
*****
“Ta,
hari ini kita ke sini yuk, sepertinya disini tempatnya indah deh,” ajak Andana pagi
itu pada Gita yang masih asik bermain dengan gawainya.
“Kemana
Mams?” tanya Gita yang masih terus menatap gawainya.
“Kesini,
sekalian kita nyari oleh-oleh buat anak-anak yang lain sebelum kita ke pasar
Pratunam,” tambah Andana lagi.
Gita
menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah ponsel Andana yang todongkan
padanya.
“Mams
pengen kesana?” tanya Gita kemudian sambil menatap andana.
“He’em,
Gita lagi gak Mood ya?” tanya Andana yang melihat wajah Gita beda saat menatap Andana
pagi itu.
“Enggak
kok, tapi Mams, aku boleh nanya sesuatu gak?” tanya Gita yang semakin menatap Andana
dengan ragu namun mimik wajah serius.
“Mau
nanya apa?” tanya Andana yang heran melihat sikap Gita.
“Mams,
gak ada yang terjadikan pas malam Mams sama Abang keluar waktu itu? Abang gak ada
nyakitin Mams, kan?” tanya Gita.
Andana
terdiam mendengar pertanyaan Gita. Jujur rasanya ia mulai panik dan badannya
mulai panas dingin.
“Ke,
kenapa kamu nanya gitu Ta?” tanya Andana kikuk.
“Aku
Cuma mau memastikan aja, kalo gak ada apa-apa. Soalnya Mams sejak malam itu
keliatan berubah. Kayak menghindari Abang,” tambah Gita lagi sambil membenarkan
posisi duduknya.
“Gak
ada apa-apa kok Ta, Mams juga gak menghindar dari siapapun, apalagi Abang.
Mams itu cuma gak mau saja, dengan kehadiran kita itu bisa buat masalah untuk
Abang. Kan kamu juga sendiri udah liat gimana para penggemar dia mengelilingi
dia dimanapun dia berada. Mams cuma gak mau kalau ada yang liat kita terlalu
dekat dengan dia nanti jadi masalah untuk karir Abang,” ucap Andana mencoba
menjelaskan pada Gita.
Gita
terdiam, sepertinya dia mencoba untuk menelaah jawaban Andana.
“Aku
Cuma gak mau terjadi sesuatu aja sama Mams, Mams kan baru sembuh dari
masalah-masalah yang Mams hadapi kemarin. Aku gak mau aja dengan kita liburan kesini
untuk senang-senang, malah bikin masalah baru untuk Mams. Makanya aku tanya sama
Mams, Mams oke kan selama disini?” tanya Gita lagi.
Andana
tersenyum melihat ketulusan Gita dalam memperlakukannya. Kita bukan sedarah,
bahkan kita tidak ada hubungan apapun. Murni bertemu lewat sosial media dan
berteman dengan cara yang tidak mudah menurut Andana. Tapi setelah bisa mendapatkan
hatinya. Ternyata dia orang yang sangat tulus seperti ini.
Andana
merasa bersalah dengan Gita, Andana menatap Gita dengan nanar.
“Mams,
aku tau. Pasti ada sesuatu yang terjadikan malam itu?” terka Gita lagi sambil
menatap Andana.
__ADS_1
Andana
hanya diam tak menjawab, Andana menatapnya dengan nanar dan matanya mulai basah.
“Tidak
apa-apa jika Mams belum mau cerita sama aku. Aku gak akan maksa Mams buat cerita
sekarang. Kalau nanti Mams mau cerita, jangan sungkan ya. Aku selalu ada disisi
Mams.” Tambah Gita kemudian.
Lalu
Gita beranjak turun dari kasur dan pergi mengganti pakaiannya.
“Ayo
bersiap ketempat yang Mams pengen, aku bakal temenin Mams,” ucap Gita sambil
mengganti pakaiannya.
Membuat Andana
menghela nafas dan beranjak dari kasur itu juga.
*****
“Mams,
itu lucu sepertinya, ayo kesana,” ajak Gita saat melihat stand yang unik.
Mereka
pergi kesalah satu market yang ada didekat penginapan mereka. Andana mencoba
menghibur dirinya sendiri dengan asik memilih-milih aksesoris yang lucu untuk dibawa
sebagai oleh-oleh ke Indonesia.
“Mams,
aku mau ketoilet sebentar ya, Mams disini saja jangan kemana-mana. Tunggu aku,”
ucap Gita sambil memegang perutnya.
“Mau
Mams temenin gak?” tawar Andana lagi.
“Gak
usah, kayaknya ini gak bisa diajak kompromi lagi. Aku tinggal sebentar ya Mams,
jangan kemana-mana tunggu aku disini.” Pinta Gita lagi lalu berlari menuju
toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Andana
selalu apa adanya.
