
Andana menatap Prachaya yang juga sama herannya melihat Gita yang sudah berubah itu.
Dengan suara bindengnya akibat hidungnya yang mampet karna tangisnya tadi, ia
masih mencoba kembali bercerita tentang bagaimana Tay yang di temuinya itu.
Andana mendengarkan cerita Gita yang begitu antusias, membuat Prachaya yang ikut
mendengarkan itu juga hanya bisa mengulum senyum.
“Jadi, gimana kalau nanti kamu bertemu kembali dengan P’Tay mu? Apa yang akan kamu
lakukan?” Tanya Andana sesaat setelah Gita bercerita.
Dan Gita pun hanya terdiam, ia juga tidak tau harus bagaimana. Wajahnya kembali
pias berwarna merah muda. Menenggelamkan wajah itu pada kedua tangannya yang
terlipat diatas meja makan di depannya.
“Aku sangat malu sekarang, Mams. Rasanya aku tidak sanggup bila harus bertemu dengan
P’Tay sekarang. Tapi aku sangat ingin dekat dengannya. Tapi, jika aku mengingat
bagaimana cara kami bertemu tadi. Rasanya aku tidak memiliki keberanian lagi
untuk menatap dan mendekatinya.
Gita kembali uring-urinngan, itu membuat Andana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Ta,
mau Abang bantu?” tawar Prachaya membuka suaranya.
“Bagaiamana Abang bisa membantu? Sedangkan aku tidak tau harus bersikap bagaimana jika
bertemu dengannya. Aku sangat malu, Bang,” rengek Gita yang sudah ingin kembali
menangis.
“Kamu lupa ya, Ta? Tay kan satu agensi dengan Abang. Sebenarnya tadi Abang juga sudah
bertemu dengannya.” Ucap Prachaya yang mulai akrab memanggil dirinya sendiri
dengan sebutan Abang itu.
“Heuh?
Kapan?” Tanya Andana yang terkejut.
“Tadi,
sebelum aku menghampiri kalian saat Gita pergi ke toilet.
Awalnya aku juga heran mengapa Tay bisa ada disini. Sedangkan yang ku tahu dari P’Lin
bahwa jadwal Tay lumayan padat untuk minggu ini.
Mungkin dia mengetahui bahwa aku mengambil cuti beberapa hari ini. Itu membuatnya
penasaran dengan apa yang aku lakukan sampai aku bisa mengambil cuti dalam
pekerjaanku.
Tay itu salah satu anak dari dalam agensi yang begitu menempel padaku. Mungkin
kalian juga sudah mengetahui sedikit banyak bagaimana kedekatan aku dan Tay.
Itu sebabnya juga Tay yang tidak pernah melihat aku meminta cuti selama ini,
menjadi aneh setelah mendengar aku tidak bekerja beberapa hari.
Aku juga tidak tau darimana dia tau kalau aku ada disini. Tiba-tiba saja dia
menghampiriku dan bertanya apa yang membuat aku bisa seperti ini.
Prachaya menjelaskan dengan sangat rinci.
“Lalu bagaimana, Bang?” Tanya Gita kemudian.
“Kamu tenang saja, nanti akan Abang bantu kamu agar bisa bertemu kembali dengannya.
“Tapi, Ta. Saran Abang, jika kamu berniat untuk jatuh hati padanya, kamu lebih baik
berfikir lagi. Sebab seperti yang kamu tau pasti. Bahwa image playboy Tay itu
sangat terkenal. Dan itu memang benar adanya.
“Abang tidak mau jika kamu nanti tersakiti oleh perasaanmu sendiri.
__ADS_1
Prachaya yang mencoba menasehati Gita yang terlihat masih binggung.
“Mams, apa yang akan aku lakukan jika nanti aku bertemu dengan P’Tay?” Tanya Gita
dengan wajah memelasnya.
“Ya kamu bersikap seperti biasa saja Ta. Bagaimana penggemar saat bertemu dengan
biasnya.” Jawab Andana sambil mengulum senyum.
Prachaya kemudian merogoh ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Tay.
“Hallo,
Phi. Ada apa?” Tanya Tay dari ujung panggilan itu.
“Kamu dimana?” Tanya Prachaya.
“Aku masih di lokasi yang tadi, namun hendak kembali ke Kondoku.” Jawab Tay.
“Temui aku di restaurant A, sekarang.” Pinta Prachaya yang kemudian menyudahi
panggilan itu.
Andana dan Gita tercengang melihat cara Prachaya melakukan panggilan telpon. Meskipun
mereka berdua tidak paham dengan apa yang Prachaya ucapkan, namun saat mereka
melihat bagaimana cara Prachaya menelpon itu sudah seperti atasan yang menyuruh
bawahannya.
Begitu sangat perfact dan sangat mencerminkan dirinya layaknya seorang CEO dalam
novel-novel yang pernah mereka baca.
“Mams lihat itu tadi? Apakah pemikiran kita sama? Abang sudah seperti CEO-CEO dalam
novel ya,” ucap Gita penuh pesona.
“Iya Ta, bahkan Mams nyaris tidak bisa mengendalikan diri Mams sekarang,” bisik
Andana sambil memegang lengan Gita.
“Kenapa? Apa yang salah?” Tanya Prachaya yang melihat Andana dan Gita tercengang begitu
lama.
