Bad Reality

Bad Reality
-Sembilanbelas-


__ADS_3

Setiap hari terasa membosankan bagiku, entah lah tidak ada hal menarik yang terjadi padaku akhir-akhir ini, berbeda dengan dulu saat orang tuaku masih ingat dengan rumah. Setiap hari libur kita akan menghabiskan waktu bersama di taman belakang rumah, mengadakan camping dadakan atau hanya untuk memanggang daging itu tidak pernah terlewatkan di hari liburku. Dan sekarang, menghabiskan waktu berjam-jam dibawah gelungan selimut sepertinya akan menjadi kegiatan baru yang mengisi hari liburku.


Walaupun kepergian mereka sudah terhitung satu tahun, tapi kenangan yang tercipta selalu hadir seakan tidak membiarkanku melupakannya.


Mataku membulat sempurna ketika sadar bahwa aku kembali meratapi nasib yang kelewat sial ini, kembali merutuki diriku yang mudah sekali goyah dengan pendirian yang sudah dibuat matang-matang. Tanganku tak henti memukuli kepala dan bibir secara bergantian. Sebenarnya aku ini kenapa, tidak beres.


Suara cicitan burung diluar jendela membuatku bangun dan beranjak. Berjalan kearah jendela dan membuka tirainya, membiarkan udara pagi menyapa permukaan wajahku secara langsung. Sebentar aku memejam menikmati hiliran angin yang menyejukkan, kubuka kembali mataku dan kembali memajam, terus seperti itu sampai penglihatanku berhasil melihat atensi seseorang dibelakang batang pohon yang sedang memandang kearahku. Sedang apa dia disana.


Alisku menukik dalam ketika pikiran membawaku jatuh pada batu bercat merah di dalam kotak nakas, berakhir dengan menyangkut pautkan batu itu dengan orang yang sedang mengintip disana.


Tok tok tok


Imajinasiku terhenti ketika mendengar ketukan pintu kamar, dengan terpaksa aku beranjak untuk membuka pintu, sebelum itu aku sempat sekali lagi melihat orang itu. Aku berhasil menghafal sedikit ciri-ciri tubuhnya. Dia tinggi, pria, memiliki kulit sawo matang, memakai topeng, pakaian yang dikenakan serba hitam dan... dia memakai cincin. Aku pasti tidak salah lihat, walaupun keberadaannya cukup jauh dariku tapi dia sempat mengangkat tangannya dan kulihat ada sebuah cincin melingkari telunjuknya.

__ADS_1


"Taruh saja makanannya dibawah nanti aku turun." Seakan mengerti apa yang biasa dilakukan pelayan rumahku di pagi hari, aku segera berucap sebelum pintu kamar tertarik kedalam dan memperlihatkan atensi pelayan rumah tanggaku dengan tangan kosongnya. "Loh kau tidak membawa sarapannya?" tanyaku bingung.


"Bibi kesini bukan untuk membawa sarapan, di luar ada Tuan Bram." Sebelumnya aku berpikir bahwa Valdi yang telah menungguku. Tapi pelayanku kembali bersuara yang membuatku berlari kearah jendela


"Bibi sarankan non merias diri terlebih dahulu sebelum turun, tuan Bram cukup tampan hari ini, dia memakai pakaian serba hitam, sepertinya kalian ingin kencan ya?"


Pakaian serba hitam


Pakaian serba hitam


Tidak peduli dengan penampilanku yang sekarang, ku percepat langkahku untuk sampai kebawah. Sesampainya aku dibelakang pintu, aku tarik kembali nafasku agar kembali normal dan membuka daun pintu secara perlahan.


"B-Bram?" betapa terkejutnya aku melihat Bram tepat didepan pintu rumahku. Lengkap dengan setelan serba hitamnya dia berdiri disana. Perlahan keadaan canggung hilir mudik diantara kita, meski begitu aku masih melempar tatapan intimidasi padanya. Pakaian yang dikenakannya sekarang sama persis dengan orang yang mengintip di balik pohon tadi. "Ba-bagaimana bisa?" aku masih tidak percaya dengan ini, dia orang yang sama? Bedanya disini tidak ada cincin yang melingkari jarinya.

__ADS_1


"Hei? Ada apa?" Bram berjalan mendekat kearahku, yang membuatku mundur perlahan. "Kau?-dari-darimana ?" tanyaku dengan terbata-bata.


"Aku? Tentu saja aku dari rumah, kenapa?" tidak mungkin, aku merasakan banyak kejanggalan disini, kalau memang Bram dari rumahnya kenapa orang dibalik pohon tadi tidak ada tepat saat bibi mengatakan ada Bram di luar. Lagi, pakaian yang dikenakan Bram sama persis dengan orang itu. Sebenarnya apa yang terjadi.


"Tidak mungkin."


Bram mendaratkan tatapan tepat pada netraku seolah-olah tatapannya itu mempunyai arti "apa yang tidak mungkin?" aku paham, kita sama-sama bingung saat ini. Aku tidak tau siapa yang harus ku percaya sekarang. Dengan kerelaan hati aku memutuskan untuk mengalah dengan menarik tangan Bram dan mengajaknya ke dalam.


Inilah mengapa aku benci setiap kali aku membuka mata di pagi hari. Sepertinya banyak sekali kata-kata yang kuutarakan hanya untuk membahas kisahku yang pahit ini. Aku ingin semua cepat berakhir, berakhirnya semua terror sampah itu, kembalinya orang tuaku dan aku yakin semua akan berjalan baik seperti dulu lagi.


"Kau punya kesibukan lain pagi ini?" setelah sekian menit kami terbelenggu oleh kecanggungan akhirnya Bram mengangkat suaranya dan bertanya. Mataku berpendar ke segala arah berpikir apakah aku terlihat seperti orang yang selalu mempunyai kesibukan?


"Tidak ada, kau mau minum apa?" Bram menoleh dan tersenyum tipis padaku.

__ADS_1


"Hmmm, tidak usah aku ingin mengajakmu keluar hari ini." Jawab Bram diiringi dengan suara ketukan sepatunya yang membuat sunyi diruangan ini menguar begitu saja. Jalan ya, jujur ini pertama kalinya. Aku tidak bisa menilai seberapa parahnya kegugupan yang kurasakan. Mungkin ini karma karena aku selalu mengejek sepasang kekasih yang senang mengumbar kedekatannya didepanku. Sekarang aku merasakan apa yang mereka rasakan, berdebar, panas, malu, senang, semua itu bercampur bersamaan dengan arus aliran darahku, membuatku ingin mati sekarang juga.


"Tu-tunggu sebentar"


__ADS_2