BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
BERI AKU KESEMPATAN


__ADS_3

*****


“Mams,


ikut aku ketempat yang bagus mau gak?” ajak Gita saat kami sedang bersantai di


pinggir pantai dibawah pohon rindang.


“Mau


kemana?” Tanya Andana sambil masih menutup matanya.


“Kesana,


dibalik batu-batu besar disana ada tempat bagus banget. Dan kayaknya jarang


orang kesana karna gak ada yang tau,” kata Gita sambil menunjuk tempat yang


dimaksud.


“Kok


kamu bisa tau? Emang kamu kapan jalan-jalan sampai sana? Perasaan mamas yang


suka jalan-jalan disini aja gak berani sampai sana deh,” Tanya ku sedikit


heran.


“Aku


dikasih tau sama resepsionis hotel kita, Mams, katanya dipantai ini ada tempat indah. Jadi


kayak goa gitu Mams. Kesana yuk, aku penasaran,” ajak Gita lagi lalu bangkit


dan berdiri.


Andana


membuka matanya, dan menatap Gita yang sudah mengulurkan tangannya padanya. Andana


hanya tersenyum dan menyambut uluran tangannya.


Mereka


pun berjalan ketempat dimana yang Gita maksud. Ternyata tempat itu tidak dekat.


Andana yang suka berjalan ditepi pantai sampai merasakan lelah.


“Ta,


jauh juga ya. Lihat kita udah jalan sejauh ini, tapi kenapa kalau dilihat dari


sana gak sejauh ini ya Ta?” Tanya Andana dengan napas yang mulai tersengal.


“Iya


ya Mams, tapi sayang Mams kalau mau kembali lagi. Itu sudah dekat, ayo Mams


sedikit lagi,” kata Gita yang menyemangati.


Merekapun


terus berjalan meskipun lelah sudah dirasa. Dengan perjuangan yang sedikit menguras


tenaga, akhirnya mereka sampai ditempat itu.


“Mams,


lihat. Ini tempat indah banget. Aku tidak menyangka bahwa tempatnya akan


sekeren ini. Lihat goanya cukup besar,” kata Gita saat melihat tempat itu.


Andana


tertegun menatap apa yang ada didepan matanya saat ini.


“Ayo


Mams, sini aku fotoin. Sayang banget kalo gak di abadikan,” ucap Gita memecah


lamunannya.


Andanapun


memberikan kamera yang ia bawa padanya. Beberapa pose sudah tertangkap pada


memori kameranya. Begitu juga dengan Gita.


Setelah


puas mereka bersua foto disana, Gita mengajak Andana kembali. Namun Andana masih ingin


berada disini. Enatah mengapa tempat ini membuatnya sangat merasa nyaman dan


aman.


“Mams,


ayo balik. Udak mau gelap,” ajak Gita yang bersiap untuk pulang.


“Kamu


duluan aja Ta, Mams masih pengen disini. Disini nyaman banget,” jawab Andana.


“Aduh


Mams, perut ku sakit ini. Ayolah pulang, nanti Mams sendirian disini. Kita gak


tau apa yang ada disini ketika malam hari, ayo pulang.” Ajak Gita yang mulai


memegangi perutnya.


“Jangan

__ADS_1


suka berfikiran negative. Itu bisa bikin benar-benar terjadi. Kamu duluan aja,


nanti Mams menyusul. Sebentar lagi,” ucap Andana yang masih terus mengambil gambar


pada beberapa bagian batu karang yang membentuk mulut goa itu.


“Hmmhh,


ya sudah. Jangan lama-lama ya, sudah mau gelap. Aku udah gak tahan lagi ini


mules banget,” ucap Gita kemudian beranjak kembali.


“Jangan lari-lari, nanti jatuh,” ucap Andana dengan suara yang sedikit keras.


Namun


Gita tak menjawab, ia terus berlari sambil memegang perutnya. Membuat Andana hanya


bisa terkekeh melihat tingkahnya.


Andana


kembali membidik laut dengan kameranya. Hingga beberapa saat kemudian bidikan


lensa kameranya menangkap gambar seseorang yang sangat indah dan sempurna.


Dan


juga sepertinya jemari tangannya memeiliki reflek yang bagus. Gambar itu


tertangkap sempurna kala senyuman seseorang itu terkembang indah.


“Indah banget, dia benar-benar sempurna disini,” gumam Andana sambil menyunggingkan


senyumannya saat melihat hasil jepretan itu.


Tanpa ia sadari ternyata yang tadi Andana bidik gambarnya, sudah berada di sampingnya.


“Kamu pintar mengambil gambar ternyata,” ucapnya yang membuyarkan lamunan Andana.


“Prachaya,”


ucap Andana terkejut.


“Kenapa?


Kok kaget?” Tanya nya sambil tersenyum.


“Kamu


kok ada disini?” Tanya Andana yang baru saja tersadar.


“Memangnya


aku tidak boleh ada disini?” Tanyanya lagi.


“Emm,


maksudnya bukan gitu,” kata Andana seketika bingung harus berkata apa.


