
“Iya aku sangat malu sampai rasanya aku ini seperti balon yang ingin meledak.” Batin
Gita.
“Tidak Phi, aku hanya terkejut bertemu denganmu disini dan tidak tau bagaimana harus
mengekspresikan kebahagiaanku ini,” elak Gita yang mulai mencoba menguasai
dirinya.
“Santai saja, aku tidak seperti artis-artis lainnya yang harus di hormati. Tadi Aku
lihat kamu bisa bersikap biasa pada P’Aya. Lakukan seperti itu saja denganku,”
pinta Tay sambil menepuk lembut pundak Gita.
“Tay,
kamu tidak sedang sibuk, kan?” Tanya Prachaya kemudian.
“Tidak Phi, aku sedang senggang hari ini,” jawab Tay yang duduk santai.
“Kalau begitu, kamu ajak Gita berkeliling ya.” Pinta Prachaya.
Hal itu tentu saja membuat Gita terkejut dan menatap Prachaya dengan tatapan tidak
percaya. Dan kemudian memandang kearah Andana untuk meminta pertolongan.
Prachaya tersenyum, begitu juga dengan Andana. Meskipun Gita sudah menggeleng namun itu
tidak membuat Andana dan Prachaya mengurungkan niat mereka.
“Oke Phi, aku tidak masalah. Aku akan bawa Gita berkeliling ketempat-tempat yang
indah. Ayo Gita,” ajak Tay sambil menggandeng tangan Gita lalu mengajaknya
beranjak dari sana.
“Ehm,
ee, i-iya,” ucap Gita sambil menyampirkan tas dipundaknya dan berjalan
mengikuti Tay.
“Hati-hati ya, Ta,” ucap Andana sambil melambaikan tangannya.
Senyum Andana seketika terkembang saat melihat Gita yang bisa mewujutkan impiannya
yang tidak masuk dalam list perjalanan mereka itu.
“An,
mau ikut denganu?” tawar Prachaya yang memecah lamunan Andana.
“Heuh?
Mau kemana?” Tanya Andana.
“Ketempat-tempat yang kamu pasti suka,” jawab Prachaya.
“Tapi Gita? Bagaimana?” Tanya Andana lagi.
“Gita kan sama Tay. Nanti jika mereka sudah selesai berkeliling, pasti Tay akan menelpon,” terang Prachaya.
“Tapi—
“Ayolah An, aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuanmu kok. Janji,” bujuk
Prachaya sambil mengangkat tangannya ke udara dan memasang wajah yang sangat
menggemaskan.
Dan itu tentu saja membuat Andana tidak bisa menahan senyumnya melihat Prachaya
yang sangat lucu itu.
“Aku anggap senyum ini adalah jawaban iya. Ayo An, kamu pasti akan menyukainya,”
ajak Prachaya yang menggandeng tangan Andana sambil melangkah,
Andana tidak menolaknya, dalam langkahnya yang mengikuti Prachaya, ia tidak mampu lagi
menyembunyikan kegembiraannya. Tangannya yang terus di genggam oleh Prachaya
itu selalu ia tatap secara bergantian dengan punggung Prachaya yang terbalut
jaket hitam itu.
“Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang. Aku benar-benar bahagia meskipun hanya
seperti ini. Apakah perasaan Prachaya itu adalah perasaan yang nyata. Atau itu
hanya karna rasa penasaran saja.
Batin Andana terus berperang dengan logikanya. Dimana ia juga memikirkan karir
Prachaya di dunia BL dan juga pandangan para penggemarnya bila ia memiliki
perasaan pada Andana.
“Aku bahkan tidak berani berkhayal sejauh itu, hanya memikirkan sedikit saja
__ADS_1
konsekuensi apa saja yang kemungkinan akan terjadi, itu sudah membuat ku
ketakutan.
Prachaya mengajak Andana ketempat taman hiburan, dimana disana begitu banyak wahana yang
dapat di naiki.
Andana tentu saja berdecak kagum saat ia mendapatkan pemandangan yang begitu indah
itu. Namun itu tidak berlangsung lama.
Ketika mata Andana melihat kesekitar, pandangannya langsung berubah. Ia yang semula
sangat kagum menjadi was-was dan mulai panik. Dimana ia melihat begitu banyak
orang didepannya.
“Apa kamu menyukainya An?” Tanya Pracahya.
“Tempatnya sangat bagus, tapi apakah kita akan masuk kedalam sana?” Tanya Andana dengan
wajahnya yang mulai panik.
“Mengapa An? Apakah kamu tidak suka keramaian?” Tanya Prachaya yang melihat perubahan
dari mimik wajah Andana.
Dan Andana hanya mengangguk pelan sambil memasang wajah memelas.
“Lalu kalau begitu kita lebih baik pergi saja dari sini, kita akan mencari tempat
lain saja yang tidak terlalu banyak orang berada,” ajak Prachaya kemudian.
Namun dengan cepat Andana menahan tangan Prachaya yang masih terus menggenggam
tangannya itu.
“Tidak apa-apa, asal kamu jangan terlalu jauh dari ku. Aku rasa aku akan mulai mencoba
mengatasi ketakutanku saat ini,” ucap Andana sambil menatap Prachaya.
Prachaya menatap mata Andana lekat, lalu ia melangkah mendekati Andana.
“Apakah kamu yakin akan hal itu? Jika kamu tidak nyaman maka lebih baik kita pergi
ketempat lain saja,” ucap Prachaya lembut.
“Sudah lama aku sangat ingin mengatasi ketakutanku pada keramaian seperti ini, tapi
aku selalu tidak pernah berhasil. Bahkan saat event ulang tahunmu kemarin, pada
akhirnya aku menyerah dan berlari ke toilet untuk menenangkan diri.
mencoba kembali melakukan hal ini?” Tanya Andana.
