
Andana melihat Prachaya tersenyum sangat manis sambil menatapnya,
senyuman yang dua tahun ini hanya bisa ia lihat dari layar kaca. Namun kini
bahkan dia berada didepan mata Andana tersenyum karna dirinya. Hal yang tidak pernah
ia bayangkan akan bisa sedekat ini dengannya.
"Mengapa kamu melihatku seperti itu An?"
tanya Prachaya saat Andana tersenyum sambil menatapnya dengan mata sayu nya.
"Hmm? Apakah aku melakukan itu?" jawab Andana
rancu sambil tersenyum.
Dan itu membuat Prachaya terkekeh tak percaya dengan
jawaban Andana.
"Apa? Apa ada yang lucu? Kamu selalu saja tersenyum dan tertawa bila melihat atau berbicara denganku. Apakah kamu sedang ingin menjahili ku?" tanya Andana.
"Tidak An, kamu sangat lucu dan menggemaskan, itu
sebabnya aku tidak bisa menahan senyumku." jawab Prachaya sambil masih
menyunggingkan senyumannya.
"Kamu sangat menggemaskan, apalagi saat kamu
sedang mabuk seperti ini." tambah Prachaya lagi sambil mendekatkan
wajahnya pada Andana.
"Kamu harum banget sih," ucap Andana saat
hidungnya mencium aroma dari parfum yang dipakainya.
"Benarkah?" tanya Prachaya yang makin
mendekatkan wajahnya pada Andana.
"He'em, kamu sangat harum." jawab Andana yang mencoba kembali mencium aroma tubuh Prachaya.
Dan Prachaya semakin mengembangkan senyumannya sambil
menggelengkan kepalanya.
"Ayo pulang An, kamu sudah sangat mabuk
sepertinya. Mari kita kembali. Jika semakin lama aku melihatmu seperti ini, aku
tidak menjamin bisa menahan diri lagi," kata Prachaya yang bangkit dari
kursinya.
"Hmmmm, mau kemana? Aku masih ingin disini, aku
tidak pernah ketempat seperti ini, disini sangat nyaman, tidak berisik seperti
bar-bar yang ada di Indonesia. Di sini juga sangat indah dan mewah, nanti saja
pulangnya," rengekĀ Andana.
Prachaya masih tersenyum melihat Andana merengek seperti
itu.
"Besok kita bisa kembali lagi kesini An, jika
kamu mau aku akan mengajakmu kembali kesini," rayu Prachaya.
"Hmmmm tidak mau! Besok aku dan Gita akan pindah
penginapan. Kami akan ke Phuket," jawab Andana menolak ajakan Prachaya.
"Berapa lama kamu akan ada di Thailand?"
tanya Prachaya yang kembali duduk, namun sekarang dia duduk tepat di sebelah Andana
tanpa ada jarak lagi.
"Hmmmm, satu minggu," jawab Andana dengan mengacungkan
jari telunjuknya.
"Lalu, berapa lama kamu berada di Phuket?"
tanya Prachaya lagi.
"Hmm, mungkin dua sampai tiga hari," jawab Andana
lagi yang tanpa sadar menyandarkan kepalanya pada pundaknya Prachaya.
"An setelah hari ini, apakah kita akan bisa
bertemu kembali?" tanya Prachaya.
"Hmm? Kamu mau kembali bertemu denganku?"
tanya Andana yang mengangkat kepalanya lalu menatap kearah Prachaya sambil menunjuk
wajahnya sendiri.
__ADS_1
Dan Prachaya mengangguk.
"Hmmm kalau begitu, kamu harus mengadakan konser
atau fan meet di Indonesia, atau aku akan kembali menabung biar tahun depan aku
akan kembali lagi ke sini untuk ikut merayakan ulang tahunmu yang ke tiga
puluh," jawab Andana sambil mengembangkan senyumannya.
"Mengapa harus selama itu?" tanya Prachaya.
"Heui, aku ini bukan orang kaya sepertimu, Bang.
Kamu tahu, aku sampai disini sekarang ini, karna aku menabung dari satu tahun
yang lalu. Karna sangat ingin bertemu denganmu, aku sampai rela tidak membeli
barang-barang yang aku inginkan, aku bahkan stop jajan dan memilih menabung.
Itu sangat menyiksa, tapi setelah aku menginjakkan kakiku di Bangkok, aku
sangat bahagia. Apalagi aku di beri bonus oleh Tuhan bisa bertemu dan berbicara
langsung pada idolaku, bahkan sedekat ini." ucap Andana sambil tersenyum.
"Benarkah itu An?" tanya Prachaya dengan
wajah yang terkejut.
"Kamu tidak percaya dengan apa yang aku
ucapkan?" tanya Andana dengan memasang wajah cemberut.
"Lihat ini? Kamu fikir ini siapa?" tanya Andana
sambil merogoh ponselnya dan langsung memperlihatkan wallpaper ponselnya pada Prachaya.
"Gambar ini yang jadi penghias ponselku selama
dua tahun ini. Aku bahkan diputuskan oleh pacarku karna dia tidak suka aku
memasang fotomu menjadi wallpaper di ponselku, haha," jelas Andana sambil
tertawa.
Prachaya menatap Andana dengan tertegun. Lalu sesaat
kemudian ia merogoh ponselnya dan memberikannya pada Andana.
