Bad Reality

Bad Reality
-Lima-


__ADS_3

Tok tok tok


Lagi? Astaga


Kali ini aku takut, sungguh ingin rasanya aku berteriak menangis meraung-raung agar orang yang melakukan terror padaku ini sadar kalau aku sudah gila, agar mereka berhenti dan mencari mangsa lain untuk di jadikan korban terror.


Ku hampiri sudut kamar, mencari telepon yang langsung menghubungkan para pelayan ku, aku butuh seseorang yang melihat orang dan juga batu bercak merah sialan itu, agar nanti jika sewaktu-waktu aku meraung-raung dan bicara tidak jelas aku tidak akan di sangka gila.


“Siapapun disana, kesini sekarang,” ku naikkan suaraku beberapa oktaf karena telepon yang tersedia cukup jauh dari tempat-tempat pelayanku, cukup mudah untuk di jangkau tapi masih adakah pelayan disana malam-malam seperti ini? Harapanku satu-satunya saat ini adalah Pak satpam, teleponnya berada dalam pos satpam ku yakin Pak satpam mendengar seruanku.


Tok tok tok


Ini bukan suara ketukan batu sialan dari jendela itu, ini ketukan pintu kamarku, ah senang sekali ternyata ada gunanya telepon berdebu itu.


“Ada apa non?” Tanya Pak satpam setelah ku bukakan pintu kamarku. “Itu bisakah kau lihat apa yang ada di depan jendela kamarku?” pintaku.


“Akan saya lihat non” jawabnya sambil membungkukan badan berjalan menghampiri jendela kamar berusaha menggapai pintu kaca yang menyerupai jendela itu. Sungguh ini menegangkan, setiap langkah Pak satpam semakin membuat jantungku berdegup kencang tidak karuan.


Deg deg deg


Ah lama sekali, kenapa tidak sampai sampai. Ini Pak Satpam yang jalannya lambat, atau karena aku yang sedang membayangkan ini seperti di film hantu yang setiap langkah Pak satpam di beri efek slowmotion dan backsound yang mengerikan.


“Tidak ada apa-apa non,” suara Pa satpam menyadarkan lamunanku. “Kau yakin? Maksudku tidak ada apapun di depan jendela itu?” tanyaku mencoba untuk percaya, karena nyatanya jelas-jelas ada sesuatu yang membentur jendela kamarku tadi, tidak mungkin benda itu hilang.


“Tidak ada apapun non, kalau non penasaran kemarilah," lambaian tangan Pam satpam membuatku melangkah mendekatinya, dan benar saja. Tidak ada apapun di depan jendela ini, apakah aku halusinasi? Tidak mungkin, ini terlalu nyata untuk sebuah halusinasi.


“Terimakasih, kau boleh kembali," Pak satpam segera keluar dari kamarku, meninggalkan aku yang lagi-lagi ditenggelamkan oleh pikiran. Ingin aku alihkan dengan kegiatan lain tapi pikiranku ini terlalu sulit untuk di alihkan. Ku buang nafasku frustasi, sampai kapan ini berakhir.


Tanganku mengacak isi rak buku, mencari buku yang menarik untuk di baca, setidaknya aku bisa menghilangkan pikiran burukku sampai tidur nanti dengan membaca buku. Selesai memilih buku, ku senderkan tubuhku di kepala kasur, suasana yang semula tenang berubah menjadi tidak enak saat kejadian tadi. Mataku terus melirik ke arah jendela memastikan jika ada batu yang terlempar lagi aku bisa melihat dari mana asal datang batu itu. Jika batu itu di lempar dari jauh, kaca jendela pasti sudah pecah jadi opini ku saat ini adalah ada seseorang yang memanjat balkon kamarku dan sengaja membenturkan batu disana, setelah meletakkan batu dia kembali melompati balkon dan pergi. Ahli sekali.

__ADS_1


Kling kling


Valdi


Kau sudah mengerjakan tugas rumah untuk besok Nei?


Ya ampun aku lupa. Untung Valdi mengingatkanku, jika tidak habis aku kena hukuman besok.


Neira


Belum, akan segera ku kerjakan terimakasih sudah mengingatkan.


Ku letakkan kembali handphone ku di atas nakas dan beranjak untuk mengambil buku tugas, baru saja ku buka buku, Valdi mengirimku pesan lagi.


Valdi


Neira, boleh aku bertanya?


Neira


Valdi


Sedang apa kau malam-malam begini di balkon kamarmu? Ini dingin


Bukankah kau tidak menyukai dingin?


Deg


Opini ku benar?

__ADS_1


Ada seseorang di balik jendela kamarku?


Jangan Tanya kenapa Valdi bisa tau tentang seseorang yang berdiri di balkon kamarku, Valdi sering bermain di rumah sepupunya, kebetulan rumah sepupunya satu komplek denganku. Dan kebetulannya lagi, Valdi melihat orang yang menerrorku. Ingin sekali ku ceritakan kegelisahan ku dua hari belakangan ini, tapi aku tidak mau Valdi berubah menjadi orang yang lebih posessif dari ini, seseorang tolong hentikan sifat percaya diriku yang sudah terlampau tinggi mlm.


Isi pesan Valdi mengatakan bahwa ‘aku’ sedang berdiri di balkon kamarku, tapi tidak ada siapa-siapa disana, aku bisa melihatnya dari balik tirai tembus pandang ini. Mungkin orang yang menerrorku sedang berdiri di membelakangi dinding kamar mandiku jadi dia tidak terlihat di jendela.


Neira


Aku sedang bosan, jadi aku keluar untuk menghirup udara.


Valdi


Benarkah? Pakaianmu tidak terlihat seperti orang yang bosan dengan kegiatannya di kamar lalu keluar begitu saja.


Sial, sifatnya kembali di saat yang tidak tepat. Tapi ada untungnya, jadi aku bisa bertanya tentang orang yang menerorrku.


Neira


Sungguh? Memang seperti apa pakaianku?


Valdi


Kau memakai pakaian serba hitam, semua hitam. Dari mulai topi sampai sepatu. Kau mengenakan sepatu di dalam kamarmu?


Neira


Sudah ku bilang, aku sedang bosan. Niatku tadi aku ingin pergi keluar tapi setelah melihat jam, aku memutuskan untuk pergi ke balkon saja.


Valdi

__ADS_1


Tidak, aku yakin itu bukan kau, orang yang berdiri di sana memiliki postur tubuh lebih tinggi dan besar dari postur tubuhmu, juga orang itu tidak mengenggam handphone jika itu kau, kau pasti sedang menggenggam handphone mu sekarang.


krek krek krek


__ADS_2