
*****
“Kalian mau pulang ke Bangkok?” Tanya Prachaya saat bertemu dengan Andana dan Gita di loby
penginapan.
“Abang?” sapa Gita yang melihatnya.
“Hai, Ta.” Sapa Prachaya sambil tersenyum.
“Kok, bisa?” Gita bingung.
“Gimana?
Mau pulang ke Bangkok? Bareng aku aja ayo,” ucapnya tanpa menjawab pertanyaan
Gita.
“Kok kamu tau?” Tanya Gita lagi.
“An, pulang bareng aku ya. Aku antar ya,” kata Prachaya membujuk Andana.
“Hello, ada Gita disini,” Gita mulai kesal karna dicueki.
“Gita cantik, pulang bareng Abang ya,” bujuk Prachaya pada Gita yang memasang wajah
cemberut.
“Mauu, ayok Mams.” jawab Gita spontan mengubah mimik wajahnya.
“Gita,
kok begitu?” kata Andana spontan menghentikan Gita.
“Ayolah Mams, kita bisa ngehemat uang buat bayar busnya. Bisa kita pakai belanja di
Pratunam, Ayok.” Ucap Gita lagi sambil menarik tangan Anndana.
“Gitaa,”
keluh Andana.
Namun
Gita tak mengindahkan kata-kata Andana. Dia terus saja menarik tangan Andana untuk
masuk kedalam mobil Prachaya.
Sedangkan Andana hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Gita.
*****
“Gita,
“Hmm?
“Boleh gak aku tau lebih banyak tentang An?” Tanya Prachaya saat mereka tengah berada
di dekat penginapan awal mereka.
“Apa yang ingin kamu tau soal, Mams?” Tanya Gita sambil menyeruput Thaitea nya.
“Apa saja yang bisa kamu bagikan padaku. Aku ingin tau tentang An lebih banyak
lagi,” jawab Prachaya.
“Oh iya, mengapa kamu panggil dia Mams?” tambahnya.
“Karna dia itu sudah seperti Ibu untuk aku dan temen-temen lainnya. Apalagi temen-temen
yang umurnya jauh dibawah dia. Sebenernya dia itu adalah tempat yang paling
nyaman jika kita membutuh saran apapun. Itu sebabnya kami memanggil dia dengan
sebutan itu.” Jelas Gita sambil menerawang.
“Memang sudah kelihatan dari parasnya,” sahut Prachaya.
“Aku bersyukur bisa kenal dan sedekat ini dengan dia. Sekarang apa-apa aku pasti
selalu cerita sama dia.” Tambah Gita lagi.
“Emm, bicara tentang Mams. Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Bang.” Lanjut Gita.
“Hmm?
Mau Tanya apa?” Tanya Prachaya.
“Mams bilang, kamu mengungkapkan perasaanmu padanya. Apa itu benar?” Tanya Gita.
__ADS_1
“He’em,
benar Ta. Tapi dia tidak merespone atau menjawabnya.” Jawab Prachaya.
“Sudah ku duga,” sahut Gita.
“Apanya?”
Tanya Prachaya bingung.
“Yaa,
sudah ku duga kalau dia tidak akan merespone apapun.” Jawab Gita.
“Mengapa seperti itu?” Tanya Prachaya yang mulai penasaran.
“Panjang ceritanya. Suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya sendiri. Saran aku,
hati-hati dalam menyampaikan perasaanmu padanya. Lebih baik kamu membuktikan
perasaanmu itu lewat pembuktian, bukan hanya lewat ucapan.” Tambah Gita.
“Aku kurang paham Ta dengan maksudmu,” kata Prachaya bingung.
Gita menghela nafasnya.
“Aku ingin tanya sama kamu. Mengapa kamu mengugkapkan perasaanmu begitu cepat pada Mams?”
Tanya Gita sambil menatap Prachaya.
“Karna aku memang merasakan apa yang aku ungkapkan padanya,” jawab Prachaya.
“Apa kamu yakin bahwa itu benar-benar perasaanmu yang bukan hanya sesaat. Bisa saja
itu hanya rasa tertarikmu padanya, dan rasa itu akan hilang ketika kamu semakin
mengenalnya.” Jelas Gita.
“Aku juga belum tau pasti soal itu, Ta. Tapi yang saat ini aku rasakan adalah
perasaan yang tidak ingin kehilangan dia. Aku sangat nyaman saat berada didekat
dia. Aku bisa menjadi diriku sendiri jika aku bersamanya,” jelas Prachaya.
“Aku takut itu hanya perasaan sesaat, aku tidak ingin Mams tersakiti. Dia sudah
trauma lamanya terulang kembali,” ungkap Gita.
“Trauma apa Ta?” Tanya Prachaya.
“Trauma dia dengan masa lalunya. Dulu dia pernah menjalin hubungan. Tapi hanya dia yang
berjuang sedangkan laki-laki itu hanya memanfaatkannya saja. Mams tau bahwa dia
hanya dimanfaatkan tapi dia masih terus saja tidak memperdulikan itu,” cerita
Gita.
