BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
SISI LAIN


__ADS_3

Andana melihat Prachaya tersenyum sangat manis sambil menatapnya,


senyuman yang dua tahun ini hanya bisa ia lihat dari layar kaca. Namun kini


bahkan dia berada didepan mata Andana tersenyum karna dirinya. Hal yang tidak pernah


ia bayangkan akan bisa sedekat ini dengannya.


"Mengapa kamu melihatku seperti itu An?"


tanya Prachaya saat Andana tersenyum sambil menatapnya dengan mata sayu nya.


"Hmm? Apakah aku melakukan itu?" jawab Andana


rancu sambil tersenyum.


Dan itu membuat Prachaya terkekeh tak percaya dengan


jawaban Andana.


"Apa? Apa ada yang lucu? Kamu selalu saja tersenyum dan tertawa bila melihat atau berbicara denganku. Apakah kamu sedang ingin menjahili ku?" tanya Andana.


"Tidak An, kamu sangat lucu dan menggemaskan, itu


sebabnya aku tidak bisa menahan senyumku." jawab Prachaya sambil masih


menyunggingkan senyumannya.


"Kamu sangat menggemaskan, apalagi saat kamu


sedang mabuk seperti ini." tambah Prachaya lagi sambil mendekatkan


wajahnya pada Andana.


"Kamu harum banget sih," ucap Andana saat


hidungnya mencium aroma dari parfum yang dipakainya.


"Benarkah?" tanya Prachaya yang makin


mendekatkan wajahnya pada Andana.


"He'em, kamu sangat harum." jawab Andana yang mencoba kembali mencium aroma tubuh Prachaya.


Dan Prachaya semakin mengembangkan senyumannya sambil


menggelengkan kepalanya.


"Ayo pulang An, kamu sudah sangat mabuk


sepertinya. Mari kita kembali. Jika semakin lama aku melihatmu seperti ini, aku


tidak menjamin bisa menahan diri lagi," kata Prachaya yang bangkit dari


kursinya.


"Hmmmm, mau kemana? Aku masih ingin disini, aku


tidak pernah ketempat seperti ini, disini sangat nyaman, tidak berisik seperti


bar-bar yang ada di Indonesia. Di sini juga sangat indah dan mewah, nanti saja


pulangnya," rengekĀ  Andana.


Prachaya masih tersenyum melihat Andana merengek seperti


itu.


"Besok kita bisa kembali lagi kesini An, jika


kamu mau aku akan mengajakmu kembali kesini," rayu Prachaya.


"Hmmmm tidak mau! Besok aku dan Gita akan pindah


penginapan. Kami akan ke Phuket," jawab Andana menolak ajakan Prachaya.


"Berapa lama kamu akan ada di Thailand?"


tanya Prachaya yang kembali duduk, namun sekarang dia duduk tepat di sebelah Andana


tanpa ada jarak lagi.


"Hmmmm, satu minggu," jawab Andana dengan mengacungkan


jari telunjuknya.


"Lalu, berapa lama kamu berada di Phuket?"


tanya Prachaya lagi.


"Hmm, mungkin dua sampai tiga hari," jawab Andana


lagi yang tanpa sadar menyandarkan kepalanya pada pundaknya Prachaya.


"An setelah hari ini, apakah kita akan bisa


bertemu kembali?" tanya Prachaya.


"Hmm? Kamu mau kembali bertemu denganku?"


tanya Andana yang mengangkat kepalanya lalu menatap kearah Prachaya sambil menunjuk


wajahnya sendiri.

__ADS_1


Dan Prachaya mengangguk.


"Hmmm kalau begitu, kamu harus mengadakan konser


atau fan meet di Indonesia, atau aku akan kembali menabung biar tahun depan aku


akan kembali lagi ke sini untuk ikut merayakan ulang tahunmu yang ke tiga


puluh," jawab Andana sambil mengembangkan senyumannya.


"Mengapa harus selama itu?" tanya Prachaya.


"Heui, aku ini bukan orang kaya sepertimu, Bang.


Kamu tahu, aku sampai disini sekarang ini, karna aku menabung dari satu tahun


yang lalu. Karna sangat ingin bertemu denganmu, aku sampai rela tidak membeli


barang-barang yang aku inginkan, aku bahkan stop jajan dan memilih menabung.


Itu sangat menyiksa, tapi setelah aku menginjakkan kakiku di Bangkok, aku


sangat bahagia. Apalagi aku di beri bonus oleh Tuhan bisa bertemu dan berbicara


langsung pada idolaku, bahkan sedekat ini." ucap Andana sambil tersenyum.


"Benarkah itu An?" tanya Prachaya dengan


wajah yang terkejut.


"Kamu tidak percaya dengan apa yang aku


ucapkan?" tanya Andana dengan memasang wajah cemberut.


"Lihat ini? Kamu fikir ini siapa?" tanya Andana


sambil merogoh ponselnya dan langsung memperlihatkan wallpaper ponselnya pada Prachaya.


"Gambar ini yang jadi penghias ponselku selama


dua tahun ini. Aku bahkan diputuskan oleh pacarku karna dia tidak suka aku


memasang fotomu menjadi wallpaper di ponselku, haha," jelas Andana sambil


tertawa.


Prachaya menatap Andana dengan tertegun. Lalu sesaat


kemudian ia merogoh ponselnya dan memberikannya pada Andana.


