
Pagi di rumah besar, Marina dan Jake sedang menggambar di ruang tengah, lantai dipenuhi dengan kertas\-kertas bergambar yang penuh warna, mereka menggambar pemandangan, naga, bunga, pemandangan dan lain sebagainya, dengan cat warna yang mereka miliki, tangan\-tangan mereka dipenuhi dengan berbagai warna, tak hanya itu, pakaian mereka dipenuhi dengan warna, “Jake, kau menggambar apa….?” tanya Marina penasaran, Ia mengangkat tubuhnya untuk mengintipi gambarannya, “Tada!” Jake menunjukkan kertasnya, membuatnya takjub melihatnya, matanya berbinar melihat gambarnya yang mirip dengan aslinya, “Ini adalah gajah!!” Ucap Jake dengan bangga, Marina bertepuk tangan dengan senyuman yang tertampak di wajahnya yang penuh dengan cat.
“Wah….!!
Jake memang pelukis yang terbaik!!”
Ia tertawa kecil, pipinya menunjukkan warna merah jambu, “Kalau Marina gambar apa, jadi penasaran sekali,…..” tanya balik dengan nada penasaran, “Ini!” ketika Ia menunjukkan gambarnya, Ia seketika membelalakkan matanya melihat lukisan gadis itu, “ apa ini…..?” tanyanya sambil berusaha untuk melihatnya, “Ini taman bunga, bagus tidak?” tanyanya dengan bangga, Ia mendekati ke arah gambar penuh abstrak, warna\-warna saling bercampur, “Wow….gambarmu bagus sekali, sampai saya harus mendekatinya”, pujinya, tak lama Jason mendatangi mereka yang tengah bersenang\-senang, “Wah\-wah, ada yang lagi bersenang\-senang” beliau tersenyum sambil menatap mereka satu per satu yang penuh dengan cat warna, Marina tertawa sembari mengelap tangannya di rok hijaunya, sehingga roknya kotor, melihat hal itu, sang ayah mengelap tangan mereka yang kotor.
“boleh ayah ikut menggambar?
sudah lama ayah tidak melakukan hal itu”
Jason mengambil kertas gambar dan beliau mulai menggambar garis, lengkungan dengan pensil yang beliau pegang, kedua anak itu memperhatikan dengan seksama, mata besar mereka melihat pria dewasa yang menlukis di bidang putih, warna\-warna memenuhi gambar dari pensil hingga mereka takjub melihat lukisannya, “Lihat, bagus tidak??” tanyanya sambil menunjukkan karyanya, pemandangan hijau yang dipenui dengan pepohonan dan langit biru yang cerah membuat mata mereka berkilau, terkesima dengan karya ayah angkatnya sekaligus tuan baginya.
“Cantik sekali gambarnya, dimana ayah belajar melukis seperti ini?”
“Ajarkan kita, Tuan…….”
“Ayolah Ayah……
ajarkan kita,
lagipula, kita tidak sekolah kan….”
Jason merasa tubuhnya digoyangi oleh kedua anak kecil itu, sehingga Beliau merasa pusing, ocehan mereka membuatnya terganggu, Beliau menarik kedua tangannya dan bangkit berdiri, “Ayah… Ayah ingin pergi kemana??” rengek Marina, Ia berdiri dengan cat-cat yang menghiasi tubuhnya, “Ayah ingin pergi kerja nak, nanti Ayah pulang oke” Jason mengelus rambut hitam seorang anak yang merengut karna Ayahnya yang tidak punya waktu untuknya, sehingga beliau tersenyum kepadanya, “Nanti, jika ada waktu, kau ingin pergi ke London bersama tidak?” tanya Beliau dengan maksud menghiburnya, mendengar tawaran ayahnya, Marina seketika tersenyum dan memberikan boneka landak dari buah ek yang dihias dengan berbagai pita, beliau bingung dengan pemberian anaknya, Beliau tersenyum sambil menatap karya miliknya.
