
Sky bermain di halaman belakang, kala langit bewarna biru cerah, awan\-awan berkumpul seperti kapas, halus dan membentuk bentuk yang sangat beragam, bulunya yang tebal berkibas seiring dengan lompatannya yang penih keceriaan, Ia mengejar dandelion yang bertebangan karna angin sepoi\-sepoi, lompat kiri\-kanan, tak pernah berhenti kakinya bergerak dan ekor tetap bergoyang, lidahnya keluar sebagai tanda bahwa Ia sangat bahagia, anjing besar yang suka bermain itu senang sekali, lalu kupu\-kupu hinggap di hidungnya, matanya pun berkedip dan menatap serangga bersayap ungu berkilau dengan penasaran, dan menggoyangkan kepalanya, tetapi Ia tak ingin terbang hingga Ia mengusirnya dengan kakinya.
“Pergilah, kupu-kupu nakal”
“Aku mulai bersin…..”
“AAACHOOO!!!!”
Anjing itu pun bersin dengan kencang dan kupu\-kupu indah itu terbang meninggalkannya, melihat hal itu, ekornya langsung bergoyang, Ia ingin mengejarnya, dan Sky berlari mengejar kupu\-kupu itu, sayapnya mengepak dengan cepat untuk menghindari kejarannya, sadar bahwa binatang itu ingin menangkapnya, Ia terbang dengan cepat dan memasuki hutan itu, Sky yang mengejarnya itu seketika terhenti ketika Ia mendekati ujung halaman belakangnya, hutan yang rindang itu lebat dan gelap, hingga tak tampak jalanannya, matanya penasaran dan bernafas dengan cepat, dan Ia memulai menginjakkan kaki ke dalamnya, dan tiba\-tiba, Ia mendengar suara siulan dari rumahnya, mata coklatnya penasaran dengan apa yang ada dibalik hutan itu, Ia mencium bau yang sangat tajam dari dalamnya, sehingga kakinya hendak melaluinya, namun Ia tak yakin dengan rencananya.
“Sky, pergilah, kau hanya penasaran bukan”
“Jangan, nanti tuanku akan khawatir denganku”
“pergilah, tuanmu adalah anak-anak”
“Bukan hanya dia saja tuanku, melainkan semua orang di rumahku”
“Sky, turuti mereka,…..”
Pikirannya berperang untuk membentuk sebuah keputusan baginya, dengan ragu Ia mulai untuk meletakkan kakinya di atas tanah coklat, dan seorang pria datang dari belakangnya, Ia mengelus tubuhnya sehingga Ia merasa geli dan tenang, pikirannya pun kembali normal.
“Sky, jangan kesana, bahaya!”
“Kau sama saja seperti Marina,
nekat tinggi, tak ada takut untuk mendekati area itu”
Sky terdiam mendengar perkataannya, Ia baru sadar bahwa majkan mudanya ternyata pernah mendekati area terlarang itu, “Jadi, Sky, kau harus menjaganya dan jangan sampai Ia mendekati wilayah itu” perintahnya, ototmatis Ia menururti perkataannya dan kembali kerumah untuk melihat gadis yang sedang sarapan bersama keluarganya.
Sarapan keluarga itu damai sekali, mereka memegang pisau dan garpu tenang, tang membuat bunyi gesekan dari piring keramiknya sama sekali, mereka memakan pancake dengan serius seperti memotong sepotong kue dengan rapih, hingga tak lama salah satu diantara mereka mulai bersuara, “Marina, ayah mendapat undangan dari tuan dan Nona Belldock untuk mengikuti ulang tahun pernikahan mereka” Jason menunjukkan amplop bewarna coklat dengan segel bewarna ungu sebagai tanda keluarga mereka, “Entah kenapa tiba\-tiba mereka mengundang kita dua bulan sebelum waktunya” Beliau merasa bingung sambil menggaruk kepalanya, Marina hanya bingung dengan makanan di mulutnya, mengunyah mendengar pertanyaannya, Nona Emily yang sedan mengambil piring kotor diatas meja mendengar perkataanya, “mungkin mereka ingin menandakan meja untuk tuan dan Marina, kalian sungguh beruntung sekali” hiburnya sambil memberishkan mejanya, “sayang mereka tak ingin mengundang kami, orang kulit hitam, tak hanya itu, teman\-teman kami yang bekerja disana tak pernah memberikan kabar kepada kami……” lanjutnya, Ia hanya memakannya, Ia tak mengerti dengan pembicaraannya, ketika selesai, Ia langsung mengambil piringnya ke dapur untuk mencucinya, dan anjing peliharaannya mengikutinya kesana, sambil bekerja Ia pun bermain gelembung sabun darinya.
