
Jason berlari keruangannya dan melihat anak angkatnya raib, bonekanya dan peliharaannya terjatuh diatas lantai, Sky langsung bangkit dan keluar untuk mengejarnya, Ia menggonggong di depan jendela, melihat sosok hitam itu membawa Marina dengan paksa memasuki Mobil hitam dan melaju dengan cepat meninggalkannya kantor itu, Beliau mencoba untuk menenangkannya, tetapi matanya tertuju pada Mobil itu, sehingga raut wajahnya memerah, Ia memeras senapan itu dan mencoba untuk menembaknya, namun di belakangnya berdiri sosok wanita berpakaian putih, menatapnya yang sedang Marah, beliau menengoknya dan matanya terbelalak melihatnya muncul dari belakangnya.
Jauh dari kota, Mobil hitam itu mendekati rumah besar berwarna ungu gelap, beratap hitam, halaman ya penuh dengan bunga merah Tua, disampinya Terdapat papan kayu bertulis " Sekolah kepribadian Belldock khusus wanita", Marina terdiam melihat bangunan itu, " Kau mau membawaku kemana?" Tanyanya dengan nada tegas, supir hanya diam tak membuka mulutnya, mengatakan pertanyaannya, lalu Ia bertanya lagi, "Kau mau membawaku kemana, dan kenapa Kau membawaku ke sekolah kepribadian?" Tanyanya lagi, Ia menghiraukannya, sehingga Ia bertanya lagi untuk ketiga kalinya, "Hei, kenapa Kau tak menjawab pertanyaanku, Kau ingin membawaku kemana dan kenapa Kau membawaku ke sini?" Tanyanya dengan lancang, Ia berbalik menatap ya sambil menodongkan senjata.
"DIAM
ATAU KU BUNUH KAU!"
Supir itu memakirkan Mobilnya didepan pintu besar, disambut oleh wanita besar, bergaun ungu Tua, dan bertopi ungu dengan bulu zamrud yang menghiasinya, walau wajahnya sudah menampakkan garis keriput, tetapi sikapnya sudah seperti wanita bangsawan pada umumnya, supir itu membuka pintu Mobil dan menarik kerah baju Marina dengan paksa, dengan keras Ia menghadapkannya kepada wanita Tua itu, "lepaskan aku!"Teriaknya, tetapi Ia ditahan olehnya, wanita itu menatap ya dengan tatapan tajam dan sinis, "siapa gadis ini?" Tanyanya, Marina menunjukkan kepalanya, Ia merasa jijik untuk melihatnya.
" Dia adalah anak dari Catherine Lawson dan Albus Herlock, sesuai yang Kau minta, Nona"
"Menarik, anak miskin, angka kepalamu"
Marina mengabaikan perintahnya dan menundukkan pandangannya, "aku bilang, angkat kepalamu!!"
Wanita itu memerah wajahnya dan mengangkatnya paksa kepala anak itu, menatap ya dengan arah yang meledak, namun Ia tetap menatapnya dengan tatapan kosong, dengan kipas hitamnya menahan dagunya agar tetap terangkat, tersenyum jahat menatap ya, "Marina Herlock, anak kelas bawah yang diadopsi oleh lelaki kelas menengah, anak ini dari awal sudah menunjukkan ketidakhormatan kepada wanita bangsawan, anak kelas bawah memang anak yang bodoh!" Sahutnya dan meminta Pria itu untuk menyeretnya masuk.
Lorong yang besar menunjukkan lukisan para wanita berpakaian cerah, rambut mereka terikat dan memiliki perhiasan berkilau di seluruh tubuhnya duduk dengan anggun dibalik tirai yang berwarna, gadis itu berjalan tanpa menengok kekanan dan ke kiri, lalu mereka berhenti didepan pintu berwarna biru Tua, dengan gagang emas, " ini kamarmu, mulai sekarang Kau adalah murid untuk sekolah ku, walau Kau akan tetap memberontak, kami akan memberikanmu banyak hukuman, dan untuk detik ini Kau diberi hukuman, yaitu tidak boleh keluar asrama di waktu pulang!" Mendengar hal itu, Marina hanya terdiam, awalnya Ia memberontak seketika terdiam mendengar hukuman yang dijatuhkannya tanpa memberikan alasan yang jelas.
