
*****
Tay berjalan sambil melayangkan pandangannya pada bangunan-bangunan megah tempat
ibadahnya umat Hindu itu. Ia menikmati pemandangan itu sambil menyunggingkan
senyuman manisnya.
Ia bahkan tidak memperdulikan begitu banyak mata yang tengah menatapnya dengan
kekaguman. Hanya sesekali saja terlihat Tay menundukkan sedikit kepalanya untuk
menyapa mereka.
Gita yang sedari tadi mengekor dibelakang Tay itu hanya bisa diam sambil matanya
terus menatap mereka yang memperhatikan Tay dengan pesonanya.
Hingga Tay menghentikan langkahnya dan Gita tidak mengetahui itu. Ia terus saja
berjalan dan pada akhirnya ia menabrak punggung Tay yang tengah menghentikan
langkahnya itu.
“Aduh,”
keluh Gita yang merasakan wajahnya menghantam punggung lembut Tay.
Hal itu tentu saja membuat Tay membalikkan badannya dan menatap Gita yang tengah
mengusap-usap keningnya.
“Gita, kamu tidak apa-apa?” Tanya Tay kemudian.
“Tidak, hanya tidak sadar bahwa P’Tay berhenti. Maafkan aku Phi, apakah punggung P’Tay
sakit?” Tanya Gita balik tanpa menatap Tay.
“Tidak masalah dengan itu. Apa yang sedang kamu lamunkan, Ta? Hingga kamu tidak fokus
pada jalanmu?” Tanya Tay lagi.
“Aku tidak sedang memikirkan apapun Phi, hanya saja aku tidak fokus,” jawab Gita
sekenanya.
Gita masih merasa canggung dengan keadaan yang saat ini sedang ia alami. Bagaimana ia bisa bersikap biasa saja sedangkan yang ada di depannya saat ini adalah idolanya yang benar-benar ia idolakan.
Bahkan Gita tidak pernah berfikir bahwa ia akan bisa sedekat ini dengan Tay.
“Gita,
apa yang membuatmu tidak fokus?” Tanya Tay yang mendekati Gita.
“Begitu banyak pasang mata tengah memperhatikan Phi, aku tidak nyaman. Apakah seperti
ini yang kamu alami setiap hari?” bisik Gita yang risih.
Tay menatap Gita yang terlihat gelisah sambil menutupi wajahnya dengan tangannya.
Lalu Tay tersenyum dan melangkah mendekati Gita, ia melepaskan topi yang dipakainya
dan memakaikannya pada GIta.
Tentu saja hal itu semakin menjadi sorotan orang-orang sekitar. Sorakan dari
orang-orang yang mengenali Tay itu tidak bisa lagi dielakkan.
Ditambah lagi setelah memakaikan topi ke Gita hingga menutupi sebagian wajah Gita, Tay
pun merangkul Gita lalu mengajaknya berjalan kembali dengan santainya dan
sunggingan senyum manisnya. Seolah tidak perduli dengan suara sorakan dari
orang-orang disekitarnya.
Gita yang hanya bisa terdiam dengan apa yang dilakukan Tay padanya itupun hanya bisa
membenamkan wajahnya pada topi milik Tay dengan wajah yang tersipu malu.
“Masya Allah, jantungku sangat tidak aman untuk sekarang. Tay merangkulku, bahkan
sekarang kami tidak berjarak sedikit pun. Mimpi apa aku semalam, ya?” batin
__ADS_1
Gita yang terus berjalan dalam rangkulan Tay.
“Kamu tidak perlu khawatirkan apapun, mereka tidak akan bisa melakukan hal-hal apapun
selain hanya melihat kita saja.” Ucap Tay sambil terus berjalan santai dengan
tangannya yang masih merangkul pundak Gita yang begitu mungil.
“Tapi P’Tay, apakah ini akan baik-baik saja? Bagaimana jika nanti P’Tay mendapatkan
gosip miring tentang hal ini?” ucap Gita yang masih menyembunyikan wajahnya
dari balik topi Tay itu.
“Jangan kamu pikirkan, aku sudah terbiasa tentang hal-hal semacam itu. Itu akan hilang
dengan sendirinya dalam beberapa hari. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Kamu
nikmati saja jalan-jalanmu hari ini,” jawab Ta santai.
“Tapi sepertinya disini sudah tidak aman lagi Phi, lihatlah mata mereka masih saja
terus menatap kearah kita,” ucap Gita yang masih bisa mengintip dari balik topi
itu.
“Sudah Phi katakan, kamu tidak perlu khawatir. Ayo kita pergi saja dari sini dan
mencari tempat lain yang bisa membuat kamu leluasa lagi untuk bergerak,” ajak
Tay yang mengencangkan rangkulanya dan mengajak Gita keluar dari sana.
Gita tidak bisa menolak, bahkan ia juga tidak berniat untuk menolak. Memang dia
masih merasa malu atas apa yang tadi terjadi, namun alam bawah sadar Gita pun
tidak berniat untuk menolak.
Gita mengikuti kemana pun langkah kaki Tay Tawan pergi. Selama itu masih bersama
Tay, Gita akan mengikutinya. Diam-diam Gita pun mulai tersenyum sumringah sebab
Tay yang begitu perhatian padanya.
