
“Are you okay?" tanya Tay dengan mencoba tersenyum.
Namun Gita yang terpana melihat siapa yang kini tengah berdiri didepannya itupun
tidak mengindahkan pertanyaan Tay.
Gita hanya terdiam terkesima oleh pria tampan yang sudah menjadi biasnya selama ini.
Meskipun ia memiliki banyak Bias, namun ada satu nama yang menempati tahta tertinggi
dalam perbiasannya.
Dan orang itu adalah Tay Tawan, yang sekarang sedang berada berdiri tepat
didepannya.
“Are you hurt? I'm sorry I wasn't careful," ucap Tay lagi karna Gita hanya diam
sambil menatap kearahnya.
“Emh, Aaa, Eee. It’s Okay. I'm sorry I didn't see you," kata Gita tergagap saat
menyadari semuanya.
Gita pun menyambut tangan Tay yang sedari tadi menjulur kearahnya dan berdiri.
"I didn't see you either. I'm sorry, but, where are you going in such a hurry?" tanya Tay mencoba untuk berbicara lebih lama lagi dengan Gita.
Namun sepertinya itu bukan waktu yang tepat, kembali perut Gita menyadarkan dirinya
bahwa masih ada hajat yang harus ia selesaikan.
Perutnya kembali melilit dan kini juga dibarengi dengan bunyi perut yang tidak bisa ia
sembunyikan.
Itu tentu saja membuat wajah Gita menjadi pias akibat menahan malu dan sakit.
"I'm sorry, but I have to go to the toilet for a while. I'm sorry again P'Tay,"
ucap Gita sambil menahan sesuatu yang nyaris ingin kembali keluar itu.
Dan benar saja, saat ia melangkah kembali lagi Gita tidak bisa menahan kentutnya
dan itu jelas terdengar oleh Tay.
Itu membuat Tay hanya bisa terbelalak sambil menahan diri untuk tidak tertawa.
"Forgive me P'Tay," Gita berkata dengan suara lirih sambil berlari menjauh dan
masuk kedalam toilet itu.
Gita masuk kedalam toilet itu sambil bergegas membuka celananya. Lalu menyelesaikan
hajatnya.
“Itu tadi P’Tay? Benar-benar dia, kan? Ini aku lagi halu gak sih!” ucap Gita sambil
terus menuntaskan hajatnya.
Gita kembali mengingat kejadian yang baru saja ia alami itu. Dan setelah ia sadar
dengan apa yang terjadi, Gita menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan
sepuluh jarinya.
Kemudian ia berteriak keras sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
“Aaagghhh!!!
GITA! KAMU SANGAT BODOH!” umpatnya dengan kesal.
“Kenapa sih harus ketemu P’Tay disaat seperti ini, Hiks. Itu sangat memalukan, Hiks,
hiks.”
Gita benar-benar frustasi saat kembali ia mengingat bagaimana pertemuan pertamanya
dengan bias kesayangannya.
“Bagaimana ini?
“Dia pasti sangat ilfeel melihat aku tadi.
“Lalu bagaimana aku bisa menyapanya lagi kelak.
“Nanti kalau dia mengingatku dengan kesan seperti itu, aku harus bagaimana?
Hiks, Hiks, Hiks
“Gita, kamu benar-benar bodoh!
“Kenapa juga harus bertemu saat keadaan seperti ini.
“Perut, kamu juga salah. Mengapa kamu harus melilit disaat aku akan bertemu dengan P’Tay.
“Bukan pertemuan seperti ini yang aku inginkan.
“Aaaghhhh!!!!
__ADS_1
“Akumaluu!!!
Gita terus-terusan mengomel pada dirinya sendiri atas apa terjadi beberapa saat yang
lalu.
“Padahal aku sudah membayangkan akan bertemu P’Tay dengan adegan romantis. Bukan dengan
adegan memalukan seperti tadi.
Hiks,
Hiks.
“Aku harus bagaimana sekarang?
“Lalu ini bagaimana? ****** ******** kotor. Masa aku harus gak pakai ****** *****
sih!
“Aagh!!! Kenapa hari ini aku sial banget, sih!
Sedangkan dari luar toilet itu, ada beberapa orang yang hanya terdiam heran mendengar
omelan Gita dari dalam sana.
Gita merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Lalu melakukan panggilan pada Andana.
“Hallo, Ta? Kamu dimana?
Andana berkata sesaat setelah menjawab panggilan dari Gita.
“Mams,
hiks hiks hiks,
Gita hanya bisa menangis tanpa bisa menjelaskan lagi.
“Lho kok nangis? Kamu kenapa? Kamu dimana sekarang?
Andana mendadak menjadi khawatir setelah mendengar Gita menangis.
“Tolongin aku,” ucap Gita disela tangisnya.
“Iya, tapi kamu dimana? Biar Mams susul kamu nanti. Kamu masih di toilet?
Terka Andana setelah seksamamendengarkan Gita berbicara namun sedikit menggema.
“Iya, tapi
“Tapi apa Ta? Jangan bikin Mams semakin khawatir Ta? Mams kesana sekarang tunggu
Andana menyudahi panggilan itu dan bergegas ingin kembali menemui Gita.
