BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
TATAPANNYA


__ADS_3

Gita keluar dari kamar mandi dengan mengelus perutnya yang masih terasa sakit.


Namun saat melihat Prachaya tertawa begitu renyahnya,


membuat Gita menatap Andana dengan pertanyaan. Andana yang melihat ekspresi Gita hanya bisa mengangkat kedua bahunya.


Sebab ia juga tidak begitu yakin apa yang membuat Abang tertawa begitu bahagia.


"It seems like the topic is exciting, what are you guys discussing?" tanya Gita mencoba untuk nimbrung.


"I'm sorry, I'm being too expressive. It's just that this friend of yours is so funny, that I can't help but laugh." ucap Prachaya sambil mengusap matanya yang berair karna terlalu banyak tertawa.


"Oh yeah, what did he do to make you laugh?"


tanya Gita lagi sambil menatap kearah Andana yang hanya diam.


"I told her that she was adorable, but she gave


me an answer that I couldn't help myself." jawab Prachaya.


"I'm sorry, I didn't mean anything by it. I'm


just happy to meet you guys. You're different from any fans I've ever met.


You're polite, you don't even think of me as your idol." tambah Prachaya


yang membenarkan posisinya.


"You take it easy, we're not fans what do you


call fans like that in Thai? Saesang? Is that what I call it?" tanya Gita


lagi.


Andana hanya diam mencoba menyimak obrolan mereka, sebab Andana


sendiri bingung harus berbicara apa. Bahasa inggrisnya sangat cetek dan ia


tidak terlalu pintar dalam pengucapan. Daripada ia mempermalukan dirinya


sendiri, lebih baik ia diam dan mencoba memahami apa yang Gita dan Abang


sedang bicarakan.


"You know, in Indonesia, we have a nickname for you." tambah Gita yang mulai antusias berbicara dengan Abang.


"Oh yeah? What is it if I know?" tanya


Prachaya dengan senyumannya.


"Abang, we your fans in Indonesia call you Abang


in Thai language Abang is Phi," jelas Gita.


"Abang? Nice nickname," jawab Prachaya.


"Do you mind if we call you Abang?" tanya


Gita.


"Of course not, why should I mind. You can call me whatever you like, and I won't have any problem with it." jelas Prachaya.


Dan kemudian ponsel Prachaya bergetar, ada panggilan yang mereka tidak tahu  dari siapa sebab tulisan disana memakai akson Thailand.


Dan mereka pun mendengar Abang berbicara dengan bahasa Thailand yang tidak mereka pahami seluruhnya. Hanya ada beberapa kalimat yang bisa mereka pahami. Mungkin bisa ditarik kesimpulan, bahwa yang sedang berbicara dengannya itu adalah Manager atau keluarganya. Sebab ada kata-kata tentang aku


baik-baik saja.


Selesai menerima panggilan itu Prachaya tersenyum kearah mereka berdua yang menatapnya.


"Abang, can I ask you something?"tanya Gita lagi.


"Of course," jawab Prachaya yang duduk menatap kami.


"Why are you here? And why are you alone? Where are your manager and family? Are they not with you?" tanya Gita yang melayangkan banyak pertanyaan.


Prachaya tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan Gita.

__ADS_1


"Actually, I have an event in the next two to three days near here. I think it's better for me to stay here, so it won't take too long to prepare. Meanwhile, my manager is going home because his house is also nearby." Jawab Prachaya dengan masih menyungging senyumnya.


Gita pun menganggukkan kepalanya tanda dia memahami situasinya. Setelah itu Prachaya seperti terlihat gelisah. Ia menatap kearah pintu keluar kamar beberapa kali. Andana yang melihat itu pun berinisiatif untuk keluar melihat situasi.


"I'm going out to buy some snacks and drinks, and then I'll see what the situation is like outside." Kata Andana sambil beranjak berdiri.


"I'll come with you and keep you company."


sahut Prachaya spontan ikut berdiri.


"Heuh? But outside could be dangerous for you,


you'll get caught if you go out with me." Kata Andana yang terkejut melihat Abang berdiri.


"I want to buy some too. I'll come with you, it's late and it's not safe to go alone,"


ucap Prachaya yang bersikeras ingin ikut.


Andana bingung dan menatap kearah Gita. Gitapun hanya mengangguk. Dan itu membuat Andana akhirnya menghela nafas lalu mengangguk.


Andanapun keluar dengan Prachaya yang mengekor di belakangnya. Sepanjang perjalanan Andana memilih diam. Andana sangat bingung harus bagaimana agar mereka tidak canggung. Namun saat Andana larut dalam pikirannya sendiri. Seolah Prachaya mengerti bahwa situasi sedang canggung.


"An," panggil Prachaya.


"Hmm?" Jawab Andana spontan.


"You're so quiet." Kata Prachaya dengan lembut.


Andana diam sebentar, "Quiet apa artinya itu?"


