BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
ITS MY DREAM


__ADS_3

*****


“Eh


jadi kalian berangkat?” tanya Max yang sedang melakukan panggilan video Bersama


teman-teman yang lainnya.


“Jadilah,


gak liat apa AKU sama Gita udah ketemu begini,” jawab An sambil mengumpulkan dan


merapikan barangnya.


“Pengen


ikut wei, kalian jahat laah,” rengek Kak Rhya.


“Ikut


woy,” tambah Gyel dan Ainun.


“Ayo


lah pada nyusul, kita tungguin ini. Setengah jam lagi berangkat.” Ucap Gita


dengan muka songongnya.


Andana


hanya tertawa melihat Gita yang memamerkan keberangkatan mereka.


“Hati-hati


disana ya. Itu tempat asing, jangan sampai pisah kalian berdua,” nasehat Max tiba-tiba.


“Berasa


dinasehati sama orang tua deh kalo begini,” celetuk Andana.


“Aku


seriusan lho ini, gak lagi bercanda. Moy inget kamu disana gak sendirian,” kata


Max lagi.


“Lah


yang bilang aku sendirian siapa lho?” jawab An heran.


"Moy, aku tau sifat kamu, meskipun aku belom ketemu


sama kamu. Aku sebagai temen cuma mau ngingetin kamu saja. Jangan sampai kamu


bertingkah konyol," ucap Max dengan nada seriusnya.


Andana menatap layar ponselnya sejenak sambil memasang wajah datarnya dan hanya menghela napas mendengar apa yang dikatakan


Max.


"Kamu kenapa sih, Khodam? Aneh banget hari ini. Enggak


biasanya kamu pasang wajah serius begitu. Kita disana cuma seminggu lho. Kamu seperti itu karna gak jadi berangkat bareng kita, ya?" celetuk Gita.


"Bukan masalah itu bek, cuma perasaan aku gak


enak saja. Aku berharap ini cuma perasaan saja." Ucap Max lagi.


"Udah-udah, kenapa jadi tegang gini sih. Iya-iya


aku bakalan hati-hati disana ntar. Kamu gak perlu khawatir. Nanti kalo ada


apa-apa aku bakalan kabarin kamu deh," ucap Andana menyudahi perdebatan itu.


Sedangkan teman-teman yang lain hanya bisa terdiam


mendengarkan percakapan yang agak ambigu itu. Semua juga heran melihat tingkah


Max yang tidak seperti biasanya. Dimana biasanya dia pecicilan dan tidak pernah


mau serius dalam berbicara.


"Doain kita selamat dan balik lagi dengan keadaan


utuh ke Indonesia ya, nanti kalo udah sampai disana kita Video call lagi


oke." Tambah Andana.


"Iya, hati-hati yaa," ucap mereka bersamaan.


Dan Anpun menyudahi panggilan itu. Namun An masih


memikirkan perubahan sikap Max hari ini.


"Ada apa ya Ta sama Max? Gak biasanya dia seperti


itu," tanya An pada Gita.


"Gak tau tuh Mams aneh banget dia hari ini. Bikin


parno orang aja," jawab Gita yang masih membereskan barang-barang


miliknya.

__ADS_1


"Ya sudahlah semoga aja gak terjadi apa-apa yaa,


nanti pas sampai Thailand coba Mams telpon deh. Nanya ada apa sama dia. Sekarang


ayok kita ke bandara. Takutnya nanti kita terlambat," ajak An kemudian.


"Iya ayo, Mams," jawab Gita dengan sunggingan


senyumnya.


Merekapun bergegas menuju bandara dengan memesan taxi


online.


Setelah melewati berbagai tahap pemeriksaan, akhirnya


merekapun sudah berada didalam pesawat yang akan membawa mereka ke negara gajah


putih itu.


"Kita doa dulu ya Ta, semoga selamat sampai


sana," ajak An saat sudah berada didalam pesawat. Gita pun mengangguk


dan mulai berdoa.


*****


Setelah melakukan perjalanan panjang yang nyaris 5 jam


itu, akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna meskipun ada beberapa kali


mengalami turbelensi.


Andana pun tidak berhenti memandang kagum ketika ia


mulai keluar dari pesawat hingga ia keluar dari bandara itu. Bukan hanya Andana,


ternyata Gita juga terus berdecak kagum melihat negara itu. Bagaimana tidak,


beberapa tahun belakangan kami hanya mampu melihat negara itu dari layar ponsel


mereka saja. Dan sekarang mereka benar-benar ada dan menginjakkan kaki disana.


Rona bahagia tidak dapat mereka sembunyikan lagi.


Merekapun bergegas menuju penginapan yang sudah mereka pesan ketika masih di


Indonesia. Tentunya setelah mereka mengambil beberapa foto di tempat-tempat yang


menurut mereka keren.


"Aahhhhhh, akhirnya sampai," ucap Gita yang


Sedangkan Andana mencoba untuk membuka tirai jendela yang


menutupi kamar mereka. An memandang keluar menikmati pemandangan baru yang ia


idam-idamkan beberapa tahun ini.


"Akhirnya aku kesini, aku benar-benar ada di


Bangkok. Aku benar-benar bisa menghirup udara yang sama dengan Prachaya, it's


my dreams," ucap Andana sambil menatap kota itu dari atas kamar mereka yang


berada di lantai 15 itu. Keindahan kota Bangkok dapat mereka nikmati dari sini.


