BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
THERE HE IS


__ADS_3

Tidak lama kemudian MC acara itupun mulai membuka


acara yang ditunggu-tunggu oleh para fans Prachaya. Riuh tepuk tangan dan


sorak-sorai dari para fans itu semakin menjadi apalagi saat Sang pembawa acara


itu memanggil nama Prachaya.


Telinga An berdenging mendengar itu semua dan kepalanya


semakin sakit. Tapi Andana mencoba untuk bertahan disana. An sangat ingin melihat


Prachaya berdiri diatas atas sana.


Dengan susah payah menahan sakit itu akhirnya


samar-samar Andana bisa melihat seseorang yang berjalan perlahan dari ujung


panggung itu ketengah. Dengan sunggingan senyuman manis khasnya, rentetan gigi


yang begitu rapi. Mata sipit seperli bulan sabit saat kedua bibirnya tertarik


berlawanan itu. Sang bintang yang selama 2 tahun ini sangat Andana idolakan.


Sekarang berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


Andana hanya bisa terpana melihat siluet dirinya yang


ditabrak oleh cahaya lampu dari belakangnya. Meskipun membuat silau mata, namun


itu tidak mengurangi kesempurnaan dirinya.


"Gita, there he is," ucap An sambil meremas


lengan Gita.


"Yes Mams, there he is. He's real,"  jawab Gita yang juga tak kalah terpesona


melihat ketampanan Prachaya.


"Akhirnya aku menemukanmu," ucap An lagi.


Mata Andana terpana melihat mahluk yang selama ini sangat


ia kagumi, sosok yang mampu membuat hati dan pikiran terfokus hanya padanya.


"Mams, mata Prachaya kok kayak ngeliat kearah


kita terus ya?" Kata Gita mendekatkan wajahnya pada An. Sedangkan Andana yang


masih terpana akan apa yang tersuguh didepannya itu tidak mendengarkan ucapan


Gita. Hingga Gita mencoba menggoyangkan sedikit bahunya sampai ia tersadar.


"Heuh? Kenapa?" Tanya An linglung.


"Liat deh, matanya Prachaya kok kayaknya ngeliat


kearah kita terus," ulang Gita lagi.


Andana yang mendengar itu langsung kembali melihat kearah


depan dimana tempat dia berada. Dan memang benar, mata itu sering melihat


kearah mereka. Andana mencoba menoleh kebelakang mencari sesuatu yang mungkin


menjadi pusat perhatian Prachaya yang sebenarnya. Ia lihat fans-fans yang berada


di belakangnya semua histeris karena mereka juga merasa seperti di tatap oleh


Prachaya.


"Mungkin bukan melihat kearah kita, tapi


kebelakang kita. Coba lihat kebelakang bagaimana saltingnya mereka,"


jawab An kemudian.


"Masa sih Mams, tapi beneran kayak liatin Mams


deh," kata Gita heran.


"Heuh? Liatin Mams? Mana mungkin ah Ta, tapi,,,,


kalo emang gitu bagus dong. Mams jadi bisa foto dia dengan sempurna,"


jawab An sambil mengangkat kameranya dan membidik kearah Prachaya.


Andana terdiam terpaku saat ia melihat mata Prachaya yang bening


itu betul melihat kearah kameranya sambil tersenyum.


Cekrik,,


Tangan Andana reflek memencet tombol dikameranya namun


matanya masih tetap menatap Prachaya dibalik lensa kameranya itu.


Sesaat kemudian Andana mencoba menyadarkan dirinya dengan


menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak-tidak, itu tidak mungkin dia menatapku,


tidak mungkin. Itu hanya perasaanku saja," batin An membantah.


"Ta, Mams ke toilet dulu ya," ucap An pada

__ADS_1


Gita dengan nada sedikit keras.


"Mau aku temenin?" Tanya Gita.


"Gak apa-apa, kamu disini aja. Mams gak lama


kok," Tepis An lagi.


Gita hanya mengangguk dan  Andanapun beranjak dari


kursinya. Namun An seperti melihat bahwa mata Prachaya terus melihat kemana ia


melangkah. An mencoba untuk menyadarkan dirinya dan bergegas menuju toilet


disana.


An memandang dirinya dari pantulan kaca westafel toilet itu.


Dan membasuh wajahnya untuk mengembalikan kesadarannya agar kembali


berkonsentrasi.


"Aku kenapa sih hari ini, kok halunya tinggi


banget. Sampai menghalukan bahwa Prachaya menatapku, ck." Ucap An lagi


setelah ia membasuh wajahnya.


"Apa trauma dengan keramaian itu membuat aku jadi


kehilangan akal sehatku? Ayolah An, kamu sejauh ini sudah. Masa harus sia-sia


sih, Prachaya sudah didepan matamu." Tambahnya lagi.


"Kado,,, iya kadonya. Aduh gimana sih aku ini,


aku harus cepat-cepat agar bisa kasih kado ini sama dia," kata An lagi dan


bergegas untuk kembali ke tempat acara Prachaya.


An sedikit berlari karna acara itu akan segera


selesai. Namun sesampainya didepan ballroom itu An melihat semua fans sudah


mulai keluar dari sana. Dan Andana lihat Gita berdiri di ambang pintu menunggunya


sambil celingak-celinguk.


