BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
KESAN PERTAMA YANG MEMALUKAN


__ADS_3

“Are you okay?" tanya Tay dengan mencoba tersenyum.


Namun Gita yang terpana melihat siapa yang kini tengah berdiri didepannya itupun


tidak mengindahkan pertanyaan Tay.


Gita hanya terdiam terkesima oleh pria tampan yang sudah menjadi biasnya selama ini.


Meskipun ia memiliki banyak Bias, namun ada satu nama yang menempati tahta tertinggi


dalam perbiasannya.


Dan orang itu adalah Tay Tawan, yang sekarang sedang berada berdiri tepat


didepannya.


“Are you hurt? I'm sorry I wasn't careful," ucap Tay lagi karna Gita hanya diam


sambil menatap kearahnya.


“Emh, Aaa, Eee. It’s Okay. I'm sorry I didn't see you," kata Gita tergagap saat


menyadari semuanya.


Gita pun menyambut tangan Tay yang sedari tadi menjulur kearahnya dan berdiri.


"I didn't see you either. I'm sorry, but, where are you going in such a hurry?" tanya Tay mencoba untuk berbicara lebih lama lagi dengan Gita.


Namun sepertinya itu bukan waktu yang tepat, kembali perut Gita menyadarkan dirinya


bahwa masih ada hajat yang harus ia selesaikan.


Perutnya kembali melilit dan kini juga dibarengi dengan bunyi perut yang tidak bisa ia


sembunyikan.


Itu tentu saja membuat wajah Gita menjadi pias akibat menahan malu dan sakit.


"I'm sorry, but I have to go to the toilet for a while. I'm sorry again P'Tay,"


ucap Gita sambil menahan sesuatu yang nyaris ingin kembali keluar itu.


Dan benar saja, saat ia melangkah kembali lagi Gita tidak bisa menahan kentutnya


dan itu jelas terdengar oleh Tay.


Itu membuat Tay hanya bisa terbelalak sambil menahan diri untuk tidak tertawa.


"Forgive me P'Tay," Gita berkata dengan suara lirih sambil berlari menjauh dan


masuk kedalam toilet itu.


Gita masuk kedalam toilet itu sambil bergegas membuka celananya. Lalu menyelesaikan


hajatnya.


“Itu tadi P’Tay? Benar-benar dia, kan? Ini aku lagi halu gak sih!” ucap Gita sambil


terus menuntaskan hajatnya.


Gita kembali mengingat kejadian yang baru saja ia alami itu. Dan setelah ia sadar


dengan apa yang terjadi, Gita menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan


sepuluh jarinya.


Kemudian ia berteriak keras sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


“Aaagghhh!!!


GITA! KAMU SANGAT BODOH!” umpatnya dengan kesal.


“Kenapa sih harus ketemu P’Tay disaat seperti ini, Hiks. Itu sangat memalukan, Hiks,


hiks.”


Gita benar-benar frustasi saat kembali ia mengingat bagaimana pertemuan pertamanya


dengan bias kesayangannya.


“Bagaimana ini?


“Dia pasti sangat ilfeel melihat aku tadi.


“Lalu bagaimana aku bisa menyapanya lagi kelak.


“Nanti kalau dia mengingatku dengan kesan seperti itu, aku harus bagaimana?


Hiks, Hiks, Hiks


“Gita, kamu benar-benar bodoh!


“Kenapa juga harus bertemu saat keadaan seperti ini.


“Perut, kamu juga salah. Mengapa kamu harus melilit disaat aku akan bertemu dengan P’Tay.


“Bukan pertemuan seperti ini yang aku inginkan.


“Aaaghhhh!!!!

__ADS_1


“Akumaluu!!!


Gita terus-terusan mengomel pada dirinya sendiri atas apa terjadi beberapa saat yang


lalu.


“Padahal aku sudah membayangkan akan bertemu P’Tay dengan adegan romantis. Bukan dengan


adegan memalukan seperti tadi.


Hiks,


Hiks.


“Aku harus bagaimana sekarang?


“Lalu ini bagaimana? ****** ******** kotor. Masa aku harus gak pakai ****** *****


sih!


“Aagh!!! Kenapa hari ini aku sial banget, sih!


Sedangkan dari luar toilet itu, ada beberapa orang yang hanya terdiam heran mendengar


omelan Gita dari dalam sana.


Gita merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Lalu melakukan panggilan pada Andana.


“Hallo, Ta? Kamu dimana?


Andana berkata sesaat setelah menjawab panggilan dari Gita.


“Mams,


hiks hiks hiks,


Gita hanya bisa menangis tanpa bisa menjelaskan lagi.


“Lho kok nangis? Kamu kenapa? Kamu dimana sekarang?


Andana mendadak menjadi khawatir setelah mendengar Gita menangis.


“Tolongin aku,” ucap Gita disela tangisnya.


“Iya, tapi kamu dimana? Biar Mams susul kamu nanti. Kamu masih di toilet?


Terka Andana setelah seksamamendengarkan Gita berbicara namun sedikit menggema.


“Iya, tapi


“Tapi apa Ta? Jangan bikin Mams semakin khawatir Ta? Mams kesana sekarang tunggu


Andana menyudahi panggilan itu dan bergegas ingin kembali menemui Gita.