" wanita nenek sihir ini memang gila, tak masuk akal beliau memberikanku hukuman jika aku tidak berbuat kesalahan, ayah saja memberikanku hukuman saat aku keluar dari rumah tanpa ada periziznan beliau dan Tuan Milo apalagi Nona Emily. Dasar wanita gila..."
Marina di lempar ke dalam kamarnya, sehingga Ia terjatuh lumpuh dan mereka mengunci di dalamnya, sontak Ia berdiri dan mencoba untuk mendobraknya, namun Ia memiliki tubuh yang kecil sehingga Ia mulai lemah ketika Ia mendorong pintuya secara paksa, dan air matanya keluar dengan deras, Ia menangis dengan kencang seperti bayi di tinggal ibunya, dan memukul pintu ya berharap ada orang yang mendengarnya, namun hanya dirinya yang mendengarnya, mereka tak a uh dengan tangisannya.
Malamnya, Ia memegang perutnya yang terus berbunyi, meminta untuk diisi makanan, karna kelaparan, Ia hanya mengigit dedaunan yang jatuh ke kamarnya, untuk mengganjal perutnya, matanya berkaca melihat bulan purnama yang bersinar terang diantara bintang-bintang yang berkelip.
“Ayah, kau ada dimana,
Aku lapar sekali…..,
tolong Aku….”
Kerinduannya terhadap ayah angkatnya meluap dari air matanya yang brlinang, mengharapkan sebuah kebebasan dan pulang kerumahnya untuk menemui orang-orang yang dicintainya,
Keesokan harinya, Ia bangun dari tidurnya yang berada di lantai kayu dekat dengan pintu kamarnya, matanya sembab karna Ia menangis dalam satu malam, rambutnya teracak dan wajahnya pucat, tak lama pintu itu terbuka sedikit dan sepotong roti muncul dari balik pintu, Marina mengambilnya dan memakannya dengan lahap, Ia memsukkan roti itu kedalam mulutnya sekaligus, hingga rasa lapar, tak lama seorang wanita tua datang memasuki kamarnya, Marina mundur hingga tersandar ke tembok, beliau menarik pakaiannya dengan paksa, Ia berteriak sambil memberontak dengan berusaha untuk mendorong wanita itu dari pandangannya, kemudian beliau memakaikan pakaian bewarna putih dan dipakaikan dia juga baju dengan rok sambung yang lebar, bewarna hitan dengan kerah bewarna putih, tak hanya itu, beliau juga mengikat rambutnya dengan keras, beliau juga menyisir rambutnya dengan kencang, sehingga Ia berteriak kesakitan, walaupun Ia terus merasa sakit yang beliau buat, namun wanita itu menganggapnya sebagai nyanyian dari anak kecil di hari ulang tahunnya.
__ADS_1
“teriakanmu sangat indah, Aku tarik lagi rambutmu agar kau bisa mengeluarkan suaramu lebih keras….”
Setelah beliau mendandannya dengan rapih, beliau memaksanya untuk keluar dari kamarnya dengan alasan bahwa pelajaran dimulai, Ia terpaksa menuruti perintahnya dan berjalan mengikutinya, hingga ketika Ia berdiri didepan pintu, Ia memasukinya dengan wajah datar, berjalan dengan lesu dan terbungkuk karna Ia masih lapar, Marina berjalan dan duduk dibangku depan, tiba-tiba ada yang membanting buku tebal dihadapannya, “menyingkirlah dari tempatku, anak desa” seorang gadis remaja berdiri didepannya dengan mata yang sinis dan senyuman palsu, “maaf, tapi Aku sudah ada disini dari awal” ucapnya dengan halus, tiba-tiba, gadis itu membantingnya dengan keras, “tapi ini memang kursiku, semua orang tahu kalau ini memang kursiku!” teriaknya dengan lancang, Marina bangkit dan pindah ke bangku belakang, Ia duduk tanpa menatap mereka satupun.
