
“Selama ini, aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya pada siapapun. Aku tidak
pernah menginginkan seseorang sampai seperti ini. Kamu tau berapa jadwal yang
ku batalkan agar aku bisa ada disini untuk bertemu dengan dia? Tapi aku tidak
perduli tentang hal itu. Yang aku tau, aku hanya ingin kembali bertemu
dengannya. Seperti sekarang, saat aku bisa melihatnya seperti itu, aku sudah
sangat lega dan bahagia,” terang Prachaya.
Gita
hanya diam mendengar penjelasan Aktor yang sangat di idolakan Andana dan juga
dirinya.
*****
Drrrttt,,,
Terdengar ponsel Gita berdering, dengan malas Gita mengapai ponselnya yang ia letakan
diatas nakas samping tempat tidurnya.
“Hallo,
kenapa?
“Kamu
lagi sama An gak bek?” Tanya Max yang bersuara saat sudah mendengar suara Gita.
“Enggak,
kenapa?” Tanya Gita malas.
“Bagus kalau begitu, ada yang pengen aku tanyakan sama kamu,” jawab Max.
“Apaan?
Kenapa enggak kamu tanya langsung saja sama Mams?” Tanya Gita lagi.
“Sudah coba aku tanya tapi dia enggak mau jawab. Aku seperti merasa aneh sama dia. Kalian
disana baik-baik saja, kan?” Tanya Max.
“Kamu kenapa sih, Dham? Perasaan dari kita mau berangkat sampai sekarang kamu selalu
khawatirkan Mams? Kalau kamu memang sebegitu khawatir sama dia, kenapa kamu enggak
ikut kemarin? Jadi kamu bisa pantau dia 24 jam,” sungut Gita.
“Bukan begitu bek, dasar bebek. Aku serius, sebenernya aku itu merasa sudah janggal saat
kalian mau berangkat, aku liat wajah An sedih gitu. Terus seperti ada bayangan
dia akan sedih. Makanya aku tanya sama kamu. Kamu enggak merasa aneh emangnya?
Apalagi pas kamu bilang An pergi berdua saja sama Prachaya. Iya aku tau dia itu
artis, tapi apa masuk akal kalau seorang artis bisa pergi sesuka hati dia
seperti itu?” jelas Max.
“Kamu juga jangan ngomong kayak gitu Khodam, kamu tau gak, itu sama saja kamu doain dia
buat sedih.” Balas Gita.
“Ih gak gitu konsepnya bebek!” jawab Max lagi.
“Udah ah, aku mau tidur. Aku capek banget ini,” kata Gita ingin mengakhiri panggilan
itu.
“Lah An kemana? Kok kamu dikamar sendiri?” Tanya Max cepat.
“Eh Max, kamu itu aneh banget sih. Mams An itu punya kaki, masa iya aku harus
mengikuti dia 24 jam. Biarkan s aja dia pergi sendiri, dia juga pengen menikmati
suasana disini tanpa aku. Kamu aneh banget sih ah. Udah ah aku ngantuk, bye!” kata
Gita langsung memutuskan panggilannya.
“Dih dimatiin lagi si bebek. Kok perasaan aku gak enak gini sih. Ini sudah malam, An
kemana pergi sendirian. Aku coba telpon deh,” kata Max lalu mencoba
menghubungi An.
“Hallo,
__ADS_1
“Hallo An, kamu di mana?” Tanya Max saat panggilan itu sudah tersambung.
“Lagi di pantai, menikmatii udara malam dipantai. Kenapa?” Tanya Andana sambil berjalan
menyusuri bibir pantai itu.
“Udah
malem An, bahaya disana sendirian,” kata Max lagi.
“Kamar aku deket kok dari sini, aku cuma ingin menikmati udara malam dan suasana malam
disini saja,” jelas Andana.
“An kamu di Negara orang jangan gitu. Mending pulang dan istirahat. Kalo emang mau
jalan-jalan bisa besok lagi,” perintah Max.
“Aduh kamu bawel banget sih belakangan ini. Udah kayak bapak aku saja deh!” sungut Andana mulai
kesal.
“Andana.
“Ck,
iya udah iya aku balik kekamar. Puas
kamu!” kata Andana kesal dan memutuskan panggilan itu.
“Dia kenapa sih, protective banget deh. Aneh bener,” sungut Andana sambil kembali
berjalan menyisiri pantai itu.
“An,
Andana pun menoleh ke sumber suara itu. Andana melihat Prachaya dengan celana pendek dan
baju pantainya, sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya saat itu.
Andana mencoba untuk menghindar dengan berbalik badan dan berjalan menjauhinya. Namun
Prachaya cepat menahannya dengan menarik pergelangan tangan Andana.
