tut—tut


Helaan nafas kasarku menyembur setelah gagang telepon berhasil ku lempar entah kemana. Ternyata dia belum puas menggangguku. Setelah semua terror yang dia kirimkan padaku, aku sadar bahwa terrornya akan datang ketika perasaanku sedang buruk, dengan begitu mudah baginya untuk menghancurkanku. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan diriku menjadi mainannya lagi, akan ku ikuti permainannya sampai aku menemukan pelakunya.


Ternyata aturan mainnya mudah, jika aku takut maka aku akan kalah.


~

__ADS_1


Sekolah masih sepi saat aku datang. Waktu yang pas untuk beristirahat sejenak di taman. Tanpa mengulur waktu, ku bawa langkahku memutari koridor sekolah, kuhirup dalam-dalam aroma pagi yang belum tercemar polusi—sangat menenangkan.


Di taman, semua kursi panjang berjajar rapi di depanku, di tambah dengan daun-daun kering berguguran yang menjadi penghias lantai taman, sangat indah. Ku jejalkan tanganku pada saku seragam untuk mengambil ponsel. Setelah berhasil menemukannya aku segera mengangkat ponselku untuk memfoto pemandangan ini. Aku tersenyum ketika melihat hasil jepretanku, kupikir itu tidak terlalu buruk


Kembali pada tujuan utamaku, segera aku beranjak dari tempat ku berdiri tadi untuk duduk di salah satu kursi panjang. Langkahku terhenti ketika melihat Bram yang sedang duduk sembari menatap lurus kedepan sana. Dengan rasa canggung, perlahan ku dekati dia—mencoba untuk lebih akrab.


“Kau—mengapa datang pagi-pagi sekali?” tanyaku setelah berdiri di depan Bram. Matanya yang sayu beralih menatapku, setelah netra kita bertemu mataku beralih melihat bibirnya yang pucat disertai dengan beberapa lebam di pipinya. “Sepertinya kau masih sakit ya, apa mau ku antar ke UKS?” tanyaku lagi.


Bram masih belum menjawab, dia masih menatapku seolah-olah aku adalah bayangan yang akan hilang jika dia mengalihkan pandangannya sedetik saja. Perlahan tangannya mengeluarkan tanganku dari saku jaket, menggemggamnya erat dan berakhir membuat tubuhku limbung sampai terduduk di sampingnya. Tiba-tiba dia menjatuhkan kepalanya tepat di bahu kananku, mendusel mencari tempat ternyaman disana. “Apa yang kau lakukan?”


“Aku bersungguh-sungguh dengan itu Nei” ucapan Bram membuatku terpaku menatapnya, mencari-cari kebohongan di dalam matanya, dan nyatanya tidak ada sepercik kebohongan terpantri dalam bola mata gelap itu. Bram yang ku lihat sekarang bukan seperti Bram yang ku kenal sebelumnya. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang teramat dalam di tambah muka pucatnya menjadikan dia seperti anak anjing yang baru saja di buang oleh manjikannya. Bram tampan, dan dengan keadaannya yang seperti ini membuat dirinya semakin mempesona di mataku. Andai saja dia bisa lebih mengontrol perilakunya seperti laki-laki normal pada umumnya, pasti banyak perempuan yang tertarik padanya termasuk aku.


“Kau tau Nei? Ini pertama kalinya aku menunjukkan sisi rapuhku di depan orang lain, dan orang lain itu ternyata kekasihku sendiri hehe. Bukankah ini sebuah keberuntungan untukmu?”


“Tentu saja tidak. Apa ada masalah sehingga membuatmu seperti ini?” ku putar badanku sehingga berhadapan dengannya, kepalanya masih tetap bersandar pada bahuku. Setelah sekian menit tidak ada jawaban aku merasa kata-kata yang ku ucapkan tadi terlalu berlebihan untuk dipertanyakan. “Kalau kau keberatan untuk bercerita tidak masalah Bram.” Ku ulas senyumku untuk meyakinkan bahwa pertanyaanku barusan anggap saja seperti angin lalu.

__ADS_1


“Aku bukan tidak ingin bercerita, hanya saja aku tidak pandai merangkai kata-kata agar terbentuk sebuah penjelasan dari apa yang telah terjadi padaku.”


Krriinggg


“Bel sudah berbunyi, ayo masuk," ajakku pada Bram yang masih termenung di sampingku, tingkahnya sudah seperti manusia yang tidak punya semangat hidup, ya seperti itulah dia sekarang. Tapi itu berubah cepat ketika dia kembali menatapku. Matanya berbinar senang membuat alisku menukik heran.


“Neira, bagaimana dengan bolos? Kita bisa pergi ke beberapa tempat menyenangkan tanpa terganggu anak-anak yang sedang sekolah," tanyanya padaku, sungguh hari ini setiap kalimat yang diucapkan Bram membuatku terpaku padanya lagi dan lagi, berpikir bahwa mungkin ini adalah efek dari sakitnya kemarin membuatnya menjadi pintar memaku wanita dengan kata-katanya. Aku tidak ingin membuat wajah yang sedari tadi murung kembali murung lagi, tapi aku juga berat meninggalkan sekolah saat waktunya belajar sedang berlangsung, hal itu masih terasa tabu untukku.


“Bagaimana jika sehabis pulang sekolah?” tanyaku tak kalah antusias, harapanku sia-sia karena nyatanya wajah itu kembali murung. Aku sudah bosan di taman ini, mengingat aku berada disini dari semenjak sekolah masih sepi sampai ramai karena bel masuk akan segera berbunyi dan sekarang kembali sepi saat bel telah dibunyikan dan tentu saja aku masih disini. Aku ingin menyapa kelasku.


“Itu terlalu lama, sudah ayo ikut aku.” Bram kembali mengambil tanganku untuk digenggamnya. Kembali menarikku sehingga langkahku terbawa menyusul di belakangnya.


“Bram—Bram tidak aku tidak mau bolos.”


“Ayolah buat masa remajamu menyenangkan.”

__ADS_1


__ADS_2