“An,
mau kemana?” tanya Prachaya menangkap pergelangan tangan Andana yang pergi
begitu saja.
“Aku mau ketoilet, sepertinya ada sesuatu hal terjadi dengan Gita. Dia menangis,”
jawab Andana sekenanya dengan wajah paniknya.
“Oke ayo kesana,” ajak Prachaya kemudian bergegas ketempat dimana Gita berada.
“Ta, Gita. Kamu dimana, Ta?” panggil Andana setelah sampai di toilet tempat Gita
berada.
Gita yang mendengar suara Andana itupun perlahan membukakan pintu toilet itu dan
mengintip keluar dengan wajah sedihnya.
“Ta, kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?” tanya Andana yang segera menghampiri
Gita dan mencoba membukakan pintu toilet itu sedikit lebar agar Gita dapat
ditariknya keluar dari sana.
“Mams, boleh pinjam sweaternya?
Pinta Gita dengan wajah takutnya.
“Boleh, kamu lagi datang bulan ya Ta?” tanya Andana sambil melepas sweater hitam yang
di pakainya dan memberikannya pada Gita.
Dan Gita tidak menjawab pertanyaan Andana, ia segera memakai sweater itu di
pingangnya dan mengikatkannya untuk menutupi bagian panggulnya.
Andana yang masih bingung itupun hanya bisa diam sambil memperhatikan Gita. Setelah
Gita mengikatkan sweater Andana, ia pun memandangi Andana.
Kemudian memeluk Andana sambil kembali menangis. Membuat Andana semakin bingung di
buatnya.
__ADS_1
Sedangkan Prachaya yang menunggu diluar tolet wanita itu berdiri dengan cemas sambil
menutupi wajahnya dengan menunduk.
“An, bawa keluar saja dulu. Kita bicara diluar saja,” bunyi suara Prachaya yang
meminta Andana keluar.
“Iya,”
jawab Andana sambil memapah Gita.
Setelah keluar dari toilet itu, Prachaya membawa Gita dan Andana menuju tempat makan
agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Gita hingga dia menjadi sangat
frustasi seperti itu.
Dengan susah payah Gita menceritakan apa yang terjadi dari awal disela isak tangisnya.
Andana dan Prachaya yang mendengarkan cerita Gita itu hanya bisa saling tatap. Sesaat
setelah itu Andana tidak bisa lagi menahan tawanya.
Ia pun tertawa sambil memeluk Gita yang masih sesugukan itu.
“Malah diketawain, aaaaaa,” Gita kembali menangis menahan malunya.
“Maafin Mams Ta. Maaf tapi itu sangat lucu, hahaha
Andana masih terus tertawa sedangkan Gita masih saja menangis.
Prachaya yang melihat ulah kedua wanita didepannya itu hanya tersenyum dan juga bingung.
Bagaimana bisa mereka tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan.
Mereka berdua benar-benar lucu dan unik. Saling melengkapi dan merangkul. Membuat
Prachaya diam-diam mengagumi Andana dan Gita. Dan hal itu juga membuat Prachaya
semakin lama semakin mengenal Andana dan Gita secara bersamaan.
“Gita, minum dulu,” kata Prachaya sambil menyodorkan botol minum air mineral pada Gita
yang masih sesugukan.
“Iya minum dulu ya sayang. Cup cup cup. Jangan nangis lagi, lihat itu matanya jadi
sembab. Nanti kalau ketemu P’Tay lagi kamu semakin malu,” goda Andana sambil
menyodorkan minuman yang di sambutnya dari Prachaya.
“Maammss,
jangan Gitu. Heeeeeeeeee ,” kembali Gita menangis.
Dan itu membuat Andana kembali tertawa saat melihat wajah Gita yang memerah akibat
menangis menahan malunya.
“Iya iya iya, maafin Mams ya, ini minum dulu yaa.” Ucap Andana yang menyudahi
godaannya itu.
“Sudah An, jangan di godain lagi. Kasihan itu sampai begitu,” ucap Prachaya yang
tersenyum melihat kejahilan Andana.
“Iya-iya, maafin Mams ya Ta. Habisnya kamu lucu banget sih,” sahut Andana sambil mengusap
dan membenarkan rambut Gita yang berantakan itu.
“Anak introvert satu ini ternyata memiliki sifat yang sangat menggemaskan seperti ini
ya,” tambah Andana lagi yang masih saja mencoba untuk menggoda Gita.
“Maams,”
rengek Gita lagi.
“Haha,
oke-oke Mams gak goda lagi beneran deh,” sahut Andana lalu memeluk GIta yang
sudah seperti anak kecil itu.
Sedangkan Prachaya hanya bisa tersenyum melihat ulah keduanya.
“Mams, P’Tay aslinya lebih ganteng banget ternyata. Matanya sipit, hidungnya mancung,
senyumnya seperti bulan sabit, tajam dikedua ujung nya namun sangat indah.“
cerita Gita kemudian.
Dan
itu membuat Andana tercengan melihat perubahan mood Gita yang secepat kilat
itu. Baru saja beberapa detik lalu ia masih menangis karna malu, sekarang ia
__ADS_1
sudah kemali bisa bercerita tentang penampilan Tay yang di temuinya tadi.