BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
CURIGA


__ADS_3

*****


Andana merasakan tubuhnya seperti ada yang menimpa.


Membuatnya sulit bergerak dan terpaksa membuka matanya. Andana merasakan kepalanya


yang sakit. Sambil memegang kepalanya, Andana membuka mata. Lalu menatap kearah


perutnya dimana ia merasakan ada yang menimpanya.


Saat Andana mendapati sebuah tangan putih yang berotot


itu adalah bukan tangan miliknya. Perlahan Andana mengikuti kemana tangan itu berasal,


hingga ia melihat seorang pria tengah memeluknya saat ini.


Andana terdiam sesaat, menatap lekat wajah pria yang


sangat ia kenali itu. Ia bahkan sangat tampan meskipun tengah tertidur seperti


ini.


Untuk sementara waktu Andana terpaku pada suguhan indah


didepan matanya ini, hingga akhirnya ia tersadar bahwa apa yang terjadi saat


ini adalah sebuah kesalahan.


Andana terperanjat saat menyadari bahwa ini adalah bukan


kamar miliknya dan Gita. Andana mengedarkan pandangannya dengan bingung dan benar


tidak menemukan Gita dimanapun.


Dengan kepanikan itu Andana berusaha melepaskan pelukan


Prachaya dari perutnya, dan mencoba untuk turun dari tempat tidur itu. Tapi


seketika Andana berhenti bergerak saat ia merasakan bahwa ia tidak bisa


merasakan pakaian yang melekat ditubuhnya. Saat mata Andana melihat kebawah dan benar saja seluruh pakainya berceceran di lantai, dibalik


selimut itu ia tidak mengenakan apapun.


Jantungnya berdegup kencang, saat ia mengedarkan


pandangan kesekelilingnya telah terhampar pakaian miliknya dan milik Prachaya.


“Apa yang terjadi semalam? Mengapa bisa seperti ini?


Mengapa aku tidak memakai apapun? Apa yang terjadi?” ucap Andana lirih dalam


kepanikannya.


Terlihat Prachaya menggeliat membenarkan posisinya,


namun masih terlelap.


Sedangkan Andana yang masih kebingungan, mencoba


untuk turun dari ranjang itu dan memungut semua pakaian miliknya lalu


mengenakannya kembali.


Setelah itu Andana mengendap keluar dari kamar itu


setelah menyambar ponselnya diatas nakas sebelah Prachaya tertidur.


Otak Andana tidak bisa berfikir dan mengingat apa yang


terjadi semalam hingga ia berakhir dikamar dengan Prachaya.


Andana keluar dan kembali kekamarnya dengan Gita, ia lihat


Gita masih terlelap diranjangnya.


Andanapun berjalan perlahan kekamar mandi dan mengunci pintu itu. Menatap


wajahnya dari balik pantulan cermin itu.


“Apa yang sudah kamu lakukan semalam An? Mengapa jadi


seperti ini?” cerca Andana sendiri pada pantulan cermin didepannya itu.


Andana frustasi dan benar-benar tidak bisa mengingat


apapun saat ini. Ia mengacak-acak rambutnya sebagai pelampiasan kekesalannya.


Andana melepaskan pakaiannya dan memilih mandi untuk


bersiap pergi dari sana. Namun saat ia melepaskan pakaiannya, Andana melihat tanda


merah di lehernya. Andana benar-benar terkejut dan membuat otaknya semakin liar


memikirkan hal-hal yang kemungkinan terjadi semalam.


“An, apa ini? Tidak mungkin kan, An? Tidak mungkin kamu


melakukan hal gila dengannya, kan An? Oh Tuhan, bagaimana ini?” cerca Andana dalam


kepanikan. Tubuhnya gemetar seketika itu juga.


Andana mencoba menggosok-gosok noda itu namun percuma

__ADS_1


saja itu tidak bisa hilang dengan semudah itu.


