BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
MENGHILANG


__ADS_3

“Apa? Emang aku kenapa sih?” Tanya Andana yang mulai gelisah.


“Moy, kamu semalam kemana?” Tanya nya lagi dengan suara seriusnya.


“Beli makanan sama minuman. Kenapa sih, kamu aneh banget deh,” jawab Andana sekenanya.


“Yakin?”


Tanya nya lagi.


Andanapun


menghela napas berat.


“Sudah ya aku males ribut dan debat sama kamu, terserah kamu deh mau bikin persepsi apapun


soal aku,” jawab Andana sambil menyudahi panggilan itu lalu mendengus kesal.


“Dia kenapa sih aneh banget, aku juga tau siapa kamu. Tapi sekarang aku  juga bingung dan


tidakk tau apa yang sebenarnya terjadi semalam,” sungut Andana.


Tidak lama Gitapun keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti pakaian, dia


melihat Andana yang masih kesal.


“Kenapa Mams? Apa yang dia bilang sama Mams?” Tanya Gita santai sambil mengeringkan rambutnya


yang basah.


“Gak tau itu kenapa sama dia, aneh banget. Makin kesini kok makin ngeselin. Berasa


di awasin jadinya. Kan jadi gak nyaman,” dengus Andana kesal.


“Semalam


kalo aku gak salah inget dia telpon aku trus nanyain Mams, katanya kenapa dia


telpon gak Mams angkat. Aku bilang kalo Mams lagi keluar beli makanan sama


Prachaya, tapi dia tiba-tiba marah sama aku gak jelas, dia bilang kenapa aku biarin


Mams keluar sendirian sama orang asing. Aku kan ngantuk banget, jadi aku gak


tanggepin. Trus aku matiin deh.” Jelas Gita santai sambil memakai make up.


“Sudahlah biarin aja, Mams juga gak tau kenapa dia jadi gitu. Mungkin dia hanya khawatir


sama kita. Tapi biarin sajalah, jangan sampai karna dia, liburan kita jadi gak


menyenangkan. Mams mau ganti baju dulu,” ucap Andana menyudahi percakapan itu. Namun


baru ia ingin melangkah, ada pesan masuk dari Khodam.


“Aku tau semalam kamu minum, dan kamu


berulah. Aku bukannya iri Moy, Cuma aku gak mau kamu dapat masalah lagi, dia itu


bintang. Kalau sampai penggemar yang lain tau, kamu bisa kena masalah,” bunyi pesan dari


Khodam.


Jantung Andana berdebar kencang saat mebaca pesan dari Khodam itu. Andana terkejut karna dia


sudah mengetahui bahwa semalam dirinya tengah mabuk. Tapi Andana segera menepis rasa itu dan


bergegas mengganti pakaian lalu bersiap untuk check out dari hotel itu.


“Mams kenapa ya? Kok sikapnya berubah sejak keluar sama Abang semalam.” Ucap Gita


lirih sambil memperhatikan Andana yang masuk kembali kedalam kamar mandi.


Setelah selesai semua, kamipun keluar dari kamar hotel dan beranjak untuk turun sarapan


lalu pergi, namun saat Andana menutup pintu kamar itu, ia menoleh sebentar kearah


pintu kamar Prachaya. Andana memandang pintu itu dengan termenung. Hingga Gita


menegurnya.


“Mams?


Kenapa? Mau nyamperin Abang dulu? Kita pastikan saja dia masih di kamar atau


sudah pergi,” ajak Gita.


“Hmmm?


Gak usah Ta, jangan diganggu. Biarkan saja, ayo kita turun. Nanti kita ketinggalan


Bis nya,” ajak Andana sambil menarik koper Andana dan melangkah menuju lift.


*****


Prachaya membuka matanya saat dering ponselnya berbunyi. Dengan malas ia menggapai


ponselnya dan menjawabnya tanpa melihat siapa yang memanggil, sebab ia masih

__ADS_1


memjamkan matanya.


“Prachaya,


satu jam lagi kamu sudah harus ada dilokasi, apakah kamu belum bangun? Tiga


puluh menit lagi aku akan menjemputmu, oke.” ucap managernya.


“Oke phi, aku akan segera bangun dan bersiap,” jawab Prachaya dan menyudahi


panggilan itu.


Prachaya duduk dan memijat batang hidungnya untuk mengusir kantuk yang masih bersarang


disana.


Namun seketika ia teringat akan satuhal. Matanya mencari-cari kesegala arah dan memanggil.


“An,kamu masih disini, kan? An?” panggilnya dengan memandangi pintu kamar mandi.


Namun tidak ada jawaban apapun. Prachaya beranjak turun dan memakai celana boxernya,


lalu berjalan kekamar mandi dan melihat bahwa disana tidak ada siapapun. Ia juga


berjalan kebalkon kamar nya untuk melihat kesekitar, namun tidak menemukannya.


Kembali ia berjalan masuk kedalam dan menggapai ponselnya, lalu mencari nomor An untuk


menanyakan keberadaan An.


“Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku? Apakah dia sudah pergi? Heuh? Benarkah?”


ucapnya tidak percaya.


An?


Kamu di mana?


Apakah kamu sudah pergi ke Phuket?


