BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
PHUKET


__ADS_3

*****


Ponsel Andana


berdering saat ia sudah didalam bus menuju ke phuket. Andana melihat rentetan


nomor baru dengan kode Negara Thailand disana, Andana menatap layar ponselnya tanpa


mengangkatnya.


Gita


melihat tingkah aneh Andana itu, ia memandangi Andana dan ponsel miliknya itu secara bergantian.


“Mams,


kenapa gak di angkat?” Tanya Gita.


“Hmm?


Nomornya gak dikenal, jangan diangkat. Takutnya nipu,” jawab Andana sekenanya dan


segera mematikan layar ponselnya.


“Mams,


are you okay?” Tanya Gita kemudian.


“Hmm?


Okay, kenapa emangnya?” ucap Andana balik bertanya.


“Gak


apa-apa, tapi sejak pagi ini Mams, kayak memikirkan sesuatu yang mengganggu


pikiran. Mams sakit?” Tanya Gita lagi.


“Gak


apa-apa ta, Mams cuma kurang tidur kayaknya jadi agak ngeblank. Tapi masih oke


kok. Tenang aja ya,” jawab Andana mencoba menenangkan Gita.


“Kalau


ada apa-apa jangan sungkan cerita ya, Mams,” pinta Gita.


Ting!!!


Terdengar


suara notifikasi dari ponsel Andana. Iapun membuka dan membacanya. Jelas nomor yang


tadi menelpon adalah nomor Prachaya. Itu terlihat dari chat yang dikirmkannya.


Setelah


membaca pesan itu, Andana kembali mematikan layar ponselnya dan memilih untuk tidur.


Namun saat Andana memejamkan matanya, ingatan-ingata yang terjadi semalam kembali


muncul secara beruntun. Membuat Andana terkejut dan membelalakkan matanya. Dengan


napas yang sesak Andana mencoba membenarkan posisi duduknya.


“Mams


kenapa? Mual?” Tanya Gita yang kaget melihat Andana terkejut.


“Heuh?


Enggak apa-apa Ta,” jawab Andana.


“Mams


serius. Mams pucet lho,” Tanya Gita yang mulai khawatir.


“Mams


gak apa-apa kok Ta, beneran. Cuma tadi Mams tidur terus kaget, makanya jadi


gini. Gak apa-apa beneran, udah tenang ya,” ucap Andana mencoba kembali menenangkan


Gita.


Gita


hanya diam, namun tangannya mencoba mengecek suhu badan Andana. Sekali lagi ia


mencoba untuk menenangkannya.


Setelah


semuanya kembali normal, Andana duduk termenung disamping jendela bis itu. Menatap


pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan yang kami lalui. Dengan pikirannya


yang berkecamuk. Ingatan-ingatan kejadian semalam terus memenuhi otaknya.


Membuat Andana beberapa kali memejamkan matanya saat mengingat bagaimana liar dirinya semalam.


“Apa


yang sudah ku lakukan. Mengapa aku semalam seperti itu padanya. Aku yakin


sekarang dia pasti menilaiku sebagai wanita murahan. Aku bahkan tidak punya


muka lagi untuk bertemu dengannya. Kamu sangat bodoh An!” cerca Andana dalam hati.


“Lalu


bagaimana sekarang? Kamu sudah merusak semuanya. Apakah sekarang kamu tidak akan


mengikuti lagi event yang akan dihadirinya. Lalu bagaimana dengan impianmu yang


ingin terus bisa dekat dengannya. Kamu sangat bodoh An! Harusnya kamu tidak


minum, sudah tau kamu itu adalah peminum yang buruk!


Maki Andana lagi pada diri sendiri.


Larut


Andana dalam pikirannya sendiri hingga tak ia sadari bahwa mereka telah sampai

__ADS_1


ditempat tujuan mereka. Andana masih saja termenung menatap keluar jendela. Dan itu


lagi-lagi membuat Gita heran.


“Mams,”


panggil Gita sambil memegang pundak andana.


“Heuh?”


ucap Andana yang tersadar dari lamunannya.


“Kita sudah sampai, ayo turun,” ajak Gita lagi.


“Oh,


iya ayo,” jawab Andana lagi dan bergegas bangkit dari duduk nya.


Andana


turun dari bus itu dan menatap hamparan laut dengan pasir putih yang sangat


indah. Andana menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan mencoba tersenyum.


“Ini


sangat indah Ta. Lihatlah, persis seperti gambar yang kita lihat kemarin.”


Ucap Andana sambil tersenyum pada Gita.


“Iya


Mams, sangat indah. Tapi lebih baik kita check in terlebih dahulu Mams, kita


taruh dahulu barang-barang kita dan mencari makan. Mams belum makan lho, nanti


sakit. Ayo Mams,” ajak Gita kemudian menarik tangan Andana untuk ke hotel yang tak jauh


dair tempat mereka berhenti.


Mereka


sengaja memilih penginapan yang langsung pemandangan pantai disana. Sebab Gita


tau bahwa Andana sangat menyukai pantai dengan pasir putih yan halus.


