BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
SENYUMAN DI BALIK LUKA


__ADS_3

“Gita,”


panggil An saat Andana melihatnya tengah duduk di loby penginapan itu.


Spontan Gita menoleh dan tersenyum pada Andana. Andana pun berjalan mendekatinya.


Hingga ia tau bahwa Gita tidak sedang sendirian. Ada yang sedang duduk


disebelahnya. Dan itu tentu saja Prachaya.


“Hai An,” sapa Prachaya mencoba tersenyum.


Namun Andana dapat melihat bahwa senyuman yang di tunjukkan Abang pada nya itu adalah


senyuman yang dipaksa.


“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Andana menatap Gita dan Prachaya secara


bergantian.


"Everything is going to be okay, Mams." jawab Gita sambil tersenyum lebar.


“Seriously?”


tanya Andana sambil menyipitkan matanya.


“An,


mau jalan-jalan?” timpal Prachaya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Mau kemana?” tanya Andana menatap Pracahaya.


“Hmm,


The Grand Palace dan Wat Arun? Bagaimana? Disana kita bisa belajar sejarah


juga. Banyak tempat-tempat yang sangat indah untuk di abadikan,” kata


Pracahaya.


Dengan cepat membuat Andana sumringah dan menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan


Gita yang tidak kalah sumringah saat mengetahui kemana mereka akan pergi.


“Ayo Mams kita siap-siap,” ajak Gita yang menarik tangan Andana menuju kembali


kekamar mereka untuk bersiap.


“Aku tunggu di mobil ya,” kata Pachaya lagi sambil tersenyum.


“An, semoga kamu bisa membuka kembali rasa percayamu untuk aku. Izinkan aku menjadi


obat penyembuhmu yang nyata,” gumam Prachaya lagi.


*****


Sesuai janjinya Prachaya pun mengajak Andana dan Gita pergi ke Grand Palace dan Wat


Arun. Tempat yang benar-benar membuat Andana tersenyum sumringah dan bahagia.


Bahkan kamera yang dibawanya itu tidak berhenti memotret setiap sudut


tempat-tempat yang mereka datangi.


Andana juga tidak berhenti terpana melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa ia


lihat dari layar ponselnya saja.


Prachaya yang tidak bisa menahan senyumannya saat melihat Andana dan Gita sangat senang


berada disana.


Meskipun ia harus menghindar beberapa kali saat bertemu dengan beberapa orang yang


mengenalnya.


Seperti saat ini, Prachaya duduk dibawah pohon besar sambil menatap kearah Andana dan


Gita berada. Dengan memakai topi dan juga masker wajah itu tidak menutupi


ketampanan Prachaya.


“Aku sangat jarang melihatmu duduk bersantai seperti ini.” Bunyi suara yang berada


disebelahnya.


Hal itu tentu saja membuat Prachaya terperanjat dan terkejut. Ia langsung menoleh


ke sumber suara itu dan memperhatikan siapa yang sedang berbicara padanya itu.


“Tay?”


ucap Prachaya saat mengenali siapa yang sedang duduk disebelahnya itu.


“Mengapa begitu terkejut melihatku ada disini?” tanya Tay sambil tersenyum kearah


Prachaya.


“Apa yang sedang kamu lakukan disini?” tanya Pracaya lagi.


“Tidak ada, aku hanya sedang ingin bersantai dan menikmati cutiku. Bukankah sangat


jenuh bila setiap hari harus berkutat dengan hal-hal yang memaksa kita untuk


terus terlihat ramah dan friendly?” kata Tay yang kemudian ikut duduk disebelah

__ADS_1


Prachaya.


“Lalu,


apa yang sedang kamu lakukan disini? Aku melihat matamu tersenyum. Siapa yang


sedang kamu perhatikan? Apakah dua orang gadis didepan sana yang sangat


menggemaskan itu?” tanya Tay lagi.


“Bukan urusanmu, Tay,” jawab Prachaya datar.


“Ayolah Phi, mengapa kamu sangat tertutup padaku? Apakah kamu lupa bahwa aku adalah


salah satu teman yang mengerti dirimu?” kata Tay lagi.


“Aku tidak sedang menutupi apapun,” jawab Prachaya singkat tanpa menoleh pada Tay.


“Kamu tidak pernah mengambil cuti selama ini, dan kamu paling tidak suka berkeliaran


seperti ini. Apakah aku perlu menjelaskan hal lain yang tidak pernah kamu


lakukan namun sekarang kamu melakukannya?” tanya Tay lagi memojokkan Prachaya.


“Aku hanya sedang lelah saja,” jawab Prachaya sekenanya.


Lalu beranjak berdiri dan hendak pergi meninggalkan Tay yang masih memandangi teman


satu agensi dengannya itu.


“Mau kemana Phi?” tanya Tay lagi.


“Bukan urusanmu,” jawab Prachaya lalu berlalu.


Namun Tay bukannya marah, malah ia terkekeh mendengar jawaban Prachaya.


Sudah menjadi rahasia umum sifat dan sikap Prachaya yang dingin, cuek, dan acuh


seperti itu. Seolah ia tidak peduli pada apa dan siapapun. Namun bagi Tay,


Prachaya adalah sahabat dan juga penyelamat hidupnya.


Prachaya yang mengajak Tay untuk bergabung dengan agensinya, saat dulu ia telah ditipu


oleh agensi bodong lamanya.