“landak ini menjadi tanda janji Ayah,
kalau Ayah lupa, Ayah bisa melihat landak ini” ucapnya dengan malu.
“Baik, akan Ayah jaga, janji” tekadnya dengan penuh senyuman, Beliau bangkit dan meninggalkannya, Marina dan Jake melambaikan tangannya ketika melihat mobil bewarna biru meninggalkan rumah, “Marina…., ayo masuk, kita kotor sekali seperti manusia cat, jika Ibu melihat ini, kujamin kita akan kena marah” ajak Jake sambil menarik tangannya kedalam, ketika mereka memasuki rumah, Nona Emily menatap mereka dengan wajah memerah, tangannya menggenggam dan diletakkan di pinggangnya, mereka menelan ludah ketika melihatnya tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
“anak-anak,
kenapa kalian kotor sekali, dan lihat ruang tengah,
kotor, penuh dengan cat”
Mereka ketakutan dan berlari menuju kamar mandi, “Hei?! kalian ingin kemana??” kesalnya, “Ke kamar mandi Ibu, nanti kita bersihkan!!” teriaknya, Nona Emily yang mendengarnya mulai resah ketika melihat ruang keluarga berantakan, “setidaknya mereka akan bertanggung jawab” gumamnya.
………
Setelah mandi, Marina dan Jake membereskan ruang tengah, mereka sapu, mengelap lantai dan meja yang kotor, tak lama mereka merasa lapar, sehingga mereka berlari menuju dapur, disana mereka mengambil toples berisi biskuit dengan selai stroberi ditengahnya, mereka membaginya dan menikmatinya, dan mereka kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan pekerjaan mereka, dan ketika mereka kembali, ruangan kembali bersih, lantainya mengkilap, meja tertata rapih, bangku dn sofa sudah tak ada kertas yang berserakan, ruangan yang kembali bersih membuat mereka terkejut sekaligus penasaran, siapa yang membersihkan ruangan ini dengan cepat, mengkilap seperti kaca sehingga mereka bisa melihat wajah mereka.
__ADS_1
Anehnya, tak ada siapa pun di ruangan ini kecuali Jake, Marina dan boneka beruang itu duduk diatas sofa dengan senyuman dari benang hitam, “Apakah ada hantu disekitar sini?” cemas Marina dengan nada khawatir, sahabatnya langsung menepuk bahunya, “Hei! tidak ada hantu disini, mungkin Ibu yang membersihkannya” ujarnya, Ia menengok ke arahnya yang sedang khawatir, rautnya mulai muncul, Ia langsung berlari dan mengambil boneka di sofa, tuan beruang dipeluk olehnya, Jake melihatnya penasaran dengan tingkah lakunya.
“Tuan beruang, lindungi aku dari mimpi buruk dan hantu yang bergentayangan di rumah ini”
Mendengar permohonannya, Ia memuncukan senyuman nakal, sebuah ide lucu membuatnya tertarik untuk melakukannya, “Marina…. apa kau tahu soal hantu….?” pertanyaan itu membuatnya penasaran, otaknya berputar untuk mencari tahu soal hantu yang ada di ruangan ini, namun Ia menggelengkan kepala sebagai tanda tidak tahu, dengan nakal Jake meniru terkaman singa kepadanya, “yaitu hantu di bawah kasurmu!!” teriaknya sehingga Marina berlari ketakutan, Ia berteriak ketika kakinya bergerak dengan cepat, hatinya senang untuk bermain dengan sahabatnya, di rumah ini, mereka itu sahabat, namun mereka seperti saudara walau beda keluarga, mereka tadalah keluarga yang lengkap di rumah besar.