Mengapa kamu tidak  membangunkanku?


bunyi pesan yang dikirm Prachaya pada Line An.


Setelah mengerim pesan itu, Prachaya bergegas mandi dan bersiap untuk pergi kelokasi


acara yang harus di isi olehnya. Namun saat ia berada didepan pintu kamar An


dan Gita, Prachaya mencoba mengetuk pintu itu dan memanggil namanya.


“An,, Gita,, kalian masih didalam?” panggil Prachaya setelah mengetuk pintu beberapa


Tapi tidak ada jawaban apapun. Membuat Prachaya menyudahi aktifitas itu dan berjalan


menuju lift.


Di resepsionis


ia sengaja berhenti dan bertanya pada mereka.


“Permisi,


saya mau bertanya. Penghuni kamar 701 apakah sudah check out?” Tanya Prachaya


sopan menggunakan bahasa Thailand.


“Selamat pagi tuan Prachaya, sebentar saya periksa terlebih dahulu ya,” jawab penjaga


resepsionis itu ramah.


Lalu sesaat ia melihat kelayar pc yang ada didepannya.


“Penghuni kamar 701 sudah check out dua jam yang lalu tuan, dan ini ada titipan untuk


tuan Prachaya,” tambah penjaga resepsionis itu sambil menyodorkan sebuah kotak


kado berwarna peach itu.


“Oh terima kasih banyak,” jawab Prachaya kemudian berjalan kelobi hotel.


“Aya,”


panggil sang manager.


Prachaya


menoleh dan berjalan kearahnya lalu pergi.


Didalam mobil ia tertegun memandangi kotak peach itu sambil tersenyum.


“Sepertinya pagi ini suasana hatimu sedang baik. Apakah semalam kamu mengalami hal yang


baik? Aku dengar banyak wartawan dan penggemarmu menunggu di hotel itu?” Tanya


sang manager sambil mengemudi.


“Cukup baik P’Lin, aku diselamatkan oleh penggemarku semalam yang ternyata menginap di

__ADS_1


hotel yang sama denganku. Bahkan kamar kami berada dilantai yang sama, mereka


dari Indonesia,” ucap Prachaya.


“Heuh?


Benarkah? Lalu bagaimana? Apakah mereka tidak melakukan hal-hal aneh padamu?”


Tanya P’Lin manager Prachaya itu.


“Hoiihh tenanglah Phi, aku tidak apa-apa. Bahkan mereka sangat baik padaku. Mereka


sangat berbeda dengan penggemar-penggemarku yang pernah ku temui. Mereka bahkan


terkesan biasa saja saat mengetahui aku meminta bantuan pada mereka.” Jelas


Prachaya sambil tersneyum.


“Hmm, Hmm, Hmm,


apakah mereka cantik?” Tanya P’Lin sambil tersenyum penuh makna.


Prachaya tersenyum simpul dan malu saat ditanya seperti itu.


“Hmm


melihat reaksi itu sepertinya memang sangat cantik dan menggemaskan, apakah


tebakan Phi benar?” Tanya P’Lin sambil mengulum senyum.


“Kamu sangat mengerti aku Phi,” jawab Prachaya makin mengembangkan senyumannya.


“Heui


aku sudah mengurusmu selama bertahun-tahun Aya, dan baru kali ini aku melihat


kamu seperti ini, bisakah kamu memberitahu ku seperti apa gadis yang bisa


membuatmu tersenyum pagi ini?” tanya P’Lin.


Prachaya


hanya terkekeh menjawab pertanyaan managernya yang mulai kepo dengan hal yang


membuatnya bisa tersenyum pagi ini.


“Ayolah,


mengapa kamu sangat pelit pada manager mu sendiri Aya,” tambah P’Lin penasaran.


“Itu bukan masalah Phi, yang jadi masalah sekarang apakah aku masih bisa bertemu


kembali dengannya sebelum ia kembali ke Indonesia. Mereka hanya satu minggu berada


disini, ia hanya ingin merayakan ulang tahunku dan berlibur beberapa hari saja,”


terang Prachaya dengan bimbang.


“Aw,


mengapa kamu melepaskannya kalau begitu?” Tanya P’Lin lagi.


“Dia


pergi tanpa pamit Phi, aku mencoba menghubunginya tapi dia tidak menjawabnya.


Phi apakah jadwalku untuk besok dan lusa kosong?” Tanya Prachaya lagi.


“Hmm,


besok kamu ada pemotretan didekat sini juga, dan lusa juga sama. Memangnya kamu


mau kemana?” Tanya P’Lin.


“Aku ingin ke Phuket Phi, dia disana sepertinya. Aku ingin menemuinya disana,” jawab


Prachaya.


“Aya,


apakah dia sangat menarik hingga kamu bisa sangat tertarik padanya?” Tanya


P’Lin lagi.


“Dia


berbeda Phi, sangat berbeda dari penggemarku yang pernah ku temui. Aku ingin


mengenalnya,” jawab Prachaya sambil menerawang.


“Oke-oke


baiklah, aku akan mengatur ulang jadwal pemotretanmu. Kamu bisa ke Phuket untuk


dua hari kedepan, bagaimana?” usul P’Lin.


“Terima

__ADS_1


kasih banyak Phi, kamu memang paling mengerti aku,” jawab Prachaya senang.


__ADS_2