
“Apa
maksdunya dengan orang yang aku suka itu?” tanya Andana mencoba untuk bersikap
normal.
“Kamu,”
jawab Prachaya.
“Aku?
Kenapa dengan aku? Apa yang salah?” tanya Andana lagi.
“Aku suka sama kamu,”
Terang Prachaya.
Seketika lidah Andana kelu mendengar ucapan
Prachaya yang sangat santai itu. Ia bahkan seperti tidak ada beban dalam
mengutarakan persaannya itu.
“Su-suka?
Suka dalam hal apa?” tanya Andana mencoba mencari jawaban yang jelas.
“An,
aku yakin kamu sangat memahami arti dari ucapan yang baru saja aku katakan padamu.
Mengapa An? Apakah kamu tidak percaya?” tanya Prachaya yang sepertinya dia tau
bahwa Andana berpura-pura tidak mengerti.
“Apa?
Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kamu ucapkan padaku sejak tadi.
Lebih baik kamu kembali, sebelum banyak yang melihatmu disini dan akan
membuatmu kesusahan.” Ucap Andana kemudian sambil melangkah pergi menjauh.
Tapi,
dengan cepat Prachaya kembali menari Andana dan menahannya. Membuat ia terkejut
melihat sikap Prachaya yang seperti itu.
“Kamu kenapa sih? Lepasin gak,” pinta Andana.
“Tidak,
aku tidak mau lepaskan sebelum kamu tidak mengabaikan pesan-pesanku dan tidak
mengabaikan aku lagi,” ucap Prachaya yang melepas kacamatanya lalu menatap Andana lekat.
“Masya Allah,
matanya indah sekali. Sangat tajam, tapi begitu bening dan meneduhkan.”
Batin Andana yang sangat terpana melihat mata indah Prachaya.
“An,
aku tau kamu juga menyukaiku. Mengapa kamu tidak mau mengakui itu, An?” tanya
Prachaya yang sadar bahwa Andana tengah terpesona melihat matanya.
Dan
itu seketika membuat Andana menyadarkan diri dan besikap seperti biasanya lagi.
“Apa
sih, jangan terlalu percaya diri, ya. Aku memang penggemarmu, tapi bukan
berarti aku mau tertipu dengan mulut manismu,” jawab Andana yang mencoba melepaskan
pegangan tangan Prachaya lalu bergegas pergi dari sana.
Prachaya
hanya tersenyum mendengar kalimat yang baru saja Andana ucapkan.
“An,
kamu semakin membuatku ingin memilikimu,” batin Prachaya sambil terus menatap
punggung Andana yang berjalan menjauhinya.
Namun
tak lama, Prachaya kembali mengikuti kemapa Andana dan Gita pergi. Ia tidak peduli
__ADS_1
meskipun Andana, terus menyuruhnya untuk kembali dan meninggalkan ia dan Gita
berlibur.
“Bang,
sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua, sehingga Mams An bersikap
seperti ini denganmu?” Tanya Gita saat mereka tengah duduk ditepi pantai sambil
melihat Andana yang tengah bermain dengan air laut sore itu.
Dan
itu membuat Prachaya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Gita.
“Sebenarnya,
itu adalah salahku, Ta. Seharusnya aku tidak mengikuti apa yang Andana lakukan malam itu.
Tapi aku juga tidak bisa menahannya. Dia begitu menggodaku malam itu, dia---
“Wait,
wait, wait. Menggoda? Ma-maksudnya menggoda bagaimana? Mams An menggoda Abang?
Me-menggoda dalam artian yang bagaimana?” Tanya Gita spontan setelah
mendengarkan kata yang begitu mengganggu telinganya.
Prachaya
kembali tersenyum saat mendengar pertanyaan Gita.
“Tepat
seperti apa yang Andana bilang padaku malam itu. Jika kamu mengetahui hal ini, kamu
pasti akan terkejut dan juga marah padanya,” kata Prachaya sambil menatap Andana.
“Maksudnya bagaimana ini? Jujur aku bingung. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Gita
semakin bingung.
“Aku harap setelah aku menceritakannya padamu, kamu bersikaplah seolah tidak
mengetahuinya. Biarkan dia sendiri yang bicara nanti jika dia mau. Aku tidak mau
merusak persahabatan kalian,” jelas Prachaya sambil masih menatap Andana yang
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bang? Jangan membuatku semakin bingung dan
menerka-nerka,” jawab Gita yang menatap Prachaya.
Prachaya menghela nafasnya, dan mengalihkan pandangannya pada Gita yang sudah menatapnya
dengan wajah yang penuh tanya.
“Malam itu, sebenarnya aku mengajak An minum di bar yang tidak jauh dari penginapan
kita. Awalnya Andana menolak, ia sudah memperingatkanku bahwa dia sangat buruk
dalam minum. Tapi aku terus membujuknya untuk minum, sampai dia minum. Dan
ternyata setelah tegukan pertama habis, dia malah tidak mau berhenti. Akhirnya
dia mabuk dan aku harus menggendongnya untuk pulang,” cerita Prachaya.