“An,


mau kemana?” tanya Prachaya menangkap pergelangan tangan Andana yang pergi


begitu saja.


“Aku mau ketoilet, sepertinya ada sesuatu hal terjadi dengan Gita. Dia menangis,”


jawab Andana sekenanya dengan wajah paniknya.


“Oke ayo kesana,” ajak Prachaya kemudian bergegas ketempat dimana Gita berada.


“Ta, Gita. Kamu dimana, Ta?” panggil Andana setelah sampai di toilet tempat Gita


berada.


Gita yang mendengar suara Andana itupun perlahan membukakan pintu toilet itu dan


mengintip keluar dengan wajah sedihnya.


“Ta, kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?” tanya Andana yang segera menghampiri


Gita dan mencoba membukakan pintu toilet itu sedikit lebar agar Gita dapat


ditariknya keluar dari sana.


“Mams, boleh pinjam sweaternya?


Pinta Gita dengan wajah takutnya.


“Boleh, kamu lagi datang bulan ya Ta?” tanya Andana sambil melepas sweater hitam yang


di pakainya dan memberikannya pada Gita.


Dan Gita tidak menjawab pertanyaan Andana, ia segera memakai sweater itu di


pingangnya dan mengikatkannya untuk menutupi bagian panggulnya.


Andana yang masih bingung itupun hanya bisa diam sambil memperhatikan Gita. Setelah


Gita mengikatkan sweater Andana, ia pun memandangi Andana.


Kemudian memeluk Andana sambil kembali menangis. Membuat Andana semakin bingung di


buatnya.

__ADS_1


Sedangkan Prachaya yang menunggu diluar tolet wanita itu berdiri dengan cemas sambil


menutupi wajahnya dengan menunduk.


“An, bawa keluar saja dulu. Kita bicara diluar saja,” bunyi suara Prachaya yang


meminta Andana keluar.


“Iya,”


jawab Andana sambil memapah Gita.


Setelah keluar dari toilet itu, Prachaya membawa Gita dan Andana menuju tempat makan


agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Gita hingga dia menjadi sangat


frustasi seperti itu.


Dengan susah payah Gita menceritakan apa yang terjadi dari awal disela isak tangisnya.


Andana dan Prachaya yang mendengarkan cerita Gita itu hanya bisa saling tatap. Sesaat


setelah itu Andana tidak bisa lagi menahan tawanya.


Ia pun tertawa sambil memeluk Gita yang masih sesugukan itu.


“Malah diketawain, aaaaaa,” Gita kembali menangis menahan malunya.


“Maafin Mams Ta. Maaf tapi itu sangat lucu, hahaha


Andana masih terus tertawa sedangkan Gita masih saja menangis.


Prachaya yang melihat ulah kedua wanita didepannya itu hanya tersenyum dan juga bingung.


Bagaimana bisa mereka tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan.


Mereka berdua benar-benar lucu dan unik. Saling melengkapi dan merangkul. Membuat


Prachaya diam-diam mengagumi Andana dan Gita. Dan hal itu juga membuat Prachaya


semakin lama semakin mengenal Andana dan Gita secara bersamaan.


“Gita, minum dulu,” kata Prachaya sambil menyodorkan botol minum air mineral pada Gita


yang masih sesugukan.


“Iya minum dulu ya sayang. Cup cup cup. Jangan nangis lagi, lihat itu matanya jadi


sembab. Nanti kalau ketemu P’Tay lagi kamu semakin malu,” goda Andana sambil


menyodorkan minuman yang di sambutnya dari Prachaya.


“Maammss,


jangan Gitu. Heeeeeeeeee ,” kembali Gita menangis.


Dan itu membuat Andana kembali tertawa saat melihat wajah Gita yang memerah akibat


menangis menahan malunya.


“Iya iya iya, maafin Mams ya, ini minum dulu yaa.” Ucap Andana yang menyudahi


godaannya itu.


“Sudah An, jangan di godain lagi. Kasihan itu sampai begitu,” ucap Prachaya yang


tersenyum melihat kejahilan Andana.


“Iya-iya, maafin Mams ya Ta. Habisnya kamu lucu banget sih,” sahut Andana sambil mengusap


dan membenarkan rambut Gita yang berantakan itu.


“Anak introvert satu ini ternyata memiliki sifat yang sangat menggemaskan seperti ini


ya,” tambah Andana lagi yang masih saja mencoba untuk menggoda Gita.


“Maams,”


rengek Gita lagi.


“Haha,


oke-oke Mams gak goda lagi beneran deh,” sahut Andana lalu memeluk GIta yang


sudah seperti anak kecil itu.


Sedangkan Prachaya hanya bisa tersenyum melihat ulah keduanya.


“Mams, P’Tay aslinya lebih ganteng banget ternyata. Matanya sipit, hidungnya mancung,


senyumnya seperti bulan sabit, tajam dikedua ujung nya namun sangat indah.“


cerita Gita kemudian.


Dan


itu membuat Andana tercengan melihat perubahan mood Gita yang secepat kilat


itu. Baru saja beberapa detik lalu ia masih menangis karna malu, sekarang ia

__ADS_1


sudah kemali bisa bercerita tentang penampilan Tay yang di temuinya tadi.


__ADS_2