
*****
Ponsel Andana
berdering saat ia sudah didalam bus menuju ke phuket. Andana melihat rentetan
nomor baru dengan kode Negara Thailand disana, Andana menatap layar ponselnya tanpa
mengangkatnya.
Gita
melihat tingkah aneh Andana itu, ia memandangi Andana dan ponsel miliknya itu secara bergantian.
“Mams,
kenapa gak di angkat?” Tanya Gita.
“Hmm?
Nomornya gak dikenal, jangan diangkat. Takutnya nipu,” jawab Andana sekenanya dan
segera mematikan layar ponselnya.
“Mams,
are you okay?” Tanya Gita kemudian.
“Hmm?
Okay, kenapa emangnya?” ucap Andana balik bertanya.
“Gak
apa-apa, tapi sejak pagi ini Mams, kayak memikirkan sesuatu yang mengganggu
pikiran. Mams sakit?” Tanya Gita lagi.
“Gak
apa-apa ta, Mams cuma kurang tidur kayaknya jadi agak ngeblank. Tapi masih oke
kok. Tenang aja ya,” jawab Andana mencoba menenangkan Gita.
“Kalau
ada apa-apa jangan sungkan cerita ya, Mams,” pinta Gita.
Ting!!!
Terdengar
suara notifikasi dari ponsel Andana. Iapun membuka dan membacanya. Jelas nomor yang
tadi menelpon adalah nomor Prachaya. Itu terlihat dari chat yang dikirmkannya.
Setelah
membaca pesan itu, Andana kembali mematikan layar ponselnya dan memilih untuk tidur.
Namun saat Andana memejamkan matanya, ingatan-ingata yang terjadi semalam kembali
muncul secara beruntun. Membuat Andana terkejut dan membelalakkan matanya. Dengan
napas yang sesak Andana mencoba membenarkan posisi duduknya.
“Mams
kenapa? Mual?” Tanya Gita yang kaget melihat Andana terkejut.
“Heuh?
Enggak apa-apa Ta,” jawab Andana.
“Mams
serius. Mams pucet lho,” Tanya Gita yang mulai khawatir.
“Mams
gak apa-apa kok Ta, beneran. Cuma tadi Mams tidur terus kaget, makanya jadi
gini. Gak apa-apa beneran, udah tenang ya,” ucap Andana mencoba kembali menenangkan
Gita.
Gita
hanya diam, namun tangannya mencoba mengecek suhu badan Andana. Sekali lagi ia
mencoba untuk menenangkannya.
Setelah
semuanya kembali normal, Andana duduk termenung disamping jendela bis itu. Menatap
pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan yang kami lalui. Dengan pikirannya
yang berkecamuk. Ingatan-ingatan kejadian semalam terus memenuhi otaknya.
Membuat Andana beberapa kali memejamkan matanya saat mengingat bagaimana liar dirinya semalam.
“Apa
yang sudah ku lakukan. Mengapa aku semalam seperti itu padanya. Aku yakin
sekarang dia pasti menilaiku sebagai wanita murahan. Aku bahkan tidak punya
muka lagi untuk bertemu dengannya. Kamu sangat bodoh An!” cerca Andana dalam hati.
“Lalu
bagaimana sekarang? Kamu sudah merusak semuanya. Apakah sekarang kamu tidak akan
mengikuti lagi event yang akan dihadirinya. Lalu bagaimana dengan impianmu yang
ingin terus bisa dekat dengannya. Kamu sangat bodoh An! Harusnya kamu tidak
minum, sudah tau kamu itu adalah peminum yang buruk!
Maki Andana lagi pada diri sendiri.
Larut
Andana dalam pikirannya sendiri hingga tak ia sadari bahwa mereka telah sampai
__ADS_1
ditempat tujuan mereka. Andana masih saja termenung menatap keluar jendela. Dan itu
lagi-lagi membuat Gita heran.
“Mams,”
panggil Gita sambil memegang pundak andana.
“Heuh?”
ucap Andana yang tersadar dari lamunannya.
“Kita sudah sampai, ayo turun,” ajak Gita lagi.
“Oh,
iya ayo,” jawab Andana lagi dan bergegas bangkit dari duduk nya.
Andana
turun dari bus itu dan menatap hamparan laut dengan pasir putih yang sangat
indah. Andana menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan mencoba tersenyum.
“Ini
sangat indah Ta. Lihatlah, persis seperti gambar yang kita lihat kemarin.”
Ucap Andana sambil tersenyum pada Gita.
“Iya
Mams, sangat indah. Tapi lebih baik kita check in terlebih dahulu Mams, kita
taruh dahulu barang-barang kita dan mencari makan. Mams belum makan lho, nanti
sakit. Ayo Mams,” ajak Gita kemudian menarik tangan Andana untuk ke hotel yang tak jauh
dair tempat mereka berhenti.
Mereka
sengaja memilih penginapan yang langsung pemandangan pantai disana. Sebab Gita
tau bahwa Andana sangat menyukai pantai dengan pasir putih yan halus.