Malamnya, hujan turun dengan deras, sekumpulan keluarga berkumpul di ruang tengah, biasanya mereka melakukan aktivitas masing\-masing, namun pada malam ini lampu\-lampu mati, cahaya kecil yang panas menyala diatas piring, mereka menatap bayangan yang besar dari cahaya kecil, “Tiba\-tiba, ada suara aneh dari balik lemari pintu Claudia, Ia memberanikan diri untuk mencari tahu, namun ketika Ia membukanya, tidak ada siapa\-siapa, dan saat Ia membalikkan badan, Ia melihat……” Mereka penasaran dengan cerita dari Jason.
“Boneka beruangnya…..
Berdiri!!”
Semua orang di sekitarnya berteriak ketakutan, termasuk Marina, Ia terus memeluk bonekanya, lalu suasana horor itu kembali ramai dipenuhi dengan suara tawa, begitupun Jason, mereka tertawa setelah mereka teriak akibat cerita hantu darinya, “Ya ampun, Tuan Jason, ceritamu seram sekali, jantung saya hampir ingin keluar!” tawa Nona Emily, juga ada yang memperagakan teriak mereka satu sama lain, kecuali gadis itu, Ia tetap meringkuk dalam ketakutan,
“Ayah… apakah tuan beruang akan hidup?
Aku takut….”
Ia terisak, sehingga pembantunya memeluknya dengan penuh kasih sayang,
“Nak, tidak ada hantu, dan itu hanya karangan Tuan Jason”
Jake tersenyum dan mendekatinya yang tengah ketakutan
“Tentu saja, Marina!!”
“AAAAHHHH”
Nona Emily menatapnya dengan serius, “Jake, jangan lakukan itu, lagipula kau juga takut kan….?” ejeknya.
“Tidak Ibu, Jake adalah kesatria yang berani….” Ucapnya dengan lagak berani.
Tiba-tiba, petir berteriak, mengeluarkan suara yang keras dan cahaya yang terang sekali hingga terlihat dengan jelas kilatnya, langit sedang marah, dan Jake langsung berlari bersembunyi, melihatnya takut, mereka langsung tertawa, “Makanya, jangan berlagak seperti kesatria yang berani kalau kau sendiri takut, petir saja takut!!” ejek Marina setelah kembali dari rasa takutnya, Jake tersipu malu dan menutup wajahnya dengan bantal.
Marina bersiap untuk tidur, pakaian tidurnya Ia kenakan, kamarnya gelap, hanya disinari dengan cahaya kecil, lilin itu mengerjakan tugasnya dengan baik hingga Ia menghembuska api terakhirnya, ketika Ia hendak tidur, Ia melihat tuan beruang dengan teliti, Ia terus menggoyangkan tubunhya untuk memastikan bahwa Ia tidak memberikan respon untuk bergerak dan selalu menjaganya untuk tidur,
“Tuan beruang, lindungi aku dari hantu”
dan matanya pun terpejam.
__ADS_1
Angin ribut bertiup dengan kencang di bumi Edensor, pohon\-pohon bergoyang mengikuti gerak angin, tak hanya itu, gorden putih milik sang gadis itu ikut menari dengannya, di dalamnya, Marina tengah meringkuk di dalam selimutnya, karna udara dinginnya hujan membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak, di dalam tidurnya, Ia membayangkan wajah sang Ibu yang tersenyum di pesisir pelabuhan, mengajaknya untuk menanti suaminya bersama, “Marina…..” penggilnya dengan mengayunkan tangan, Ia yang berada di jalanan langsung berlari menghampirinya, wajah senyumannya tampak dari wajah kecilnya, sang Ibu menyambutnya dengan tangan terbuka.
“Ibu…..
Aku merindukanmu….
sungguh, Aku merindukanmu”
Ketika Ia mendekatinya, Ia menghilng menjadi debu yang bertebangan mengikuti angin laut, sehingga Ia tak sempat memeluknya, malaikat tak bersayap itu meninggalkannya, air matanya keluar dengan deras, sambil melihat kapal\-kapal yang berlayar, nafasnya tersengal\-sengal.
