Bayangan Seorang Anak

Bayangan Seorang Anak
Rumah Baru


__ADS_3

London, 1985


“Nak, ada yang ingin bertemu denganmu,”


Wanita berpakaian biarawati memanggilnya, Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, memakai kaos putih dengan rok bewarna biru tua, Ia mengikutinya menuju kantor kepala, anak\-anak berlari dengan gembira, ketika ia memasuki ruangan itu, seorang Pria duduk diatas sofa, tersenyum melihatnya, sementara Ia hanya berdiri dengan wajah datar, penasaran dengan kedatangannya, “Tuan, anak ini namanya Marina Herlock, ayahnya meninggal ditengah laut dan Ibunya dikabarkan bunuh diri 3 hari setelah kematiannya, Ia masuk ke panti ini sehari setelah kematian ibunya…” Sang biarawati membaca data\-data tentangnya, Ia menjelaskan tentang kemampuan anaknya dan riwayat penyakit yang Ia idap “Tuan, Marina masih saja termenung setelah kehilangan kedua orang tuanya, dan kau sebagai orang tua adopsinya harus memberikan kenyamanan dan kasih sayang agar Ia merasa lebih baik” tuturnya, Pria itu mengangguk dan berjanji akan menjaganya dengan baik, berkas Ia isi dan secara resmi Marina menjadi anak angkat dari Pria tersebut.



Barang\-barang Ia kemasi, Ia berpisah dengan panti asuhan dan teman\-teman yang setia menemaninya, “Marina, jangan lupa kirim surat, kami merindukan mu” isak anak\-anak, mereka memeluknya untuk terakhir kalinya dan mengcapkan selamat tinggal untuknya, Ia membawa kopernya dan masuki ke dalam mobil, di depannya berbentuk kotak, lampu berdiri di kedua ujung mukanya, tak ada atap, bewarna biru Ia masuki, mesin menyala dan bergerak menjauhi panti asuhan, perlahan rumah besar itu menjadi titik hitam di matanya dan mereka menjauhi Kota London.


“Nak, sebentar lagi, kau akan tinggal di rumahmu”


“Rumah tuan…..”


Sekarang itu rumahmu juga”


Pria itu tersenyum setelah mengucapkan satu kalimat itu.


Mobil biru berjalan di ladang hijau nan luas, seorang pria muda membawa seorang anak perempuan, ia duduk sambil memeluk boneka beruangnya, disampingnya terdapat koper coklat dan tas biru tua dari kulit, ia menatap pemandangan desa yang asri, hingga ia berhenti di rumah besar bewarna coklat dengan atap bewarna hitam, di sekitarnya terdapat lahan hijau yang luas, dan bunga\-bunga yang bewarna warni, gadis itu turun dari mobil setelah pria itu keluar lebih dulu darinya, “Selamat datang dirumahmu nak”, ucap pria itu dengan senyum.



Gadis bermata biru dan berambut hitam menatap rumahnya yang baru, Ia hanya terdiam, mengedipkan mata besarnya, “Rumahku…..” gumamnya sambil melihat rumah pria itu, bersamanya Ia memasuki rumah itu, isinya membuatnya terkesima, rumah itu luas sekali, lantainya terbuat dari keramik, Ia langsung berlari saat kakinya baru saja menginjak rumah itu, Pria itu tertawa melihatnya sambil meletakkan topinya di gantungan, Marina langsung melihatnya, sadar ia lupa meletakkan topinya, Ia meletakkannya di samping topinya, “Kau menyukai rumahnya??” tanyanya, “Tentu saja, rumahmu besar sekali, Tuan, bahkan ada piano, aku ingin sekali memainkannya” kagumnya, lalu beliau mengantarkannya ke sebuah pintu putih yang tak jauh dari tangganya, “Marina, ini kamar barumu” ketika beliau membukakan pintunya, Marina melihat kamarnya dengan takjub, ruangannya terlihat cerah dengan warna hijau cerah, perabotannya bewarna putih, “Ini kamar barumu, apakah kau menyukainya, jika tidak mungkin kita bisa menggantikannya” Beliau terlihat ragu dengan kamarnya namun ia menyukainya, Marina membaringkan badannya diatas kasur empuk yang tidak jauh dari balkonnya, tertawa dengan ceria, sekaligus lelah setelah perjalanan panjangnya menuju rumah barunya.