*****
Andana
duduk termenung ditepi pantai sore ini, meninggalkan Gita yang sedang
beristirahat dikamar. Andana menikmati udara sore itu yang sangat membuat hati dan
pikirannya damai. Rasanya segala beban pikrannya ikut pergi bersama tiupan angin
yang menerpanya.
Namun
tiba-tiba Andana mendengar notifikasi yang masuk dalam ponselnya. Andana menatapnya
sejenak. Itu adalah chat dari Prachaya lagi.
“An,
tidak menjawabnya.
“Mengapa kamu mengabaikanku An?
“Apakah kamu marah padaku?
“An?
Beberapa
pesan masuk disana. Membuat Andana kembali kalut dan memikirkan kembali apa yang
terjadi semalam.
Andana
sangat malu saat ini, bahkan ia tidak ingin lagi bertemu dengannya.
Bayangan
wajahnya yang nakal saat menggodanya semalam terus menghantuinya. Semua itu dapat
teringat dengan jelas saat ini, bagaimana tatapan Prachaya yang begitu tergoda
saat menatapnya.
“Oooiiihhh,
kenapa aku harus seperti itu!” umpat Andana kemudian mengacak rambutnya yang tergerai.
“An, aku tidak ingin kamu marah
padaku.
“Maafkan aku An.
“Harusnya aku tidak melakukan itu
padamu.
“An, besok aku akan menyusulmu ke
Phuket. Beritahu aku kamu ada dimana?
Kembali
Prachaya mengirimiku pesan.
“Oiihhh
aku mohon jangan kesini, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapimu jika aku
bertemu denganmu sekarang. Tolong lah jangan seperti ini,” kata Andana lagi.
*****
“Dia
membaca pesanku tapi dia mengabaikanku. Ada apa dengannya? Apakah dia marah padaku
__ADS_1
karna kejadian semalam? Bukankah dia yang memulai semuanya? Oooiihh An, kamu
menganggu pikiranku,” ucap Prachaya yang sedang beristirahat diruangan
gantinya.
“Ada apa? Apakah dia mengabaikanmu?” Tanya P’Lin sambil terkekeh.
“Oiihh Phi, mengapa kamu menggodaku seperti itu,” ucap Prachaya kesal.
“Hahaha,
ini dinginkan dulu kepalamu.” kata P’Lin sambil menyodorkan es kopi pada
Prachaya.
“Beri tahu Phi, mana foto gadis itu?” Tanya P’Lin sambil menarik kursi kesebelah
Prachaya duduk.
Dengan
santai Prachaya membuka akun instagram An dan menunjukkan foto yang ada disana.
“Oiiiihhh
dia imut sekali. Pantas saja kamu sangat tertarik padanya. Dimana dia
sekarang?” Tanya P’Lin lagi.
“Aku
juga tidak tau Phi, pesanku saja tidak dijawabnya sama sekali, padahal dia membacanya,”
jawab Prachaya lesu.
“Oihh,
siapa yang berani mengabaikan artisku seperti ini. Apakah kamu membutuhkan
bantuan Phi untuk mencarinya?” tawar P’Lin.
“Tidak
perlu phi, aku akan berusaha sendiri untuk mencari dan mendapatkan hatinya,”
jawab Prachaya mantap.
“Oke
baiklah, tapi ingat Aya, kamu seorang bintang, yang mana kamu selalu akan
menjadi sorot perhatian khalayak. Jangan sampai menimbulkan masalah untukmu,”
ucap P’Lin mengingatkan.
“Aku
akan berusaha sebaik mungkin Phi,” jawab Prachaya.
Kemudian
P’Lin meninggalkannya sendirian disana. Lalu Prachaya kembali melihat foto-foto
yang ada di akun instagram An itu.
Hingga ia menemukan instagram milik Gita
saat tidak sengaja melihat komen Gita pada salah satu foto An.
Seketika
ia mengembangkan senyumannya, lalu dengan cepat ia mengirimi pesan pada Gita
melalui DM itu.
“Gita,
bisakah aku memiliki nomormu?” isi DM Prachaya itu.
Gita
yang baru saja terbangun dari tidurnya itu karna mendengar ponselnya berbunyi,
dengan mengucek matanya ia menggapai ponselnya diatas nakas.
Ia
melihat sebuah DM dari instagramnya. Lalu membuka DM itu, sesaat Gita
membelalakan matanya saat ia melihat itu pesan dari siapa.
“Aku
gak lagi mimpi kan ini?” ucap Gita mencoba menyadarkan dirinya dengan
memperjelas penglihatannya.
Gita
duduk dari tidurnya, sambil masih menatap layar ponselnya yang masih berada di
ruang chat dengan Prachaya.
“Kamu bisa berbahas Indonesia
Bang?” jawab Gita membalas pesan Prachaya.
“Iya Ta, bagaimana? Boleh aku minta
nomor ponselmu?” balas Prachaya.
“Tentu saja boleh,
+628xxxxxxxxx,” balas Gita.
Tidak
berapa lama ada pesan Line masuk di ponsel Gita. Ternyata itu adalah dari
Prachaya.
“Gita ini Prachaya,
“Gita apakah kamu sedang bersama
__ADS_1
An sekarang?” tanya Prachaya.