BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
MEMBERI RUANG


__ADS_3

“Iya aku sangat malu sampai rasanya aku ini seperti balon yang ingin meledak.” Batin


Gita.


“Tidak Phi, aku hanya terkejut bertemu denganmu disini dan tidak tau bagaimana harus


mengekspresikan kebahagiaanku ini,” elak Gita yang mulai mencoba menguasai


dirinya.


“Santai saja, aku tidak seperti artis-artis lainnya yang harus di hormati. Tadi Aku


lihat kamu bisa bersikap biasa pada P’Aya. Lakukan seperti itu saja denganku,”


pinta Tay sambil menepuk lembut pundak Gita.


“Tay,


kamu tidak sedang sibuk, kan?” Tanya Prachaya kemudian.


“Tidak Phi, aku sedang senggang hari ini,” jawab Tay yang duduk santai.


“Kalau begitu, kamu ajak Gita berkeliling ya.” Pinta Prachaya.


Hal itu tentu saja membuat Gita terkejut dan menatap Prachaya dengan tatapan tidak


percaya. Dan kemudian memandang kearah Andana untuk meminta pertolongan.


Prachaya tersenyum, begitu juga dengan Andana. Meskipun Gita sudah menggeleng namun itu


tidak membuat Andana dan Prachaya mengurungkan niat mereka.


“Oke Phi, aku tidak masalah. Aku akan bawa Gita berkeliling ketempat-tempat yang


indah. Ayo Gita,” ajak Tay sambil menggandeng tangan Gita lalu mengajaknya


beranjak dari sana.


“Ehm,


ee, i-iya,” ucap Gita sambil menyampirkan tas dipundaknya dan berjalan


mengikuti Tay.


“Hati-hati ya, Ta,” ucap Andana sambil melambaikan tangannya.


Senyum Andana seketika terkembang saat melihat Gita yang bisa mewujutkan impiannya


yang tidak masuk dalam list perjalanan mereka itu.


“An,


mau ikut denganu?” tawar Prachaya yang memecah lamunan Andana.


“Heuh?


Mau kemana?” Tanya Andana.


“Ketempat-tempat yang kamu pasti suka,” jawab Prachaya.


“Tapi Gita? Bagaimana?” Tanya Andana lagi.


“Gita kan sama Tay. Nanti jika mereka sudah selesai berkeliling, pasti Tay akan menelpon,” terang Prachaya.


“Tapi—


“Ayolah An, aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuanmu kok. Janji,” bujuk


Prachaya sambil mengangkat tangannya ke udara dan memasang wajah yang sangat


menggemaskan.


Dan itu tentu saja membuat Andana tidak bisa menahan senyumnya melihat Prachaya


yang sangat lucu itu.


“Aku anggap senyum ini adalah jawaban iya. Ayo An, kamu pasti akan menyukainya,”


ajak Prachaya yang menggandeng tangan Andana sambil melangkah,


Andana tidak menolaknya, dalam langkahnya yang mengikuti Prachaya, ia tidak mampu lagi


menyembunyikan kegembiraannya. Tangannya yang terus di genggam oleh Prachaya


itu selalu ia tatap secara bergantian dengan punggung Prachaya yang terbalut


jaket hitam itu.


“Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang. Aku benar-benar bahagia meskipun hanya


seperti ini. Apakah perasaan Prachaya itu adalah perasaan yang nyata. Atau itu


hanya karna rasa penasaran saja.


Batin Andana terus berperang dengan logikanya. Dimana ia juga memikirkan karir


Prachaya di dunia BL dan juga pandangan para penggemarnya bila ia memiliki


perasaan pada Andana.


“Aku bahkan tidak berani berkhayal sejauh itu, hanya memikirkan sedikit saja

__ADS_1


konsekuensi apa saja yang kemungkinan akan terjadi, itu sudah membuat ku


ketakutan.


Prachaya mengajak Andana ketempat taman hiburan, dimana disana begitu banyak wahana yang


dapat di naiki.


Andana tentu saja berdecak kagum saat ia mendapatkan pemandangan yang begitu indah


itu. Namun itu tidak berlangsung lama.


Ketika mata Andana melihat kesekitar, pandangannya langsung berubah. Ia yang semula


sangat kagum menjadi was-was dan mulai panik. Dimana ia melihat begitu banyak


orang didepannya.


“Apa kamu menyukainya An?” Tanya Pracahya.


“Tempatnya sangat bagus, tapi apakah kita akan masuk kedalam sana?” Tanya Andana dengan


wajahnya yang mulai panik.


“Mengapa An? Apakah kamu tidak suka keramaian?” Tanya Prachaya yang melihat perubahan


dari mimik wajah Andana.


Dan Andana hanya mengangguk pelan sambil memasang wajah memelas.


“Lalu kalau begitu kita lebih baik pergi saja dari sini, kita akan mencari tempat


lain saja yang tidak terlalu banyak orang berada,” ajak Prachaya kemudian.


Namun dengan cepat Andana menahan tangan Prachaya yang masih terus menggenggam


tangannya itu.


“Tidak apa-apa, asal kamu jangan terlalu jauh dari ku. Aku rasa aku akan mulai mencoba


mengatasi ketakutanku saat ini,” ucap Andana sambil  menatap Prachaya.


Prachaya menatap mata Andana lekat, lalu ia melangkah mendekati Andana.


“Apakah kamu yakin akan hal itu? Jika kamu tidak nyaman maka lebih baik kita pergi


ketempat lain saja,” ucap Prachaya lembut.


“Sudah lama aku sangat ingin mengatasi ketakutanku pada keramaian seperti ini, tapi


aku selalu tidak pernah berhasil. Bahkan saat event ulang tahunmu kemarin, pada


akhirnya aku menyerah dan berlari ke toilet untuk menenangkan diri.


mencoba kembali melakukan hal ini?” Tanya Andana.