“Kamu akan tau sebentar lagi,” jawab Prachaya sambil tersenyum manis.
“Masya Allah, itu senyuman manis banget Ya Allah. Lama-lama beneran bisa kena diabetes
ini. Aku sudah hampir tidak bisa menahan diri lagi jika terus lama-lama bersama
dia,” batin Andana yang terus meraung ketika matanya terus mendapatkan pemandangan
indah itu.
“An, kamu okay?” Tanya Prachaya yang menatap kearah Andana.
“Okay,”
jawab Andana singkat dan memilih membenarkan posisi duduknya.
Sedangkan Gita hanya mengulum senyum melihat Andana yang salah tingkah karna ketahuan
tengah terpesona melihat Prachaya.
“Makanya, kalo suka bilang saja suka. Jadikan gak harus menyembunyikan perasaan yang
sebenarnya seperti ini,” bisik Gita pada Andana.
“Kamu ini ngomong apa sih, Ta? Jangan melantur.” balas Andana.
“Hmmm, kan. Masih saja gak mau menerima kalo dia juga sebenarnya ada perasaan sama
Abang.” Timpal Gita lagi.
“Apa sih, Ta? Kamu ini ngomong apa? Jangan begitu nanti ada yang salah paham. Kan
kita sudah pernah bahas masalah ini,” jelas Andana mencoba untuk tetap tenang.
“Kalian lagi membicarakan apa? Kenapa harus bisik-bisik?” Tanya Prachaya.
“Membicarakan masalah hati, Bang?” celetuk Gita sambil terkekeh.
“Gita! Kamu ini jahil ya,” spontan Andana terbelalak.
“Oh, membicarakan masalah hati. Apakah Abang salah satunya, Ta?” goda Prachaya yang
__ADS_1
melirik kearah Andana namun mencondongkan tubuhnya kearah Gita sambil
mengecilkan suaranya.
“Bisa jadi,” balas Gita yang melakukan hal sama.
Hal itu membuat Andana hanya dapat menghela nafasnya. Ia tidak ingin menimpali
kejahilan mereka berdua. Sebab sudah dipastikan bahwa mereka berdua akan
bekerja sama untuk memojokkannya.
Tidak lama setelah itu, terlihat Tay berjalan mendekati mereka bertiga dan langsung
saja duduk disebelah Gita yang masih saja mencoba untuk menggoda Andana.
"It seems like a fun topic, can I join in?" kata Tay sambil membenarkan posisi
duduknya dan tersenyum ceria memandangi wajah mereka satu persatu.
Dan saat mata Tay melihat kearah Gita, terlihat pupil mata Tay membesar karna
mengenali Gita.
“Hey, You. I know you,” tambah Tay sambil menujuk Gita.
Gita yang terkejut karna ada orang yang duduk disebelahnya itupun segera menoleh.
Dan semakin terkejut saat ia mengetahui siapa yang duduk di sampingnya itu.
“P’Tay?”
ucap Gita dan setelah itu lidahnya menjadi kelu.
Ia dia mematung sambil membelalak memandangi Tay yang begitu dekat dengannya saat
ini.
"Is your stomach alright?" Tanya Tay lagi yang masih menyunggingkan
senyumannya.
Itu tidak membuat Gita senang atas perhatian yang Tay berikan. Semakin membuatnya
malu dan tidak bisa mengatakan apapun.
Pracahya yang melihat Gita yang mati kutu itu pun mencoba untuk mencairkan suasana.
“Tay, kenalkan ini Andana dan ini Gita. Mereka berasal dari Indonesia. Bukankah kamu
juga bisa berbicara bahasa Indonesia? Jadi bicaralah menggunakan bahasa Itu,”
ucap Prachaya sembari memberi kode pada Tay.
“Oh, hai Gita. Aku tidak tau kamu ternyata berasal dari Indonesia. Aku fikir kamu
berasal dari China, karna kamu memiliki mata yang kecil dan indah,” ucap Tay
yang masih terus mencoba untuk berbicara dengan Gita.
“Terima kasih P’Tay,” jawab Gita yang masih tertunduk.
“Hai P’Tay. Senang bisa bertemu dan berbicara denganmu. Bagaimana kamu bisa ada
disini Phi?” Tanya Andana yang mencoba menimbrung agar Gita dapat menata
hatinya terlebih dahulu.
“Hai Andana, kebetulan aku sedang berjalan didekat sini saja. Dan P’Aya memanggilku.”
Jawab Tay.
“P’Tay, Gita ini adalah penggemar beratmu lho,” ucap Andana yang langsung mendapatkan
tatapan terkejut dari Gita.
“Oh ya? Kebetulan sekali kalau begitu ya. Aku tidak tau bahwa aku memiliki penggemar
yang begitu menggemaskan seperti ini.” Sahut Tay sambil masih terus memandangi
Gita.
Gita yang mendengar itupun langsung menoleh perlahan sambil mencoba tersenyum pada
Tay meskipun di paksakan.
“Tapi mengapa aku ragu jika Gita adalah penggemarku ya. Kebanyakan dari penggemarku
akan histeris dan antusias jika bertemu denganku. Tapi Gita dari tadi hanya
__ADS_1
diam dan menunduk. Apakah kamu malu, Ta?” Tanya Tay lagi.