Marina mengambil buku dari raknya, tak lupa pena dan tinta, Ia pergi ke halaman belakang, Ia duduk dibawah rindangnya pohon akasia, kakinya Ia rebahkan dan membuka halaman buku dan mulai menuangkan pikirannya dan isi hatinya, namun tangannya terhenti karna tak tahu begaimana cara menulis, “Aku hanya bisa membaca, bukan menulis, padahal jika Ibu masih ada, mungkin sekarang Ia akan mengajariku menulis, Sky, apa kau tahu cara membuat huruf ‘A, B, C’ tidak??” Ia bertanya kepada anjing yang sedang tertidur dihadapannya, matanya terbuka sebelah ketika Ia mendengar perkataannya, “Aku saja tak tahu huruf, bagaimana mungkin kau bertanya hal seperti itu kepada seekor anjing” ujarnya dengan dengkuran, Marina hanya merengut mendengar hal itu, dan menyandar di belakang pohon, dengan gelisah Ia hanya menyandar dengan cemberut, lalu boneka beruang datang menghampirinya, Ia berdiri di atas pahanya yang ditutpi dengan kaos kakinya bewarna putih, “Marina…..” panggilnya, Ia seketika menatapnya dengan letih.
“Kenapa, Tuan Beruang…..?
kau tak lihat kondisiku sekarang?!”
Ia hanya menatap tanpa perasaan, dan duduk diatasnya, kakinya bergoyang dengan riang, “Kau tak tahu cara menulis, lagipula bukannya kau seharusnya bersekolah, lihat saja, anak-anak membawa buku dan berjalan dengan sahabatnya” ujarnya sambil menunjuk kearah gadis-gadis berpakaian yang sama dengan buku yang dipegang, Ia hanya menatapnya dengan mata kosong.
“Ayah bilang tak ada sekolah yang cocok untukku,
dan jika ada mungkin tak cocok untukku”
__ADS_1
“Pasti ada nak”
“tak ada, lihat saja kondisinya,
putri, pangeran hidup bahagia di istana mewah
sementara kita, yang bukan apa-apa…..
sekolah saja susah”
Marina menghela nafas, disamping itu, seekor kelinci gemuk bersembunyi dibalik semak\-semak, tak menyadari keadaannya mereka hanya duduk dan tidur dengan tenang, tak lama, matanya melihat sahabatnya memakai pakaian rapih, bersama keluarganya, Ia berlari dan menghampiri mereka namun tertahan oleh pagar, “Jake, kau ingin kemana…..??” tanyanya dengan khawatir, Ia merasa bahwa Ia akan sendiri di rumah, bocah berkulit hitam itu menengok kearahnya dengan senyuman, dan menghampirinya.
“Mar, aku akan bertemu dengan keluargaku….
mereka datang dari Afrika”
“Tolong sampaikan salam kepada mereka,
bilang disini ada orang yang sangat sayang dengan orang-orang seperti kalian,”
Marina dan Jake yang awalnya menatap satu sama lain di pagar berpisah, Ia hanya membalikkan badan dengan gelisah, dan sahabatnya memanggilnya, “Hei, Marina!”, Ia membalikkan badan, “Aku tak akan lama, lagipula mereka akan penasaran dengan sahabat baruku!!” hiburnya sambil mengacungkan jempol, Marina tertawa dan mereka berpisah di dua tempat yang berbeda.
Ia berjalan menuju tempatnya, melihat mereka yang sedang bersantai dibawah cerahnya matahari, Ia pun duduk dengan tenang, bayangan pohon itu memberikannya sebuah teduhan, Ia akhirnya memutuskan untuk membaca, kakinya berlari dengan cepat, menuju rumahnya dan kembali lagi membawa buku tebal, buku cerita dongeng kesukaannya, ‘peniup seruling dari Hamelin’, cerita dari Jerman menjadi kesukaannya, Ia kembali duduk dibawah rindangnya pohon, membuka buku yang tebal itu dan membacanya dengan tenang, pelan\-pelan Ia mengganti halamannya agar mereka tidak terbangun dari tidurnya, perlahan Marina membacanya dan serius dalam memahami kata\-katanya, cerita rakyat dari Jerman menjadi kesukaannya.
ceritanya seru sekali, Aku sangat suka dengan hal ini!!”
Hatinya bahagia dengan cerita yang disampaikan, seakan ceritanya hidup, dirinya tertawa kecil, dongeng itu memasuki pikiran gadis kecil itu.
Hingga tak lama, seekor kelinci yang bersembunyi dibalik semak itu, melompat dengan lincah mendekatinya, hidungnya Ia gosok dan telinganya tegak sehingga menarik perhatiannya, “Kelinci lucu…mari sini” ajaknya sambil mengayunkan tangannya, matanya terpaku pada keimutan kelinci berbulu coklat itu, tangan yang kecil itu Ia angkat dan memberikan perhatian Marina untuk mengajaknya bermain bersama.
“Kelincu lucu…, kau pasti tersesat
Ayo kesini, ada Sky si anjing”
“Tak usah takut, dia tidak menggigitmu”
Kelinci itu ketakutan melihat anjing besar itu tertidur di depannya, perlahan Ia melompat menuju rok ungu mudanya, Ia melompat mendekati Marina yang sedang melihatnya mendekati rambutnya, awalnya Ia hanya melihatnya sekilas dipangkuannya dan kembali membaca ceritanya, tetapi ketenangan mulai pudar ketika kelinci itu mengambil jepit rambutnya secara paksa dan diketahui olehnya, Ia merasakan sakit di rambutnya, tertarik dari akarnya, dan Ia melompat dengan cepat berlari menjauhinya yang sedang kesakitan.