“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Prachaya.
“Tiga tahun yang lalu, tepat di hari ulang tahun Mams, dia mendapatkan kado yang
membuat dia masuk ruang rehabilitas selama satu tahun. Dia mengalami gangguan
kecemasan yang serius. Bahkan dia sudah di diagnosis sebagai penderita self
harm, meskipun tingkatannya masih di tahap superficial self mutilation.” Terang
Gita.
Hal itu membuat Prachaya tercengang tidak percaya.
“Disaat gangguan kecemasannya datang, dia akan lebih memilih untuk mengurung diri
didalam ruangan atau di dalam kamarnya. Dia akan mengiris pergelangan tangannya
menggunakan cutter atau jarum, bahkan apapun yang bisa membuat pergelangan
tangannya tergores atau terluka. Dia bahkan akan menjambak rambutnya dan
membenturkan kepala bahkan tubuhnya ke dinding.” Tambah Gita.
“Dia selalu akan menciptakan rasa sakit untuk menghilangkan rasa sakit yang ada
didalam hatinya.
“Itulah mengapa aku tidak mau dia kembali lagi ke masa itu. Bahkan sampai sekarang
gangguan kecemasan itu masih sering kambuh. Terlebih jika dia merasa stress dan
__ADS_1
tertekan.
“Tapi Ta, apa yang dilakukan lelaki itu hingga membuat mental An menjadi seperti
itu?” Tanya Prachaya lagi.
“Hmmhh, Mams melihatnya sedang mencumbu wanita lain di dalam kamar Mams.” Jawab Gita.
“Shia!! Gila, itu benar-benar gila!” cerca Prachaya.
“Kamu tau, mengapa Mams sangat mencintainya? Sampai-sampai meskipun ia tau bahwa ia
hanya di manfaatkan, masih saja tidak mengurangi rasa cintanya saat itu pada
lelaki itu?” Tanya Gita. Dan Prachaya hanya menggeleng untuk menjawab
pertanyaan Gita.
“Sama seperti yang kamu lakukan saat ini pada Mams. Perhatian yang luar biasa, pengertian
yang sangat membuat Mams terlena. Kasih sayang dan juga cinta yang seperti
sangat terlihat nyata.” Jawab Gita sambil tersenyum kearah Prachaya.
“Kamu tau? Setiap setelah Mams bertemu denganmu, aku selalu bisa merasakan tangan dan
tubuhnya begitu dingin dan ketakutan. Bahkan tanpa perlu aku bertanya, aku
sudah bisa memastikan apa yang dari ia alami.” Terang Gita lagi.
“Jadi itu sebabnya ia terus menghindar jika aku mencoba untuk meyakinkan keseriusanku
padanya?” terka Prachaya.
“He’em,
sebenarnya bukan karna dia tidak menyukaimu. Mams itu teramat menyukaimu. Dua
tahun ini, dia begitu tergila-gila padamu. Dia yang tidak pernah perduli dengan
kehidupan orang lain, dengan sangat detail mencari tau semua tentangmu dari
seluruh media social yang bisa ia jangkau.” Jawab Gita.
“Lalu?”
Tanya Prachaya yang meminta penjelasan.
“Dia hanya takut, dan rasa traumanya itu belum hilang. Itulah mengapa saat kamu
menyatakan perasaan padanya. Dia hanya diam dan tidak merespone apapun.” Terang
Gita.
“Ada sebuah kalimat yang sangat ia takuti, bahkan bisa memicu gangguan kecemasannya
itu kambuh secara tiba-tiba,” tambahnya lagi.
“Apa itu?” Tanya Prachaya makin penasaran.
Namun Gita hanya menggeleng.
“Heuh?
Ayolah Ta kasih tau apa,” pinta Prachaya.
“Aku selalu bertanya padanya apa bunyi kalimat itu. Tapi Mams tidak pernah mau
mengatakannya. Bahkan ketika aku mulai ingin membahas masalah itu, dia pasti
akan mengalihkan pembicaraan. Aku rasa itu adalah kalimat yang sangat di
takutinya,” jawab Gita menjelaskan.
“Kamu semakin membuatku khawatir Ta,” kata Prachaya dengan menghela nafas.
“Mams itu belum sembuh. Itu sebabnya aku tidak ingin dia kambuh. Dia masih dalam
tahap pengobatan. Jika kamu bisa melihat di bagian pergelangan tangan kirinya,
itu ada bekas luka sayatan-sayatan yang siapa saja yang melihatnya akan merasa
ngilu.
“Aku tidak tau bahwa dia memiliki beban yang begitu berat. Tapi Ta, aku benar-benar
ingin serius padanya,” ucap Prachaya.
“Tapi Bang, sepertinya itu tidak akan menjadi hal yang mudah untukmu,” kata Gita.
__ADS_1