BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)

BANGKOK STORY (Cerita 14 Hari)
MENGAPA MENGHINDARIKU?


__ADS_3

*****


“Ta,


hari ini kita ke sini yuk, sepertinya disini tempatnya indah deh,” ajak Andana pagi


itu pada Gita yang masih asik bermain dengan gawainya.


“Kemana


Mams?” tanya Gita yang masih terus menatap gawainya.


“Kesini,


sekalian kita nyari oleh-oleh buat anak-anak yang lain sebelum kita ke pasar


Pratunam,” tambah Andana lagi.


Gita


menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah ponsel Andana yang  todongkan


padanya.


“Mams


pengen kesana?” tanya Gita kemudian sambil menatap andana.


“He’em,


Gita lagi gak Mood ya?” tanya Andana yang melihat wajah Gita beda saat menatap Andana


pagi itu.


“Enggak


kok, tapi Mams, aku boleh nanya sesuatu gak?” tanya Gita yang semakin menatap Andana


dengan ragu namun mimik wajah serius.


“Mau


nanya apa?” tanya Andana yang heran melihat sikap Gita.


“Mams,


gak ada yang terjadikan pas malam Mams sama Abang keluar waktu itu? Abang gak ada


nyakitin Mams, kan?” tanya Gita.


Andana


terdiam mendengar pertanyaan Gita. Jujur rasanya ia mulai panik dan badannya


mulai panas dingin.


“Ke,


kenapa kamu nanya gitu Ta?” tanya Andana kikuk.


“Aku


Cuma mau memastikan aja, kalo gak ada apa-apa. Soalnya Mams sejak malam itu


keliatan berubah. Kayak menghindari Abang,” tambah Gita lagi sambil membenarkan


posisi duduknya.


“Gak


ada apa-apa kok Ta, Mams juga gak menghindar dari siapapun, apalagi Abang.


Mams itu cuma gak mau saja, dengan kehadiran kita itu bisa buat masalah untuk


Abang. Kan kamu juga sendiri udah liat gimana para penggemar dia mengelilingi


dia dimanapun dia berada. Mams cuma gak mau kalau ada yang liat kita terlalu


dekat dengan dia nanti jadi masalah untuk karir Abang,” ucap Andana mencoba


menjelaskan pada Gita.


Gita


terdiam, sepertinya dia mencoba untuk menelaah jawaban Andana.


“Aku


Cuma gak mau terjadi sesuatu aja sama Mams, Mams kan baru sembuh dari


masalah-masalah yang Mams hadapi kemarin. Aku gak mau aja dengan kita liburan kesini


untuk senang-senang, malah bikin masalah baru untuk Mams. Makanya aku tanya sama


Mams, Mams oke kan selama disini?” tanya Gita lagi.


Andana


tersenyum melihat ketulusan Gita dalam memperlakukannya. Kita bukan sedarah,


bahkan kita tidak ada hubungan apapun. Murni bertemu lewat sosial media dan


berteman dengan cara yang tidak mudah menurut Andana. Tapi setelah bisa mendapatkan


hatinya. Ternyata dia orang yang sangat tulus seperti ini.


Andana


merasa bersalah dengan Gita, Andana menatap Gita dengan nanar.


“Mams,


aku tau. Pasti ada sesuatu yang terjadikan malam itu?” terka Gita lagi sambil


menatap Andana.

__ADS_1


Andana


hanya diam tak menjawab, Andana menatapnya dengan nanar dan matanya mulai basah.


“Tidak


apa-apa jika Mams belum mau cerita sama aku. Aku gak akan maksa Mams buat cerita


sekarang. Kalau nanti Mams mau cerita, jangan sungkan ya. Aku selalu ada disisi


Mams.” Tambah Gita kemudian.


Lalu


Gita beranjak turun dari kasur dan pergi mengganti pakaiannya.


“Ayo


bersiap ketempat yang Mams pengen, aku bakal temenin Mams,” ucap Gita sambil


mengganti pakaiannya.


Membuat Andana


menghela nafas dan beranjak dari kasur itu juga.


*****


“Mams,


itu lucu sepertinya, ayo kesana,” ajak Gita saat melihat stand yang unik.


Mereka


pergi kesalah satu market yang ada didekat penginapan mereka. Andana mencoba


menghibur dirinya sendiri dengan asik memilih-milih aksesoris yang lucu untuk dibawa


sebagai oleh-oleh ke Indonesia.


“Mams,


aku mau ketoilet sebentar ya, Mams disini saja jangan kemana-mana. Tunggu aku,”


ucap Gita sambil memegang perutnya.


“Mau


Mams temenin gak?” tawar Andana lagi.