Sunggingan senyuman manis Prachaya itu nampak terlihat dari sorot matanya yang membentuk
bulan sabit. Dan lagi-lagi Andana terpesona melihat itu semua.
“Aku akan bersama mu mengatasi traumamu pada keramaian, kamu pasti akan bisa
mengatasi ketakutanmu. Terima kasih Andana,” ucap Prachaya sambil menggenggam
tangan Andana.
“Terimakasih?
Untuk apa?” Tanya Andana bingung.
“Terimakasih,
karna sudah memberiku kesempatan untuk bisa menjagamu. Aku akan melakukan yang
terbaik untuk mu,” jawab Prachaya sambil menatap Andana.
Andana tertegun akan ucapan Prachaya itu, namun itu tidak berlangsung lama.
“Apakah semua artis di Thailand memiliki mulut manis seperti ini? Mengapa kamu sangat
ahli dalam berkata manis,” tukas Andana sambil tersenyum.
“Aaannnn,
“Tidak bisa kah kamu melihat ketulusan pada mataku?” Tanya Prachaya.
“Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan, Bang. Sudahlah, ayo masuk. Aku
ingin tau ada apa didalam. Tapi jangan jauh-jauh dariku, ya?” ucap Andana
mengalihan pembicaraan.
Ia mencoba menatap kembali kearah wahana-wahana yang bertebaran didepan matanya
itu.
Sedangkan Prachaya hanya bisa menghela nafasnya.
“Benar-benar tidak mudah ternyata,” batin Prachaya.
“Ayo An, apakah kamu ingin mencoba naik bianglala itu?” Tanya Prachaya yang berkata
__ADS_1
sambil berjalan dan menunjuk kearah Bianglala tinggi ditengah-tengah taman
hiburan itu.
“Apakah itu akan baik-baik saja, Bang?” Tanya Andana yang matanya mengikuti arah dari
tangan Prachaya menunjuk.
“Aku ada bersamamu, ayo naik. Kamu akan melihat pemandangan kota Bangkok dari sana,”
kata Prachaya yang antusias dan mempercepat langkahnya.
Andana pun hanya mengikuti kembali langkah kaki Prachaya yang begitu bahagia saat
menggandeng tangan Andana itu.
Sedangkan Andana yang hanya bisa mengulum senyumnya menahan perasaan bahagia yang sudah hampir
membuat dadanya meledak.
Prachaya membeli dua tiket untuk menaiki bianglala itu dan segera mendekati wahana itu.
Andana menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada didepan pintu masuk kedalam
tempat yang mirip dengan sangkar burung itu.
Andana menatap tempat itu dengan ragu untuk melangkah masuk kedalamnya. Sedangkan Prachaya
yang sudah masuk duluan kesana dan duduk, melihat Andana yang diam didepan
pintu itu pun menatapnya lalu tersenyum.
“An, kemarilah. Ini tidak semenyeramkan yang ada dalam pikiranmu. Aku ada disini,”
ucap Pracahya yang mengulurkan tangannya pada Andana.
“Tapi aku takut,” jawab Andana yang masih ragu.
“Tidak apa-apa, percayalah padaku,” tambah Prachaya lagi.
Dan Andanapun menyambut tangan Prachaya dan mulai melangkah masuk kedalam dengan
langkah yang gemetar menahan ketakutannya.
Karna terlalu takut, langkah Andana menjadi tidak seimbang hingga langkahnya terselip
dan nyaris jatuh.
Untungnya Prachaya yang sigap langsung menarik tubuh Andana kedalam pelukannya, hingga
Andanpun jatuh kedalam pangkuan Prachaya.
Dan bianglala yang mereka masuki itu bergoyang, membuat Andana memeluk Prachaya
dengan kuat dan membenamkan wajahnya kedalam dada Prachaya.
Terasa oleh Prachaya tubuh Andana yang gemetar dan dingin karna ketakutan, namun itu justru
membuat Prachaya tersenyum dan membelai kepala Andana.
Prachaya memberi tanda pada petugas untuk segera menutup pintu itu dan menjalankan
bianglalanya.
“Tidak apa-apa An, tenanglah. Semua akan baik-baik saja,” ucap Prachaya sambil masih
mengusap kepala Andana.
Tepat ketika bianglala itu mulai berjalan Andana yang menyembunyikan wajahnya pada
dada Prachaya itupun perlahan melihat kesekitar, tepat setelah ia merasakan
bianglala itu mulai bergerak.
“Lihatlah,
tidak seburuk yang kamu pikirkan, bukan?” ucap Prachaya lagi saat bianglala itu
mulai berjalan perlahan.
“Maafkan aku, aku benar-benar takut. Ini kali pertama aku menaiki wahana ini.” Ucap Andana
dengan wajah pucat dan berkeringat.
Tangannya masih melingkar cantik memeluk Prachaya. Membuat pose itu sangat nyaman dan
sangat romantis.
“Tidak apa-apa, tenanglah. Aku ada disini untukmu,” ucap Prachaya sambil mengembangkan
senyumannya.
“Dia sangat harum sekali, bahkan dekapannya sangat hangat. Begitu nyaman sekali berada
dalam pelukannya.”
Andana tanpa sadar menyandarkan kepalanya pada dada Prachaya. Ia bahkan tidak berniat
melepaskan pelukannya dari Prachaya.
Sedangkan Prachaya sendiripun tidak masalah dengan hal itu. Meskipun dari mereka masuk
__ADS_1
kedalam bianglala itu sudah banyak mata yang memperhatikan mereka.