
*****
“Mams,
ikut aku ketempat yang bagus mau gak?” ajak Gita saat kami sedang bersantai di
pinggir pantai dibawah pohon rindang.
“Mau
kemana?” Tanya Andana sambil masih menutup matanya.
“Kesana,
dibalik batu-batu besar disana ada tempat bagus banget. Dan kayaknya jarang
orang kesana karna gak ada yang tau,” kata Gita sambil menunjuk tempat yang
dimaksud.
“Kok
kamu bisa tau? Emang kamu kapan jalan-jalan sampai sana? Perasaan mamas yang
suka jalan-jalan disini aja gak berani sampai sana deh,” Tanya ku sedikit
heran.
“Aku
dikasih tau sama resepsionis hotel kita, Mams, katanya dipantai ini ada tempat indah. Jadi
kayak goa gitu Mams. Kesana yuk, aku penasaran,” ajak Gita lagi lalu bangkit
dan berdiri.
Andana
membuka matanya, dan menatap Gita yang sudah mengulurkan tangannya padanya. Andana
hanya tersenyum dan menyambut uluran tangannya.
Mereka
pun berjalan ketempat dimana yang Gita maksud. Ternyata tempat itu tidak dekat.
Andana yang suka berjalan ditepi pantai sampai merasakan lelah.
“Ta,
jauh juga ya. Lihat kita udah jalan sejauh ini, tapi kenapa kalau dilihat dari
sana gak sejauh ini ya Ta?” Tanya Andana dengan napas yang mulai tersengal.
“Iya
ya Mams, tapi sayang Mams kalau mau kembali lagi. Itu sudah dekat, ayo Mams
sedikit lagi,” kata Gita yang menyemangati.
Merekapun
terus berjalan meskipun lelah sudah dirasa. Dengan perjuangan yang sedikit menguras
tenaga, akhirnya mereka sampai ditempat itu.
“Mams,
lihat. Ini tempat indah banget. Aku tidak menyangka bahwa tempatnya akan
sekeren ini. Lihat goanya cukup besar,” kata Gita saat melihat tempat itu.
Andana
tertegun menatap apa yang ada didepan matanya saat ini.
“Ayo
Mams, sini aku fotoin. Sayang banget kalo gak di abadikan,” ucap Gita memecah
lamunannya.
Andanapun
memberikan kamera yang ia bawa padanya. Beberapa pose sudah tertangkap pada
memori kameranya. Begitu juga dengan Gita.
Setelah
puas mereka bersua foto disana, Gita mengajak Andana kembali. Namun Andana masih ingin
berada disini. Enatah mengapa tempat ini membuatnya sangat merasa nyaman dan
aman.
“Mams,
ayo balik. Udak mau gelap,” ajak Gita yang bersiap untuk pulang.
“Kamu
duluan aja Ta, Mams masih pengen disini. Disini nyaman banget,” jawab Andana.
“Aduh
Mams, perut ku sakit ini. Ayolah pulang, nanti Mams sendirian disini. Kita gak
tau apa yang ada disini ketika malam hari, ayo pulang.” Ajak Gita yang mulai
memegangi perutnya.
“Jangan
__ADS_1
suka berfikiran negative. Itu bisa bikin benar-benar terjadi. Kamu duluan aja,
nanti Mams menyusul. Sebentar lagi,” ucap Andana yang masih terus mengambil gambar
pada beberapa bagian batu karang yang membentuk mulut goa itu.
“Hmmhh,
ya sudah. Jangan lama-lama ya, sudah mau gelap. Aku udah gak tahan lagi ini
mules banget,” ucap Gita kemudian beranjak kembali.
“Jangan lari-lari, nanti jatuh,” ucap Andana dengan suara yang sedikit keras.
Namun
Gita tak menjawab, ia terus berlari sambil memegang perutnya. Membuat Andana hanya
bisa terkekeh melihat tingkahnya.
Andana
kembali membidik laut dengan kameranya. Hingga beberapa saat kemudian bidikan
lensa kameranya menangkap gambar seseorang yang sangat indah dan sempurna.
Dan
juga sepertinya jemari tangannya memeiliki reflek yang bagus. Gambar itu
tertangkap sempurna kala senyuman seseorang itu terkembang indah.
“Indah banget, dia benar-benar sempurna disini,” gumam Andana sambil menyunggingkan
senyumannya saat melihat hasil jepretan itu.
Tanpa ia sadari ternyata yang tadi Andana bidik gambarnya, sudah berada di sampingnya.
“Kamu pintar mengambil gambar ternyata,” ucapnya yang membuyarkan lamunan Andana.
“Prachaya,”
ucap Andana terkejut.
“Kenapa?
Kok kaget?” Tanya nya sambil tersenyum.
“Kamu
kok ada disini?” Tanya Andana yang baru saja tersadar.
“Memangnya
aku tidak boleh ada disini?” Tanyanya lagi.
“Emm,
maksudnya bukan gitu,” kata Andana seketika bingung harus berkata apa.