Disini hanya ada kita berdua, apakah kamu masih akan menghindariku, An?” Tanya


nya lagi.


Andana menghela nafasnya.


“Aku sebenarnya tidak bermaksud untuk menghindarimu. Hanya saja, caramu membuatku


khawatir kalau kamu mungkin akan mendapatkan masalah karna hal itu. Aku tidak


mau kamu menjadi bahan, topik, atau berita yang bisa membuatmu dan managermu


susah,” jelas Andana.


“An, kamu terlalu khawatir, tapi aku sangat berterima kasih karna kamu sudah mau


mengkhawatirkan ku. Hanya saja, aku tau bahwa apa yang aku lakukan itu ada


resikonya. Tapi An, aku sudah siap dengan itu semua,” jawab  Prachaya tenang.


“Kamu mungkin siap, tapi aku sebagai penggemarmu tidak pernah siap akan hal itu. Kami


sangat tidak suka jika kamu diberitakan buruk di media. Kamu tidak tau betapa


menyakitkannya mendengar dan membaca berita buruk yang bahkan terkadang kamu


selalu disangkut-pautkan dalam masalah yang tidak ada hubungannya denganmu,”


jelas Andana lagi.


“An,


itu sudah menjadi resiko yang harus aku jalani. Inilah dunia hiburan, apapun


bisa terjadi,” jawabnya sambil tersenyum.


“Tapi Bang---


“Sudahlah An, jangan lagi ada tapi. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Aku


hanya ingin mengenalmu dan lebih dekat lagi dengan mu. Aku tidak peduli tentang


yang lainnya,” potong Prachaya.


Dan hal itu mampu membungkam mulut Andana untuk tidak lagi memberikan alasan agar


Prachaya berhenti.


“An,


aku tau ini begitu cepat. Dan mungkin menurutmu tidak masuk akal. Tapi An, beri


aku kesempatan.” Tambahnya lagi.

__ADS_1


“Ke-ke-kesempatan


untuk apa?” tanya Andana gugup.


“Kesempatan


untuk membuktikan bahwa apa yang kurasakan sejak pertama kita bertemu itu


adalah perasaan yang nyata bukan hanya karna rasa penasaran saja,” jelas


Prachaya.


“A-a-aku


tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan,” tepis Andana yang terkejut dengan


pernyataan itu.


“An,


aku menyukaimu,” tambah Prachaya lagi.


“Ja-ja-jangan


bercanda,” jawab Andana mencoba tertawa.


“Aku


tidak sedang bercanda, An.” Kata Prachaya lagi.


“Aku


juga sedang tidak bercanda. Jangan seperti ini, jika kamu ingin bermain tolong


jangan libatkan aku. Kamu tidak tau aku ini bagaimana. Kamu tidak tau apa yang


bisa saja terjadi padaku jika aku kamu jadikan bahan percobaanmu,” ucap Andana


dengan wajah yang serius.


“Aku


tidak pernah memiliki pikiiran untuk bermain atau mempermainkanmu, An.” Jelas


Prachaya.


Andana


terdiam, ia tertegun. Ia tidak tau harus bagaimana. Ini benar-benar hal yang


sangat diluar dugaannya. Tapi logika dan hatinya seketika berperang hebat.


“A-a-aku


akan kembali ke hotel,” ucap Andana lagi dan berbalik pergi menjauh darinya.


Namun


dengan cepat Prachaya menahannya.


“An,


jangan pergi.” Ucapnya menahan Andana.


“An,


berbalik dan lihatlah mataku. Rasakan dengan hatimu. Lihatlah apakah aku hanya


bermain-main denganmu,” pinta Prachaya lagi dengan sedikit menarik lenang Andana


agar berbalik padanya.


Andana


pun perlahan berbalik dan menatap matanya. Pantulan cahaya jingga langit sore


itu jelas sekali membuat mata indah itu berbinar. Mata yang sangat Andana sukai


sejak pertama kali ia melihatnya. Mata yang membuat Andana jatuh hati padanya.


Mata


itu begitu bening dan Andana bahkan tidak bisa mendekripsikan bagaimana indahnya


mata itu. Andana selalu saja terhipnotis jika menatap mata indah miliknya itu. Andana


selalu saja jatuh hati jika melihat kearah sana. Terlebih lagi jika ia


tersenyum, mata itu seolah ikut tersenyum manis.


“An,


aku mencintaimu,” ucap Prachaya lagi smabil menatap Andana.


“Aku


juga sangat mencintaimu, sejak dua tahun yang lalu.” Jawab Andana spontan. Namun


setelah itu Andana menyadari bahwa apa yang ia lakukan tidak seharusnya ia


ucapkan.


“Tidak,


maksudku adalah,,,,, maafkan aku aku harus pergi,” ucap Andana mencoba untuk


menghidar dan pergi.


Tapi


sekali lagi Prachaya menarik tangan Andana dan langsung menciumnya. Membuatnya hanya


bisa diam sambil membelalakkan matanya tak percaya bahwa Andana akan merasakan

__ADS_1


bibir indah miliknya ketika ia dalam kondisi sesadar ini.


__ADS_2