"Hmm? Apa ini? Mengapa kamu memberikan ponselmu
padaku?" tanya Andana bingung.
nomormu. Dan berikan aku seluruh akun media sosialmu, jika nanti acara-acara ku
sudah selesai semua, aku akan menyusul mu ke Phuket," jawab Prachaya.
Andana terdiam sebentar, menatap Prachaya dan ponselnya
secara bergantian.
"Apa kamu tidak bercanda? Untuk apa? Aku hanya
salah satu fansmu yang tidak sebanding dengan fans-fansmu yang lain, yang rasa
cintanya sangat besar padamu." ucap Andana.
"Kamu berbeda, kamu tidak sama dengan yang lain.
Dan, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi, izinkan aku memiliki nomormu,
An." pinta Prachaya lagi.
Andana menatap mata Abang yang begitu bening namun tajam.
Dan mengambil ponsel yang disodorkannya padanya. Lalu Andana menuliskan nomornya dan
mengembalikan ponsel itu padanya.
Dia juga menanyakan semua akun media sosial milik Andana, dan
memfollback akun Andana yang sejak dua tahun ini mengikutinya.
"An, ayo kembali. Aku yakin Gita akan khawatir
padamu jika kamu belum pulang juga," ajak Prachaya.
"Aku tidak mau pulang dalam keadaan seperti ini.
Aku yakin Gita akan sangat marah jika melihat kondisiku seperti ini. Aku sudah
setahun ini tidak lagi minum," terang Andana yang enggan bergeming dari duduknya.
"Tapi kita tidak mungkin disini An, bagaimana
jika kamu tidur di kamarku?" tawar Prachaya ragu.
"Bukankah didepan kamarmu banyak wartawan?"
tanya Andana yang mencoba untuk sadar.
"Lebih baik kita pulang dahulu, kamu sudah sangat
__ADS_1
mabuk. Dan berhenti minum An, nanti kamu bisa muntah," ucap Prachaya yang
mengambil gelas dalam genggaman Andana.
"Hmmmmm, aku masih mau minum," rengek Andana.
"Ayo An pulang," ajak Prachaya yang bangkit
dan membopong Andana.
"Ayolah Abang, aku masih ingin minum, satu gelas
lagi ya," rengek Andana lagi.
Namun Prachaya tidak menanggapinya, dia terus
membopongnya keluar dari bar itu.
Diluar bar itu Andana menghentikan langkahnya, dan
memasang wajah cemberut dengan matanya yang terpejam.
"Ayolah An, kita pulang. Mengapa kamu memasang
wajah cemberut seperti itu?" tanya Prachaya dengan mimik wajahnya yang
tersenyum lebar.
"Kamu mengajakku kesini dan menawarkan ku minuman
itu. Sudah ku tolak tapi kamu masih memaksa. Sekarang saat aku sudah
menikmatinya kamu menyeret ku keluar dari sana dan mengajakku pulang. Kamu
menyebalkan Prachaya!" ucap Andana kesal.
Namun bukannya dia marah, tapi Prachaya malah tertawa
melihat tingkah Andana. Bahkan karna Andana yang sangat kesal itu, ia duduk dibawah
dan kembali merengek seperti anak kecil agar dibawa kembali masuk kedalam.
Prachaya yang kaget melihat tingkah Andana itu bukannya marah, tawanya semakin
terkembang. Namun itu tak berlangsung lama, karna sadar mereka mulai menjadi
pusat perhatian orang sekitar, Prachaya pun menggendong Andana di punggungnya dan
membawanya pergi dari sana.
"Kenapa kamu membawaku pergi, Kamu merusak
semuanya. Padahal aku sudah bilang ini kali pertama aku ke bar mahal dan mewah
seperti itu," celoteh Andana sepanjang perjalanan kembali ke hotel.
"Aku akan membawamu kembali lagi kesana sebelum
kamu kembali ke Indonesia, aku berjanji," jawab Prachaya sambil terus
berjalan menyusuri trotoar jalan itu.
"Mengapa kamu sangat baik padaku? Apakah kamu
selalu seperti ini pada setiap fans yang kamu temui?" tanya Andana yang
berbicara dengan memejamkan matanya.
Prachaya terkekeh dan kembali menggelengkan kepala.
"Kamu adalah fans pertamaku yang ku minta nomor
ponselnya, kamu fans pertamaku yang ku follow seluruh akun media sosialnya, dan
kamu adalah fans pertamaku yang ku gendong saat mabuk menyusuri trotoar
jalanan. Selama ini aku tidak pernah melakukan semua itu pada siapapun,"
ucap Prachaya.
Namun tidak ada lagi jawaban sebab Andana sudah tertidur
dalam gendongannya. dan itu membuat Prachaya tersenyum lalu melanjutkan
perjalanannya.
Sesampainya di hotel, Prachaya menghampiri pihak
keamanan disana, ia meminta agar memeriksa apakah masih ada wartawan didepan
kamarnya. Melalui cctv disana satpam itupun memberitahukan bahwa sudah tidak
ada lagi wartawan disana. Satpam itu juga menawarkan bantuan pada Prachaya
untuk membantunya membawa Andana keatas, namun Prachaya menolak.
Sesampainya di depan kamar Andana dan Gita, Prachaya mengentikan
langkahnya, ia ragu untuk mengetuk pintu kamar itu. Sebab teringat ucapan Andana tadi, jika
Gita melihat keadaannya seperti ini pasti dia akan sangat marah. Prachaya tidak
ingin melihat Andana dan Gita berdebat, apalagi saat kami berada di negara lain
__ADS_1
sekarang.