BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
RENCANA KEBERANGKATAN


__ADS_3

Namanya


adalah Maxselouis, namun mereka lebih sering memanggil dia dengan sebutan Khodam.


Bukan tanpa sebab dia bisa mendapatkan julukan itu. Berawal dari salah satu aplikasi radio


online yang Andana dan teman-temannya pakai yang hanya sekedar untuk berkumpul dan bertukar cerita.


Dia masuk menjadi tamu disana, yang membuat Andana dan teman-temannya terkejut adalah, dia yang


datang tiba-tiba menerawang mereka satu-persatu. Mereka yang saat itu sedang


membawakan tema tentang cerita horror langsung ter distrack karena dia yang menebak mereka satu-persatu sedang melakukan apa saat itu. Agak horor emang awalnya, itu


sebabnya mereka menanggilnya kodham. Karna setiap mereka streaming dia selalu masuk


dan menerawang.


Hingga


akhirnya Andana mencoba meminta nomor ponselnya untuk menanyakan sesuatu padanya.


Andana yang memang tidak bisa basa-basi itu langsung saja bertanya tanpa babibu


lagi. Sejak itulah mereka dekat dan menjadi teman hingga saat ini. Dan entah


mengapa dia lebih suka memanggil Andana dengan sebutan Moy daripada nama aslinya An. Mungkin karna


badan Andana yang lumayan berisi.


“Bang,


liat deh. Cakep banget ya orang ini?” tanya Andana saat pertama kali mengenalkan


Prachaya pada Max.


“Cakepan juga aku,” jawabnya.


“Dih


ngaca!” celetuk An.


“Beneran


kok emang cakepan aku juga. Siapa itu?” tanya Max.


“Penasaran


juga kan kamu?” tanya Andana mengejek.


“Hahaha,


siapa Moy?” tanya nya lagi.


“Prachaya,”


jawab An singkat lewat pesan singkat padanya.


“Pasti


aktor Thailand, kan?” tebaknya.


“Iya,”


jawab Andana.


“Sejak


kapan kamu mengidolakan orang?” tanya nya lagi.


“Yaa,


sejak aku nonton series dia itu, hahha” jawab An lagi.


“Makin


gak waras kamu ya, An. Ini bukan kamu banget deh, aku jadi takut deh.” ucapnya lagi.


“Kamu


kenapa sih? Emang aku hantu sampai kamu takutin segala? Kan temen kamu hantu semua rata-rata.


Bukannya seneng temen kamu itu dah gak stress mikirin masalahnya lagi, malah kamu


takut. Aneh tau gak!” ucap An heran.


“Iya


aku itu senang Moy, tapi ini bukan kamu banget deh. Sejak kapan kamu mengidolakan


orang? Sejak kapan kamu jadi kepo sama hidup seseorang? Sejak kapan juga kamu


ngefangirl?” tanya Max yang masih tak percaya.


“Hahaha,”


hal itu pun membuat Andana tertawa membaca apa yang ditulis olehnya.


Sebenarnya


Andana juga awalnya bingung mengapa sekarang ia jadi seperti ini. Tapi yang ia tahu


sekarang, ia bahagia menjalani semuanya.


“Bang,


aku mau ke Thailand, kamu mau ikut enggak?” tanya An masih melalui pesan singkat.


“Mau


ngapain kamu ke Thailand? Jangan bilang mau nemuin Prachaya?” balas Max yang


sepertinya sudah tau gelagat Andana itu.


“Hehehe,


iya. Tapi aku mau nabung dulu. Kamu mau ikut enggak? Kalo enggak, aku berangkat


sendiri deh,” balas Andana lagi.


“Seperti


kamu paham saja kalau disana nanti. Kamu akson Thailand saja belom hapal. Mau sok-sok an

__ADS_1


kesana sendirian,” balas Max lagi.


“Yee,


kan ada google translate. Lagian kalo aku belom bisa Bahasa Thailand juga enggak


apa-apa kesana sendirian. Kan bisa pake Bahasa inggris,” jawab An lagi.


“Sekarang


aku tanya, Bahasa inggris kamu sampe mana? Berapa kosakata yang sudah kamu pahami


dan hapal?” tanya Max lagi. Dan itu membuat Andana terdiam.


Baru


An sadari bahwa jangan kan Bahasa Thailand yang sangat sulit ia pelajari.


Bahasa inggrisnya saja masih berantakan dan tak jarang masih menggunakan google


translate untuk menerjemahkan kalimat dalam Bahasa inggris.


Tak


lama dari itu ponsel An pun berdering, terlihat panggilan video dari Max. Dengan


malas Andanapun mengangkatnya.


“Apaan?”


tanya An ketus.


“Kenapa


gak dijawab chat aku?” ejek Max dengan memasang wajah cengengesan.


“Berisik


ah!” timbal An masih ketus.


“Hahaha,


Moy,,, Moy,, kamu itu kalau disuruh menghayal aku akuin paling the best lah.” Goda Max


sambil terkekeh.


“Terus


saja kamu bully aku. Sampai nanti kamu beneran liat kalau aku pasti bisa menggapai apa


yang aku impikan ini kelak.” Ucap An yang masih ketus.


“Hahha,


iya deh iya. Aku percaya sama kamu deh. Apa sih yang enggak buat kamu,” ucap Max


mengalah.


“Hallah,


mulai kan kalau kamu sudah gak bisa lagi debat ama aku,” ucap An dengan bibir mencibir.


