Bayangan Seorang Anak

Bayangan Seorang Anak
Janji yang Terikat dari Benang Merah Hati


__ADS_3

Malam hari kali ini tidak memanggil burung hantu untuk bernyanyi meramaikan kegelapan, sang dewi menutup diri dengan awan gelap, suasana sunyi di rumah besar di tengah lahan hijau nan luas, mereka sedang makan malam, namun kali ini tidak ada yang berbicara, mereka mengunyah dan memasukkan sepotong roti kedalam mulut mereka, hingga tiba-tiba terdengar suara ******* dari mulut bocah lelaki itu, mereka menengok ke arahnya, “Jake, ada apa? kau tidak melanjutkan makanmu??” tanya Nona Emily dengan nada penasaran, Ia menatap ibunya dengan khawatir dan gelisah, “Ibu, Ayah, Tuan Jason, apa Marina bisa bertahan??” tanyanya, Ia termenung mendengar pertanyaan itu, “Marina anak yang lemah, dia rapuh, jika mereka memperlakukannya buruk, dia bisa tersiksa disana” gelisahnya, mereka mulai terdiam, “apa, apa saya berbicara yang salah atau buruk??” tanyanya lagi, Jason hanya menghembuskan nafas.


“Tidak, pertanyaanmu itu tidak buruk”


“Tuan masih memikirkan hal itu”


“Jejak pelakunya tak ditemukan,


bagaimana bisa dia masuk ke kantor tanpa diketahui oleh orang-orang??”


Jason terlihat gelisah, matanya tertuju pada piringnya, Ia menghabiskannya tanpa menunjukkan ekspresi apapun dan membawa piringnya ke dapur, “biarkan ini kucuci sendiri” mereka bingung dengan penasaran, Nona Emily menatap putranya dengan tatapan khawatir, “Jake, kau jangan tanya Tuan pertanyaan seperti itu, beliau sangat sayang dengan Marina” bisiknya, Ia merasa menyesal setelah ibunya menasihatinya untuk tidak bertanya tentang anak angkatnya, dengan begitu Ia merasa khawatir dengan kondisi sahabatnya dan ayah yang mengangkatnya.


Mereka pun selesai makan malamnya dan membereskan ruang makan, Jake membantu kedua orang tuanya dengan. wajah sedih, tatapannya begitu kosong, begitu pula dengan kedua orang tuanya, mereka terlihat lemas saat merapihkan ruang makan, “Emily, entah kenapa Aku juga memikirkan Marina” ujar Tuan Milo, Ia diam memperhatikan jendela, “Sebelumnya, teman-teman kami menghilang secara misterius, dan kini gilirannya”, rupanya Ia juga merindukan gadis itu, Ia mengingat senyumannya saat Ia menikmati masakannya.


“Marina sangat menyukai masakanku


dan dialah yang sering meminta lagi


Aku selalu melihatnya bagaimana Dia memintanya, walau di mulutnya penuh dengan


entah kenapa saat Ia menghilang, Aku selalu masak dengan porsi yang lebih banyak, tetapi Dia sudah menghilang”


Mendengar cerita istrinya, Tuan Milo memeluk istrinya, Jake juga berlari mendekati ibunya, mereka merasakan luka yang begitu mendalam, kehilangan orang yang dicintai memang membuat mereka menderita, tetapi mereka berusaha untuk kuat dan menahan air mata, hingga mereka mulai lega, mereka menatap satu sama lain, hingga salah satu dari mereka mulai mengangkat kepalanya, dan mengerutkan dahi.


“Kenapa Tuan Jason sangat mencintai Marina??”


“Karna dia adalah anak angkatnya, kau tahu dia mengadopsinya dari panti asuhan di kota London”


“Bukan, beliau selalu menatap gadis itu, dan beliau merasakan lebih dari sebagai anak angkatnya, namun setiap kutanya, Tuan hanya berkata bahwa ini urusan dengan orang di masa lalu, tetapi beliau sangat bertahan dengan urusan itu”


Seketika sekeluarga berlari melewati tangga atas dan menuju kamar tuannya, hati mereka berdegup kencang dan meyakinkan diri untuk membuka pintu putih di depan mata mereka.


“Ayah….”

__ADS_1


“Hiks, hiks…..”