“Jepit rambutku!!”
“Kelinci nakal, kembalikan!!”
Marina langsung bangkit dari duduknya dan mengejarnya, sepatu pantofel hitamnya tak berbunyi di tanah hijau namun terdengar oleh Sky, pendengarannya yang tajam membuatnya membuka seketika dan mengejar majikan mudanya, Ia meneriakinya, namun kelinci itu memasuki hutan yang dilarang dimasuki oleh Tuan Milo, kakinya terhenti menatap rindangnya pohon hijau itu, seakan mereka memanggilnya, kakinya mulai tergerak untuk memasuki area tersebut, namun anjing Siberia itu menghalanginya dan menggonggong, “Marina, jangan kesana, bahaya!”, perintahnya, Ia melihatnya berdiri dengan wajah garangnya, dan mendekatinya untuk menahan gerakannya, Ia terdiam dengan polos dan kembali bersamanya untuk bersantai.
“Marina…”
__ADS_1
“Marina….
Masuki kami….
kami menunggumu…..”
Seakan mereka memanggil namanya halus, Ia kembali menatapnya dan mendekati hutan itu, angin bertiup dari arahnya mengelus rambut hitm panjangnya, matanya berkedip penasaran, lalu Ia dengan nekat mendekati hutan itu, “kelinci nakal itu harus kutemukan, dia rupanya menipuku dengan siasat imutnya” gerutunya, Sky yang melihatnya mengingkari perkataannya langsung mengejar dan mencoba untuk menarik roknya, tak hanya itu, Tuan Beruang langsung menungganginya dan membantu sahabat besarnya untuk menghentikan gerakan gadis muda itu. Namun mereka telat, Marina memasuki hutan itu, kakinya sudah memasuki rindangnya hutan itu, sejuk dan tenang, dalamnya tertidur tak terbangun dalam waktu lamanya.
Sky dan boneka itu mendekatinya, mereka melihat Marina terkesima oleh dunia baru yang belum pernah Ia lihat sebelumnya, gelap, cahaya kecil hanya menyinari sebagian kecil hutan itu, tanahnya halus sekali, “apa ini isi dari hutan…..?” tanyanya, sambil melihat sekeliling dunia yang ajaib, mereka menatap satu sama lain, tak mengerti dengan pertanyaannya, “jika iya, tak mungkin kau melihat rumahmu ataupun kapal disini….” ucap. Tuan Beruang dengan jengkel.
Sky berjalan menuju hadapannya, “Marina, kita harus pulang, Ayahmu akan marah mengetahui hal ini,” perintahnya, tetapi Ia mulai merengut, “Sky, tadi ada kelinci nakal yang mengambil jepit rambutku, Aku harus merebutnya kembali”, rengeknya, namun Ia mengabaikannya dan mengelus roknya.
“Marina, itu hanya jepit rambut biasa,
kau bisa memintanya untuk membelikan yang baru”
“Tapi jepitan itu cantik,
Aku tak ingin kehilangannya
dan Aku harus mencarinya”
Marina memang anak kecil, tak pernah mendengar perintah dari siapapun hingga Ia dipaksa ataupun turun tangan mereka untuk mengasuhnya, Ia berjalan mencari keberadaan kelinci itu sementara mereka hanya mengikutinya dengan raut khawatir.
“Kurasa kelak Tuan akan memarahiku
karna Aku tak bisa menahannya”
Boneka itu menenangkannya yang sedang khwatir akan amarah tuannya.
“Tak perlu khawatir, Sky…..
yang penting kau sudah berusaha”
“Dan Aku yakin kau akan menjadi anjing penjaganya yang luar biasa!!”
Ia menghiburnya sehingga Ia mulai membulatkan tekad untuk melindungi Marina dari segala marabahaya yang ada di depannya, tak lama mereka mendengar suara tapak kaki, kecil dan cepat, mereka mencari tahu asal suara itu dan menemukan para binatang berjalan searah menuju dalam hutan, “Kemana mereka pergi…..?” tanyanya dengan penasaran, diam\-diam mereka mengikutinya berjalan, mereka membuntutinya hingga mereka berdiri di sebuah rumah kayu, besar dan dihiasi dengan tanaman rambat dan bunga\-bunga yang tumbuh di hutan.
Rasa penasarannya muncul, Ia mendekati pintu kayu itu dan berniat untuk membukanya, tetapi Sky memintanya untuk tidak melakukan hal gegabah itu, sehingga Ia menurutinya dan tiba\-tiba pita lebar yang ada di bajunya tersangkut di gagang pintu itu, terbuka dan mereka terkejut dengan apa yang ada di dalam.
…
__ADS_1