
“Selamat datang di sekolah nak….”
Sambutan dari raja hutan itu membuat suasana menjadi hangat, matanya berbinar ketika Ia melihat surai yang tergurai dengan indah, singa itu berjalan mendekatinya, Marina tampak terkesima melihat suasana ruangan yang cerah, tanaman rambat menghiasi langit\-langit, bunga\-bunga menampakkan mahkota yang indah di sekitar menja\-meja dari kayu, tak hanya itu, Ia melihat buku\-buku tang tertata di dalam rak bewarna coklat, dan Ia bisa merasakan angin yang sejuk dari sekolah itu. “Silahkan masuk, nak” ajaknya, Ia memasuki ruangan itu, Sky dan Tuan Beruang juga memasuki ruangan itu, dan mereka duduk di belakang bangku milik gadis itu.
“Chirp…chirp…”
Marina mendengar suara kicauan burung dari luar, merdu seperti musik klasik yang selalu didengar olehnya, “Burung bernyanyi di tengah pagi??” Ia memiringkan kepalanya dengan pertanyaan yang tersimpan di kepalanya, “burung itu bernyanyi berarti kelas akan segera dimulai, biasanya, mereka hampir telat, tetapi kalian sudah datang lebih awal, selamat” pujinya, “Lalu, kenapa burung bernyanyi??” tanyanya lagi, singa itu tersenyum dan menatap mata besarnya, “Burung bernyanyi karna hati mereka sedang bergembira” ucapnya sambil melihat burung biru berkicau di atas dahan pohon, mereka takjub dengan keindahan bulunya, “dia cantik sekali….” kagumnya dengan mata yang penuh dengan kilauan.
Tak lama, mereka memasuki kelas itu, para binatang duduk di bangkunya, Marina duduk di belakang karna tubuhnya yang lebih besar dari pada mereka, Tuan Beruang mengetahui bahwa para murid yang ada di sekolah itu adalah anak\-anak yang seusia dengannya, mereka yang duduk didepannya melihat manusia yang duduk di bangku belakang, mata mereka berkedip ketika melihat mata birunya yang bersinar. “Selamat pagi, anak\-anak,”, sapanya, “Pagi!!” balas mereka, berteriak dengan penuh semangat, kecuali mereka yang duduk di belakang, para pendatang baru itu tak menggerakkan mulutnya untuk berbicara, bagi mereka ini adalah pertama kalinya mereka melakukan hal yang baru, yaitu bersekolah, "selamat pagi semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru, Dia bukan penghuni Asli dari hutan ini, gadis berambut hitam, silahkan berdiri dan memperkenalkan dirimu" Marina pun berdiri dan mereka menengok ke arah belakang, menatap gadis berpakaian langit, Ia tersenyum malu.
"Hai, Aku Marina Herlock, Aku berasa dari London dan kini Aku tinggal di Edensor, disini Aku bersama Tuan Beruang yang dia itu adalah boneka, dan bersama Sky, anjing peliharaanku, mungkin dia terlihat seperti serigala, tetapi dia itu perang dan suka bermain"
Sky dan Tuan Beruang itu melambaikan tangan dan kaki mereka.
“Aku belum pernah sekolah sebelumnya dan ini kali pertama menginjakkan kaki atau kedua kalinya kakiku ini berada di sini, jadi tolong bantuan kalian agar kami bisa terbiasa disini"
Ia memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri dan rasa bahagia, mereka yang awalnya sinis seketika sinar kebahagiaan muncul dari hati mereka, hingga senyuman tampak dari wajah berbulu mereka, singa itu memintanya untuk duduk. " Terima kasih atas kedatangan kalian, Marina, Sky dan Tuan Beruang, dan sebelum kita mulai, apa kalian punya pertanyaan terkait mereka?" Ia memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya tentang murid baru itu.
"Apa rumahmu dekat dengan hutan ini?"
"Bagaimana rumahmu di London?"
"Kau pasti suka bermain di pelabuhan bukan?"