Bel berbunyi, para siswa duduk dengan kompak ketika guru memasuki kelas mereka, serempak mereka duduk, kecuali Marina itu sendiri, diantara mereka yang duduk dengan tegak, dia sendiri yang membungkuk, tak menatap sang guru, hingga beliau menghampirinya dan memukul mejanya dengan tongkat dengan keras, “Nak, tegaklah!”, namun Ia tidak menggubrisnya, lalu beliau memukulnya, tetap saja Ia tak menggubrisnya, sehingga beliau merasa geram dan beliau pun menjewer telinga, Marina teriak kesakitan.
“Sakit!!”
“Inilah akibatnya kau bandel,
seorang wanita bangsawan selalu berdiri tegak, kau tidak diberi makan oleh keluargamu,?”
“Setidaknya kau yang harus memberiku makan, wanita jahat, dari tadi Aku hanya memakan sepotong roti, sementara mereka memakan makanan yang enak diruang makan saat aku berjalan ke kelas ini…”
“Anak miskin harus merasakan penderitaan yang lebih berat dari anak-anak kelas menengah apalagi bangsawan, walaupun mereka diangkat sebagai anak oleh mereka, tetapi status sosial tidak bisa diganti,
bagaimana pula, seperti ini cara kerja dunia, bermain sesuai dengan perannya, yang diatas berhak memperlakukan yang bawah sesuai dengan hati mereka” ketusnya kepada gadis itu.
Ketika bel kembali berbunyi, para siswa keluar, mereka tak menunjukkan perasaan dari wajah mereka, kaki-kaki mereka terpasang sepatu dengan peninggi kecil agar mereka terlihat lebih tinggi, berjalan beriringan menuju ruang makan, Marina mengikuti mereka, Ia mencoba berjalan dengan sepatu pantofel, ukurannya lebih besar sehingga setiap langkah yang Ia tapaki, Ia hampir terjatuh dari barisannya, walau begitu, tak ada yang menolongnya, mereka tak acuh dengannya sambil menatap sinis kepadanya.
“Hanya sepatu saja kau terus jatuh”
Begitulah ocehan dari anak-anak di sekolah kepribadian itu, hingga Ia berusaha untuk menahan penderitaannya sambil mencari cara untuk kabur dari sekolah untuk perempuan itu.
………
Ia menjalani waktunya di sekolah yang tak pernah Ayahnya kirim untuk belajar, penderitaan oleh seluruh guru dan siswa yang ada di sekolah tersebut, hingga suatu hari, Ia menemukan cara untuk kabur, namun hal tersebut diketahui oleh pihak sekolah itu sehingga Ia diseret kedalam ruang kepala sekolah.
Disana, seorang wanita tua duduk dibangku empuk, dibalik tirainya terdapat jendela kaca yang memancarkan sang mentari, Marina duduk diatas lantai kayu yang mengkilap, dengan dedaunan yang berserakan diatasnya, “Marina Herlock, kau mencoba untuk kabur dari penjaramu, hanya karna penderitaan yang kau alami di tempat ini,” Ia menatap kepala sekolah itu dengan tatapan kosong, nafasnya tersengal-sengal karna lelah setelah Ia mencoba untuk kabur.
“Memang, wanita kotor, tempat ini memang penjara, kau hanya memperlakukan mereka layaknya bangsawan, sementara kau memperlakukanku seperti anjing, bukan seperti manusia, apa yang kau ajarkan kepada mereka di sekolah berumah sakit jiwa?!”
“Hanya kejahatan dan mengubah mereka menjadi wanita berhati hitam, hanya itu yang kau pikirkan di kepalamu!”
Wanita itu tertawa sambil berputar menghadap jendela, dengan segelas teh di tangan kirinya, beliau melihat pemandangan berupa tebing, “kekuasaan, kesetiaan kepada raja dan ratu menjadi salah satu pilar dalam sistem pendidikan kami,”
__ADS_1
Ia terdiam, tak mampu menyerap perkataan wanita itu, tak lama matanya terbelalak melihat papan nama yang terpasang di atas mejanya.
