
Pagi hari menyambut anggota keluarga untuk berkumpul di ruang makan, kue panekuk dengan saus mapel menjadi sarapan terenak sepanjang hari, Marina menyantapnya dengan lahap, mulut ya terus berkunyah karna enaknya panekuk buatan Nona Emily, Jake yang melihat ya tertawa girang, sehingga di dalam mulutnya terlihat makanan di dalamnya, tak lama ibunya memintanya untuk menutup mulut ya dan diam saat makanan berlangsung, Ia langsung menutup mulutnya dan melanjutkan makan.
Jason yang selesai lebih dahulu dari mereka mulai membereskan alat makannya, "Marina, hari ini Kau ikut ayah ke kantor," ujarnya, Marina masih saja fokus dengan makanannya, tetapi Ia mendengar perkataan ayahnya "tak biasa ayah mengajakku ke kantor, memang ya ada apa ayah?" Tanyanya sambil menyuapi potongan panekuknya, beliau hanya tersenyum, menyembunyikan maksud untuk membutuhkannya di saat yang saat genting, " Marina datang saja, jika sudah, kita makan kue di Cafe terdekat, Kau ingin waktu bersama ayah, dan ini kesempatan emasmu!", sambil tersenyum ke arah ya, Ia menatap ayahnya dengan mata berbinar.
Di kamar gadis itu, terdapat Sky dan Tuan Beruang, mereka sedang memeriksa kotak Mainan di depan kasurnya, " Apa Kau sudah cari dengan benar??"Keluhnya, anjing besar itu terus mengacak kontak berwarna putih itu, " sudah, lebih baik Kau saja yang mencarinya, jangan aku!" Ia menggigit tangannya dan menjatuhkannya ke dalam, lalu Ia menyelam ke dalam, sementara Sky menunggu ya diluar.
" Apa Kau sudah menemukan ya??"
" Belum, disini gelap sekali"
Saat Ia menunggu, Perlahan sosok gadis berpakaian hijau itu mendekat, hingga Jan tung anjing itu berdegup dengan kencang, matanya terbelalak ketika Ia melihat Marina tiba-tiba muncul dari belakang tubuhnya, dengan menunjukkan wajah lucunya, Ia tertawa dengan riang melihat peliharaannya diam membeku, tubuhnya terjatuh saat tawa itu meledak dari dirinya, " astaga, Marina Kau membuat ku terkejut saja, jantungku hampir saja lepas.!" Kesalnya, Ia menenangkannya sambil meminta maaf, " Apa yang sedang kalian lakukan disini?" Tanyanya dengan penasaran, Ia melihat telinga boneka Beruang yang bergoyang di dalamnya, Ia angkat dan terlihat Tuan Beruang yang menatap wajahnya, tersenyum kecil, " Tuan Beruang, apa yang Kau lakukan di dalam kotak mainanku?" tanyanya lagi dengan nada jengkel.
"mencari bola"
"mencari bola?
memang ya ada apa dengan bola kalian??"
"Saat itu, Sky bermain bola, tiba-tiba Nona Emily dengan wajah marah mengambilnya dan menyembunyikannya, sehingga Ia mencarinya, dengan penciumannya yang tajam, Ia menemukan ya disini, dan mengacak-acaknya"
"memangnya mengapa Nona Emily Marah?"
Ia tertawa kecil," sebenarnya, beliau Marah karna dia berisik sekali tengah malam, memggonggong dengan bola kesayangannya" ujarnya sambil melirik kearah ya, Ia menepuk dahinya dengan resah, " pantas saja beliau marah, Kau berisik di malam yang seharusnya kalian tertidur bukan terbangun" tawanya dengan riang, Sky hanya tersenyum malu, " iya, apa Kau ingin mencarinya untukku?" Tanyanya dengan malu, Ia tersenyum dan mengacak kontak Mainan itu, hingga tak lama tangan mungilnya memegang benda bunda berwarna merah dan elastis ketika di pegang, " ini apa?"tanya Marina dengan nada ejek, lalu Ia melempar bola itu ke arahnya, anjing itu me angkatnya dengan menggigit bola itu dengan kuat dan beguling sembari menikmati Mainan kesayangannya, mereka tertawa dengan riang.
Di luar kamar, Jake berdiri didepan pintu putih itu dengan raut khawatirnya, sementara di dalamnya kecerian memanggilmu, tetapi Ia memilih untuk diam, tak lama Jason menghampirinya, " Nak, ada apa, Kau tak ingin masuk ke kamarnya?" Tanya beliau dengan nada tenang, Ia menengok ke arahnya, " Tuan, hmmm, itu..... Aku ingin bermain dengannya tetapi Aku bingung kenapa Kau ingin membawanya ke kantor, dan pernyataan itu yang tuan ucapkan kepadanya memberikan firasat yang tak enak bagiku" jawab ya dengan malu, tiba-tiba Jason mendekati mulutnya ke daun telinga anak itu, beliau membisikkan sebuah kalimat yang membuatnya terdiam, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan kata sedikit pun. Kemudian Ia memasuki kamar itu dan mengajaknya untuk pergi.
