
“Apa? Emang aku kenapa sih?” Tanya Andana yang mulai gelisah.
“Moy, kamu semalam kemana?” Tanya nya lagi dengan suara seriusnya.
“Beli makanan sama minuman. Kenapa sih, kamu aneh banget deh,” jawab Andana sekenanya.
“Yakin?”
Tanya nya lagi.
Andanapun
menghela napas berat.
“Sudah ya aku males ribut dan debat sama kamu, terserah kamu deh mau bikin persepsi apapun
soal aku,” jawab Andana sambil menyudahi panggilan itu lalu mendengus kesal.
“Dia kenapa sih aneh banget, aku juga tau siapa kamu. Tapi sekarang aku juga bingung dan
tidakk tau apa yang sebenarnya terjadi semalam,” sungut Andana.
Tidak lama Gitapun keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti pakaian, dia
melihat Andana yang masih kesal.
“Kenapa Mams? Apa yang dia bilang sama Mams?” Tanya Gita santai sambil mengeringkan rambutnya
yang basah.
“Gak tau itu kenapa sama dia, aneh banget. Makin kesini kok makin ngeselin. Berasa
di awasin jadinya. Kan jadi gak nyaman,” dengus Andana kesal.
“Semalam
kalo aku gak salah inget dia telpon aku trus nanyain Mams, katanya kenapa dia
telpon gak Mams angkat. Aku bilang kalo Mams lagi keluar beli makanan sama
Prachaya, tapi dia tiba-tiba marah sama aku gak jelas, dia bilang kenapa aku biarin
Mams keluar sendirian sama orang asing. Aku kan ngantuk banget, jadi aku gak
tanggepin. Trus aku matiin deh.” Jelas Gita santai sambil memakai make up.
“Sudahlah biarin aja, Mams juga gak tau kenapa dia jadi gitu. Mungkin dia hanya khawatir
sama kita. Tapi biarin sajalah, jangan sampai karna dia, liburan kita jadi gak
menyenangkan. Mams mau ganti baju dulu,” ucap Andana menyudahi percakapan itu. Namun
baru ia ingin melangkah, ada pesan masuk dari Khodam.
“Aku tau semalam kamu minum, dan kamu
berulah. Aku bukannya iri Moy, Cuma aku gak mau kamu dapat masalah lagi, dia itu
bintang. Kalau sampai penggemar yang lain tau, kamu bisa kena masalah,” bunyi pesan dari
Khodam.
Jantung Andana berdebar kencang saat mebaca pesan dari Khodam itu. Andana terkejut karna dia
sudah mengetahui bahwa semalam dirinya tengah mabuk. Tapi Andana segera menepis rasa itu dan
bergegas mengganti pakaian lalu bersiap untuk check out dari hotel itu.
“Mams kenapa ya? Kok sikapnya berubah sejak keluar sama Abang semalam.” Ucap Gita
lirih sambil memperhatikan Andana yang masuk kembali kedalam kamar mandi.
Setelah selesai semua, kamipun keluar dari kamar hotel dan beranjak untuk turun sarapan
lalu pergi, namun saat Andana menutup pintu kamar itu, ia menoleh sebentar kearah
pintu kamar Prachaya. Andana memandang pintu itu dengan termenung. Hingga Gita
menegurnya.
“Mams?
Kenapa? Mau nyamperin Abang dulu? Kita pastikan saja dia masih di kamar atau
sudah pergi,” ajak Gita.
“Hmmm?
Gak usah Ta, jangan diganggu. Biarkan saja, ayo kita turun. Nanti kita ketinggalan
Bis nya,” ajak Andana sambil menarik koper Andana dan melangkah menuju lift.
*****
Prachaya membuka matanya saat dering ponselnya berbunyi. Dengan malas ia menggapai
ponselnya dan menjawabnya tanpa melihat siapa yang memanggil, sebab ia masih
__ADS_1
memjamkan matanya.
“Prachaya,
satu jam lagi kamu sudah harus ada dilokasi, apakah kamu belum bangun? Tiga
puluh menit lagi aku akan menjemputmu, oke.” ucap managernya.
“Oke phi, aku akan segera bangun dan bersiap,” jawab Prachaya dan menyudahi
panggilan itu.
Prachaya duduk dan memijat batang hidungnya untuk mengusir kantuk yang masih bersarang
disana.
Namun seketika ia teringat akan satuhal. Matanya mencari-cari kesegala arah dan memanggil.
“An,kamu masih disini, kan? An?” panggilnya dengan memandangi pintu kamar mandi.
Namun tidak ada jawaban apapun. Prachaya beranjak turun dan memakai celana boxernya,
lalu berjalan kekamar mandi dan melihat bahwa disana tidak ada siapapun. Ia juga
berjalan kebalkon kamar nya untuk melihat kesekitar, namun tidak menemukannya.
Kembali ia berjalan masuk kedalam dan menggapai ponselnya, lalu mencari nomor An untuk
menanyakan keberadaan An.
“Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku? Apakah dia sudah pergi? Heuh? Benarkah?”
ucapnya tidak percaya.
An?
Kamu di mana?
Apakah kamu sudah pergi ke Phuket?
Mengapa kamu tidak membangunkanku?
bunyi pesan yang dikirm Prachaya pada Line An.