Andana
kembali melanjutkan melihat-lihat aksesoris yang sedang ada didepan nya.
Hingga
ia melihat sebuah kalung dengan liontin mutiara didalam cangkang besi. Mutiara
berwarna biru laut yang sangat membuat Andana terpikat.
Andana
mencoba menjangkau kalung itu dan ingin melihatnya lebih jelas lagi dari dekat.
Namun
saat ia sudah menyentuh liontin itu, ada tangan lain yang juga menyentuhnya
dan ingin mengambilnya.
Mata Andana
yang semula fokus melihat liontin itu, teralihkan melihat tangan siapa yang
juga ingin mengambil kalung itu.
Andana
terdiam sesaat saat ia mengetahui siapa pemilik tangan itu.
Andana
fikir tangan itu milik seorang gadis , namun ternyata tangan itu milik seorang
pria yang tinggi, dengan masker dan kaca mata hitamnya.
Andana
dapat melihat dengan jelas mata sipit itu ikut tersenyum dari balik kaca mata
hitam itu saat bibir si pemilik itu juga terkembang.
“Prachaya?”
ucap Andana lirih.
“Aku
menemukanmu,” ucapnya lagi sambil tersenyum.
Seketika
Andana menarik tanganya dan bergegas untuk pergi dari sana. Namun dengan cepat
__ADS_1
Prachaya menahan lengan Andana.
“An,
kamu mau kemana?” tanya Prachaya.
“Kamu
ngapain kesini, jika orang tau bahwa ini adalah dirimu, kamu bisa dalam
masalah,” bisik Andana saat didekatinya.
“Jika
kamu tidak ingin aku ketahuan dan menjadi pusat perhatian, maka kamu jangan
bersikap seperti ini padaku, aku ingin bicara dengan mu, An,” jawab Prachaya
yang menarik Andana mendekat dengannya.
Mata Andana
mulai mengawasi keadaan, ia sangat takut jika ada yang menyadari bahwa
laki-laki ini adalah Prachaya.
“Prachaya
jangan seperti ini ku mohon, untuk apa kamu ada disini. Bukankah kamu memiliki
kegiatan beberapa hari kedepan?” tanya Andana masih berbisik dan mencoba melepaskan
diri dari rangkulan Prachaya.
“Mengapa
kamu tidak menjawab pesanku? Dan tidak menjawab panggilanku? Mengapa kamu
menghindariku An?” tanya Pracahaya yang sudah tidak lagi berbisik.
Jelas
itu semakin membuat Andana ketar-ketir, panik dan khawatir.
Andana
langsung menarik tangan Prachaya untuk menjauh dari tempat itu. Sedikit melipir
ketempat yang tidak terlalu ramai.
“Mengapa
kamu bersikap sebar-bar ini? Apakah kamu tidak sadar bahwa ini berisiko besar
untukmu,” ucap Andana sambil memastikan tidak ada yang menyadari tingkah aneh mereka.
Sedangkan
Prachaya hanya tersenyum melihat sikap Andana yang sangat awas itu.
“Kamu
sangat menggemaskan jika seperti ini, An.” Ucap Prachaya yang tersenyum dan tidak
mengindahkan pertanyaan Andana tadi.
Senyuman
yang sejak tadi terkembang menghiasi wajah rupawannya itupun tidak mereda
sedikitpun. Malah semakin menjadi setelah melihat sikap Andana yang menurutnya sangat
menggemaskan.
“Aku
sedang tidak bercanda, Bang.” Kata Andana lagi dengan kesal.
“Aku
juga sedang tidak bercanda. Kamu memang sangat menggemaskan, An.” Jawabnya.
Andana
hanya berdecak kesal melihat sikapnya yang terlihat acuh sedangkan Andana yang
panik.
“An,
mengapa kamu menghindariku?” tanya nya lagi.
“Mengapa
kamu bisa ada disini? Bagaimana kamu tau bahwa aku ada disini?” ucap Andana balik
bertanya.
“Ini
negaraku An, aku bisa dengan mudah mencari siapapun disini. Itu bukan hal yang
sulit. Apalagi untuk mencari orang yang aku suka,” jawab Prachaya lagi.
Jelas
itu membuat Andana diam kaku tanpa bisa berkata dan sikap lagi. Darahnya seperti
membeku hingga ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
“Bagaimana
dia bisa mengatakan hal itu dengan sangat santai. Sial! Jangan terpengaruh An.
Dia seorang aktor yang sangat berbakat. Kamu jangan mudah terpengaruh dengan
__ADS_1
ucapan manisnya,” batin Andana mencoba untuk bersikap waras.