Mobil biru berjalan memasuki kota London, yang ramai dipenuhi dengan warga-warga berpakaian sutra, roknya begitu mekar hingga mereka harus mengangkatnya agar tidak mengenai tanah, keramaian mengembangkan memori Marina tentang kampung lamanya, "masih meningkat masa kecilmu?" Tanyanya, Ia hanya diam sambil memegang boneka beruangnya, Jason tersenyum kecil.
Sesampai di kantor, mereka memasuki ruangan miliknya, " ini ruanganku Nak, Kau bisa duduk disini hingga Ayah memanggilmu" tutur beliau dan meninggalkannya di ruangan itu sendiri an, Marina memperhatikan sekelilingnya, ruangan yang tak begitu luas itu membuatnya penasaran, diam-diam Ia memeriksa meja, lemari dan rak-rak yang ada di sekitarnya, " ayah sangat hebat, banyak sekali bintang yang ayah dapat" kagumnya, mata besarnya berkilau melihat nya, berbagai lencana tersimpan dengan rapih di dalam lemari kaca, berwarna emas membuat tangan mungilnya gatal untuk mengambilnya, sehingga Ia membuka pintu kaca itu dan me coba untuk menggapai bintang-bintang itu, namun tubuhnya masih kecil sehingga Ia tak dapa meraihnya, gadis berambut hitam itu mendorong kursi hingga mendekati lemari itu, kemudian Ia naik dan mengambil lencana itu satu per satu, celemek putihnya penuh dengannya, satu per satu Ia pasang hingga senyum tampak dari wajahnya.
" Cantik, ayah tak mengatakan hal ini"
" aku ingin sekali bintang ini"
" Marina, tak ada penghargaan untuk anjing?"
__ADS_1
Ia berputar dengan gembira, tawa muncul, Sky berputar dengan gembira, hingga tak lama, pintu terbuka, dibaliknya Terdapat Pria memakai jas merah, mendatangi mereka dengan senyuman yang hangat, Marina dan Sky yang melihatnya pun terdiam, tertawa pelan dengan tubuhnya yang ia putar ke kanan dan ke kiri, malu, " ayah.....", Jason menghampirinya dan melihat tubuhnya penuh dengan lencana berpita merah dan memegangnya dengan lembut.
" Kau suka dengan lencana ini?"
" Iya, ayah,
Aku ingin ini"
Jarinya menunjuk ke arah bintang yang ada di celemek ya, "Kau bisa mendapatkan ini jika kamu pintar, kuat dan cepat seperti ayah" beliau mengelus rambutnya, Marina tertawa dengan ceria, kemudian Jason membawanya ke sebuah ruangan besar, Ia penasaran kenapa beliau membawanya, sehingga Ia bertanya kepada ayahnya namun beliau tak menjawabnya, " ayah, kita pergi kemana?" Tanyanya, beliau tidak menjawabnya, dan ketika pintu ruanganku itu terbuka, bangku hijau menyambut mereka, ruangannya begitu gelap, hanya ada satu lampu yang bersinar, tetapi hanya menyinari bangku itu, beliau meminta Marina untuk duduk disana, dengan polos Ia menurutinya dan duduk dengan tenang, ruangan yang gelap itu tiba-tiba menyala, di hadapannya terdapat para lelaki dengan jas yang memiliki warna yang beragam, mereka berdiri didepannya, Marina terdiam, tubuhnya bergetar, mengeluarkan Keringat dingin, Ia merasa gelisah dan ketakutan akan keberadaan mereka, dan Tuan Beruang jatuh dari pangkuannya akibat tangannya licin, sementara anjing Siberia itu duduk tanpa mengeluarkan suara.
" Kau, Marina Herlock bukan?"
Ia mengganggu pelan, mereka tersenyum dan memberikan boneka itu kepadanya.
" Nak, kami ingin berbicara denganmu, dan kamu jangan takut, kami tidak akan menyakitimu,
Tujuanmu dibawa kesini adalah, kami ingin tahu apa yang kau lihat terakhir kali saat ibumu meninggal, Kau adalah anaknya, sehingga kami membutuhkanmu untuk menyelesaikan kasus ini"
Mendengar hal itu, Marina terdiam, matanya berkaca, mereka ingin dia untuk membuka kembali masa lalunya, "apakah kalian menemukan pelakunya?" Tanyanya dengan serak, mereka menggelengkan kepala, " dengan begitu, kami berharap bahwa kamu bisa menuntun kami ke pelaku dari kasus yang kami selesaikan" ujarnya, kemudian mereka mengeluarkan buku catatan kecil dan pena dari kantong mereka, " baik Nak, kita mulai wawancara kami, Kau harus tenang untuk menjawabnya" Ia menghirup nafas untuk menenangkan dirinya.
Menurutmu ibumu itu seperti apa?"
