Bayangan Seorang Anak

Bayangan Seorang Anak
Jason Marah


__ADS_3

Jason mengemudi mobilnya dengan kencang, tak berhenti menuju Edensor, kemudian beliau keluar dari mobil dan berlari menuju kamarnya, namun beliau mendapati bahwa Marina tidak ada di kamarnya, kamarnya begitu rapi, tak ada debu yang menempel di atas mejanya, Beliau mencari di segala penjuru di sekitar rumahnya, dan hasilnya nihil, Ia tak mendapati ujung batang hidung anaknya, bahkan sahabatnya, Jake pun tak terlihat, biasanya Ia selalu berada di sekitar rumahnya, tak hanya itu, Sky juga menghilang, hanya ada dirinya.


“Dimana mereka semua….”


“Tuan Milo dan Nona Emily sedang ada di pasar”


“anak-anak memang suka bersembunyi” tawanya kecil.


Menunjukkan lagak seperti detektif, beliau diam\-diam menyelinap ke kamar gadis itu, dan membuka lemari, dan dibawah meja, tetapi Jason tidak mendapatinya, hingga Ia melihat ke bawah kasur Marina, Beliau menemukan sepucuk surat yang tersembunyi dibawah kasur, Beliau baca surat itu, tak lama raut wajahnya berubah, yang awalnya tenang seketika memerah, matanya membelalak, dan berlari menuju jendela, melihat ke arah hutan di belakang rumahnya.


“Marina!!!


Kau anak nakal!!”


Jason menggerakkan kakinya dengan cepat keluar dari rumah.


Di dalam hutan, Willow bersama Marina dan Jake berjalan memasuki hutan lebih dalam, mereka melompati batu lompatan diatas sungai, Marina yang kesulitan untuk melompatinya karna pakaiannya yang panjang dibantu oleh sahabatnya, mearik tangannya hingga bsampai di seberang sungai, mereka melanjutkan perjalanan menuju tebing, tananhnya begitu basah hingga kaki\-kaki mereka tertutupi tanah, sepatu hitamnya tertutupi dengan tanah dan roknya kotor karna tanah yang mereka lalui, “Apa masih jauh, Willow??” keluh Jake, nafasnya tersengal\-sengal, “Tak jauh lagi,” ujarnya penuh semangat, “Memangnya, seberapa tinggi rumahmu,??” tanyanya sambil mengatur nafasnya, mereka berada di tengah bukit, Ia tersenyum “Rumahku ada di atas sana…..” sambil menunjuk ke arah puncak bukit, melihat hal itu, mereka langsung mendesah, menunjukkan wajah putus asa.


“astaga….


tinggi sekali…”


“Lebih baik kita istirahat dahulu, Willow,


apa kau tidak lelah??”


Serigala kecil itu melompat ke arah mereka, sambil melolong di telinga mereka, walau Ia masih anak-anak tetapi suaranya begitu kencang, “Ayolah, sedikit lagi kita sampai, gerakkan lagi kaki kalian…” katanya, “serigala memang kuat”, Jake dan Marina pun melanjutkan perjalanan dengan kedua kaki yang lelah, menjerit untuk berhenti, walau kaki mereka bergetar karna tak kuat untuk melanjutkan perjalanan, tetapi mereka tetap memaksakan diri untuk mendaki bukit yang cukup tinggi itu, mereka mengikuti serigala itu di belakang mereka.


