Bad Reality

Bad Reality
-Empatbelas-


__ADS_3

Sebuah cahaya menyapa permukaan jendelaku, menembus masuk tanpa permisi, menunjukkan kebolehannya dalam menyinari pagi, semakin lama semakin cerah aura yang datang darinya membuat kelopak mataku bergerak mencari kenyamanan lebih lama. Aku masih ingin memejamkan mataku.


Sinar matahari di luar sana seolah menjadi ibu yang tak berwujud pasti untuk membangunkanku setiap paginya. Terkadang aku masih bersyukur karena alam senantiasa menemaniku dalam setiap langkah berat yang kulalui. Membuatku terbangun lewat sinarnya, menyemangatiku untuk siap menghadapi hari lewat embun yang diciptakannya, bahkan dia mengingatkanku untuk pulang kerumah saat warnanya menggelap. Aku sangat berterimakasih untuk itu.


Neira, jalani harimu dengan semestinya, masalah tentang apa yang terjadi nanti biarlah itu menjadi urusan belakangan. Sekarang, beranjaklah, sapa pagimu dan katakan pada dunia bahwa kau tidak takut pada semua yang akan terjadi padamu, ajaklah takdir bermain denganmu sampai ia lelah memberimu ujian yang berat.


Ku bawa langkahku menuju kamar mandi untuk segera bersiap ke sekolah. Sekian menit aku bersiap sampai ku putuskan untuk keluar dari kamarku. Di dapur aku menemukan semua pelayan ku sedang mengerjakan tugas mereka, tanpa pikir panjang aku menyapa mereka semua disertai dengan senyuman hangat yang membuat mereka menatapku heran. Aku tidak peduli itu, ku pikir dengan menunjukkan senyum di pagi hari lebih baik daripada terus murung tanpa minat. Aku juga tidak mau membuat mereka berpikir bahwa aku majikan yang galak, dan jangan lupakan aku yang terus menunggu mereka untuk bisa mengobrol santai denganku layaknya seorang teman.


“Bibi membeli sebuah barang?” ucapku ketika netra ku berhasil menangkap sebuah kotak tergelatak di atas meja ruang tamu. “Oh itu, tadi pagi Pak Yadi membawa kotak ini masuk katanya kotak itu tergeletak begitu saja di bawah kotak surat dan tidak diketahui siapa pengirimnya,” Jelas pelayan ku yang disusul dengan senyum pamit ingin melanjutkan pekerjaan.


Aku tersenyum tipis melihat kotak itu, mungkin karena sudah terbiasa jadi hal ini tidak lagi membuat tanganku dingin dan bergetar takut. Beberapa kali aku menghela nafas untuk mempersiapkan mental ku, membawa kotak itu menjauh ke tempat aman yang tidak ada seorangpun bisa menyaksikan sisi rapuhku lagi.


Melihat waktu yang terus berjalan, dengan terburu aku merobek kardus yang membungkus benda di dalamnya dengan perasaan campur aduk. Mataku berhasil menangkap wujud benda itu, aku mengangkatnya dan membaca surat yang tertempel disana.


Bram sakit


Aku bernafas lega setelah tau bahwa ini bukan paket mengerikan dari penerror sialan itu. Isinya hanya sebuket bunga dan boneka yang di tengahnya di jadikan tempat menyimpan surat yang baru saja ku baca. Mengapa bunga dan boneka ini terbungkus dalam kardus? Tidak bisakah dia memberi dengan cara sewajarnya sehingga tidak membuatku terus-menerus berpikiran negatif.

__ADS_1


~


“Neira!”


Teriakkan lantang itu berhasil membuat kepalaku menoleh mencari sumber suara. Valdi berlari kecil menghampiriku sambil menenteng jaket di sebelah tangannya. Nafasnya memburu saat sampai dihadapan ku membuatnya sedikit membungkuk untuk memompa paru-parunya agar kembali normal. “Kau—kau apa sudah mengirim tugasmu padaku?” nafasnya masih terputus-putus di susul dengan mataku yang membelalak. Astaga aku lupa! Aku mengingat-ingat apakah hari ini ada pelajaran yang dikerjakan kelompokku kemarin atau tidak. Dan sialnya pelajaran itu ada hari ini tepat sekali pada jam pertama. Aku buru-buru mengangkat tanganku, melihat arloji yang menunjukkan bahwa bel masuk berbunyi lima belas menit lagi.