“IBUUUUU”
Marina terbangun dari tidurnya, matanya terbelalak, dan Ia sadar bahwa itu hanyalah mimpinya, “Untung mimpi” gumamnya, lalu Ia mencoba untuk kembali tidur, namun Ia mendengar suara ketukan dari jendela, Ia mulai penasaran dengannya sehingga Ia menghampiriri jendela itu, tetapi tak ada orang yang berada di luar jendela, “Siapa yang mengetuk jendela di tengah malam?, aneh sekali”, gerutunya, dan Ia kembali ke kasurnya dan memenjamkan mata, “semoga ini mimpi indah”, Marina pun kembali tidur.
Malam itu gelap, di pelukannya terdapat boneka beruang coklat, berpita biru di lehernya, itu melepas pelukannya, boneka itu berdiri disampingnya, lalu Ia berjalan di atas tubuhnya, dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut, Ia melihat wajah pemiliknya dengan mata dari manik\-manik, “Tidur dengan nyenyak, Marina” ujarnya, Ia duduk diatasnya sambil melihat jendela yang sedang menangis, kaki lembutnya bergoyang dan tak sengaja mengenai pahanya sehingga Ia mulai terbangun, Marina mencoba untuk duduk diatas kasurnya, dan mendapati bonekanya berdiri dihadapannya dengan senyumannya, pandangan yang samar mulai terlihat dengan jelas, bentuk dan warna boneka itu, melihatnya berdiri, seketika Ia berteriak dan melemparnya dengan bantal di sampingnya, “Bonekaku dirasuki oleh hantu!!!” teriaknya sambil melempar dengan bantal.
“Marina, kau tidak mengerti” ujar beruang itu
“Apa yang tidak aku mengerti denganmu?!
kau itu dirasuki hantu,
ada arwah yang ingin bermain dengan boneka ku!!”
Ia mencoba menghampiri gadis itu yang sedang ketakutan, walau Ia menyerangnya dengan bantal, boneka itu tetap menghampirinya untuk membenarkan pernyataannya.
“Marina, aku adalah tuan beruang, aku itu dibuat oleh kasih sayang ibumu dan aku tidak dirasuki oleh hantu dari pikiran bayi-mu!
dan aku tidak dimainkan oleh hantu,
tetapi aku bergerak dengan sendirinya
karna aku mendengar suara hatimu,
kudengar, kau memintaku untuk menjagamu dari mimpi buruk”
Sontak Ia terdiam, “Menjagaku???” tanyanya dengan penasaran, “Tentu saja, aku adalah tuan beruang, penjaga mu dari mimpi buruk, dan tentu saja kau tidak percaya dengan hal ini bukan?”, Marina menatapnya dengan mata besarnya, Ia hanya mengangguk, dan Ia kembali untuk berfikir, Ia berjalan mondar-mandir untuk mencari cara agar Ia percaya dengannya “Oke.. kita luruskan ini, kau pertama kali melihatku hidup?”
Ia mengangguk,
“Oke, aku hidup karna aku bisa mendengar suara hatimu, dan kau tahu bahwa imajinasi anak-anak seperti mu itu sangat liar, bahkan kau membayangkan bahwa aku hidup menjadi pangeranmu, apakah benar?”
__ADS_1
“Iya….”
“Dan, jika aku pukul kau, apa kau merasa sakit” kemudian beruang itu menampar wajahnya, Ia merasa sakit, “Hei… sakit sekali” keluhnya, mendengar ucapannya, Ia terkejut dihadapannya, Marina memiringkan kepalanya kearah kanannya, “Aku….nyata!! akhirnya Ia bisa melihatku!!!” beruang itu senang, dan memeluknya, “dan sekarang, tidurlah, sebelum ayahmu tahu” perintahnya sambil menarik selimutnya, langsung Ia membaringkan badan dan memeluknya, “Selamat tidur, Marina”.