
“Tolong ikuti mobil Valdi dan perhatikan gerak-geriknya.”
Jarum jam terus berputar, mengganti langit menjadi kelabu pekat yang membutakan. Sedari tadi diriku terus mencari sesuatu yang bisa kulakukan untuk menetralisir kebosanan. Berkali-kali ku lirik layar benda pipih yang ada di pangkuanku, berharap seseorang bisa memberi kabar tentang sahabatku. Terlihat berlebihan memang, tapi kali ini aku benar-benar khawatir padanya. Kepergiaannya tadi dengan wajah yang tidak biasa membuat berbagai pikiran negatif bersarang di otak ku.
Drrttt drrttt
Buru-buru ku angkat benda itu dari pangkuanku. Sekejap aku membaca isi pesan yang baru masuk, dan benar. Isi pesan itu berhasil membuat nafasku tertahan sepersekian detik. Handphone yang baru saja ku genggam jatuh begitu saja bersamaan dengan air mataku yang meluruh.
Aku akui sekali lagi jika aku memang berlebihan, aku tidak pernah merasakan saat-saat dimana orang yang kusayangi sedang baku hantam di sana, dan ini pertama kalinya. Aku sedih, kaget, kecewa semua bersatu seakan mencekik leherku dan tidak membiarkan sesak di dadaku berkurang.
Itu yang kurasakan. Aku takut akan terjadi hal buruk padanya.
Air mataku terus meluruh bersamaan dengan rasa panik yang mulai menyerang diriku, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini, ku gigit jariku untuk menetralisir semua yang kurasakan, saat sebuah ide terlintas dengan cepatnya tanganku berusaha menggapai handphone yang sudah terpental jauh di ujung brankar sana.
"Apakah sudah selesai? Bagaimana keadaan Valdi? Tolong bawa dia ke rumah sakit dan pastikan dia baik-baik saja, kumohon."
"Semua baik-baik saja nona, kau ingin berbicara dengan Tuan Valdi?"
"Berikan padanya aku ingin bicara"
"Aku baik-baik saja Neira," suara serak itu berhasil membuatku menghela nafas lega sebelum tatapanku kembali menajam.
"Kau berhutang cerita padaku."
Ku tutup sambungan itu secara sepihak, emosi ku lebih dominan saat ini, apalagi saat tau kalau Valdi baik-baik saja. Bukan maksudku mendoakannya supaya terjadi hal buruk. Tapi, lihatlah bagaimana aku mati-matian menahan diriku untuk tidak langsung meminta supir pribadi mengantarku ke tempatnya baku hantam.
Setelah hal ini, aku akan lebih mengontrol diriku agar tidak bersikap berlebihan seperti tadi. Huft.
~
"Aku bingung ingin mulai darimana," kata Valdi sambil menunduk memainkan jari-jarinya. "Ucapkan apapun yang kau alami tadi," balasku ketus, rupanya aku belum bisa mengontrol emosi ku, lega saat orang suruhan ku mengatakan dia baik-baik saja tapi yang kulihat sekarang banyak perban terpasang di beberapa bagian tubuhnya, inikah yang di sebut baik baik saja.
__ADS_1
"Oh ayolah jangan bersikap dingin begitu padaku, akan ku ceritakan semuanya setelah emosi mu stabil," bujuknya.
Walaupun kata-katanya barusan membuatku kesal tapi aku tetap menurutinya untuk mengontrol emosiku. Mungkin kiranya aku akan meledak-ledak saat dia bercerita nanti, padahal aku juga malas mengeluarkan urat-uratku untuk memarahinya.
"Aku tidak emosi, bercerita lah cepat aku mengantuk," setelahnya dia bukan bercerita, tapi malah menurunkan posisi brankar ku pada posisi tidur. "Kalau begitu istirahatlah, cerita ini tidak cukup penting untuk kau dengarkan Nei, dan ku lihat kau masih dalam mode emosi mu itu, lain kali kalau kita punya waktu senggang akan ku ceritakan. Selamat malam dan mimpi indah ya," usapan lembut jatuh tepat di puncak kepalaku, Valdi memberikan senyumnya sebelum benar-benar meninggalkanku.
Aku menghela nafas setelah pintu ruang rawatku tertutup rapat menyisakan diriku sendiri di ruang membosankan ini. Tatapanku beralih ke arah jendela yang menampakkan bangunan-bangunan tinggi pencakar langit, dan jalanan membentang di bawahnya.
