
*****
Andana merasakan tubuhnya seperti ada yang menimpa.
Membuatnya sulit bergerak dan terpaksa membuka matanya. Andana merasakan kepalanya
yang sakit. Sambil memegang kepalanya, Andana membuka mata. Lalu menatap kearah
perutnya dimana ia merasakan ada yang menimpanya.
Saat Andana mendapati sebuah tangan putih yang berotot
itu adalah bukan tangan miliknya. Perlahan Andana mengikuti kemana tangan itu berasal,
hingga ia melihat seorang pria tengah memeluknya saat ini.
Andana terdiam sesaat, menatap lekat wajah pria yang
sangat ia kenali itu. Ia bahkan sangat tampan meskipun tengah tertidur seperti
ini.
Untuk sementara waktu Andana terpaku pada suguhan indah
didepan matanya ini, hingga akhirnya ia tersadar bahwa apa yang terjadi saat
ini adalah sebuah kesalahan.
Andana terperanjat saat menyadari bahwa ini adalah bukan
kamar miliknya dan Gita. Andana mengedarkan pandangannya dengan bingung dan benar
tidak menemukan Gita dimanapun.
Dengan kepanikan itu Andana berusaha melepaskan pelukan
Prachaya dari perutnya, dan mencoba untuk turun dari tempat tidur itu. Tapi
seketika Andana berhenti bergerak saat ia merasakan bahwa ia tidak bisa
merasakan pakaian yang melekat ditubuhnya. Saat mata Andana melihat kebawah dan benar saja seluruh pakainya berceceran di lantai, dibalik
selimut itu ia tidak mengenakan apapun.
Jantungnya berdegup kencang, saat ia mengedarkan
pandangan kesekelilingnya telah terhampar pakaian miliknya dan milik Prachaya.
“Apa yang terjadi semalam? Mengapa bisa seperti ini?
Mengapa aku tidak memakai apapun? Apa yang terjadi?” ucap Andana lirih dalam
kepanikannya.
Terlihat Prachaya menggeliat membenarkan posisinya,
namun masih terlelap.
Sedangkan Andana yang masih kebingungan, mencoba
untuk turun dari ranjang itu dan memungut semua pakaian miliknya lalu
mengenakannya kembali.
Setelah itu Andana mengendap keluar dari kamar itu
setelah menyambar ponselnya diatas nakas sebelah Prachaya tertidur.
Otak Andana tidak bisa berfikir dan mengingat apa yang
terjadi semalam hingga ia berakhir dikamar dengan Prachaya.
Andana keluar dan kembali kekamarnya dengan Gita, ia lihat
Gita masih terlelap diranjangnya.
Andanapun berjalan perlahan kekamar mandi dan mengunci pintu itu. Menatap
wajahnya dari balik pantulan cermin itu.
“Apa yang sudah kamu lakukan semalam An? Mengapa jadi
seperti ini?” cerca Andana sendiri pada pantulan cermin didepannya itu.
Andana frustasi dan benar-benar tidak bisa mengingat
apapun saat ini. Ia mengacak-acak rambutnya sebagai pelampiasan kekesalannya.
Andana melepaskan pakaiannya dan memilih mandi untuk
bersiap pergi dari sana. Namun saat ia melepaskan pakaiannya, Andana melihat tanda
merah di lehernya. Andana benar-benar terkejut dan membuat otaknya semakin liar
memikirkan hal-hal yang kemungkinan terjadi semalam.
“An, apa ini? Tidak mungkin kan, An? Tidak mungkin kamu
melakukan hal gila dengannya, kan An? Oh Tuhan, bagaimana ini?” cerca Andana dalam
kepanikan. Tubuhnya gemetar seketika itu juga.
Andana mencoba menggosok-gosok noda itu namun percuma
__ADS_1
saja itu tidak bisa hilang dengan semudah itu.
“Ini kalo dilihat Gita dia pasti bakalan mikir
aneh-aneh. Gimana ini ya ampun,” cerca Andana dengan tangan yang gemetar.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak bisa
mengingat apapun,” batin Andana yang mulai frustasi.
“Mams, Mams di dalam?” teriak Gita dari luar.
“Eee, aa, iya Ta. Mams mandi dulu sebentar,” ucap Andana gugup
saat mendengar suara Gita yang sudah bangun.
“Tumben bangunnya pagi banget, semalam pulang jam
berapa kok aku gak denger Mams pulang?” tanya Gita.
Sebenarnya Andana mendengar pertanyaan Gita, namun ia
masih bingung harus mencari alasan apa.
“Apa Ta? Bentar Ta, Mams gak dengar,” teriak Andana dari
dalam kamar mandi.
Andana pun menghidupkan keran shower itu. Dan mulai
membersihkan dirinya. Tak berapa lama iapun keluar dengan jubah mandi membalut
tubuhnya. Sengaja ia menutupi kepalanya dengan handuk agar Gita tidak melihat
bercak merah dilehernya.
“Kamu tadi bilang apa Ta?” tanya Andana mencoba untuk
bersikap santai.
“Hoaaamm, Mams semalam pulang jam berapa? Kok aku gak
denger Mams pulang?” tanya Gita sambil menguap.
“Ohh, jam berapa ya? Mams juga gak liat jam. Tapi gak
lama dari keluar itu Mams pulang kok. Mams masuk kamu udah tidur. Jadi Mams gak
ganggu lagi, kamu keliatan capek banget semalam,” jawab Andana mencari alasan.
“Iya kah? Perasaan aku semalam jam dua aja belum tidur
deh. Terus, mana minuman sama cemilan yang katanya mau di beli? Kok gak ada?”
“Eeee, itu,, eee dibawa Prachaya, hehe. Katanya dia
lapar dan gak ada makanan dikamarnya, jadi dia minta makanannya,” jawab Andana
dengan kikuk.