Malamnya, Ia berlari menuju ruang makan, meja luas menyambutnya, ditutupi taplak putih tipis, bangku\-bangku berjajar di sekeliling meja, ia langsung duduk diatas bangku tersebut, lalu pria itu duduk dihadapannya, mereka bersiap untuk makan malam, seorang wanita berkulit hitam memakai baju putih membawa sepiring daging sapi bakar yang dikelilingi oleh sayur mayur, sebuah roti tawar besar diatas piring besi, bahkan ia juga menuangkan air kedalam gelas keramik mereka, “Tuan, ini makan malamnya, selamat menikmatinya, dan saya permisi dulu karna saya ada urusan sebentar,” belum saja wanita itu meninggalkan mereka, beliau memanggilnya, “Makan dulu, panggil yang lain untuk makan malam bersama, sebelum kembali bekerja”


“Apakah tuan tidak keberatan kalau tuan makan bersama kami, tuan sudah mengajak kita untuk makan bersama berkali-kali,”


“Tidak, justrunya akan lebih indah bersama kalian, karna kalian adalah bagian dari keluarga, makanlah,”


wanita itu memanggil para pekerja di sekitar rumahnya untuk makan malam, mereka berlari memasuki rumah dan duduk bersama diruang makan, sebelum mereka menagmbilnya, mereka berdoa, kemudian mereka mengambil makanannya, Marina tidak mengambil makanannya, mereka menatapnya dengan bingung “Tuan Jason, siapa dia?” tanya seorang anak kepadanya yang hendak menyuap, “Dia Marina Harlock, baru kuadopsi tadi pagi” ucapnya, ia melambaikan tangannya kepada anak berambut ikal itu dengan malu, “Marina, makanlah, kau pasti merindukan makanan keluargamu” tawarnya sambil menyodorkan sepotong daging kepadanya, ia menatapnya daging bakar itu, ia potong dengan garpunya dan memakannya untuk pertama kalinya,

__ADS_1


‘rasanya enak, ini seperti masakan ibuku, aku merindukannya,


ibu….. aku ingin memakannya lagi’


Sekali suap ia begitu ketagihan, dengan lahap ia memakannya, selesai makan, pria itu meninggalkan ruang makan dengan senang, “Terima kasih atas makanannya,” pujinya, wanita itu merapihkannya, melihat hal itu, Marina mengambil piring\-piring sebelum ia mengambilnya, “Nak, kau tak perlu melakukan ini, biar aku saja” namun ia menolaknya dengan menggelengkan kepala, “Tidak, aku juga makan berarti aku harus bertanggung jawab” tolaknya sambil membawa setumpuk piring ke dapur bersama wanita itu, dapur dengan lantai keramik menyambutnya, ia pergi ke tempat cuci piring yang berada didekat pintu belakang, sehingga wanita itu merasa heran, ‘anak ini tidak seperti tuan\-tuanku dahulu, bahkan pria yang mengadopsinya’, ia tak menghiraukannya dan kembali bekerja.



Marina berlari di kamarnya sambil memutarkan dirinya dan boneka kesayangannya, “Akhirnya aku dapat kamar baru Tuan Beruang, lihat ini luas sekali bahkan aku bisa lihat keluar,” girangnya, dengan baju tidur bewarna putih, tak sadar bahwa bulan menyinari pakaiannya, di tengah kegirangannya, beliau datang dengan hangat, melihatnya, ia diam, “Marina, kau tidak tidur?” tanyanya “Tidak, aku belum mengantuk Tuan….” ia mencoba untuk mengingat kembali namanya,


“Panggil aku ayah nak, mulai hari ini kau anakku”


“Tapi kau bukan ayahku”


“Walau aku mengadopsimu, tapi aku tetap ayahmu”


Beliau menggendongnya, ia teriak senang, dan membawa ke atas tempat tidurnya dan menyelimutinya dengan selimut hijau mudanya, “Ayah, biasanya Ibu mengucapkan selamat malam sebelum aku tidur” kata Marina, matanya berbinar bagaikan permata, sang ayah tersenyum, mengelus rambut hitamnya, mengecup keningnya “Selamat malam, Marina,” tak lama, matanya tertutup, “selamat malam, ayah”, dan ia pun tertidur, dengan tenang beliau mematikan lampu dan meninggalkannya.




Beliau sedang mengobrol dengan petugas kebun dihalamannya “Pak, tak lama saya harus bekerja, dan tolong awasi Marina di kebun” perintahnya, lelaki berkulit hitam itu mengangguk, “baik tuan,……”


“Hiks…hiks……”


Mereka mendengar suara tangis, mereka berlari menuju gerbang dan ditemukan Marina duduk sambil menyandarkan kakinya diatas tanah, lututnya mengeluarkan cairan merah, ia menangis dengan keras tiba\-tiba


HUWAAAAA


Mengetahui hal itu, pria itu langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam rumah, sambil membawanya, pembantu yang melihatnya langsung mengambil kotak obat bewarna hitam kulit, beliau meletakkannya diatas bangku, kakinya dialasi dengan bangku tanpa senderan, lalu wanita itu membersihkan lukanya dengan kain, dan ia membaluti luka itu dengan kain coklat bersih, ia ikat dengan kencang hingga darahnya tidak mengalir, dan suasana menjadi tenang kembali, “Marina, kamu tidak apa\-apa kan?” tanya sang ayah, ia tersenyum.