"Marina, apa boleh kami bermain di rumahmu?"
Segala pertanyaan mereka lontarkan, tak peduli berapa banyak pertanyaan yang diberikan, Marina mencoba untuk menjawab pertanyaan mereka satu per satu, "iya.. dekat, rumahnya agak kecil daripada yang ada disini...., terus Aku suka bermain di pelabuhan, hampir setiap hari, terus untuk bermain di rumahku, boleh saja...." Ia kerap menjawab pertanyaan yang menumpuk, terus menerus hingga Ia memintanya untuk berhenti dan kembali ke pelajaran, lalu mulut mereka terkunci "baik, sekarang kita akan belajar menulis...." Sambil mengambil kapur, Ia memulai menulis sebuah gabungan dari kata\- kata, sering huruf mulai terbentuk, seketika mereka mengikuti ya dengan menulisnya diatas pensil, tangan\-tangan mereka Bergerak membentuk sebuah huruf, kecuali Marina, Ia hanya melihat selembaran halaman pada buku, tangannya bergetar ketika ujung pena itu hampir mendekati kertas itu.
"Bagaimana cara aku membuatnya?
Huruf- huruf seperti sebuah abstrak.....
Aku tak bisa....."
Keringat dingin keluar dari wajahnya, matanya mengeluarkan air, mengharapkan sebuah bantuan, Sky hanya terdiam tak bisa bertindak apapun untuknya, karna Ia bertugas untuk mendampinginya, bukan mengajarinya, "Nak, apa Kau tak tahu bahwa Aku adalah anjing, walau sekolah ini hewan juga belajar, tetapi Aku tak punya wewenang untuk melakukan hal ini...." Raut khawatirnya muncul, Ia tak bisa berkutip lagi untuk menolongnya, sehingga singa itu menghampirinya dan duduk disampingnya, tersenyum hangat, " Marina, apa ada masalah....?" Tanyanya, Ia menatap wajahnya yang sedang dirundung sendu, Ia tidak tahu bagaimana cara Ia menulis, namun Ia tetap sabar dan mengajarinya.
"Pertama, buatlah dari miring seperti ini...."
" Perhatikan tanganmu Nak..."
__ADS_1
"Coba buat garis lengkung....."
"Buat garis lurus....."
Perlahan Ia mengajarinya bahkan menggerakkan tangan gadis itu untuk belajar menulis sebuah huruf, hingga Ia menghasilkan huruf \-huruf alfabet di kertasnya untuk pertama kalinya, walau hasilnya tak sesuai dengan harapannya, tetapi Ia tetap senang sambil menunjukkan giginya, perlahan Ia mencoba membuat sebuah kata, dilanjut dengan sebuah kalimat, dan mengikuti papan tulisnya, dan akhirnya Ia membuat sebuha kalimat untuk pertama kalinya.
Ayah, Ibu, Aku sayang kalian..
Begitulah kalimat pertama yang ditulis oleh nya, Sky dan Tuan Beruang yang meihatnya takjub dengan tulisannya, walau terlihat kusut tetapi mereka tetap senang, “Kini kau bisa menulis” pujinya dengan mata berbinar, ekornya pun bergoyang melihat senyuman gadis itu.
Malamnya, Jake sedang tertidur pulas, dihangatkan dengan selimut birunya, matanya terlelap dalam mimpinya, tenang hingga tak lama Ia merasakan sebuah sentuhan di lengannya, hanya sekilas sentuhan itu terasa, Ia lanjut untuk tidur, namun sentuhan itu berulah kembali, mengganggu istirahat ya, dan Ia tetap tidur. Hingga setelah berkali\-kali Ia tak terbangun, lalu sentuhan itu tak lama berubah menjadi goyangan yang hebat, yang membuatnya seketika bangun tak tertidur lagi, matanya yang awalnya terpejam langsung terbuka ketika goyangan itu terasa di tubuhnya, Ia langsung terbangun dari tempat tidurnya, "gempa, ada gempa disini,semuanya lindungi diri!!" Paniknya, matanya terbelalak, sontak terbangun, dan tak sengaja, kepala ya menengok ke arah tembok dan melihat gadis yang berdiri disampingnya sambil memegang Lilin, tersenyum diatas cahaya kecil itu, Jake yang setengah sadar itu langsung ketakutan dan berteriak dihadapannya, tetapi sosok itu memintanya untuk diam, sambil menutup mulutnya yang berteriak dengan telunjuknya, Ia pun tenang, "astaga Marina, Kau membuat ku kaget...." ucap Jake sambil mengelus dadanya, " kenapa Kau muncul tiba\-tiba di tengah malam seperti hantu yang bermain di pesta? " lanjutnya, Marina meletakkan lilin itu di mejanya.