Terlihat Gita memasang mimik wajah yang seperti curiga
dan tidak mempercayai alasan Andana. Ia menyipitkan matanya sambil menatap kearahnya.
“Apa? Kamu gak percaya sama mams?” todong Andana untuk
membuat Gita menghentikan tatapan itu.
Akhirnya Gita hanya menghela nafasnya.
“Percaya kok, cuma agak aneh aja sama sikapnya Abang.
Kok dia gak malu minta makanan sama orang yang baru dikenalnya, terlebih kita
ini penggemar beratnya lho. Mana kita udah nolong dia kan semalam.” Kata Gita.
“Udahlah gak apa-apa, anggap saja itu hadiah dari kita.
Lagi pula dia membutukan itu. Harusnya kita bangga bisa bantuin idola kita
seperti ini. Banyak lho diluar sana penggemar Abang yang juga pengen punya
kesempatan bisa deket dan bantuin Abang seperti kita ini,” kata Andana mencoba membuat
Gita berhenti berfikir aneh.
“Hmmm iya juga ya Mams, berarti kita ini beruntung
banget ya Mams bisa dapet kesempatan yang langka kayak gini,” jawab Gita sambil
menyunggingkan senyumannya.
“Ya sudah, cepat mandi. Nanti kita ketinggalan bus
nya,” ucap Andana mengalihkan pembicaraan.
“Heuh? Emang kita mau kemana, Mams?” tanya Gita.
“Kita kan mau ke Phuket. Gimana sih kamu ini, kamu
yang bikin jadwal tapi kamu juga yang lupa,” jawab Andana sambil menghela nafas.
“Oh iya, maaf Mams aku lupa,” jawab Gita yang baru
__ADS_1
tersadar.
“Ya sudah cepat mandi habis itu kita sarapan dan
berangkat. Takutnya nanti ketinggalan busnya. Lebih baik kita ambil perjalanan
pagi ini aja. Jadi sampai sana kita tidak malam,” terang Andana.
“Oke deh Mams, tapi kita nanti samperin Abang dulu ya
Mams. Sambil pamit, siapa tau nanti kita tidak ketemu lagi,” ajak Gita.
“Emmm sebaiknya tidak usah deh Ta, takut ganggu. Dia kan
juga perlu istirahat, sebaiknya kita jangan ganggu. Lagi pula mungkin dia juga
sudah berangkat. Kan semalam dia bilang kalau ada acara didekat sini,” jawab Andana
mencoba membuat Gita untuk tidak melakukan itu.
Gita mengernyitkan wajahnya, dia menatap Andana sedikit
heran. Andana tau dengan jelas bahwa Gita merasa aneh dengan sikapnya ini. Padahal
dia sangat tau bahwa Andana adalah orang yang sangat tidak bisa membiarkan
sedikitpun kesempatan jika ada didepan mata.
“Udah cepet mandi sana, makin siang ini,” ucap Andana lagi sambil mendorong tubuh Gita.
“Oke-oke, baiklah,” jawab Gita mengalah dan dengan
malas berjalan menuju kamar mandi.
Berbarengan dengan ponsel Andana yang berdering. Iapun
berjalan mendekatinya dan melihat siapa yang melakukan panggilan sepagi ini.
“Ini baru jam setengah 6, siapa yang nelpon sepagi ini
sih?” ucap Andana sambil meraih ponselnya.
Gita yang hampir mencapai kamar mandi itupun
menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Andana. Sambil memberi isyarat bertanya
siapa yang memanggil.
“Khodam,” jawab Andana sambil menunjukkan nama panggilan
didalam ponsel nya. Dan Gita kembali melanjutkan aktifitasnya.
“Hallo, apa?” tanya Andana sesaat setelah ia menjawab
panggilan itu.
“Wiiihhh udah bangun, Moy?” jawabnya dari sana.
“Emang ini jam berapa? Jam Indonesia sama jam Thailand
sama waktunya,” jawab Andana ketus.
“Ya ampun galak banget sih, kan cuma nanya lho,” jawabnya
sambil cegengesan.
“Lagian kamu aneh deh, sepagi ini mau apa telpon aku?”
tanya Andana aneh.
“Ohhh itu, aku udah telpon kamu dari semalam tapi enggak
kamu angkat. Aku khawatir saja, makanya aku telpon kamu pagi ini. Soalnya Gita
bilang kamu semalam keluar bersama Prachaya pas aku telpon Gita. Emang iya?” tanya
nya.
“Kalo iya kenapa? Kamu iri kan aku bisa deket sama idolaku,” jawab Andana mencoba menjawab sesantai mungkin.
“Aku gak iri Moy, aku cuma khawatir. Kenapa kamu keluar
sendirian sama orang yang baru kamu kenal. Kamu kemana semalam?” tanya nya lagi.
“Aku sudah dua tahun kenal dia, bisa-bisanya kamu bilang
aku keluar sama orang asing,” jawab Andana.
“Moy, kamu kenal cuma lewat sosial media saja, sedangkan
kamu ketemu juga baru kemarin, kan? Kenapa kamu gak ajak Gita juga?” tanya nya lagi.
“Gita capek, aku liat dia udah kecapean banget, masa
iya mau aku ajak. Nanti kalau dia sakit gimana? Lagian awalnya aku mau keluar
sendiri sebenernya, tapi dia bilang dia akan menemani. Karna dia khawatir kalau aku keluar sendiri. Makanya dia nemenin aku. Kamu jadi orang bisa gak sih gak
usah selalu berfikir negatif.” Jelas Andana mulai kesal.
“Moy, kamu lupa ya? Aku ini siapa?” tanya nya lagi namun
terdengar jelas bahwa nadanya sudah datar.
__ADS_1