“Sudah sampai!!” teriak Willow dengan bangga, mereka pun sampai di tempat tujuan, atas tebing yang begitu luas, tanahnya hijau menyambut perjuangan mereka, Marina dan Jake langsung berbaring diatasnya, merebahkan kaki mereka dengan lega, “Akhirnya…..” mereka terbaring dengan tenang, Willow yang melihat mereka lelah pun tertawa. Marina pun memenjamkan mata, menatap dunianya yang penuh dengan warna, tak lama, Ia merasakan hendusan yang bertiup di wajahnya, perlahan Ia membuka mata dan hidung bewarna hitam itu menyambutnya, sontak Ia bangkit dan mendapati kawanan serigala besar yang bewarna abu itu berjalan mengelilingi mereka, “Jake, bangun!!” paniknya, Ia menggoyangkan tubuhnya, “apa, Marina…?” tanyanya sambil membuka matanya, Ia bangun dan membelalakkan matanya, mata tajamnya menatap mereka yang sedang duduk, lalu pemimpin mereka, serigala bertubuh besar itu mendekati mereka, Ia menghendus ke arah mereka, sementara anak\-anak itu menatapnya dengan rasa takut, tetapi raut wajah mereka seketika berubah menjadi tenang, senyuman mereka tampak dari wajah mereka.


“Hahaha….


astaga, kalian adalah teman-temannya Willow”


Mereka pun keheranan, “Iya….”, jawabnya dengan tegang.


“Jangan takut, kami tidak menggigit kalian”


Mereka pun duduk, Willow muncul dari balik tubuhnya, “Ini ayahku, pemimpin kawanan ini” ujarnya, “Hai, tuan, Aku Jake dan Ini temanku, Marina” lelaki itu memperkenalkan dirinya kepada pemimpin kawanan tersebut, Ia mulai membungkuk sambil mengangkat gaunnya, melihat hal itu, Ia tertawa sambil menampakkan taringnya, “astaga, kau tak perlu melakukan hal itu, anggaplah kami temanmu nak” ujarnya sambil melambaikan kakinya, Marina hanya tersenyum malu, namun Ia membungkuk kepada mereka, “senang bertemu dengan kalian, Marina dan Jake, kalian adalah manusia yang baik, terimakasih telah menemani anakku, Willow,” pujinya, mereka hanya tersenyum, “sama\-sama, kami juga berterimakasih untuk menerima kami disini”.

__ADS_1


Kawanan serigala itu bermain dengan mereka, Marina dan Jake menatap pemandangan hutan dari atas tebing, matanya berbinar melihatnya.


“indah sekali”


“Iya, bahkan aku bisa melihat rumah kami….”


Willow yang sedang duduk bersama keluarganya pun mendekati mereka.


“Kalian baru kali ini melihat pemandangan yang indah ini??”


“Iya, dan kau tahu, itu rumah kami….”


Jake mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arah rumah besar itu, melihat hal itu, Willow menggoyangkan ekornya, “Kalian memang berbeda, tetapi kalian tinggal satu rumah, bagaimana kalian bisa bertemu??” tanyanya, Marina menceritakannya dengan panjang, hingga raut wajahnya menjadi murung, “Maafkan Aku, Marina, Aku turut berduka” ujarnya, Ia membaringkan kepalanya di atas pangkuannya, “Tetapi Aku sangat bersyukur bahwa kau masih bisa bertahan hingga saat ini” lanjutnya, mereka menikmati pemandangan hingga langit mengubah warnanya menjadi kejinggaan, Willow mengantarkan mereka pulang.



Disisi lain, Jason berjalan menyusuri hutan yang rindang, hingga beliau berhenti di sebuah sekolah yang ada di tengah hutan, seekor singa berkaca mata itu keluar dari bengunan itu, lalu terdiam ketika Ia melihat sosok pria itu berdiri di depan pintu, “astaga, Jason, kau sudah dewasa” pujinya, Beliau menatap singa itu, “Guru, apa kau melihat Marina dan Jake?” tanyanya, namun Ia menggelengkan kepala sebagai tanda tidak tahu, begitu juga Sky dan Tuan Beruang, mereka hanya duduk sambil menundukkan kepala.



Hingga tak lama, kedua anak itu muncul dari balik pepohonan, pakaian mereka sudah kotor, Marina menundukkan kepala ketika melihat ayah angkatnya, “Marina, Jake, ayo kita pulang” ajaknya dengan tegas, mereka hanya mengikutinya dengan menyesal, tak mampu berkata kepada beliau, para binatang hanya terdiam dan menatapnya dengan iba.