Terang
saja hal itu membuat Gita membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka akan hal
itu.
“Kamu ajak Mams Andana minum? Dia itu sangat lemah dengan alcohol dan dia sangat buruk
jika sedang mabuk. Ja-jangan bilang, jangan bilang bahwa dia, dia---
Gita
tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
“Malam itu aku ingin membawa Andana pulang ke kamar kalian, tapi sebelum Andana benar-benar
mabuk, ia tidak mau pulang dalam keadaan seperti itu. Dia tidak mau kamu marah
dan khawatir padanya. Jadi aku membawa dia ke kamarku. Aku membiarkan dia tidur
di kasur dan aku tidur di sofa. Tapi, Andana menarikku dan, dan, daann----
“Sudah-sudah jangan diteruskan, aku sudah dapat memahami apa yang terjadi dari caramu
bercerita. Seharusnya kamu jangan mengajaknya minum,” ucap Gita yang hanya
dapat menghela nafas setelah mendengar cerita itu.
__ADS_1
“Pantas saja dia terus menghindar sejak pagi itu. Dia pasti sangat malu dan tidak bisa
bersikap seperti biasanya padamu. Dia sangat buruk jika sedang mabuk. Dia sudah
lama meninggalkan kebiasaan buruknya dengan alcohol. Dia tau bahwa aku sangat
tidak suka jika dia seperti itu. Sebab itu selalu akan merugikan dirinya
sendiri.” Jelas Gita.
“Aku minta maaf, Ta. Aku benar-benar menyesal. Seharusnya aku tidak melakukan itu
padanya. Tapi Ta, aku begitu tertarik padanya.” Ucap Prachaya.
“Tertarik?
Abang suka sama Mams?” Tanya Gita yang tidak percaya.
“Aku tidak tau Ta. Tapi aku begitu tertarik padanya. Dia berbeda, dia tidak
memperlakukan aku sebagai idolanya meskipun aku tau dari ocehan dia saat mabuk
waktu itu sangat mencintaiku. Pengorbanan dan perjuangannya untuk bertemu denganku,
semakin membuatku ingin mengenalnya,” tambah Prachaya.
Gita terdiam mendengar penuturan Prachaya.
“Ternyata kamu sudah melihat sisi Mams Andana yang hanya orang-orang paling dekat dengannya
saja bisa melihat sisi itu. Itu adalah sisi yang tidak akan ia beritahukan pada
siapapun, meskipun ia sangat mencintai atau bahkan penting untuknya.” Ucap Gita
sambil menatap kearah An yang duduk ditepi pantai itu.
“Kamu tau kenapa dia tidak pernah mau menunjukkan sisi sensitifnya itu pada semua
orang?” tambah Gita bertanya.
“Dia
adalah wanita yang akan menutupi semua lukanya dengan senyuman. Kita bahkan
kadang akan tertipu saat melihat dia tengah tertawa bahagia.
Banyak teman-teman atau bahkan orang yang dekat dengannya tidak akan menyadari bahwa dia sedang
tidak baik-baik saja. Sebab saat dia sudah bersama teman-temannya, dia tidak
akan membahas hal-hal yang akan membuat dia merasa dikasihani,” jelas Gita
lagi.
“Namun
dibalik semua ketegaran dan kuatnya dia menghadapi hidupnya yang sangat sulit
itu, dia hanyalah seorang wanita biasa. Dia juga lemah dan bisa menangis
setiap saat. Kamu adalah orang yang beruntung bisa melihat dia dalam sisi yang
sebenarnya dia. Sebab, dia tidak akan minum jika dia bersama orang-orang yang
dia sayangi. Dia tidak mau orang-orang akan mengasihaninya jika mendengar apa
yang sebenarnya ia rasakan.” Tambah Gita.
“Aku
tidak akan melarangmu untuk mendekatinya, sebab ia berhak untuk mendapatkan
kebahagiaan. Aku hanya akan mengingatkanmu, jika memang kamu mendekatinya hanya
karna penasaran atau bahkan untuk main-main. Lebih baik kamu berhenti dari
sekarang, aku tidak mau kedepannya dia menjadi lebih depresi dari kemarin.
Sekarang dia baru saja memulai lagi menata hidupnya setelah mengenal sosokmu.
“Kamu
membuat dia bisa kembali bangkit, dan menjalani hidupnya seperti sekarang. Kamu
tidak melihat bagaimana dia kemarin putus asa dengan hidupnya.
“Aku berkata seperti ini hanya tidak ingin dia terluka.
Gita terus saja mengucapkan hal-hal untuk meyakinkan Prachaya agar tidak main-main
dengan An.
“Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, Ta. Aku
memang baru mengenalnya. Tapi Ta, satuhal yang aku fikir kamu harus tau.” Kata
__ADS_1
Prachaya.