"Jake, Kau tahu tidak?"
"Tahu apa....?" Tanyanya balik dengan setengah sadar, sambil menggosok matanya, dan menguap di sampingya.
" Ada sekolah di tengah hutan, Aku juga belajar disana....., besok pagi kita Kesana, sang guru juga memintamu kesana....."
"Sekolah Ditengah hutan?! Apa yang sedang Kau bicarakan?
"Hei, ini tengah malam, Kau tak berpikir jika Kau ada disini dan kita tidak tidur, besok Tuan Jason akan memberikan kita tugas yaitu membersihkan semua ruangan yang ada dirumah ini!"
Jake berteriak dihadapannya, tak lama kemudian, terdengar suara kaki, derapannya mendekati pintu mereka, Ia memintanya untuk bersembunyi dibawah ranjangnya, hingga pintu mulai terbuka, Ia langsung membaringkan dirinya diatas kasur dan memenjamkan matanya. Cahaya keluar dari pintu itu, menampakkan bayangan sepasang suami istri yang sedang memeriksa anaknya, "Jake masih tertidur, tetapi tadi aku mendengar suara perbincangan dari dalam, apakah ada orang lain selain ya disana?" Suara halu yang sedang Khawatir dengan keberadaannya, " tidak, kurasa itu hanya haluanmu, Emily" sang suami menenangkan istrinya, dan mengajaknya kembali tanpa mengkhawatirkannya.
Setelah pintu tertutup kembali, Marina merangkak keluar dari ranjangnya, " Mar, Kau harus segera kembali ke kamar, sebelum Tuan mencarimu" pintanya sambil mendorong gadis itu keluar dari kamarnya, Ia hanya terdiam dan kembali dengan diam\-diam tanpa menunjukkan suara ataupun ekspresi darinya.
"Ternyata dia tak percaya hal ini kepada-Ku,
Dia hanya percaya dengan boneka dan anjing yang berbicara...."
Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga yang ada di dalam rumah menjalanan aktivitasnya masing\-masing, Tuan Jason seperti biasa pergi untuk bekerja, Marina diam\-diam berjalan menuju halaman belakang rumah, bersama kedua sahabat yang tak biasa bagi orang lain, mereka berjalan menuju ujung halaman, tiba\-tiba suara derapan kaki mendekati mereka, sosok anak lelaki berkulit hitam itu perlahan menghentikan hentakakan sepatu coklatnya,"Marina\-Marina!!" Panggil lelaki itu, Ia menatap sahabatnya, sambil membawa buku, "Jake, apa yang lakukan disini?" Tanyanya, sambil mengatur nafas, Ia berbicara dengan nafas yang tersengal\-sengal, “Kau ingin kemana?” tanyanya balik, Marina hanya berdiri dan menunggunya kembali berdiri dengan normal, “tanyalah pertanyaanku dulu!” sahutnya, kedua anak itu menatap satu sama lain di halaman belakang.
“Bukankah aku sudah menjelaskan semalam kepadamu, tetapi kau tak percaya denganku”
Jake yang mendengarnya hanya diam, “dan kau hanya berjalan dengan tungkal seperti boneka kayu” lanjutnya.
“Hei, lagipula mengapa kau bicara dengan orang tidur di tengah malam, pastilah mereka tak akan percaya!”