Setelah mengerim pesan itu, Prachaya bergegas mandi dan bersiap untuk pergi kelokasi
acara yang harus di isi olehnya. Namun saat ia berada didepan pintu kamar An
dan Gita, Prachaya mencoba mengetuk pintu itu dan memanggil namanya.
“An,, Gita,, kalian masih didalam?” panggil Prachaya setelah mengetuk pintu beberapa
Tapi tidak ada jawaban apapun. Membuat Prachaya menyudahi aktifitas itu dan berjalan
menuju lift.
Di resepsionis
ia sengaja berhenti dan bertanya pada mereka.
“Permisi,
saya mau bertanya. Penghuni kamar 701 apakah sudah check out?” Tanya Prachaya
sopan menggunakan bahasa Thailand.
“Selamat pagi tuan Prachaya, sebentar saya periksa terlebih dahulu ya,” jawab penjaga
resepsionis itu ramah.
Lalu sesaat ia melihat kelayar pc yang ada didepannya.
“Penghuni kamar 701 sudah check out dua jam yang lalu tuan, dan ini ada titipan untuk
tuan Prachaya,” tambah penjaga resepsionis itu sambil menyodorkan sebuah kotak
kado berwarna peach itu.
“Oh terima kasih banyak,” jawab Prachaya kemudian berjalan kelobi hotel.
“Aya,”
panggil sang manager.
Prachaya
menoleh dan berjalan kearahnya lalu pergi.
Didalam mobil ia tertegun memandangi kotak peach itu sambil tersenyum.
“Sepertinya pagi ini suasana hatimu sedang baik. Apakah semalam kamu mengalami hal yang
baik? Aku dengar banyak wartawan dan penggemarmu menunggu di hotel itu?” Tanya
sang manager sambil mengemudi.
“Cukup baik P’Lin, aku diselamatkan oleh penggemarku semalam yang ternyata menginap di
__ADS_1
hotel yang sama denganku. Bahkan kamar kami berada dilantai yang sama, mereka
dari Indonesia,” ucap Prachaya.
“Heuh?
Benarkah? Lalu bagaimana? Apakah mereka tidak melakukan hal-hal aneh padamu?”
Tanya P’Lin manager Prachaya itu.
“Hoiihh tenanglah Phi, aku tidak apa-apa. Bahkan mereka sangat baik padaku. Mereka
sangat berbeda dengan penggemar-penggemarku yang pernah ku temui. Mereka bahkan
terkesan biasa saja saat mengetahui aku meminta bantuan pada mereka.” Jelas
Prachaya sambil tersneyum.
“Hmm, Hmm, Hmm,
apakah mereka cantik?” Tanya P’Lin sambil tersenyum penuh makna.
Prachaya tersenyum simpul dan malu saat ditanya seperti itu.
“Hmm
melihat reaksi itu sepertinya memang sangat cantik dan menggemaskan, apakah
tebakan Phi benar?” Tanya P’Lin sambil mengulum senyum.
“Kamu sangat mengerti aku Phi,” jawab Prachaya makin mengembangkan senyumannya.
“Heui
aku sudah mengurusmu selama bertahun-tahun Aya, dan baru kali ini aku melihat
kamu seperti ini, bisakah kamu memberitahu ku seperti apa gadis yang bisa
membuatmu tersenyum pagi ini?” tanya P’Lin.
Prachaya
hanya terkekeh menjawab pertanyaan managernya yang mulai kepo dengan hal yang
membuatnya bisa tersenyum pagi ini.
“Ayolah,
mengapa kamu sangat pelit pada manager mu sendiri Aya,” tambah P’Lin penasaran.
“Itu bukan masalah Phi, yang jadi masalah sekarang apakah aku masih bisa bertemu
kembali dengannya sebelum ia kembali ke Indonesia. Mereka hanya satu minggu berada
disini, ia hanya ingin merayakan ulang tahunku dan berlibur beberapa hari saja,”
terang Prachaya dengan bimbang.
“Aw,
mengapa kamu melepaskannya kalau begitu?” Tanya P’Lin lagi.
“Dia
pergi tanpa pamit Phi, aku mencoba menghubunginya tapi dia tidak menjawabnya.
Phi apakah jadwalku untuk besok dan lusa kosong?” Tanya Prachaya lagi.
“Hmm,
besok kamu ada pemotretan didekat sini juga, dan lusa juga sama. Memangnya kamu
mau kemana?” Tanya P’Lin.
“Aku ingin ke Phuket Phi, dia disana sepertinya. Aku ingin menemuinya disana,” jawab
Prachaya.
“Aya,
apakah dia sangat menarik hingga kamu bisa sangat tertarik padanya?” Tanya
P’Lin lagi.
“Dia
berbeda Phi, sangat berbeda dari penggemarku yang pernah ku temui. Aku ingin
mengenalnya,” jawab Prachaya sambil menerawang.
“Oke-oke
baiklah, aku akan mengatur ulang jadwal pemotretanmu. Kamu bisa ke Phuket untuk
dua hari kedepan, bagaimana?” usul P’Lin.
“Terima
__ADS_1
kasih banyak Phi, kamu memang paling mengerti aku,” jawab Prachaya senang.