Meskipun mereka mengeluarkan sedikit lebih banyak uang untuk menginap disini.


Tapi pemandangan disini benar-benar sepadan dengan apa yang mereka bayar.


Sebab, hotel tempat mereka saat ini tinggal adalah salah satu hotel yang sering di pakai para aktris atau aktor Thailand untuk istirahat. Itulah sebabnya Gita merekomendasikan hotel ini untuk tempat tinggal mereka selama disana.


"Mams, kita istirahat dulu ya, nanti sorean baru


kita keluar ya. Acaranya Prachaya juga kan nanti malam," pinta Gita yang


sudah terlihat lelah itu.


"Iya, kamu istirahat aja dulu ta, capek banget


keliatannya. Mams mau turun sebentar ya, itu ada penjual makanan gak jauh dari


hotel kita. Mams mau lihat jual apa. Kalau bisa kita makan Mams akan beli untuk


makan kita sebelum berangkat nanti. Kamu istirahat aja disini ya," ucap An


sambil melihat kebawah.


"Iya Mams, kalo ada Thai tea aku mau ya Mams pake


Boba," pinta Gita lagi sambil memejamkan matanya.


"Iya," jawab An yang berjalan mendekati


ransel nya dan meraih kamera yang sengaja ia bawa untuk mengabadikan acara ulang


tahun Prachaya nanti malam.


Andana berjalan menuju lift hotel itu untuk turun ke


lobby. Setelah itu Andana berjalan santai sambil sesekali memotret tempat yang

__ADS_1


menurutnya epik. Hingga ia sampai ditempat yang ada beberapa penjual makanan


kaki lima tengah menjajakan dagangan mereka.


Anpun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. An


memotret beberapa makanan yang menurutnya lucu. Bahkan tak jarang penjual disana


tersenyum melihat tingkah An yang terpana melihat semua itu.


*****


"Ta, bangun ta, udah jam setengah 6. Makan dulu,


trus siap-siap." Kata An membangunkan Gita yang masih terlelap.


"Hmm? Jam setengah 6, Mams? Kenapa gak bangunin


dari tadi Mams? Bisa telat kita nanti. Harusnya kita berangkat dari jam 3 atau


4 tadi. Biar kita dapet sport yang bagus buat nonton," kata Gita yang


terperanjat dari tidurnya.


"Kamu kan tidur. Mams mau bangunin gak tega liat


kamu tidur nyenyak banget. Udah gak apa-apa, kalo memang udah rezeki kita, pasti nanti


kita akan dapatkan tempat itu. Sekarang makan dulu. Liat Mams tadi ketemu


ini," ucap An menenangkan Gita sambil menunjuk bungkusan di atas nakas.


"Apa itu Mams?" Tanya Gita sambil menatap


bungkusan itu.


"Som tum, asli enak banget," kata An setengah


berbisik.


Dan itu berhasil membuat senyum Gita terkembang


sempurna. Sebab salah satu yang akan mereka lakukan datang ke negara ini adalah mencicipi som tum asli negara Thailand.


Tak lama dari menyantap makanan itu, merekapun segera


bersiap dan berangkat ketempat dimana mereka akan bertemu dengan idola mereka. Siapa


lagi jika bukan Prachaya. Pria yang membuat Andana menabung satu tahun ini untuk


bisa bertemu dengannya.


"Ayo Mams buruan. Disana kayaknya sport nya pas


buat dokumentasi. Kita juga gak terlalu jauh dan bisa dengan jelas lihat


Prachaya," seru Gita saat menemukan tempat yang pas untuk mereka duduk.


Andana hanya menuruti Gita, dan mengikutinya dari


belakang. Karna jujur, saat ini begitu banyak orang dan begitu riuh suara


menggema didalam ballroom tempat di adakannya acara itu. Dan itu sangat


membuat An tidak nyaman. An tidak melepaskan lengan Gita hingga ia dan Gita


duduk ditempat yang mereka inginkan.


Andana berusaha mengatur nafasnya agar ia bisa lebih


tenang dan tidak panik. Keringatnya bercucuran dari pelipisnya. An merasakan


pusing dan mual, dadanya berdebar kencang, serta An merasakan menggigil. Gita


yang melihat wajah An memucat itupun bingung.


"Mams kenapa? Mams sakit?" Tanya Gita


khawatir.


"Ah enggak kok Ta. Cuma disini sangat riuh dan


ramai, Mams gak terbiasa ada ditempat seperti ini." Jawab An mencoba


tersenyum.


"Mams yakin bisa tahan dengan semua ini. Ini


acaranya belom dimulai lho. Nanti kalau sudah dimulai akan lebih riuh


lagi." Tanya Gita lagi.


"Mudah-mudahan gak apa-apa Ta, sayang juga kalo


kembali. Kita udah sejauh ini. Jangan cuma karna hal ini semuanya batal. Gak


apa-apa. Mams masih oke," jawab An mencoba meyakinkan Gita yang khawatir.


"Tapi kalo gak kuat bilang ya, kita lebih baik


nunggu diluar aja," pinta Gita lagi. Dan An hanya mengangguk untuk


menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2