“lagipula, kau bukan ayahku!!”


“Kau tidak tahu apa-apa tentang ku,


kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu, bukan denganku


Kau hanya mengadopsiku


bukan menganggapku sebagai anak.!!”


Marina berteriak dengan lancang di hadapan pria itu, sehingga raut wajahnya menjadi marah, “Marina, dari mana kau bisa bersikap lancang dihadapan orang tua, Aku yang mengadopsimu berarti Aku adalah ayahmu, walau aku bukan ayah kandungmu tetapi aku tetap ayahmu, dan mulai hari ini, kau dihikum, kau tidak boleh keluar rumah tanpa ada pengawasanku!” teriaknya di hadapan anaknya, Marina yang telah membentak kepada Jason pun terdiam, air matanya mulai menetes di wajahnya, lalu Ia berlari ke kamarnya, bersama Sky dan Tuan Beruang.



Jason duduk diatas sofa, dengan wajah yang resah, Ia mencoba untuk menenangkan diri setelah berteriak dihadapannya, sambil menggosok wajahnya, Ia memikirkan perbuatannya kepada mereka, “Aku sudah terlalu keras kepadanya, dia masih anak\-anak, dan memang khayalannya liar sekali,…..” beliau hanya duduk dengan wajah yang penuh dengan penyesalan.

__ADS_1


“Kau kecil juga seperti dia bukan?”


Suara halus itu mengetuk telinganya, Ia membuka matanya dan mendapati sebuah boneka beruang itu berjalan mendekatinya, Ia memanjat dari paha beliau, sehingga Jason bingung dengan kedatangannya, “Kau….bagaimana kau bisa hidup?” tanyanya keheranan, matanya terbelalak melihatnya, “Aku hidup karna suara hatinya, Tuan, begitu juga kau…” Ia menjawab pertanyaan pria itu dengan tenang, “Suara hati??” tanya beliau lagi, “Marina itu sama sepertimu, imajinasinya liar dan selalu terwujud, dan banyak sekali imajinasi yang Ia bayangkan, apa kau tak ingat masa kecil itu, Tuan jason??” sontak Ia bertanya dengan nada yang halus, Jason terdiam mendengar hal itu, lalu membawanya ke kamar tidurnya.



Disana, Jason mengeluarkan sebuah buku bewarna kuning dari laci kerjanya, Ia membawanya kepada nya, boneka beruang itu duduk disampingnya, Ia penasaran dengan apa yang ada dibalik buku itu, dibukanya buku itu, dan menatapi sebuah foto monokrom, “ini foto keluarga tuan, kaya sekali….” pujinya, namun beliau hanya tertawa kecil, “bukan ini yang akan kutunjukkan, tetapi yang ada di halaman selanjutnya” ujarnya sambil megganti halaman buku, dan matanya berbinar ketika buku itu menunjukkan sebuah gambar seorang bocah lelaki, disampingnya adalah para binatang yang sedang berdiri di sekitarnya, dengan garis hitam senyuman terpampang di wajahnya, " ini adalah gambar sewaktu aku masih berusianya, dan aku lebih dulu menemukan sekolah itu sebelum dirinya dan sahabat setianya" ujarnya dengan meraba gambar dirinya saat menjadi anak kecil. Tuan Beruang takjub melihat gambar ayah angkatnya gadis itu.


"Sejak kecil, aku selalu membayangkan bahwa ada sekolah yang lebih baik dari sekolah yang ku jalani saat itu, karna teman-temanku suka menindas mereka yang berada di bawah kami, sehingga tak sengaja Aku mengejar kelinci yang mengambil buku ini, dan di saat itu juga Aku menemukan apa yang telah ku bayangkan, sekolah hutan."


"Lalu?"