“Ini kalo dilihat Gita dia pasti bakalan mikir


aneh-aneh. Gimana ini ya ampun,” cerca Andana dengan tangan yang gemetar.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak bisa


mengingat apapun,” batin Andana yang mulai frustasi.


“Mams, Mams di dalam?” teriak Gita dari luar.


“Eee, aa, iya Ta. Mams mandi dulu sebentar,” ucap Andana gugup


saat mendengar suara Gita yang sudah bangun.


“Tumben bangunnya pagi banget, semalam pulang jam


berapa kok aku gak denger Mams pulang?” tanya Gita.


Sebenarnya Andana mendengar pertanyaan Gita, namun ia


masih bingung harus mencari alasan apa.


“Apa Ta? Bentar Ta, Mams gak dengar,” teriak Andana dari


dalam kamar mandi.


Andana pun menghidupkan keran shower itu. Dan mulai


membersihkan dirinya. Tak berapa lama iapun keluar dengan jubah mandi membalut


tubuhnya. Sengaja ia menutupi kepalanya dengan handuk agar Gita tidak melihat


bercak merah dilehernya.


“Kamu tadi bilang apa Ta?” tanya Andana mencoba untuk


bersikap santai.


“Hoaaamm, Mams semalam pulang jam berapa? Kok aku gak


denger Mams pulang?” tanya Gita sambil menguap.


“Ohh, jam berapa ya? Mams juga gak liat jam. Tapi gak


lama dari keluar itu Mams pulang kok. Mams masuk kamu udah tidur. Jadi Mams gak


ganggu lagi, kamu keliatan capek banget semalam,” jawab Andana mencari alasan.


“Iya kah? Perasaan aku semalam jam dua aja belum tidur


deh. Terus, mana minuman sama cemilan yang katanya mau di beli? Kok gak ada?”


“Eeee, itu,, eee dibawa Prachaya, hehe. Katanya dia


lapar dan gak ada makanan dikamarnya, jadi dia minta makanannya,” jawab Andana


dengan kikuk.


Terlihat Gita memasang mimik wajah yang seperti curiga


dan tidak mempercayai alasan Andana. Ia menyipitkan matanya sambil menatap kearahnya.


“Apa? Kamu gak percaya sama mams?” todong Andana untuk


membuat Gita menghentikan tatapan itu.


Akhirnya Gita hanya menghela nafasnya.


“Percaya kok, cuma agak aneh aja sama sikapnya Abang.


Kok dia gak malu minta makanan sama orang yang baru dikenalnya, terlebih kita


ini penggemar beratnya lho. Mana kita udah nolong dia kan semalam.” Kata Gita.


“Udahlah gak apa-apa, anggap saja itu hadiah dari kita.


Lagi pula dia membutukan itu. Harusnya kita bangga bisa bantuin idola kita


seperti ini. Banyak lho diluar sana penggemar Abang yang juga pengen punya


kesempatan bisa deket dan bantuin Abang seperti kita ini,” kata Andana mencoba membuat


Gita berhenti berfikir aneh.


“Hmmm iya juga ya Mams, berarti kita ini beruntung


banget ya Mams bisa dapet kesempatan yang langka kayak gini,” jawab Gita sambil


menyunggingkan senyumannya.


“Ya sudah, cepat mandi. Nanti kita ketinggalan bus


nya,” ucap Andana mengalihkan pembicaraan.


“Heuh? Emang kita mau kemana, Mams?” tanya Gita.


“Kita kan mau ke Phuket. Gimana sih kamu ini, kamu


yang bikin jadwal tapi kamu juga yang lupa,” jawab Andana sambil menghela nafas.


“Oh iya, maaf Mams aku lupa,” jawab Gita yang baru

__ADS_1


tersadar.


“Ya sudah cepat mandi habis itu kita sarapan dan


berangkat. Takutnya nanti ketinggalan busnya. Lebih baik kita ambil perjalanan


pagi ini aja. Jadi sampai sana kita tidak malam,” terang Andana.


