
“Lembut sekali bibir ini, aku seperti sedang memakan permen kapas. Manis, lembut.
Sangat membuat candu.” Batin Andana.
Perlahan
Andana memejamkan matanya, dan mencoba menikmatinya. Hingga Andana larut dalam
imajinasinya sendiri. Andana bahkan lupa bahwa apa yang terjadi ini adalah sebuah
kenyataan.
Prachaya
melepaskan pagutannya dari Andana. Ia menatap mata Andana lekat. Lalu tersenyum manis.
“An,
aku mencintaimu,” ucapnya kemudian memeluk Andana.
Andana
hanya terdiam, tak bisa membalas apapun. Andana benar-benar tidak tau harus
bagaimana. Andana hanya mencoba untuk mengikuti alurnya agar ia bisa mengerti
dengan apa yang terjadi ini.
“Apa
yang harus kulakukan sekarang? Mana mungkin ini menjadi seperti ini. Aku harus
bagaimana?” batin Andana yang masih mencoba untuk mencari jawabannya.
“An?
Panggil Prachaya, namun Andana larut dalam pikirannya
sendiri hingga membuat Prachaya menatapnya heran.
“An?
Sekali
lagi ia memanggil Andana namun sekarang dengan memegang pundaknya.
“Hmm?
“Apa
yang salah?” Tanya nya lagi.
Andana
hanya terseyum dan menggeleng perlahan. Lalu kembali menatap laut yang mulai
tak nampak.
“Aku
hanya tidak tau harus bagaimana? Harus berekspresi bagaimana? Harus bersikap
bagaimana? Jujur aku masih bingung,” kata Andana kemudian.
Membuat Prachaya menghela napasnya dan menggenggam tangan Andana.
“Aku tau ini sangat cepat bagimu. Aku juga tidak tau An, aku hanya mengikuti
perasaanku. Jika aku boleh memberitahukanmu. Bahwa ini adalah kali pertama aku
merasakan perasaan seperti ini.
“Dulu,
aku tidak pernah memperdulikan sebuah perasaan, dan aku juga tidak pernah
merspone siapa pun yang mencoba untuk mendekatiku.
“Yang ada dalam pikiranku hanyalah menikmati pekerjaan yang aku sukai ini. Aku tidak
pernah memikirkan untuk mencari pasangan dan pendamping.
“Sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Di acara perayaan ulang tahunku tempo hari. Aku
menemukan seseorang yang mampu membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku
selain padanya.
“Seorang wanita yang belum pernah aku temui disetiap fanmeeting ku selama ini. Wanita
yang begitu menggemaskan. Wanita yang bisa membuatku tidak fokus pada acara
yang sedang kubawa saat itu.
“An?
__ADS_1
“Hmm?
Andana bahkan tidak bisa mengatakan apapun lagi. Sungguh ini seperti hanyalah sebuah
series yang sering ia tonton saat malam hari atau saat waktu luangnya.
“Kapan kamu akan kembali ke Indonesia?” Tanya Prachaya.
“Hmm, dalam dua atau tiga hari lagi. Gita hanya minta cuti dari kerjaannya selama
satu minggu, dan aku disini dengannya sudah 5 hari,” jelas Andana.
“An?
“Hmm?
“Maukah kamu tinggal lebih lama disini?” pinta Prachaya.
“Jangan bercanda,” ucap Andana lalu terkekeh saat mendengar apa yang dikatakannya.
“Aku serius. Aku ingin lebih lama lagi bersamamu,” pintanya.
“Kamu fikir aku ini tidak memiliki pekerjaan? Kamu fikir Gita tidak akan dimarahi
atasannya? Jangan suka bercanda deh,” ucap Andana lagi sambil menggelengkan kepalanya.
“An, Please,” mohonnya dengan menunjukkan tatapan yang nanar dan penuh harap.
“Hoiiihhh,
ayolah bang. Aku harus bekerja, bagaimana mungkin aku meninggalkan pekerjaanku.
Meskipun aku tidak menyukai pekerjaanku sekarang, tapi dari sana jugalah aku
bisa hidup bahkan bisa berada disini sekarang.” Kata Andana mencoba menjelaskan.
Andana tidak habis fikir mengapa dia memiliki pemikiran seperti itu. Dan Andana sangat
tidak terbiasa mendapatkan sikap seperti ini.
“Bagaimana jika kamu bekerja disini saja, An?” saran Prachaya.
“Arai?!” ucap Andana terkejut dengan saran yang diberikannya pada Andana.
“Kamu berhenti dari pekerjaanmu disana dan bekerja disini,” ucapnya lagi.
“Jangan gila! Bahasa inggrisku saja buruk bagaimana bisa aku bekerja disini. Lalu aku
harus menggunakan bahasamu? Bunuh saja aku,” kata Andana sambil menggelengkan
kepalanya.
suaranya tertawa setelah mendengar jawabank Andana. Dia pasti tau bahwa Andana tengah kesal dengan
apa yang disarankannya pada Andana.