“Baik, terima kasih”

__ADS_1


……….


Marina melihat ayahnya mengenakan rompi kuning yang sedang dan menutupi tunik linen putihnya, jubah bewarna biru tua dan sepatu bot kulit hitam, Ia penasaran kemana ayahnya pergi sehingga ia menghampirinya “Ayah, ayah mau kemana?” tanyanya penasaran, namun beliau tak menghiraukannya “Ayah, ayah mau kemana?” beliau tidak menghiraukannya, dan ia menarik jubahnya hingga ia terganggu, ia menarik kembali dan matanya menatap ke bawah, ia melihat gadis kecil berpakaian merah muda, dengan renda putih di roknya, sang ayah akhirnya menekuk lututnya hingga pandangannya setara dengan pandangan gadis kecil itu “Ayah mau bekerja sayang, nanti adik main sama Tony disana,” beliau mengelus rambut panjangnya, Marina tetap menarik jubah ayahnya, berharap agar beliau tidak meninggalkannya, “ayah, ayah tidak boleh meninggalkan Marina disini” isaknya, “Kan ada Nona Wendy, Bapak Jeremy, Tony dan orang\-orang disekitar rumah” beliau menenangkan anak angkatnya, dan mengelus kepalanya sekali lagi, “Marina Herlock, Ayah ada urusan di London, nanti kalau urusannya selesai, nanti Ayah pulang dan bermain bersama Marina” beliau keluar dari rumah dan menaiki mobilnya, ia hanya menatap ayahnya pergi di beranda rumahnya sambil memeluk boneka, seperti melihat mainan yang ia inginkan, ia terdiam


“Ayah……


Jangan pergi…”


Melihatnya sedih, pembantunya mengajaknya untuk masuk, “Marina, ayo kita sarapan dulu” ajaknya, “Lalu bagaimana dengan ayah?” tanyanya dengan khawatir.


“Ayahmu sudah makan tadi pagi, tinggal kamu saja”


“Apakah ibu sudah makan?”


“Belum” jawab sang pembantu


“Ayo makan bersama saya bu”


“apa….?”


“Ayo makan bersama!!”


Ia mengajak para pembantunya untuk makan, mendengar teriakannya, mereka masuk kedalam rumahnya, duduk di bangkunya termasuk Marina, ia duduk manis, disamping anak lelaki yang merupakan pembantunya, melihat kakinya yang terbalut kain “Marina, kakimu kenapa?” tanyanya penasaran “Tadi aku jatuh di semak mawar merah” jawabnya, anak itu melihat lukanya, roknya terangkat sehingga menampakkan lukanya. Pembantunya membawa sepiring besar roti, sepiring buah, dan semangkuk telur, mereka berdoa dan mengambil makanannya, mereka sangat menikmati makanannya, senyuman manis mereka tertampak di wajah mereka seiring rasa makanannya sudah terasa di lidah mereka, pembantu itu melihat gadis itu


‘Marina sama seperti ayah angkatnya, Ia begitu peduli dengan kami yang merupakan warga kelas bawah’


‘Walau Marina juga kelas bawah, tetapi Ia baik dengan kita, memang dia anak adopsi tetapi Ia cepat berbaur dengan kami, apa yang diajarkan oleh orang tua dahulunya hingga Ia bisa seperti ini?’


London, 1892


Kota ramai dipenuhi dengan penduduk berpakaian indah, gaun mereka mekar, penuh dengan warna\-warna yang cerah, dan payung\-payung mewah dengan renda yang mengelilingi dibawah kainnya, bangunan besar bewarna krem dengan atap hitam dipenuhi dengan jendela\-jendela yang terbuka, dengan menara yang tinggi dan beratap runcing diatasnya siap untuk menyambut hari yang baru di kota yang padat. Seorang pria muda memasuki bangunan itu, dan menatap meja kerjanya, penuh dengan kertas\-kertas, Ia merapihkan kertas itu, lalu ada yang memasuki ruangannya “Selamat pagi Jason” sapanya, “Pagi” balasnya sambil melihat kertas\-kertas itu, orang itu memperhatikannya yang tengah sibuk “Kudengar kau mengadopsi anaknya Catherine ya,” ganggunya, namun ia tidak memperhatikannya, sehingga ia mengetuk meja agar wajahnya mengangkat kearahnya, ketika ia angkat, dihadapannya ada seorang pria yang memakai wig abu, rambutnya menggulung di pinggirnya, dibanding dengannya ia tidak memakainya sama sekali dan rambut hitam lebatnya tertampak. “Iya, memangnya kenapa?” tanyanya dengan tegas, “Tidak ada apa\-apa” jawabnya sambil keluar dari ruang kerjanya. Ia kebingungan, dengan orang itu


“Dari mana dia tahu?”

__ADS_1


__ADS_2