__ADS_1
“Aku hanya ingin beri tahu, mungkin kau ingin pergi denganku ke sekolah yang ada di tengah hutan”
“Soal sekolah hutan itu bukan? tak ada sekolah yang isinya binatang, itu hanya cerita di otakmu!”
Mereka menyahut satu sama lain, hingga Sky dan Tuan Beruang menatap mereka dengan sinis, sambil menganga mereka hanya duduk mendengar ocehan yang terlontar kepada mereka, hingga mereka mulai bosan dan anjing besar itu menggonggong di antara mereka, memecahkan keributan hingga kembali senyap. “Daripada kalian bertengkar disini, lebih baik Jake, kau ikut dengan kami dan Marina, bawalah dia ke sekolah bersamamu”, usulnya dengan tegas, mendengar hal itu, Jake merasa senang, matanya berbinar, dengan cepat Ia kembali ke dalam rumah dan kembali lagi dengan membawa tas selempang putih.
“Kau mau ikut, kukira kau tidak percaya dengan perkataanku semalam,??”
“Untuk belajar, tak ada kata ‘tak percaya’ untuk membuktikannya”
Ia memiringkan kepalanya dengan penuh pertanyaan.
“Belajar harus dilakukan oleh setiap manusia…
dan itu berarti aku harus ikut belajar dengan mu, Marina…..”
Senyumnya menampakkan gigi bewarna putih, mereka pun hanya diam dan mengedipkan mata, melihat semangat bocah lelaki itu, “Daripada kita berlama\-lama disini, lebih baik kita langsung berangkat, dan Jake….” boneka itu menunjuk ke arahnya, “jangan pernah berjalan menjauh dari kami, karna kau tidak tahu ada apa di balik rindangnya hutan itu” lanjutnya sambil menyilangkan tangan, Ia hanya mengangguk kecil dan mulai menggandeng Marina dan mulai berjalan menuju hutan, sikapnya yang bersemangat untuk belajar membuat anjing itu tertawa, begitu pula boneka itu, hanya tersenyum kecil setelah menengok ke arahnya, Marina menggelengkan kepala dengan tingkah sahabatnya.
Hingga mereka berhenti di depan pintu kayu, mata mereka tertuju pada motif kayu tersebut, tidak terlihat karna tertutup oleh tanaman rambat hijau yang menghiasi suasana sekolah hutan itu, penuh dengan keasrian, pintu tersebut dibuka olehnya dan para binatang sudah memasuki kelas itu lebih dulu dengan mereka, guru singa itu menyambutnya dengan hangat, dan mempersilahkan mereka untuk duduk, ketika kicauan burung berbunyi, kelas pun dimulai, mereka mengeluarkan buku, Ia menuliskan sebuah angka di papan kapur, “ apa ada yang bisa menjawab soal ini?” tanyanya dengan tenang, Marina dan Jake melihat soal matematika itu seperti cacing yang menggeliat di papan, lukisan abstrak yang tak diketahui alasannya, “Aku tahu jawabannya, guru!” sahut seekor serigala abu itu, “Oke, Willow, tetapi bagaimana kita beri kesempatan Marina dan sahabatnya untuk menjawabnya” ujarnya, mendengar hal itu, mereka menatap satu sama lain dan menyenggol bahu mereka.
“Mar, kau saja yang menjawabnya,
aku tak tahu bagaimana mengerjakannya”
“Aku tak tahu angka, Jake,
bukankah kau sudah belajar, bahkan sudah lama membaca buku?”
“walau Aku sudah lama membaca buku,
tak berarti aku tahu matematika!”
“Ayolah, kita harus bagaimana
mereka sudah menunggu kita….”
Tatapan serius para binatang itu membuat mereka bergetar, tubuh mereka mengeluarkan keringat dingin, mata mereka tak berkedip seketika, dan kaki mereka perlahan menggerakkan mereka menuju papan bewarna hijau tua itu.
“Kita jawab seadanya.!”
__ADS_1