“Oke deh Mams, tapi kita nanti samperin Abang dulu ya


Mams. Sambil pamit, siapa tau nanti kita tidak ketemu lagi,” ajak Gita.


“Emmm sebaiknya tidak usah deh Ta, takut ganggu. Dia kan


juga perlu istirahat, sebaiknya kita jangan ganggu. Lagi pula mungkin dia juga


sudah berangkat. Kan semalam dia bilang kalau ada acara didekat sini,” jawab Andana


mencoba membuat Gita untuk tidak melakukan itu.


Gita mengernyitkan wajahnya, dia menatap Andana sedikit


heran. Andana tau dengan jelas bahwa Gita merasa aneh dengan sikapnya ini. Padahal


dia sangat tau bahwa Andana adalah orang yang sangat tidak bisa membiarkan


sedikitpun kesempatan jika ada didepan mata.


“Udah cepet mandi sana, makin siang ini,” ucap Andana lagi sambil mendorong tubuh Gita.


“Oke-oke, baiklah,” jawab Gita mengalah dan dengan


malas berjalan menuju kamar mandi.


Berbarengan dengan ponsel Andana yang berdering. Iapun


berjalan mendekatinya dan melihat siapa yang melakukan panggilan sepagi ini.


“Ini baru jam setengah 6, siapa yang nelpon sepagi ini


sih?” ucap Andana sambil meraih ponselnya.


Gita yang hampir mencapai kamar mandi itupun


menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Andana. Sambil memberi isyarat bertanya


siapa yang memanggil.


“Khodam,” jawab Andana sambil menunjukkan nama panggilan


didalam ponsel nya. Dan Gita kembali melanjutkan aktifitasnya.


“Hallo, apa?” tanya Andana sesaat setelah ia menjawab


panggilan itu.


“Wiiihhh udah bangun, Moy?” jawabnya dari sana.


“Emang ini jam berapa? Jam Indonesia sama jam Thailand


sama waktunya,” jawab Andana ketus.


“Ya ampun galak banget sih, kan cuma nanya lho,” jawabnya


sambil cegengesan.


“Lagian kamu aneh deh, sepagi ini mau apa telpon aku?”


tanya Andana aneh.


“Ohhh itu, aku udah telpon kamu dari semalam tapi enggak


kamu angkat. Aku khawatir saja, makanya aku telpon kamu pagi ini. Soalnya Gita


bilang kamu semalam keluar bersama Prachaya pas aku telpon Gita. Emang iya?” tanya


nya.


“Kalo iya kenapa? Kamu iri kan aku bisa deket sama idolaku,” jawab Andana mencoba menjawab sesantai mungkin.


“Aku gak iri Moy, aku cuma khawatir. Kenapa kamu keluar


sendirian sama orang yang baru kamu kenal. Kamu kemana semalam?” tanya nya lagi.


“Aku sudah dua tahun kenal dia, bisa-bisanya kamu bilang


aku keluar sama orang asing,” jawab Andana.


“Moy, kamu kenal cuma lewat sosial media saja, sedangkan


kamu ketemu juga baru kemarin, kan? Kenapa kamu gak ajak Gita juga?” tanya nya lagi.


“Gita capek, aku liat dia udah kecapean banget, masa


iya mau aku ajak. Nanti kalau dia sakit gimana? Lagian awalnya aku mau keluar


sendiri sebenernya, tapi dia bilang dia akan menemani. Karna dia khawatir kalau aku keluar sendiri. Makanya dia nemenin aku. Kamu jadi orang bisa gak sih gak


usah selalu berfikir negatif.” Jelas Andana mulai kesal.


“Moy, kamu lupa ya? Aku  ini siapa?” tanya nya lagi namun


terdengar jelas bahwa nadanya sudah datar.

__ADS_1


__ADS_2