Marina duduk terpojok di kamarnya, Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kakinya Ia tekuk, matanya sembab, wajahnya begitu kotor, rambutnya teracak, di sekelilingnya terdapat kertas-kertas dan buku-buku berserakan, semuanya sobek hingga berbentuk kertas kecil, tak menunjukkan tulisan apapun karna kecilnya kertas, nafasnya tersengal-sengal, Ia menangis dengn kencang, meminta bantuan, tetapi tak ada yang mengetahui keberadaannya, bahkan seekor burung gereja melihat kondisinya dan langsung terbang dari dahan pohon dekat jendela kamarnya, tinggi dan dekat dengan ujung pagar yang tajam, tak ada lagi caranya untuk kabur melainkan menerima kondisinya untuk saat ini.


Jason pergi ke kamarnya, beliau duduk di kasur hitamnya, sambil memegang keningnya, beliau merasa jenuh, tatapannya begitu kosong, beliau membuka jubahnya, dan berbaring diatas kasurnya, namun matanya tak tertutup, walau beliau terus bergerak, tetapi rasa mengantuk tak mendatanginya, tetap saja rasa gelisahnya tetap saja menghantuinya, lalu beliau bangkit dan berusaha untuk mengendalikan emosinya.


“Catherine….


Aku gagal menjadi Ayah yang baik….


ataupun menjadi sahabat yang terbaik untukmu…


Janji yang kubuat untukmu di hari terakhir kita bertemu itu…


kuingkari,


entah kenapa rasa penyesalan ini begitu menyelimutiku..”


Perasaan Pria itu begitu campur aduk, di tengah malam yang begitu gelap.


“Salah kenapa, kau tidak terlibat dalam kasus ini??”


Ia menghela nafas pelan.


“Kau tahu, kita berada di waktu dimana kita melihatnya untuk terakhir kalinya….”


“saat Ia diculik, Aku menggonggong dengan keras kepadanya, untuk memanggil mereka yang sedang sibuk, sekaligus melawan lelaki jubah hitam itu agar Ia tidak membawa gadis itu, namun Ia menendangku dan membawa Marina keluar dari kantor dan mereka menghilang setelah mereka terjun dari jendela”


Sky meneteskan air mata, Tuan Beruang menghampirinya dan menenangkannya, Ia mengelus kepalanya, lalu memeluk anjing besar itu sehingga Ia merasakan kehangatan dari pelukan boneka itu, sehingga rasa gelisahnya mereda, “Terima kasih”, ujarnya.


Mereka mulai memikirkan cara untuk menyelamatkannya, mereka saling bertukar pikiran, dan lari menuju kamar Jason.


Sang Ayah duduk termenung, menatap bingkai foto bergambar dirinya dengan gadis kecil yang beliau rangkul, senyuman mereka sangat indah, sambil memegang sekuntum bunga matahari, Ia tersenyum terharu menatap kenangan yang terpajang di bingkai coklat itu, hingga tak lama, terdengar suara ketukan pintu, beliau membuka pintu itu dan ternyata Para pembantunya, dan anjing besar yang sedang menggigit boneka beruang, mereka berdiri didepan pintu, mereka sedang terburu-buru, mulut mereka tutup agar tidak mengejutkannya, “Tuan, kami ingin berbicara denganmu!” seru Tuan Milo tergesa-gesa, sehingga beliau mempersilahkan mereka masuk, mereka dengan cepat memsuki kamar Jason.

__ADS_1


Mereka mengisi kasurnya, Jason yang membiarkan mereka masuk menatap mereka dengan keheranan, “kenapa kalian terlihat terburu-buru, apa yang ingin kalian sampaikan??” tanyanya penuh keheranan, Tuan Milo mulai membuka mulutnya, “Tuan, kami ingin bertanya sesuatu kepadamu”, beliau mulai duduk di bangkunya dan siap untuk mendengarkan perkataannya.


“Apa yang ingin kau tanyakan??”


“Kenapa kau begitu mencintai Marina lebih dari kau mencintai mendiang ibumu, hingga kau merasa gelisah ketika dia hilang dari pandanganmu??”


Mendengar pertanyaannya, beliau hanya duduk terdiam, mulutnya diam seribu kata, lalu menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan perasaannya, namun itu semua sudah diketahui oleh mereka.


“Jason, beritahu saja kami, tak perlu takut….”


“Lagipula, kita ini keluarga, kau selalu membantu kami walau kami terkadang tak ingin memberitahu masalahmu, kau sangat pengertian kepada kami, bahkan kepada gadis itu, kasih sayangmu kepada kami sama seperti kasih sayang kepada Marina.”