“Gak


usah, kayaknya ini gak bisa diajak kompromi lagi. Aku tinggal sebentar ya Mams,


jangan kemana-mana tunggu aku disini.” Pinta Gita lagi lalu berlari menuju


toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Andana


selalu apa adanya.


Andana


kembali melanjutkan melihat-lihat aksesoris yang sedang ada didepan nya.


Hingga


ia melihat sebuah kalung dengan liontin mutiara didalam cangkang besi. Mutiara


berwarna biru laut yang sangat membuat Andana terpikat.


Andana


mencoba menjangkau kalung itu dan ingin melihatnya lebih jelas lagi dari dekat.


Namun


saat ia sudah menyentuh liontin itu, ada tangan lain yang juga menyentuhnya


dan ingin mengambilnya.


Mata Andana


yang semula fokus melihat liontin itu, teralihkan melihat tangan siapa yang


juga ingin mengambil kalung itu.


Andana


terdiam sesaat saat ia mengetahui siapa pemilik tangan itu.


Andana


fikir tangan itu milik seorang gadis , namun ternyata tangan itu milik seorang


pria yang tinggi, dengan masker dan kaca mata hitamnya.


Andana


dapat melihat dengan jelas mata sipit itu ikut tersenyum dari balik kaca mata


hitam itu saat bibir si pemilik itu juga terkembang.


“Prachaya?”


ucap Andana lirih.


“Aku


menemukanmu,” ucapnya lagi sambil tersenyum.


Seketika


Andana menarik tanganya dan bergegas untuk pergi dari sana. Namun dengan cepat

__ADS_1


Prachaya menahan lengan Andana.


“An,


kamu mau kemana?” tanya Prachaya.


“Kamu


ngapain kesini, jika orang tau bahwa ini adalah dirimu, kamu bisa dalam


masalah,” bisik Andana saat didekatinya.


“Jika


kamu tidak ingin aku ketahuan dan menjadi pusat perhatian, maka kamu jangan


bersikap seperti ini padaku, aku ingin bicara dengan mu, An,” jawab Prachaya


yang menarik Andana mendekat dengannya.


Mata Andana


mulai mengawasi keadaan, ia sangat takut jika ada yang menyadari bahwa


laki-laki ini adalah Prachaya.


“Prachaya


jangan seperti ini ku mohon, untuk apa kamu ada disini. Bukankah kamu memiliki


kegiatan beberapa hari kedepan?” tanya Andana masih berbisik dan mencoba melepaskan


diri dari rangkulan Prachaya.


“Mengapa


kamu tidak menjawab pesanku? Dan tidak menjawab panggilanku? Mengapa kamu


menghindariku An?” tanya Pracahaya yang sudah tidak lagi berbisik.


Jelas


itu semakin membuat Andana ketar-ketir, panik dan khawatir.


Andana


langsung menarik tangan Prachaya untuk menjauh dari tempat itu. Sedikit melipir


ketempat yang tidak terlalu ramai.


“Mengapa


kamu bersikap sebar-bar ini? Apakah kamu tidak sadar bahwa ini berisiko besar


untukmu,” ucap Andana sambil memastikan tidak ada yang menyadari tingkah aneh mereka.


Sedangkan


Prachaya hanya tersenyum melihat sikap Andana yang sangat awas itu.


“Kamu


sangat menggemaskan jika seperti ini, An.” Ucap Prachaya yang tersenyum dan tidak


mengindahkan pertanyaan Andana tadi.


Senyuman


yang sejak tadi terkembang menghiasi wajah rupawannya itupun tidak mereda


sedikitpun. Malah semakin menjadi setelah melihat sikap Andana yang menurutnya sangat


menggemaskan.


“Aku


sedang tidak bercanda, Bang.” Kata Andana lagi dengan kesal.


“Aku


juga sedang tidak bercanda. Kamu memang sangat menggemaskan, An.” Jawabnya.


Andana


hanya berdecak kesal melihat sikapnya yang terlihat acuh sedangkan Andana yang


panik.


“An,


mengapa kamu menghindariku?” tanya nya lagi.


“Mengapa


kamu bisa ada disini? Bagaimana kamu tau bahwa aku ada disini?” ucap Andana balik


bertanya.


“Ini


negaraku An, aku bisa dengan mudah mencari siapapun disini. Itu bukan hal yang


sulit. Apalagi untuk mencari orang yang aku suka,” jawab Prachaya lagi.


Jelas


itu membuat Andana diam kaku tanpa bisa berkata dan sikap lagi. Darahnya seperti


membeku hingga ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


“Bagaimana


dia bisa mengatakan hal itu dengan sangat santai. Sial! Jangan terpengaruh An.


Dia seorang aktor yang sangat berbakat. Kamu jangan mudah terpengaruh dengan

__ADS_1


ucapan manisnya,” batin Andana mencoba untuk bersikap waras.


__ADS_2