"Gita? Udah selesai ya?" Kata An dengan


terengah-engah.


"Iya Mams baru aja selesai, ayok kita pulang.


Udah malem banget ini," ajak Gita.


tertunduk lesu.


"Kenapa Mams?" Tanya Gita yang melihat raut


wajah An.


"Ini," jawab An sambil menunjukkan kado yang


belum sempat ia berikan pada Prachaya.


"Yaaaahhhh, kok bisa lupa," ucap Gita yang


terkejut.


Namun Andana tidak menjawab, ia hanya menghela napas


lesu dan mengikhlaskan semua itu.


"Sudahlah, mau bagaimana lagi? Kalau memang jodoh


nanti bakalan ketemu lagi." Ucap An dengan lesu.


"Aduh, aku kira akan berjalan seperti yang kita


harapkan." Sesal Gita.


"Udah gak apa-apa kok Ta, mau gimana lagi? Yang


penting kita masih bisa ketemu dan menikmati acara ulang tahunnya Prachaya.


Untuk kado ini nanti kita pikirkan lagi cara buat kasih ke Prachaya."


Ucap An mencoba menenangkan Gita.


"Ya sudah ayo pulang Mams, sudah malem. Nanti kita


gak dapet taksi online lagi." Ajak Gita sambil menggandeng lengan An. Dan


Andana mencoba mengangguk sambil tersenyum.


Akhinya merekapun pulang kembali kehotel. Namun


sesampainya mereka di Lobi hotel, mereka terkejut karena begitu banyak orang yang


berdiri didepan sana. Terlihat dari banner yang mereka bawa itu adalah para


fans Prachaya. Yang semakin membuat mereka bingung adalah, mengapa mereka berdiri


didepan lobi hotel.


"Ta, kok rame?" tanya Andana pada Gita yang

__ADS_1


tercengang melihat keramaian didepan kami.


"Gak tau Mams, ada apa ya? Kok fans Abang pada


disini? Apa ada abang disini?" kata Gita yang menera-nerka.


"Tapi kok kita gak tau kalo Abang ada acara


disini?" kata An kembali bertanya.


"Coba kita tanya Mams," ajak Gita kemudian.


Gita pun mencoba mendekati seorang wanita yang berdiri


tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Excuse me, what is this? Is there a Prachaya event here?"


tanya Gita sambil menyungging senyumannya.


"Nothing, but we just wanted to see Prachaya


here. We got information that Prachaya is staying at this hotel for the next


few days," jawab wanita itu.


"Apa katanya Ta?" tanya Andana yang kurang


mengerti dengan apa yang mereka katakan.


"Mams," ucap Gita dengan mulut yang menganga


karna syok.


"Apa? Kenapa Ta? Ada apa?" tanya An mulai panik


melihat tinggah Gita.


"Mams, tau apa yang dia ucapkan?" tanya Gita


yang masih tidak percaya.


"Apa? Kenapa? Aduh jangan bikin panik deh Ta. Ada


apa?" tanya Andana bingung.


"Sebaiknya kita kekamar dulu aja Mams, bisa


bahaya kalau aku bilang disini. Yang ada kita gak akan bisa tidur nanti,"


kata Gita yang lalu menarik tangan An untuk menuju ke lift.


Sedangkan Andana yang masih bingung dengan apa yang


terjadi itu hanya mengikuti Gita saja.


"Mams tau gak, kayaknya kita hoki banget deh


ini," kata Gita membuka percakapan saat sudah berada didalam lift.


"Hoki gimana? Aduh kamu bikin bingung deh. Ada


apa sih Ta, jangan bikin penasara gini deh ah," ucap Andana sambil memasang


wajah cemberut pada Gita.


"Wanita itu tadi Mams, dia bilang bahwa Abang


tidur disini untuk beberapa hari kedepan," kata Gita memberi tahu.


"Haaaaaahhh??? Ti-ti-tidur disini bagaimana maksudnya? Ma-maksudnya Abang menginap di hotel ini juga? Serius ini? Ja,, jadi-jadi kita


satu hotel dengan Abang?" tanya Andana terbata-bata tidak percaya.


Gita hanya mengangguk berkali-kali sambil tersenyum


menatap Andana.


"Ini mimpi?" tanya An yang masih tidak


percaya.


Dan seketika Gita mencubit pipi cubby  Andana dengan


sedikit keras. Tentu saja An merasakan sakit.


"Aduuuhhh, sakit Ta," sungut An sambil mengusap pipinya.


"Gimana? Gak mimpi kan ,Mams? Ini nyata


Mams," jawab Gita yang masih dengan antusias.


"Iya nyata, gak mimpi." jawab Andana yang masih


bingung.


"Tapi Ta, kita juga kan tidak tau Abang ada di


kamar nomor berapa? Sama saja kan kita gak bisa ketemu dia," tambah An lagi.


"Ck, kan kita juga gak tau akan ada kejadian apa


lagi didepan nanti. Siapa tau mams bisa kasih kado Mams ini disini tanpa harus


mencari Abang lagi." tukas Gita sambil menepuk kado yang masih ku pegang


itu.

__ADS_1


__ADS_2