Sunggingan senyuman manis Prachaya itu nampak terlihat dari sorot matanya yang membentuk


bulan sabit. Dan lagi-lagi Andana terpesona melihat itu semua.


“Aku akan bersama mu mengatasi traumamu pada keramaian, kamu pasti akan bisa


mengatasi ketakutanmu. Terima kasih Andana,” ucap Prachaya sambil menggenggam


tangan  Andana.


“Terimakasih?


Untuk apa?” Tanya Andana bingung.


“Terimakasih,


karna sudah memberiku kesempatan untuk bisa menjagamu. Aku akan melakukan yang


terbaik untuk mu,” jawab Prachaya sambil menatap Andana.


Andana tertegun akan ucapan Prachaya itu, namun itu tidak berlangsung lama.


“Apakah semua artis di Thailand memiliki mulut manis seperti ini? Mengapa kamu sangat


ahli dalam berkata manis,” tukas Andana sambil tersenyum.


“Aaannnn,


“Tidak bisa kah kamu melihat ketulusan pada mataku?” Tanya Prachaya.


“Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan, Bang. Sudahlah, ayo masuk. Aku


ingin tau ada apa didalam. Tapi jangan jauh-jauh dariku, ya?” ucap Andana


mengalihan pembicaraan.


Ia mencoba menatap kembali kearah wahana-wahana yang bertebaran didepan matanya


itu.


Sedangkan Prachaya hanya bisa menghela nafasnya.


“Benar-benar tidak mudah ternyata,” batin Prachaya.


“Ayo An, apakah kamu ingin mencoba naik bianglala itu?” Tanya Prachaya yang berkata

__ADS_1


sambil berjalan dan menunjuk kearah Bianglala tinggi ditengah-tengah taman


hiburan itu.


“Apakah itu akan baik-baik saja, Bang?” Tanya Andana yang matanya mengikuti arah dari


tangan Prachaya menunjuk.


“Aku ada bersamamu, ayo naik. Kamu akan melihat pemandangan kota Bangkok dari sana,”


kata Prachaya yang antusias dan mempercepat langkahnya.


Andana pun hanya mengikuti kembali langkah kaki Prachaya yang begitu bahagia saat


menggandeng tangan Andana itu.


Sedangkan Andana yang hanya bisa mengulum senyumnya menahan perasaan bahagia yang sudah hampir


membuat dadanya meledak.


Prachaya membeli dua tiket untuk menaiki bianglala itu dan segera mendekati wahana itu.


Andana menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada didepan pintu masuk kedalam


tempat yang mirip dengan sangkar burung itu.


Andana menatap tempat itu dengan ragu untuk melangkah masuk kedalamnya. Sedangkan Prachaya


yang sudah masuk duluan kesana dan duduk, melihat Andana yang diam didepan


pintu itu pun menatapnya lalu tersenyum.


“An, kemarilah. Ini tidak semenyeramkan yang ada dalam pikiranmu. Aku ada disini,”


ucap Pracahya yang mengulurkan tangannya pada Andana.


“Tapi aku takut,” jawab Andana yang masih ragu.


“Tidak apa-apa, percayalah padaku,” tambah Prachaya lagi.


Dan Andanapun menyambut tangan Prachaya dan mulai melangkah masuk kedalam dengan


langkah yang gemetar menahan ketakutannya.


Karna terlalu takut, langkah Andana menjadi tidak seimbang hingga langkahnya terselip


dan nyaris jatuh.


Untungnya Prachaya yang sigap langsung menarik tubuh Andana kedalam pelukannya, hingga


Andanpun jatuh kedalam pangkuan Prachaya.


Dan bianglala yang mereka masuki itu bergoyang, membuat Andana memeluk Prachaya


dengan kuat dan membenamkan wajahnya kedalam dada Prachaya.


Terasa oleh Prachaya tubuh Andana yang gemetar dan dingin karna ketakutan, namun itu justru


membuat Prachaya tersenyum dan membelai kepala Andana.


Prachaya memberi tanda pada petugas untuk segera menutup pintu itu dan menjalankan


bianglalanya.


“Tidak apa-apa An, tenanglah. Semua akan baik-baik saja,” ucap Prachaya sambil masih


mengusap kepala Andana.


Tepat ketika bianglala itu mulai berjalan Andana yang menyembunyikan wajahnya pada


dada Prachaya itupun perlahan melihat kesekitar, tepat setelah ia merasakan


bianglala itu mulai bergerak.


“Lihatlah,


tidak seburuk yang kamu pikirkan, bukan?” ucap Prachaya lagi saat bianglala itu


mulai berjalan perlahan.


“Maafkan aku, aku benar-benar takut. Ini kali pertama aku menaiki wahana ini.” Ucap Andana


dengan wajah pucat dan berkeringat.


Tangannya masih melingkar cantik memeluk Prachaya. Membuat pose itu sangat nyaman dan


sangat romantis.


“Tidak apa-apa, tenanglah. Aku ada disini untukmu,” ucap Prachaya sambil mengembangkan


senyumannya.


“Dia sangat harum sekali, bahkan dekapannya sangat hangat. Begitu nyaman sekali berada


dalam pelukannya.”


Andana tanpa sadar menyandarkan kepalanya pada dada Prachaya. Ia bahkan tidak berniat


melepaskan pelukannya dari Prachaya.


Sedangkan Prachaya sendiripun tidak masalah dengan hal itu. Meskipun dari mereka masuk

__ADS_1


kedalam bianglala itu sudah banyak mata yang memperhatikan mereka.


__ADS_2