"Hmm? Apa ini? Mengapa kamu memberikan ponselmu


padaku?" tanya Andana bingung.


nomormu. Dan berikan aku seluruh akun media sosialmu, jika nanti acara-acara ku


sudah selesai semua, aku akan menyusul mu ke Phuket," jawab Prachaya.


Andana terdiam sebentar, menatap Prachaya dan ponselnya


secara bergantian.


"Apa kamu tidak bercanda? Untuk apa? Aku hanya


salah satu fansmu yang tidak sebanding dengan fans-fansmu yang lain, yang rasa


cintanya sangat besar padamu." ucap Andana.


"Kamu berbeda, kamu tidak sama dengan yang lain.


Dan, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi, izinkan aku memiliki nomormu,


An." pinta Prachaya lagi.


Andana menatap mata Abang yang begitu bening namun tajam.


Dan mengambil ponsel yang disodorkannya padanya. Lalu Andana menuliskan nomornya dan


mengembalikan ponsel itu padanya.


Dia juga menanyakan semua akun media sosial milik Andana, dan


memfollback akun Andana yang sejak dua tahun ini mengikutinya.


"An, ayo kembali. Aku yakin Gita akan khawatir


padamu jika kamu belum pulang juga," ajak Prachaya.


"Aku tidak mau pulang dalam keadaan seperti ini.


Aku yakin Gita akan sangat marah jika melihat kondisiku seperti ini. Aku sudah


setahun ini tidak lagi minum," terang Andana yang enggan bergeming dari duduknya.


"Tapi kita tidak mungkin disini An, bagaimana


jika kamu tidur di kamarku?" tawar Prachaya ragu.


"Bukankah didepan kamarmu banyak wartawan?"


tanya Andana yang mencoba untuk sadar.


"Lebih baik kita pulang dahulu, kamu sudah sangat

__ADS_1


mabuk. Dan berhenti minum An, nanti kamu bisa muntah," ucap Prachaya yang


mengambil gelas dalam genggaman Andana.


"Hmmmmm, aku masih mau minum," rengek Andana.


"Ayo An pulang," ajak Prachaya yang bangkit


dan membopong Andana.


"Ayolah Abang, aku masih ingin minum, satu gelas


lagi ya," rengek Andana lagi.


Namun Prachaya tidak menanggapinya, dia terus


membopongnya keluar dari bar itu.


Diluar bar itu Andana menghentikan langkahnya, dan


memasang wajah cemberut dengan matanya yang terpejam.


"Ayolah An, kita pulang. Mengapa kamu memasang


wajah cemberut seperti itu?" tanya Prachaya dengan mimik wajahnya yang


tersenyum lebar.


"Kamu mengajakku kesini dan menawarkan ku minuman


itu. Sudah ku tolak tapi kamu masih memaksa. Sekarang saat aku sudah


menikmatinya kamu menyeret ku keluar dari sana dan mengajakku pulang. Kamu


menyebalkan Prachaya!" ucap Andana kesal.


Namun bukannya dia marah, tapi Prachaya malah tertawa


melihat tingkah Andana. Bahkan karna Andana yang sangat kesal itu, ia duduk dibawah


dan kembali merengek seperti anak kecil agar dibawa kembali masuk kedalam.


Prachaya yang kaget melihat tingkah Andana itu bukannya marah, tawanya semakin


terkembang. Namun itu tak berlangsung lama, karna sadar mereka mulai menjadi


pusat perhatian orang sekitar, Prachaya pun menggendong Andana di punggungnya dan


membawanya pergi dari sana.


"Kenapa kamu membawaku pergi, Kamu merusak


semuanya. Padahal aku sudah bilang ini kali pertama aku ke bar mahal dan mewah


seperti itu," celoteh Andana sepanjang perjalanan kembali ke hotel.


"Aku akan membawamu kembali lagi kesana sebelum


kamu kembali ke Indonesia, aku berjanji," jawab Prachaya sambil terus


berjalan menyusuri trotoar jalan itu.


"Mengapa kamu sangat baik padaku? Apakah kamu


selalu seperti ini pada setiap fans yang kamu temui?" tanya Andana yang


berbicara dengan memejamkan matanya.


Prachaya terkekeh dan kembali menggelengkan kepala.


"Kamu adalah fans pertamaku yang ku minta nomor


ponselnya, kamu fans pertamaku yang ku follow seluruh akun media sosialnya, dan


kamu adalah fans pertamaku yang ku gendong saat mabuk menyusuri trotoar


jalanan. Selama ini aku tidak pernah melakukan semua itu pada siapapun,"


ucap Prachaya.


Namun tidak ada lagi jawaban sebab Andana sudah tertidur


dalam gendongannya. dan itu membuat Prachaya tersenyum lalu melanjutkan


perjalanannya.


Sesampainya di hotel, Prachaya menghampiri pihak


keamanan disana, ia meminta agar memeriksa apakah masih ada wartawan didepan


kamarnya. Melalui cctv disana satpam itupun memberitahukan bahwa sudah tidak


ada lagi wartawan disana. Satpam itu juga menawarkan bantuan pada Prachaya


untuk membantunya membawa Andana keatas, namun Prachaya menolak.


Sesampainya di depan kamar Andana dan Gita, Prachaya mengentikan


langkahnya, ia ragu untuk mengetuk pintu kamar itu. Sebab teringat ucapan Andana tadi, jika


Gita melihat keadaannya seperti ini pasti dia akan sangat marah. Prachaya tidak


ingin melihat Andana dan Gita berdebat, apalagi saat kami berada di negara lain

__ADS_1


sekarang.


__ADS_2