BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
KENYATAAN DIBALIK LUKA


__ADS_3

“Apa


maksdunya dengan orang yang aku suka itu?” tanya Andana mencoba untuk bersikap


normal.


“Kamu,”


jawab Prachaya.


“Aku?


Kenapa dengan aku? Apa yang salah?” tanya Andana lagi.


“Aku suka sama kamu,”


Terang Prachaya.


Seketika lidah Andana kelu mendengar ucapan


Prachaya yang sangat santai itu. Ia bahkan seperti tidak ada beban dalam


mengutarakan persaannya itu.


“Su-suka?


Suka dalam hal apa?” tanya Andana mencoba mencari jawaban yang jelas.


“An,


aku yakin kamu sangat memahami arti dari ucapan yang baru saja aku katakan padamu.


Mengapa An? Apakah kamu tidak percaya?” tanya Prachaya yang sepertinya dia tau


bahwa Andana berpura-pura tidak mengerti.


“Apa?


Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kamu ucapkan padaku sejak tadi.


Lebih baik kamu kembali, sebelum banyak yang melihatmu disini dan akan


membuatmu kesusahan.” Ucap Andana kemudian sambil melangkah pergi menjauh.


Tapi,


dengan cepat Prachaya kembali menari Andana dan menahannya. Membuat ia terkejut


melihat sikap Prachaya yang seperti itu.


“Kamu kenapa sih? Lepasin gak,” pinta Andana.


“Tidak,


aku tidak mau lepaskan sebelum kamu tidak mengabaikan pesan-pesanku dan tidak


mengabaikan aku lagi,” ucap Prachaya yang melepas kacamatanya lalu menatap Andana lekat.


“Masya Allah,


matanya indah sekali. Sangat tajam, tapi begitu bening dan meneduhkan.”


Batin Andana yang sangat terpana melihat mata indah Prachaya.


“An,


aku tau kamu juga menyukaiku. Mengapa kamu tidak mau mengakui itu, An?” tanya


Prachaya yang sadar bahwa Andana tengah terpesona melihat matanya.


Dan


itu seketika membuat Andana menyadarkan diri dan besikap seperti biasanya lagi.


“Apa


sih, jangan terlalu percaya diri, ya. Aku memang penggemarmu, tapi bukan


berarti aku mau tertipu dengan mulut manismu,” jawab Andana yang mencoba melepaskan


pegangan tangan Prachaya lalu bergegas pergi dari sana.


Prachaya


hanya tersenyum mendengar kalimat yang baru saja Andana ucapkan.


“An,


kamu semakin membuatku ingin memilikimu,” batin Prachaya sambil terus menatap


punggung Andana yang berjalan menjauhinya.


Namun


tak lama, Prachaya kembali mengikuti kemapa Andana dan Gita pergi. Ia tidak peduli

__ADS_1


meskipun Andana, terus menyuruhnya untuk kembali dan meninggalkan ia dan Gita


berlibur.


“Bang,


sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua, sehingga Mams An bersikap


seperti ini denganmu?” Tanya Gita saat mereka tengah duduk ditepi pantai sambil


melihat Andana yang tengah bermain dengan air laut sore itu.


Dan


itu membuat Prachaya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Gita.


“Sebenarnya,


itu adalah salahku, Ta. Seharusnya aku tidak mengikuti apa yang Andana lakukan malam itu.


Tapi aku juga tidak bisa menahannya. Dia begitu menggodaku malam itu, dia---


“Wait,


wait, wait. Menggoda? Ma-maksudnya menggoda bagaimana? Mams An menggoda Abang?


Me-menggoda dalam artian yang bagaimana?” Tanya Gita spontan setelah


mendengarkan kata yang begitu mengganggu telinganya.


Prachaya


kembali tersenyum saat mendengar pertanyaan Gita.


“Tepat


seperti apa yang Andana bilang padaku malam itu. Jika kamu mengetahui hal ini, kamu


pasti akan terkejut dan juga marah padanya,” kata Prachaya sambil menatap Andana.


“Maksudnya bagaimana ini? Jujur aku bingung. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Gita


semakin bingung.


“Aku harap setelah aku menceritakannya padamu, kamu bersikaplah seolah tidak


mengetahuinya. Biarkan dia sendiri yang bicara nanti jika dia mau. Aku tidak mau


merusak persahabatan kalian,” jelas Prachaya sambil masih menatap Andana yang


“Apa yang sebenarnya terjadi, Bang? Jangan membuatku semakin bingung dan


menerka-nerka,” jawab Gita yang menatap Prachaya.


Prachaya menghela nafasnya, dan mengalihkan pandangannya pada Gita yang sudah menatapnya


dengan wajah yang penuh tanya.


“Malam itu, sebenarnya aku mengajak An minum di bar yang tidak jauh dari penginapan


kita. Awalnya Andana menolak, ia sudah memperingatkanku bahwa dia sangat buruk


dalam minum. Tapi aku terus membujuknya untuk minum, sampai dia minum. Dan


ternyata setelah tegukan pertama habis, dia malah tidak mau berhenti. Akhirnya


dia mabuk dan aku harus menggendongnya untuk pulang,” cerita Prachaya.