"Lalu, Aku bertemu dengan guru singa itu, awalnya beliau bingung bagaimana bisa ada seorang anak manusia yang menemukan sekolah yang tersembunyi di hutan ajaib ini, dan Aku merasa ada hal yang tak biasa yang terjadi di diriku, entah kenapa ketika aku membayangkan sekolah ini, terwujud, hingga di saat itulah Aku menemukan tempat yang sempurna untuk berpikir secara liar"


"disekolah itu aku bisa bebas, memikirkan rencana untuk masa depan, cita-citaku dan bahkan….”


Tiba\-tiba, wajahnya menampakkan kemerahan di pipinya, mata beliau melirik keluar dari pandangan boneka itu, dan menahan senyumannya, “wanita yang kau sukai bukan??” ejeknya dengan tatapan sinis dan tangan yang bersilang, Jason tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, “bukanlah…..ini masalah anak itu bukan tentang wanita, aneh\-aneh saja yang kau pikirkan” tawa Jason sambil mengangkatnya ke pangkuannya,


“bahkan, rencana perjuanganku untuk memberikan kedamaian di tanah Inggris ini!”


Mata berbinarnya meluapkan kebahagiaannya, tetapi seketika itu hangus, “Namun, bagaimana Aku bisa menjadi orang yang berjasa untuk tanah ini bila menjadi ayah saja Aku tak bisa” beliau duduk dengan lesu, matanya mulai berkaca, “padahal Aku sudah berjanji kepada wanita berkepala bunga untuk menjaganya” , Ia pun menatapnya dengan penuh harapan, “cabalah, Tuan Jason, dan memintanya untuk mencoba.


……….


Marina duduk diatas kasur, sambil menundukkan kepalanya, air matanya terus berlinang, dan tangisannya begitu keras, Sky hanya terdiam dan menatapnya dengan iba. Hingga pintu kamarnya terbuka, menampakkan bayangan besar, Ia hanya duduk sambil merenungkan kesalahannya dan amarah dari ayah angkatnya, “Marina….” panggilnya dengan nada pelan, Ia hanya terisak, kemudian beliau menghampirinya dan duduk disampingnya, “Marina, ayah minta maaf atas kejadian tadi, dan sebenarnya, Ayah marah denganmu karna kau pergi ke hutan itu tanpa sepengetahuan ayah, memang disana ada sekolah tetapi kau seharusnya beri izin dulu kepada ayah, Nona Emily ataupun Tuan Milo” ujarnya, “Ayah tidak tahu kalau kau juga menemukan sekolah itu sejak kau tinggal disini” lanjutnya, beliau mengelus rambutnya, “apa ayah pernah bersekolah ke sekolah hutan??” tanyanya dengan nada isak, beliau tersenyum,


“iya, bahkan lebih dulu sebelum kau lahir”


“Tapi, kenapa ayah rahasiakan??”


“Karna, ayah khawatir kau tak memercayainya, dan guru singa meminta ayah untuk merahasiakannya”


“dan ketika itu sudah diketahui, Ayah kira janji sang guru telah ayah ingkar, sehingga ini semua harus ayah tanggung jawabkan”


Mendengar perkataan darinya membuatnya merasa iba, merasa bersalah terhadapnya, sehingga Ia memeluknya dengan erat, Jason yang sedang merenungkan kesalahannya merasakan kehangatan dari pelukan anak angkatnya, “Ayah, ayah tak bersalah, ini salah Marina, seharusnya Marina izin ke ayah untuk berjalan di dalam hutan, namun ayah masih sibuk sehingga tak enak untuk berbicara dengan ayah secara langsung dan Marina pergi saja tanpa ada izin sehingga keberadaan sekolah itu diketahui olehku”, Marina pun menyesali perbuatannya, Ia menangis seperti bayi yang baru dilahirkan, Jason memeluknya dan mengelus rambutnya, Ia tersenyum dengan air mata yang berlinang.


“tak apa, Marina,


janganlah menangis, sudah Ayah maafkan”

__ADS_1


__ADS_2