“Penyiksaan menjadi sebuah permainan yang indah dalam sekolah ini, kami mengajarkan pelajaran ini kepada mereka untuk kuat dan melawan orang-orang yang lemah dan melukai kehidupan mereka”
Mendengar perkataan hal itu, beliau meminta pelayannya untuk membawanya ke kamarnya, Ia menurutinya dan membawa gadis itu keluar dari ruangannya, sambil meminum tehnya, Ia kembali duduk di bangkunya.
“Jason….”
“Kenapa kau masih saja mencintai gadis kelas bawah itu, walau kau berbeda darinya…
tetapi kau masih saja berteman dengannya, hingga di pernikahannya, kau masih saja mengkhawatirkan keberadaannya”
“Mengapa kau tak mencintai gadis bangsawan, anakku Ruby Belldock, padahal Dia lebih cantik dan menawan dari gadis pelaut itu”
Ia meminum tehnya dan kembali membuka buku tebal berwarna abu itu, beliau buka dan terdapat foto monokrom bergambar bocah lelaki bermain dengan kuda kayunya, berayun dengan senyuman di wajahnya.
15 tahun yang lalu….
Di kota, dua anak bermain dengan riang, mereka bermain di ruangan luar dengan tembok bewarna merah, boneka kayu bergeletak di atas lantai, seorang gadis berambut pirang dengan baju bewarna hijau muda itu memainkan boneka kayu berbentuk kesatria dengan baju pelindungnya sambil memegang pedang, “pergilah, pasukan hitam, Aku kesatria Sir Leo siap melindungi kerajaan dari kamu, kapten baja hitam” Ia menggerakkan bonekanya, di depannya seorang lelaki berambut hitam menggerakkan boneka bewarna hitam dengan tanduk kecil, Ia memakainya untuk mengejar gadis itu, “AAAHHHH Jason, Ayo, tuan kesatria, kalahkan mereka!!” Ia berlari mengejar nya, Jason berlari menghindarinya dengan senyuman yang riang, hingga mereka terjatuh diatas kasur bewarna putih karna kelelahan, walau mereka lelah, tetapi kebahagiaan mereka tetap merangkul mereka.
“Cath, kau mau jus anggur?
ibuku membuatkannya untuk kita!!”
Catherine mengangguk, dan mereka berlari ke dapur, disana seorang wanita menuangkan air bewarna ungu tua kedalam gelas, mereka mengintipnya dari balik tembok, mereka menelan ludah ketika melihat cairan bewarna itu terjun ke gelas mereka, tiba-tiba beliau mengetahui keberadaan mereka ketika beliau menengok ke arah pintu, beliau tersenyum kepada mereka, “Jason, ini jus anggur, ayo kita minum bersama, dan Catherine, kau ingin mencicipinya?” tawarnya dengan halus, mendengar hal itu, Ia mengangguk sebagai tanda bahwa Ia ingin sekali mencobanya.
Mereka pergi ke ruang makan, dan menikmati jus buatan Ibunya Jason bersama, Catherine yang pertamakali mencobanya meminumnya seteguk, ketika telah tertelan, Ia mulai menghabiskannya, matanya berbinar dan senyumannya muncul dari wajahnya setelah meminum minuman yang segar itu, “Kau menyukainya, Nak??” tanya beliau, Ia mengangguk dengan kencang dan menyadahkan gelasnya sebagai tanda bahwa Ia menikmati jusnya, melihat hal itu Jason tertawa dengan riang.
“Catherine memang menyukainya, lihat saja Dia meminta lagi jusnya padahal Dia tidak terlalu suka dengan anggur!”
“Ini enak, Aku ingin memberitahu hal ini kepada ibuku, beliau mungkin bisa membuatnya di hari ulang tahun ayahku!!”
Mereka berbahagia mendengar kegirangannya, suasana rumah menjadi ramai dengan keberadaannya di keluarga itu, Jason mulai merasakan hal yang baru saja Ia rasakan ketika berada di sampingnya.
“Catherine memang anak pelaut, namun Ia memiliki perawakan yang baik, entah kenapa jika Aku bersamanya terasa berbeda jika dekat dengan anak lain di sekolahnya??”
__ADS_1