Sejenak Gita melupakan ucapan Prachaya bahwa Tay adalah seorang Playboy.
mendapatkan hal itu dari siapapun. Tapi pada kenyataannya ia memang tidak
pernah merasakan perhatian-perhatian yang di berikan Tay padanya.
“Gita,
kamu berapa lama akan tinggal di Thaiand?” Tanya Tay yang mengendarai mobilnya.
“Hmm,
kami disini sudah enam hari Phi, jadi besok adalah hari terakhir kami berada di
sini. Sebab lusa kami akan kembali ke Indonesia,” jelas Gita yang menghitung
sudah berapa hari ia dan Andana berada di Thailand.
“Heuh?
Mengapa cepat sekali? Padahal kita baru bertemu, tapi kamu sudah akan kembali.
Apakah kamu tidak ingin lebih lama disini? Masih banyak tempat-tempat Indah
disini yang Phi yakin kamu belum pernah datangi. Iya kan?” Tanya Tay lagi.
“Hehe sebenarnya kami juga ingin lebih lama lagi Phi, tapi aku hanya meminta cuti
dalam seminggu ini, dan harus kembali ke Indonesia agar bisa kembali masuk
bekerja.” Jawab Gita.
“Oh ya, Gita bekerja sebagai apa? Kalau boleh tau?” Tanya Tay Tawan lagi.
“Aku bekerja sebagai Guru les private, Phi. Dan juga kadang sebgai Tour Guide jika
temanku meminta bantuan bila banyak turis datang ke tempat kami.” Jelas Gita
yang masih menyembunyikan wajahnya di balik topi Tay.
__ADS_1
“Waahh keren. Itu artinya jika nanti Phi ke Indonesia, Phi bisa memintamu untuk
menjadi Tour Guide Phi, ya?” ucap Tay sambil tersenyum dan menoleh sesekali
pada Gita yang diam tak bergerak itu.
“Dengan senang hati Phi. Aku akan melakukannya,” ucap Gita yang Tay dapat melihat
senyuman Gita terkembang dari balik topi itu.
“Kamu lucu banget sih, Ta?” kata Tay kemudian.
“Heuh? Lucu bagaimana Phi?” Tanya Gita.
“Iya lucu aja. Kamu itu unik deh.” Ucap Tay lagi sambil terkekeh.
“Heuh? Unik?” Tanya Gta yang bingung.
“Iya unik, mau sampai kapan kamu pakai topi itu, Ta? Kamu sudah didalam mobil sejak
tadi. Tidak akan ada yang melihatmu selain Phi,” ujar Tay.
Dan itu membuat Gita tersadar bahwa ia masih memakai topi Tay sejak tadi.
“Oh iya, maaf kan aku Phi. Aku tidak menyadarinya. Ini Phi,” ucap Gita melepas
topinya dan mengembalikannya pada Tay.
“Heui, Phi hanya bercanda, Ta. Phi hanya ingin kamu melepas topi itu bukan
mengembalikannya pada Phi. Pakai saja Ta. Phi berikan padamu,” ucap Tay sambil
terkekeh.
“Tapi ini kan topi kesayangan P’Tay?” kata Gita yang tidak percaya.
“Karna itu barang kesayangan Phi, itu sebabnya Phi ingin berikan pada orang yang lucu
dan menggemaskan seperti kamu,” jawab Tay sambil memainkan matanya.
“Ya Tuhan, meleleh aku di buatnya,” batin Gita yang ternganga melihat tingkah Tay.
“Gita, haha.” Tay tidak bisa menahan tawanya lagi saat melihat wajah Gita yang begitu
lucu.
“Apa? Kenapa?” Tanya Gita bingung.
“Kenapa kamu memasang wajah seperti itu? Kamu sangat lucu.” Ucap Tay sambil masih tertawa.
Gita hanya terdiam. Dalam hatinya ia tidak sedikitpun marah saat Tay
mentertawakannya. Tapi sebaliknya ia sangat senang dan bahagia sebab Tay bisa
tertawa karna dirinya.
“Maaf ya Gita, Phi tidak ada maksud apa-apa. Phi gak bermaksud mentertawakan kamu Ta.
Tapi kamu benar-benar sangat lucu,” ucap Tay yang mencoba berhenti tertawa.
“Tidak apa-apa Phi, aku tidak marah. Aku justru senangbisa membuatmu tertawa seperti
ini,” jawab Gita polos.
Dan itu dengan cepat menghentika tawa Tay, dan mengubah wajahnya menjadi pias tersipu.
“Phi tidak menyangka bahwa kamu bisa mengucapkan kalimat yang membuat Phi tersipu.” Kata
Tay yang kembali fokus menyetir.
“P’Tay? Kita mau kemana?” Tanya Gita kemudian.
“Ketempat yang kamu pasti suka,” kata Tay.
Gita tak lagi bertanya. Ia tidak ingin Tay risih dengan dirinya yang mungkin saja
terlalu bawel.
“Gita?
“Hmm?
“Kamu suka warna apa?” Tanya Tay lagi.
__ADS_1
“Warna biru muda, Phi. Kenapa?” kata Gita bertanya.
“Tidak, hanya ingin tau saja. Kenapa Gita suka sama warna biru muda?” Tanya Tay lagi.