*****


Andana


duduk termenung ditepi pantai sore ini, meninggalkan Gita yang sedang


beristirahat dikamar. Andana menikmati udara sore itu yang sangat membuat hati dan


pikirannya damai. Rasanya segala beban pikrannya ikut pergi bersama tiupan angin


yang menerpanya.


Namun


tiba-tiba Andana mendengar notifikasi yang masuk dalam ponselnya. Andana menatapnya


sejenak. Itu adalah chat dari Prachaya lagi.


“An,


tidak menjawabnya.


“Mengapa kamu mengabaikanku An?


“Apakah kamu marah padaku?


“An?


Beberapa


pesan masuk disana. Membuat Andana kembali kalut dan memikirkan kembali apa yang


terjadi semalam.


Andana


sangat malu saat ini, bahkan ia tidak ingin lagi bertemu dengannya.


Bayangan


wajahnya yang nakal saat menggodanya semalam terus menghantuinya. Semua itu dapat


teringat dengan jelas saat ini, bagaimana tatapan Prachaya yang begitu tergoda


saat menatapnya.


“Oooiiihhh,


kenapa aku harus seperti itu!” umpat Andana kemudian mengacak rambutnya yang tergerai.


“An, aku tidak ingin kamu marah


padaku.


“Maafkan aku An.


“Harusnya aku tidak melakukan itu


padamu.


“An, besok aku akan menyusulmu ke


Phuket. Beritahu aku kamu ada dimana?


Kembali


Prachaya mengirimiku pesan.


“Oiihhh


aku mohon jangan kesini, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapimu jika aku


bertemu denganmu sekarang. Tolong lah jangan seperti ini,” kata Andana lagi.


*****


“Dia


membaca pesanku tapi dia mengabaikanku. Ada apa dengannya? Apakah dia marah padaku

__ADS_1


karna kejadian semalam? Bukankah dia yang memulai semuanya? Oooiihh An, kamu


menganggu pikiranku,” ucap Prachaya yang sedang beristirahat diruangan


gantinya.


“Ada apa? Apakah dia mengabaikanmu?” Tanya P’Lin sambil terkekeh.


“Oiihh Phi, mengapa kamu menggodaku seperti itu,” ucap Prachaya kesal.


“Hahaha,


ini dinginkan dulu kepalamu.” kata P’Lin sambil menyodorkan es kopi pada


Prachaya.


“Beri tahu Phi, mana foto gadis itu?” Tanya P’Lin sambil menarik kursi kesebelah


Prachaya duduk.


Dengan


santai Prachaya membuka akun instagram An dan menunjukkan foto yang ada disana.


“Oiiiihhh


dia imut sekali. Pantas saja kamu sangat tertarik padanya. Dimana dia


sekarang?” Tanya P’Lin lagi.


“Aku


juga tidak tau Phi, pesanku saja tidak dijawabnya sama sekali, padahal dia membacanya,”


jawab Prachaya lesu.


“Oihh,


siapa yang berani mengabaikan artisku seperti ini. Apakah kamu membutuhkan


bantuan Phi untuk mencarinya?” tawar P’Lin.


“Tidak


perlu phi, aku akan berusaha sendiri untuk mencari dan mendapatkan hatinya,”


jawab Prachaya mantap.


“Oke


baiklah, tapi ingat Aya, kamu seorang bintang, yang mana kamu selalu akan


menjadi sorot perhatian khalayak. Jangan sampai menimbulkan masalah untukmu,”


ucap P’Lin mengingatkan.


“Aku


akan berusaha sebaik mungkin Phi,” jawab Prachaya.


Kemudian


P’Lin meninggalkannya sendirian disana. Lalu Prachaya kembali melihat foto-foto


yang ada di akun instagram An itu.


Hingga ia menemukan instagram milik Gita


saat tidak sengaja melihat komen Gita pada salah satu foto An.


Seketika


ia mengembangkan senyumannya, lalu dengan cepat ia mengirimi pesan pada Gita


melalui DM itu.


“Gita,


bisakah aku memiliki nomormu?” isi DM Prachaya itu.


Gita


yang baru saja terbangun dari tidurnya itu karna mendengar ponselnya berbunyi,


dengan mengucek matanya ia menggapai ponselnya diatas nakas.


Ia


melihat sebuah DM dari instagramnya. Lalu membuka DM itu, sesaat Gita


membelalakan matanya saat ia melihat itu pesan dari siapa.


“Aku


gak lagi mimpi kan ini?” ucap Gita mencoba menyadarkan dirinya dengan


memperjelas penglihatannya.


Gita


duduk dari tidurnya, sambil masih menatap layar ponselnya yang masih berada di


ruang chat dengan Prachaya.


“Kamu bisa berbahas Indonesia


Bang?”  jawab Gita membalas pesan Prachaya.


“Iya Ta, bagaimana? Boleh aku minta


nomor ponselmu?”  balas Prachaya.


“Tentu saja boleh,


+628xxxxxxxxx,”  balas Gita.


Tidak


berapa lama ada pesan Line masuk di ponsel Gita. Ternyata itu adalah dari


Prachaya.


“Gita ini Prachaya,


“Gita apakah kamu sedang bersama

__ADS_1


An sekarang?” tanya Prachaya.


__ADS_2