“Lepasin,
apa yang kamu lakukan?” Tanya Andana terkejut dan mencoba memandangi sekitar.
Andana sangat takut jika ada yang melihat atau bahkan ada yang mengambil foto mereka
dapat melihat dengan jelas bahwa itu adalah Prachaya.
“An,
aku mau ngomong sama kamu,” kata Prachaya lembut.
“Disini bukan tempat yang tepat untuk bicara denganku. Ini tempat terbuka, dan lihat
dirimu. Mengapa kamu keluar dan menemuiku dengan pakain seperti ini. Kamu ini
gila atau bagaimana sih,” kata Andana panik dan mencoba melepaskan genggaman tangan
Prachaya.
“Kalau kamu mengkhawatirkan aku, maka kamu harus ikut dan mendengarkan aku. Aku
hanya ingin berbicara denganmu An,” jelas Prachaya.
“Aku sudah menuruhmu untuk kembali, mengapa kamu membuang-buang waktumu disini dan
seperti ini?” ucap Andana yang masih terus mengawasi keadaan sekitar.
“An,
apakah aku tidak bisa berbicara denganmu seperti malam itu?” Tanya Prachaya
menatap Andana yang gelisah.
“Bagaimana mungkin? Kita sangat berbeda. Aku hanya orang biasa. Aku hanya penggemarmu dari
Negara lain dan datang kesini untuk melihat dan merayakan ulang tahunmu. Aku
akan kembali lagi ke negaraku dan menjalani kehidupanku seperti biasanya.
Sedangkan kamu? Kamu juga memiliki kehidupan disini dengan begitu banyak
penggemar yang jauh lebih baik daripada aku,” tukas Andana yang mulai merasa sedih.
Sedih karna apa yang keluar dari bibirnya itu adalah kenyataan pahit agar ia tidak
berharap lebih dari ini.
“An,
__ADS_1
aku hanya ingin mengenalmu. Mengapa kamu harus berfikiran jauh kesana. Ayolah
An, aku minta maaf padamu tentang malam itu,” kata Prachaya memelas.
“Cukup Bang, jangan lagi ungkit masalah itu. Itu sebuah ketidak sengajaan. Aku mabuk
dan tidak bisa mengendalikan diriku. Itu hanya one night stand. Kamu bisa
melupakannya.” Kata Andana dengan mata yang mulai memanas.
“An,
mengapa kamu berkata seperti itu?” Tanya nya.
“Lepaskan aku bang, aku akan kembali ke kamarku. Dan kamu kembalilah, jangan buang-buang waktumu seperti ini.” Kata Andana mencoba melepaskan genggaman tangan Prachaya.
Setelah lepas, Andanapun berlari menjauh dan masuk kedalam kamar.
Dibalik pintu kamar itu Andana mendengar Prachaya mengetuk pintu kamar. Andana hanya
memejamkan matanya dan tidak membukakan pintu itu.
“An,
buka An. Aku ingin bicara denganmu. Aku ingin meluruskan semuanya. An,,,”
panggil Prachaya dengan mengetuk pintu kmar ku itu.
Gita
yang tengah membaca buku, hanya tercengang melihat Andana yang tergesa-gesa
menutup pintu.
“Mams,”
panggil Gita.
Aku
dengan cepat member isyarat pada Gita agar tidak bertanya apapun terlebih
dahulu dan diam.
Gita
hanya bisa diam, dia melihat semua yang Andana lakukan. Dia tau Andana tengah menahan
sesuatu agar tidak keluar.
Gita
tau bahwa Andana saat ini sangat bingung dan takut.
Setelah
tidak ada lagi suara dan ketukan pintu dari luar. Andana menghela napasnya, dan
berjalan lunglai menuju kasur.
“Are you okay, Mams?” Tanya Gita yang mendekatiku.
Andana
mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun tanpa Andana sadari air matanya
jatuh berbarengan dengan ia menganggukkan kepala.
“Mams,
Gita hanya bisa memanggil Andana tanpa bisa mengucapkan sepatah kata lagi.
“It’s okay Ta, gak apa-apa,” jawab Andana mencoba untuk bersikap seperti biasanya.
Andanapun
berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan
Gita hanya bisa melihat langkah Andana yang begitu gontai dan lesu.
“Gita, bisakah kamu membantuku?
“Aku butuh batuanmu.
Bunyi
pesan dari Prachaya pada Gita.
Gita
yang dihantui rasa peansaran itu, tidak berani bertanya pada Prachaya tentang
__ADS_1
apa yang sebenarnya terjadi.