Terang


saja hal itu membuat Gita membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka akan hal


itu.


“Kamu ajak Mams Andana minum? Dia itu sangat lemah dengan alcohol dan dia sangat buruk


jika sedang mabuk. Ja-jangan bilang, jangan bilang bahwa dia, dia---


Gita


tak mampu menyelesaikan kalimatnya.


“Malam itu aku ingin membawa Andana pulang ke kamar kalian, tapi sebelum Andana benar-benar


mabuk, ia tidak mau pulang dalam keadaan seperti itu. Dia tidak mau kamu marah


dan khawatir padanya. Jadi aku membawa dia ke kamarku. Aku membiarkan dia tidur


di kasur dan aku tidur di sofa. Tapi, Andana menarikku dan, dan, daann----


“Sudah-sudah jangan diteruskan, aku sudah dapat memahami apa yang terjadi dari caramu


bercerita. Seharusnya kamu jangan mengajaknya minum,” ucap Gita yang hanya


dapat menghela nafas setelah mendengar cerita itu.

__ADS_1


“Pantas saja dia terus menghindar sejak pagi itu. Dia pasti sangat malu dan tidak bisa


bersikap seperti biasanya padamu. Dia sangat buruk jika sedang mabuk. Dia sudah


lama meninggalkan kebiasaan buruknya dengan alcohol. Dia tau bahwa aku sangat


tidak suka jika dia seperti itu. Sebab itu selalu akan merugikan dirinya


sendiri.” Jelas Gita.


“Aku minta maaf, Ta. Aku benar-benar menyesal. Seharusnya aku tidak melakukan itu


padanya. Tapi Ta, aku begitu tertarik padanya.” Ucap Prachaya.


“Tertarik?


Abang suka sama Mams?” Tanya Gita yang tidak percaya.


“Aku tidak tau Ta. Tapi aku begitu tertarik padanya. Dia berbeda, dia tidak


memperlakukan aku sebagai idolanya meskipun aku tau dari ocehan dia saat mabuk


waktu itu sangat mencintaiku. Pengorbanan dan perjuangannya untuk bertemu denganku,


semakin membuatku ingin mengenalnya,” tambah Prachaya.


Gita terdiam mendengar penuturan Prachaya.


“Ternyata kamu sudah melihat sisi Mams Andana yang hanya orang-orang paling dekat dengannya


saja bisa melihat sisi itu. Itu adalah sisi yang tidak akan ia beritahukan pada


siapapun, meskipun ia sangat mencintai atau bahkan penting untuknya.” Ucap Gita


sambil menatap kearah  An yang duduk ditepi pantai itu.


“Kamu tau kenapa dia tidak pernah mau menunjukkan sisi sensitifnya itu pada semua


orang?” tambah Gita bertanya.


“Dia


adalah wanita yang akan menutupi semua lukanya dengan senyuman. Kita bahkan


kadang akan tertipu saat melihat dia tengah tertawa bahagia.


Banyak teman-teman atau bahkan orang yang dekat dengannya tidak akan menyadari bahwa dia sedang


tidak baik-baik saja. Sebab saat dia sudah bersama teman-temannya, dia tidak


akan membahas hal-hal yang akan membuat dia merasa dikasihani,” jelas Gita


lagi.


“Namun


dibalik semua ketegaran dan kuatnya dia menghadapi hidupnya yang sangat sulit


itu, dia hanyalah seorang wanita biasa. Dia juga lemah dan bisa menangis


setiap saat. Kamu adalah orang yang beruntung bisa melihat dia dalam sisi yang


sebenarnya dia. Sebab, dia tidak akan minum jika dia bersama orang-orang yang


dia sayangi. Dia tidak mau orang-orang akan mengasihaninya jika mendengar apa


yang sebenarnya ia rasakan.” Tambah Gita.


“Aku


tidak akan melarangmu untuk mendekatinya, sebab ia berhak untuk mendapatkan


kebahagiaan. Aku hanya akan mengingatkanmu, jika memang kamu mendekatinya hanya


karna penasaran atau bahkan untuk main-main. Lebih baik kamu berhenti dari


sekarang, aku tidak mau kedepannya dia menjadi lebih depresi dari kemarin.


Sekarang dia baru saja memulai lagi menata hidupnya setelah mengenal sosokmu.


“Kamu


membuat dia bisa kembali bangkit, dan menjalani hidupnya seperti sekarang. Kamu


tidak melihat bagaimana dia kemarin putus asa dengan hidupnya.


“Aku berkata seperti ini hanya tidak ingin dia terluka.


Gita terus saja mengucapkan hal-hal untuk meyakinkan Prachaya agar tidak main-main


dengan An.


“Aku akan berusaha melakukan yang terbaik,  Ta. Aku


memang baru mengenalnya. Tapi Ta, satuhal yang aku fikir kamu harus tau.” Kata

__ADS_1


Prachaya.


__ADS_2