"Enggak kok, emang kapan sih aku mau debat sama kamu, Moy?" Tanya Max lagi.


aja, awal-awal dulu juga kamu sering adu argumen sama aku, sampai sekarang kalo


debat ama kamu gak pernah aku gak emosi," timpal An lagi.


Hanya


gelak tawa yang terdengar.


“Tapi


seriusan dah Moy, kamu kenapa sih kalo sama aku bawaannya emosi terus?” tanya Max


lagi.


“Karna


kamu menyebalkan, bikin emosi saja kalo ngobrol ama kamu,” jawab Andana.


“Tapi


kenapa kalo kamu punya masalah selalu saja ceritanya sama aku?” tanya nya lagi.


Andana


terdiam sejenak setelah mendengarkan pertanyaan Max itu.


“Gak


tau, udah ah aku mau kerja dulu,” jawab An lagi dan menyudahi panggilan itu.


Sedangkan


diujung panggilan itu Max hanya tertawa mendengar ucapan terakhir Andana.


*


“Mams,


jadi tidur dimana malam ini? Apa mau tidur ditempat aku saja?” tanya Gita saat


berjalan keluar dari bandara.


“Enggak


usah kayaknya Ta, Mams akan cari hotel di deket sini saja. Kamu gimana?


Barang-barang kamu sudah diberesin semua? Pastikan gak ada yang tinggal ya, Ta,”


jawab An sambil masih menarik kopernya.


“Sudah


kok tenang saja Mams, kenapa gak mau tidur ditempat aku aja, Mams? jadikan


sekalian bisa ngirit uangnya?” tanya Gita lagi yang masih merayu An untuk ikut


dia saja.


“Mams

__ADS_1


gak enak sama bos kamu Ta, gak apa-apalah nyari penginapan deket sini saja. Lagi


pula kan pesawat kita besok lumayan pagi. Atau gak kamu saja tidur di penginapan


sama Mams, jadi kita besok langsung bisa berangkat bersama,” saran Andana


kemudian.


Terlihat


Gita sedikit berfikir sambil menunggu taksi online yang mereka pesan itu


datang.


Iya,


besok adalah hari keberangkatan Andana dan Gita ke Thailand, negara yang sangat ingin Andana


datangi semenjak Andana mengenal Prachaya. Andana mengumpulkan uang gajinya selama


satu tahun ini agar ia bisa berangkat kesana. Saat Andana mengatakan pada


teman-temannya bahwa ia ingin ke Thailand, Gita tiba-tiba menyarankan untuk


menabung tiap bulan agar bisa cepat kesana. Dari sekian banyak yang


merencanakan untuk ikut, hanya tertinggal Andana dan Gita yang siap dengan segala


sesuatunya. Itulah mengapa hanya ia dan Gita yang akan terbang ke Thailand


besok.


Andana


bersyukur karna itu Gita, yang menjadi teman perjalanan pertamanya untuk


mewujudkan impuiannya ini. Itu sebabnya ia sangat antusias untuk itu.


“Boleh


juga saran Mams itu, tapi anterin aku ambil barang-barang aku dulu ya Mams,


sekalian aku mau pamit dulu sama bos,” ucap Gita memutuskan.


“Siap,


ayo itu deh mobil kita kayaknya,” ajak An saat melihat mobil mendekat kearah


mereka.


Merekapun


langsung dibawa menuju tempat kerja Gita, sambil menunggu Gita berpamitan untuk


cuti kerjanya itu, Andana menunggu didepan gerbang sambil mengedarkan pandangannya


kesegala arah diarea tempat Gita bekerja itu.


*****


“Mams,


mau keluar gak?” tanya Gita saat melihat An hanya fokus pada notebooknya didalam


kamar penginapan.


“Mau


kemana, Ta? Mams kan gak tau wilayah disini. Eh kamu udah bikin list belom untuk


apa-apa yang akan kita lakukan di Bangkok nanti?” tanya An lagi saat ia


mengingat hal penting dari perjalanan ini.


“Hmmm


udah ada beberapa list Mams, tapi kalo mau ditambahin boleh banget jadi kita


nanti puas bener disana nanti.” jawab Gita yang lalu mengeluarkan note kecil


dari dalam tasnya.


“Mau


ke Phuket gak, Ta? Cukup gak waktunya kalo kita kesana untuk 2-3 hari gitu.


Kayaknya seru kalo kita kesana. Katanya Phuket disana indah banget,” saran An.


“Boleh


aja sih Mams, tapi kita bakalan naik bis kesananya. Soalnya kalo kita naik


pesawat pasti nambah biaya tambahan. Apa kita mau liat dulu berapa biaya dari


Bangkok ke Phuket itu?” tanya Gita lagi.


“Boleh


, kalo emang bisa kita lakukan, lakukan aja sekalian Ta, tapi yang paling


penting itu kamu tau kan. Acara ulang tahunya Prachaya harus kita datangi dulu.


Ini harus Mams kasih langsung sama dia,” ucap An sambil memegang kado yang sudah


ia siapkan untuk hadiah ulang tahun Prachaya.


“Siap


Mams, kan tujuan kita kesana juga untuk ikut acara itu. Aku gak sabar mau


ketemu sama dia. Aku juga tergila-gila sama dia,”jawab Gita antusias.


Larut


Andana dan Gita


dalam rencana yang tengah mereka susun hingga tidak terasa sudah jam 23:05. Andana


menyuruh Gita untuk menyudahi obrolan malam itu dan beristirahat. Sebab besok


pesawat mereka pukul 9:20 pagi, jadi mereka harus berangkat kebandara lebih pagi


lagi.

__ADS_1


__ADS_2