“Apa yang membuatmu tertawa seperti itu?” tanya Andana saat ia melihat Prachaya tidak berhenti
tertawa.
“Maafkan aku, An. Tapi kamu sangat lucu, aku bahkan tidak bisa menahan diri saat
bersamamu,” jawabnya yang masih diselingi dengan tawa.
“Orang aneh,” jawab Andana sambil berdiri dan berjalan untuk kembali kepenginapan.
“An,kamu marah?
“An, tunggu.
“Aann, ayolah. Aku minta maaf.
Namun Andana tak menghiraukan teriakannya. Andana terus melangkah sambil sesekali tersenyum
mendengar rengekannya yang menyusulnya dari belakang.
“Tuhan,
aku bahagia sekali,” ucap Andana dalam hati.
*****
“Mams,”
panggil GIta saat melihat Andana duduk termenung dipinggir balkon penginapan itu.
“Hmm?
“Kenapa?
Apa yang salah?” Tanyanya sambil berjalan menghampiri Andana.
“Cuma lagi mikirin sesuatu saja, Ta,” ucap Andana sambil masih melihat hamparan pasir putih
dan deburan ombak yang berkejaran.
__ADS_1
“Mau cerita?” Tanya Gita.
Andana terdiam untuk beberapa saat.
“Ta, menurutmu. Apakah mungkin sorang super star bisa suka sama orang biasa kayak
kita?” tanya Andana tanpa menoleh kearah Gita.
Gita tersenyum, ia tau akan kemana arah pembicaraan yang Andana inginkan ini.
“Mams, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mengapa Mams bisa bilang gitu?”
Tanya Gita sambil mengulum senyumnya.
“Ta, apakah menurutmu Mams ini terlalu percaya diri jika Mams bilang kalo---
“Kalo apa? Tanya Gita cepat saat Andana menggantung ucapannya.
“Kalo----
“Hmm?
Apa Mams?” Gita mulai tidak sabaran.
“Kalo
Abang suka sama Mams?” ucap Andana ragu.
“Abang?
Maksudnya Prachaya?” Tanya Gita meyakinkan.
Dan Andana mengangguk dengan ragu dan takut.
“Apa Abang sudah bilang tentang perasaannya Mams?” Tanya Gita.
“Mams gak tau pasti apakah itu bisa di katakan sebagai pernyatan perasaannya.”
Jawab Andana.
“Memang apa yang udah Abang katakan?” Tanya Gita lagi.
“Dia bilang, dia minta dikasih kesempatan untuk mendekati Mams. Apa Mams saja yang
berfikiran terlalu percaya diri ya Ta? Mungkin maksudnya bukan ke ranah sana
kan Ta?” duga Andana mencoba menepis.
“Trus apa Abang pernah bilang suka, atau semacamnya?” Tanya Gita tidak menghiraukan
dugaanku.
Dan Andana mengangguk pelan.
“Tapi, sepertinya itu bukan pengakuan suka yang sesungguhnya.” Tepis Andana lagi.
“Memang dia bilang sukanya bagaimana?” Tanya Gita lagi.
Lalu perlahan Andana pun menceritakan apa yang dikatakan Prachaya padanya saat dipantai
itu. Dengan sabar Gita menyimak setiap apa yang keluar dari ucapan Andana itu.
“Mams?
“Hmmm?
“Aku rasa Abang punya perasaan lebih deh sama Mams,” kata Gita.
“Masa iya sih, Ta? Sepertinya tidaka mungkin deh. Soalnya Mams ini siapa, Ta?” kata Andana
menepis.
“Tapi Mams, Mams pernah gak baca artikel Abang tentang kedekatan dia sama seseorang?
Enggak kan?” ucap GIta.
“Yaa kan siapa tau aja itu gak terekspos jadi gak ketahuan. Dia itu publik figure
Ta. Semuanya bisa aja terjadi,” ucap Andana yang masih berfikir dengan logis.
“Tapi Mams, bukan berarti dia tidak punya hati dan perasaan. Dia juga manusia Mams.
Jangan lupakan itu,” nasehat Gita.
Dan itu membungkam Andana untuk tidak bisa lagi menyanggah ucapannya.
“Saran aku, ikuti kata hati Mams saja. Aku tau Mams bisa melihat ketulusan dari
seseorang,” tambah Gita lagi.
“Mams cuma gak tau harus bagaimana, Ta? Ini terlalu mendadak dan kayak apa ya. Berasa
di prank gitu lho Ta,” ucap Andana lagi.
“Mams, aku tau. Hati dan perasaan mams paling bisa melihat mana yang tulus dan mana
__ADS_1
yang hanya bercanda,” ucap Gita.
Andana hanya terdiam sambil kembali menatap deburan ombak yang masih saja saling mengejar.