Prachaya yang memberikan motivasi dan dorongan untuk Tay agar bisa kembali bersemangat


dan menjalani hidupnya, menikmati hobinya, dan berkarya sebanyak mungkin.


Hingga membuat Tay kembali bangkit dan kembali bersinar jauh lebih terang dari


sebelumnya.


Itulah mengapa sifat cuek dan dingin Prachaya padanya tidak pernah membuat Tay


“Mams,


sepertinya aku harus mencari kamar mandi, aku sudah tidak bisa menahannya


lagi,” kata Gita sambil meringis memegangi perutnya.


“Kenapa,


Ta?” tanya Andana yang terkejut melihat wajah Gita yang meringis.


“Pengen pup, udah di ujung Mams. Aku cari toilet dulu ya, bentar Mams,” kata Gita sambil


berlari memegangi perutnya.


Andana hanya terkekeh melihat tingkah Gita. Selama berada di Tahiland, Gita selalu


saja sakit perut dan ingin kekamar mandi. Sepertinya ia memang sangat betah


berada di Thailand.


“Mau kemana Gita?” tanya Prachaya yang tiba-tiba saja sudah berada disebelah Andana.


“Astaga!


Kamu bikin kaget saja,” ucap Andana yang terkejut.


“Maaf ya,” kata Prachaya sambil terkekeh.


Andana hanya diam menatap mata Prachaya dari balik masker itu.


“Gita kenapa?” tanya Prachaya lagi.


“Sakit perut,” jawab Andana singkat dan kembali memperhatikan kameranya dan membidik


sport yang sangat menarik baginya.


Hingga lensa kameranya itu menangkap gambar Prachaya yang tengah berdiri didepan


Andana.


Cekrik,,


“Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?” tanya Andana saat melihat ekspresi wajah


Prachaya yang datar namun penuh pesona.


Hal itu tentu saja membuat Andana salah tingkah, di dalam hatinya ia sangat ingin


berteriak melihat ekspresi wajah Prachaya yang sangat mempesona itu.

__ADS_1


“Mengapa An?” tanya Prachaya.


“Apa?


Mengapa apanya?” tanya Andana makin salah tingkah.


Prachaya terkekeh melihat sikap Andana yang salah tingkah seperti itu. Sangat ingin


sekali Prachaya menggodanya sekali lagi dan membuat Andana semakin salah


tingkah.


Jika saja mereka tidak sedang berada ditempat ramai, sudah dipastikan Prachaya akan


menggoda Andana.


“An,


ayo kesana,” ajak Prachaya kemudian sambil menunjuk kearah bangunan yang tidak


terlalu ramai.


Andana yang mencoba mengusir rasa kikuknya itu pun hanya mengangguk dan berjalan


kearah dimana Prachaya menunjuk tadi.


“Aduuuh,


padahal dia sedang memakai masker dan topi, tapi kenapa sih dia kok masih bisa


terlihat mempesona gini. Gila! Ganteng banget Tuhan,” ringis Andana dalam


batinnya.


“Andana,”


panggil Prachaya.


Namun Andana masih larut dalam pembicaraannya dengan batinnya, membuatnya tidak


mendengarkan panggilan Prachaya.


“An,


“Andana,


“Aaannn,


kamu kenapa?” tanya Prachaya sambil memegang pundak Andana.


“Heuh?


Apa? Kenapa?” tanya Andana yang terperanjat.


“Kamu kenapa? Sedang memikirkan apa? Mengapa aku panggil dari tadi, kamu diam saja?”


tanya Prachaya yang menghentikan langkahnya dan memegang lengan Andana.


“Emh,


ee aku tidak apa-apa. Hanya sedang memikirkan sesuatu saja,” jawab Andana


sekenanya saja.


“Kamu tidak sakit, kan? Apa yang salah An?” tanya Prachaya lagi dengan mata yang


menyiratkan kekhawatiran.


“Aku tidak apa-apa, ayo kesana disini panas sekali. Nanti kamu bisa pingsan,” ajak


Andana mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan berjalan kembali.


“Seharusnya aku yang mengucapkan kalimat itu, kan?” kata Prachaya bergumam sendiri dengan


heran.


Lalu ia pun mengikuti langkah kaki Andana.


*****


“Aduuuuuhh,ini perut kenapa sih, kok sakit melilit begini. Kenapa sih tidak bisa nanti


saja minta keluarnya. Kan aku lagi senang-senang, tidak bisa diajak kerja sama


ini perut deh ah!” kata Gita yang meringis kesal menahan perut melilitnya itu.


Ia berjalan terburu-buru agar segera mencapai toilet yang berada cukup jauh dari


tempatnya tadi. Karena tidak melihat jalan dengan benar Gitapun menabrak


seseorang yang tidak tahu datang dari mana.


Bruukk,


Duuuuttttt,,,


“Yaaaahhhh keluar,” keluh Gita yang merasakan bokongnya terasa hangat dan basah.


Sambil masih memegang perutnya, Gita yang terjatuh dan terduduk itupun menatap kearah


tangan yang terlihat mengulur kearahnya.


Gita melihat tangan putih mulus itu dengan tercengang. Dan lebih membuatnya


tercengang lagi ketika ia melihat siapa yang menabraknya hingga jatuh itu.

__ADS_1


“P’Tay?”


ucap Gita yang tidak percaya siapa yang berada didepannya saat ini.


__ADS_2