“Memang, kehilangannya juga membuat hatimu rapuh, begitu juga kami, apa kau tahu, sejak kami masih di Afrika, kami saling bercerita untuk menenangkan hati yang sedang sedih, dan kami ingin melakukan ini untukmu, jadi, tolong beritahu kami, mungkin saja kami bisa mencari solusi untuk memecahkan masalah ini”


Beliau menghela nafas, mengangkat kepala dan mulutnya mulai mengeluarkan suara.


“Marina Herlock, kalian tahu kenapa Aku mengadopsinya, karna sebenarnya 5 tahun lalu, Aku bertemu dengan Catherine…”


“Catherine siapa Tuan…?”


Jake memotong pembicaraan Tuannya, Nona Emily menahan mulutnya dengan jari telunjuknya, sebagai isyarat untuk diam, Jason hanya tersenyum kecil, “Biarlah dia bertanya, dia memang anak kecil” ujarnya, dan beliau melanjutkan ceritanya.


“Carherine, dia itu adalah teman setiaku, kami bertemu saat Aku sedang bermain bola, ketika itu tak ada yang ingin bermain bersamaku, karna Aku memang anak yang pemalu, hingga saat Aku hendak pergi ke toko, kulihar ada seorang gadis yang sedang berdiri, dia sedang memegang bonekanya, wajahnya cemberut, matanya begitu kosong, Ia tak berbicara dengan orang yang disekitarnya, melainkan hanya berdiri tanpa mengeluarkan kata”


Mereka serius mendengarkannya.


“Aku mendekatinya, Ia berbicara dengan gagap, rupanya dia bukan asli Inggris, melainkan imigran, sehingga Aku menariknya dan mengajarkannya untuk berbicara”


Jake mulai tersenyum mendengar hal itu, “Tuan Jason jatuh cinta sama Catherine untuk pertama kalinya, sejak awal bertemu saja, walau tak kenal Tuan Jason tetap saja mengambilnya untuk diajak!” Ia berteriak gembira sambil bernyanyi, Beliau mulai tersipu, pipinya mulai merah merona, sambil menyembunyikan senyumnya, “ astaga…” gumamnya, mendengar hal itu, Tuan Beruang menghampiri bocah itu, dan meletakkan mulutnya dekat dengan telinganya, “ jangan berkata seperti itu, beliau itu orangnya mudah tersipu” bisiknya, Ia langsung diam dan menunggu tuannya tenang.


“Baik, Aku mulai mengajarinya hingga Ia mengeluarkan kalimat pertamanya, “Aku, Catherine dan Aku dari Belgia”, mendengar hal itu, Aku mulai kagum dengan gaya bicaranya, halus dan lembut sekali,  tak hanya itu, walau postur tubuhnya lebih pendek dariku, tetapi dia imut sekali, dan sejak itulah Aku mulai berteman dengannya, dari tahun ke tahun aku sering mengunjungi rumahnya sepulang sekolah, dia memang kelas bawah, banyak anak bangsawan yang menganiayainya tetapi Ia tegar dan Aku mulai memutuskan untuk melindunginya.”


“Dari tahun ke tahun kami berteman, hingga suatu hari, Aku ingin sekali menikahinya, namun Ia mendatangiku dengan tangisan yang kencang, Ia berkata bahwa ada lelaki yang melamarnya dan Ayahnya merestuinya, mendengar hal itu, rasa suka ini masih saja berdebar, tetapi sebagai permintaan maafnya bahwa saat dirinya tidak ada, tolong menjaga anaknya kelak, dan di saat itulah hari terakhirku Aku bertemu dengannya”

__ADS_1


Mereka mulai meneskan air mata, “Sungguh romantis sekali….” ujar Nona Emily, sambil mengusap air matanya, “Iya, dan terakhir untuk melihat wajahnya saat Aku mendengar kasus pembunuhan di pesisir Pelabuhan, Aku mencari tahu kasus itu dan mendapati bahwa Catherine telah meninggal, penyesalanku kepadanya begitu besar, hingga saat ini tak sanggup Aku mengucapkan selamat tinggal” lanjutnya, tak lama kemudian, air matanya berlinang, mengingat sahabat sejatinya.


“Dan…., disaat itulah, ketika aku hendak mengadopsi Marina, Aku merasakan bahwa Ibunya berada di hatinya”


__ADS_2