“Kita masih punya waktu lima belas menit lagi Valdi, ayo cepatlah!” sentak ku menarik tangan Valdi dan mengajaknya berlari menaiki anak tangga. Valdi mungkin ini saatnya paru-parumu berolahraga, maafkan aku. Aku terus memacu langkahku pada anak tangga dengan masih menggenggam erat pergelangan tangan Valdi. “Nei—Neiraa cuk—cukupp, kau ingin membuatku mati konyol ha?” ucap Valdi disusul dengan suara batuknya.


“Maafkan aku, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk menyelesaikan tugas kita.” Aku kembali menarik tangan Valdi, kembali mengajaknya berlari sampai kami sampai didepan pintu kelas dan aku melepaskan genggamanku dari tangannya.


[+62+++: kau masih tidak paham dengan statusmu?]


[+62+++: Bersikaplah seperti seorang pacar pada umumnya]


[+62+++: Jangan sekali-kali mengambil kesempatan, aku terus memantaumu]


Tiga pesan berturut-turut masuk kedalam ponselku, aku membuka layar ponselku sembari berjalan dengan terburu menuju mejaku, dan sesaat ku hentikan langkahku setelah membaca pesan yang ada, mataku berpendar ke segala arah memastikan bahwa Bram benar-benar tidak masuk hari ini sesuai dengan penjelasannya di surat tadi pagi.

__ADS_1


Aku mengabaikan pesan itu dan kembali fokus mengerjakan tugas yang mustahil untuk selesai tepat pada jam pertama nanti.


~


Sore ini aku berniat untuk mengunjungi toko buku di dekat sekolahku, membeli beberapa keperluan sekolah juga melihat-lihat novel keluaran terbaru. Aku bukan anak kutu buku yang suka melahap habis susunan kalimat dari lembaran padat itu, standar saja, jika buku itu bagus dan tidak membosankan aku pasti akan membacanya. Berbicara tentang buku, aku bisa mengenal novel dari Valdi, anak itu memang berpengaruh besar untuk hidupku, dia yang selalu memberitahu ku hal baru yang belum ku ketahui, ingin ku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya tapi melihat kondisi kita yang setiap bertemu selalu cekcok jadi ku urungkan niatku.


Semakin lama di dalam toko buku, semakin hanyut aku dengan barang-barang yang tersedia di dalamnya. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan angka 5 yang membuat langkahku berjalan terburu menuju kasir. Tidak lama setelah aku menyelesaikan pembayaran ku, seseorang menepuk bahuku dari belakang.


“Hai Neira, di lihat-lihat kamu anak yang asik ya, pintar juga, boleh tidak kami berteman denganmu?” aku tidak menunjukkan respon apapun kepada mereka, aku tau mereka dua gadis populer di sekolahku, lebih bagus jika mereka tidak sekelas denganku tapi kenyataan yang ada adalah keterbalikan dari itu. Dia, Cindy dan Bunga. Cantik, cantik sekali malah, aku akui itu. Tapi entah kenapa aku tidak suka melihat mereka, seperti ada sesuatu yang membuatku ingin menampar mereka saat kita bertemu, tidak terbayang olehku kami akan ‘berteman’. Ya sudahlah, berteman atau tidak sama-sama menyusahkan bagiku, jika diterima akan langsung merasakan sengsara, jika ditolak maka harus menjalankan beberapa proses menuju kesengsaraan. Sama saja bukan? Hanya tinggal memilih mana yang pas untuk cepat menyudahinya.


“Baiklah, kita berteman.” Senyumku terbit dari kedua sudut bibir, membuat mereka ikut tersenyum senang.


“Aku masih punya beberapa kegiatan hari ini, maaf sekali aku harus pergi sampai jumpa.” Tanpa menunggu jawaban aku segera memundurkan langkahku, terus berjalan sampai kurasa mereka tidak dapat melihat ku.


Sulit untukku menjelaskan bagaimana perasaanku sekarang, senang? Sedih? Marah? Aku tidak tau. Ingin aku berteriak senang karena mendapat teman baru, tapi kenap harus teman yang ku yakin hanya akan memanfaatiku.


Terkadang beberapa persoalan di Bumi tidak kenal dengan keadilan.

__ADS_1


__ADS_2