Batin Andana sambil mencoba mengingat kosa kata bahasa inggrisnya.


Namun Andana  hanya tersenyum membalas ucapan Prachaya.


"Kamu sangat pendiam ya," sekali lagi Prachaya berbicara namun dengan bahasa Indonesia. Membuat Andana tercekat dan menghentikan langkahnya sebentar. Andana menoleh kearahnya dengan tatapan tak percaya.


"Kamu bisa berbicara dengan bahasa


Indonesia?" Tanya Andana mencoba untuk meyakinkan apa yang di dengarnya tadi.


"Waaahhh keren, Aku kira kamu tidak bisa berbicara bahasa Indonesia, ternyata kamu mengerti." Kata Andana sambil menatap kagum. Sedangkan Prachaya menjawabnya dengan senyuman.


"Tapi kamu sepertinya sangat pendiam, dari tadi kamu tidak banyak bicara," tukas Prachaya lagi.


"Aku sebenarnya bingung harus bicara apa, sebab apa yang terjadi hari ini benar-benar diluar dugaan ku." Jawab Andana sambil mencoba tersenyum.


"An, kamu sangat menggemaskan," kata Prachaya lagi.


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?"


Tanya Andana heran.


"Karna kamu memang menggemaskan," jawab


Prachaya lagi.


"Baiklah-baiklah, aku anggap itu sebagai pujian


oke," jawab Andana sambil menggelengkan kepala.


"An, apakah kamu sudah mengantuk?" Tanya Prachaya lagi.


Andana hanya menggeleng. "Aku belum mengantuk, hanya


saja aku lelah." Jawab Andana singkat sambil terus melangkah.


"Maukah kamu ikut aku?" Tanya Prachaya lagi.


"Kemana?" Tanya Andana tanpa menoleh.


"Minum," jawab Prachaya.


Sebenarnya Andana sangat merasa ambigu dengan


jawaban Abang.


"Minum? Bukankah kita sedang berjalan untuk

__ADS_1


membeli minuman? Mau minum apa lagi?" Batink Andana


Namun hal itu tidak Andana tanyakan. Ia hanya mengangguk dan mengikuti langkah kakinya.


"Mengapa hari ini sangat beruntun keberuntungan datang padaku. Aku bahkan tidak pernah menyangka akan dapat berjalan beriringan dengan Prachaya sedekat ini. Ini sangat membuat jantungku tidak baik," batin Andana sambil terus melangkah.


Hingga Andana sudah berdiri didepan sebuah bar mewah. Dan itu membuat Andana melongo.


"Kamu ajak aku kesini untuk apa?" Tanya Andana yang bingung.


"Minum," jawabnya.


"Didalam? Aku ikut kesana? Dengan pakaian seperti


ini?" Tanya Andana lagi dengan menunjuk pakaiannya yang seadanya.


"Mengapa?" Tanya nya.


"Aku malu," jawab Andana terus terang.


"Tidak perlu malu, kamu bersamaku." Ucap Prachaya sambil menggandeng tangan Andana dan berjalan memasuki bar itu.


Andana tercengang melihat tangannya yang di genggamnya.


Jantungnya rasanya berdebar tidak karuan.


Sepanjang jalan masuk kedalam bar itu Prachaya tidak


melepaskan genggaman tangannya, hingga duduk ditempat yang sepertinya itu


adalah tempat dia biasa duduk. Pramusaji itu tersenyum dan mengantarkan mereka


ketempat itu.


"Kamu sering kesini ya?" Tanya Andana.


"Apa?" Tanyanya sembari mendekatkan wajahnya


pada Andana.


Membuat Andana semakin salah tingkah dan membelakkan mata.


"Ka-kamu sering kesini?" Tanya Andana lagi gelabakan.


Dia hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Andana. Dia


malah menuangkan minuman pada gelas kosong yang tersaji didepan meja itu. Dan


menyodorkannya pada Andana.


"Aku tidak minum," kata Andana mencoba menolak.


"Cobalah sedikit." Pinta Prachaya.


"Aku sangat buruk saat mabuk. Dan aku mudah


mabuk. Aku tidak ingin menyusahkan mu," tolak Andana lagi.


"Kamu tenang saja. Percaya saja padaku,"


kata nya lagi.


Dengan ragu Andana mengambil gelas itu. Prachaya


mendorong gelas itu untuk segera ia minum. Dengan perlahan Andana menenggak


minuman itu. Rasa manis bercampur pahit itu segera melesat kedalam tenggorokan


nya. Hingga Andana hanya bisa mengernyitkan keningnya untuk menghalau rasa itu.


Andana melihat Prachaya tersenyum puas setelah melihatnya


menghabiskan minuman itu. Segera ia menuangkan kembali.


Entah sudah berapa gelas yang masuk kedalam perut Andana.


Hingga ia sudah tidak bisa lagi menguasai dirinya.

__ADS_1


__ADS_2