Drrttt drrttt
2 pesan masuk dari :
[+62+++++]
[Valdi]
Aku mengabaikan pesan dari nomor tak di kenal, dan beralih membuka pesan baru dari Valdi.
Pipi ku bersemu merah saat membaca kata terakhir yang ada di pesan Valdi. Tapi ini bukan saatnya aku seperti itu, otak ku mulai mencerna kata-kata Valdi yang menyuruhku mengunci pintu dan menutup tirai jendela. Apa maksudnya?
Jika aku sedang di kamarku sendiri sudah pasti aku lakukan itu, tapi sekarang aku sedang berada di ruang rawat inap rumah sakit tidak mungkin aku mengunci pintu, bagaimana jika ada perawat masuk untuk memeriksa ku dan tau bahwa pintunya terkunci. Aku tidak akan membuat perawat itu berpikiran buruk tentangku.
[Neira: tidak, untuk apa aku mengunci pintunya. Disini sudah terjamin keamanannya]
Setelah membalas pesan dari Valdi, jariku beralih pada pesan baru dari nomor yang tidak di kenal tadi.
[+62+++++: kedatanganku kemarin malam membuat kau sakit rupanya]
Deg
Siapa ini, kenapa dia tau kalau aku sakit. Jangan-jangan pesan dia dan Valdi ada hubungannya. Otak ku tidak dapat lagi berpikir jernih, dengan tergesa aku turun dari brankar untuk mengunci pintu kamar rawatku.
__ADS_1
Dan saat langkahku hampir sampai pintu, seseorang datang dan berdiri di depan ruang rawatku. Orang itu.
Orang itu persis dengan orang asing yang masuk ke dalam kamarku lewat jendela kemarin malam. Tidak ada yang berbeda termasuk juga pisau yang di genggamannya.
Aku langsung lari mendekati pintu saat dirinya hendak masuk, mendorong pintu itu sampai tertutup rapat dan menguncinya. Sayangnya ada kaca kecil di tengah pintu itu yang membuatku bisa melihat keadaan lorong rumah sakit termasuk orang asing yang masih berada di depan kamar rawatku. Tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam terangkat menyentuh kaca itu dan bisa kulihat dia sedang tersenyum di balik topengnya.
Mataku mencari barang apapun yang bisa menutupi kaca itu, hingga akhirnya ku korbankan sweater pink milikku untuk menutupi kaca itu. Sesaat aku diam memandangi kaca yang tertutup dengan rasa takut yang memenuhi diriku.
Setelah dirasa keadaan aman aku beranjak pergi untuk berbaring lagi di brankar. Ku sandarkan tubuhku di kepala brankar, mencoba menenangkan diriku yang berkali-kali di buat kalut dalam kepanikan hari ini.
Drrttt drrttt
Telepon dari Valdi berhasil membuat perasaanku tenang sesaat. Setidaknya aku punya teman untuk menemaniku tidur malam ini.
"Valdi, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyaku langsung memulai percakapan.
"Hah? Apa yang terjadi padamu Nei?" Tanyanya di rundung rasa penasaran.
"Valdi, tadi ada seseorang mengirimiku pesan, orang itu tau kalau aku sedang sakit, dan saat aku ingin menutup pintu ruang rawatku, ada seseorang di depan kamarku dengan pakaian serba hitam tertutup dan sebilah pisau di tangannya" ceritaku panjang lebar , berusaha membuat dia mengerti dengan apa yang kukatakan.
"Apa ini ada hubungannya dengan pesanmu beberapa saat lalu?" tanyaku mulai curiga.
"Ahh? T--ti--tidak kok, kau sudah memastikan pintu kamar rawatmu benar-benar terkunci kan?" Bukannya menjawab dia malah bertanya balik, dari cara bicaranya yang ku dengar sepertinya dia gugup? Atau dia sedang berbohong.
"Tentu sudah, bisakah kau menemaniku lewat telepon ini sampai aku tertidur? Kalau kau keberatan tidak masalah," tanyaku hati-hati, Valdi adalah orang sibuk dalam bermain game, permintaanku satu ini pasti akan sangat menganggu dunia game nya.
"Baiklah, aku akan menemanimu sampai tertidur nanti," jawabnya diikuti helaan nafas pasrah. Ku yakin keputusan ini di ambil dengan berpikir keras yang berujung tidak ikhlas.
"Terimakasih, tapi apakah ini tidak menganggumu bermm--
Ceklek
__ADS_1
"Mengganggu apa? Neira?"