Disini hanya ada kita berdua, apakah kamu masih akan menghindariku, An?” Tanya
nya lagi.
Andana menghela nafasnya.
“Aku sebenarnya tidak bermaksud untuk menghindarimu. Hanya saja, caramu membuatku
khawatir kalau kamu mungkin akan mendapatkan masalah karna hal itu. Aku tidak
mau kamu menjadi bahan, topik, atau berita yang bisa membuatmu dan managermu
susah,” jelas Andana.
“An, kamu terlalu khawatir, tapi aku sangat berterima kasih karna kamu sudah mau
mengkhawatirkan ku. Hanya saja, aku tau bahwa apa yang aku lakukan itu ada
resikonya. Tapi An, aku sudah siap dengan itu semua,” jawab Prachaya tenang.
“Kamu mungkin siap, tapi aku sebagai penggemarmu tidak pernah siap akan hal itu. Kami
sangat tidak suka jika kamu diberitakan buruk di media. Kamu tidak tau betapa
menyakitkannya mendengar dan membaca berita buruk yang bahkan terkadang kamu
selalu disangkut-pautkan dalam masalah yang tidak ada hubungannya denganmu,”
jelas Andana lagi.
“An,
itu sudah menjadi resiko yang harus aku jalani. Inilah dunia hiburan, apapun
bisa terjadi,” jawabnya sambil tersenyum.
“Tapi Bang---
“Sudahlah An, jangan lagi ada tapi. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Aku
hanya ingin mengenalmu dan lebih dekat lagi dengan mu. Aku tidak peduli tentang
yang lainnya,” potong Prachaya.
Dan hal itu mampu membungkam mulut Andana untuk tidak lagi memberikan alasan agar
Prachaya berhenti.
“An,
aku tau ini begitu cepat. Dan mungkin menurutmu tidak masuk akal. Tapi An, beri
aku kesempatan.” Tambahnya lagi.
__ADS_1
“Ke-ke-kesempatan
untuk apa?” tanya Andana gugup.
“Kesempatan
untuk membuktikan bahwa apa yang kurasakan sejak pertama kita bertemu itu
adalah perasaan yang nyata bukan hanya karna rasa penasaran saja,” jelas
Prachaya.
“A-a-aku
tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan,” tepis Andana yang terkejut dengan
pernyataan itu.
“An,
aku menyukaimu,” tambah Prachaya lagi.
“Ja-ja-jangan
bercanda,” jawab Andana mencoba tertawa.
“Aku
tidak sedang bercanda, An.” Kata Prachaya lagi.
“Aku
juga sedang tidak bercanda. Jangan seperti ini, jika kamu ingin bermain tolong
jangan libatkan aku. Kamu tidak tau aku ini bagaimana. Kamu tidak tau apa yang
bisa saja terjadi padaku jika aku kamu jadikan bahan percobaanmu,” ucap Andana
dengan wajah yang serius.
“Aku
tidak pernah memiliki pikiiran untuk bermain atau mempermainkanmu, An.” Jelas
Prachaya.
Andana
terdiam, ia tertegun. Ia tidak tau harus bagaimana. Ini benar-benar hal yang
sangat diluar dugaannya. Tapi logika dan hatinya seketika berperang hebat.
“A-a-aku
akan kembali ke hotel,” ucap Andana lagi dan berbalik pergi menjauh darinya.
Namun
dengan cepat Prachaya menahannya.
“An,
jangan pergi.” Ucapnya menahan Andana.
“An,
berbalik dan lihatlah mataku. Rasakan dengan hatimu. Lihatlah apakah aku hanya
bermain-main denganmu,” pinta Prachaya lagi dengan sedikit menarik lenang Andana
agar berbalik padanya.
Andana
pun perlahan berbalik dan menatap matanya. Pantulan cahaya jingga langit sore
itu jelas sekali membuat mata indah itu berbinar. Mata yang sangat Andana sukai
sejak pertama kali ia melihatnya. Mata yang membuat Andana jatuh hati padanya.
Mata
itu begitu bening dan Andana bahkan tidak bisa mendekripsikan bagaimana indahnya
mata itu. Andana selalu saja terhipnotis jika menatap mata indah miliknya itu. Andana
selalu saja jatuh hati jika melihat kearah sana. Terlebih lagi jika ia
tersenyum, mata itu seolah ikut tersenyum manis.
“An,
aku mencintaimu,” ucap Prachaya lagi smabil menatap Andana.
“Aku
juga sangat mencintaimu, sejak dua tahun yang lalu.” Jawab Andana spontan. Namun
setelah itu Andana menyadari bahwa apa yang ia lakukan tidak seharusnya ia
ucapkan.
“Tidak,
maksudku adalah,,,,, maafkan aku aku harus pergi,” ucap Andana mencoba untuk
menghidar dan pergi.
Tapi
sekali lagi Prachaya menarik tangan Andana dan langsung menciumnya. Membuatnya hanya
bisa diam sambil membelalakkan matanya tak percaya bahwa Andana akan merasakan
__ADS_1
bibir indah miliknya ketika ia dalam kondisi sesadar ini.