" ibu adalah...wanita yang baik sekali, ibu suka memasak makanan untukku dan ayahku, ketika aku terjatuh, beliau menjadi penolong pertamaku, ketika sakit, beliau menjadi dokterku, dan ketika aku diganggu oleh anak-anak sekampung, beliau menjadi pelindungku, ketika Ibu marah, aku merasa dunia akan hancur....."
"Apa Kau tahu, pekerjaan ibumu itu apa?"
"Ibu bekerja di toko bunga, di dekat pelabuhan"
Mereka mencatat setiap informasi yang dilontarkan olehnya, lalu seorang polisi dengan seragam biru tua itu melaporkan kepada mereka, " kami mendapat catatan terkait pelanggan ibumu, dan setelah kami selidiki, kami menemukan bahwa Tuan Toby adalah pelanggan setiap ibumu, hampir setiap hari dia suka mendatangi toko untuk memesan bunga dahlia putih, mawar putih dan cosmos putih, apa Kau kenal dengan beliau, Toby Sawyer?"
" Kenal,Tuan Toby suka memberikan aku permen, sepatu baru, baju baru dan buku, beliau pernah bilang bahwa beliau adalah pembantu untuk keluarga Belldock, dan pada Hari Selasa Tuannya datang ke toko ini dan ternyata beliau benar, Tuan Toby datang bersama Tuan Belldock, mereka datang dengan bermaksud untuk mengunjungi kami, Tuan Belldock suka sekali mengajak Ibuku ke sebuah restoran, dan mengunjungi ke rumah kami"
" Apa Kau tahu kapan kalian pertama kali bertemu dengan Tuan Belldock?"
" Pertama kali sejak beliau datang bersama pembantunya, setelah itu, setiap 2 minggu sekali, beliau datang ke rumah kami untuk menanyakan kondisi kami"
__ADS_1
" Apa Kau melihat tingkah lakunya saat berada di rumah?"
" Beliau setiap datang suka mengelikingi sesi rumah,
dan Aku bingung mengapa beliau selalu membuka album foto miliknya, entah apa yang Ia cari, dengan belati di tangan kirinya"
Mendengar perkataannya, mereka mencatat dengan serius, tangan mereka cepat menggerakkan pena, setiap pertanyaan mereka lontarkan Ia jawab dengan detail, begitu mereka mulai me lontarkan pertanyaan terakhir, Sky yang berada di sampingnya mulai menggonggong, Ia meminta kepada mereka makanan, sehingga mereka memberikan biskuit untuk menenangkannya.
" Baik, Marina ini pertanyaan terakhir untukmu, tetapi Kamu harus tenang dan jujur, jangan menambah ceritamu dan gugup, apa Kau siap?"
Marina mengigil, matanya terbelalak melihat mereka siap untuk mendengarkannya," ayah, tolong teman aku,...." gumamnya, tak lama di belakang mereka muncul Tuan Jason yang sedang melihatnya diwawancara, tersenyum sambil mengepal tangannya dan mengangkatnya, "semangat....," begitu lah suara bisikannya, terdengar di dalam hatinya, sehingga Ia merasa percaya diri untuk menyelesaikan wawancara yang dia hadapi.
" Siap,”
" baik, ini pertanyaan terakhir, ibumu ditemukan tewas di depan pintu rumahmu, dan kudengar dari salah satu warga di sekitar tempat tinggalmu itu bahwa Kau menyaksikan kejadian itu, bisa ah Kau menceritakan kronologinya."
Kata baru memutar pikirannya, Ia menelengkan kepalanya bahwa Ia tak mengerti maksud dari perintah yang disampaikan, " pak, kronologinya itu apa?" Tanyanya dengan nada penasaran.
" Kronologi adalah urutan waktu dalam suatu peristiwa, Nak"
" Berarti kalian memintaku untuk memberitahu waktu kasus kematian Ibuku dimulai?"
Mereka mengganggukkan kepala mereka.
"Malam itu, ketika jam mulai berdenting pukul 9 malam, kudengar suara teriak, awalnya Aku mengira itu hanya bayanganku, tetapi teriakan itu di tambah tangisan, suara itu mirip dengan ibuku sehingga Aku pergi ke kamar beliau untuk mencarinya, tetapi beliau tidak ada di kamar, dan tak sengaja kulihat dari jendela, beliau duduk dekat tepian pelabuhan, bersama orang misterius, dia berjubah hitam, dan membawa sebilah pedang, Aku berlari mencoba untuk menyelamatkannya, namun, Aku gagal, beliau telah terbunuh, tubuhnya Ia buang ke laut, pembunuh itu menengok ke arahku sambil menggerakkan Jari telunjuknya, wajahnya terdapat sayatan besar dan tatapannya tajam"
Marina diam, matanya mulai berkaca, mengingat terakhir kalinya Ia menemui ibunya, dan wawancaranya berakhir, para polisi kembali menganalisa hasil wawancaranya.
........
Marina duduk bersama Sky dan Tuan Beruang, mereka bermain di ruang kerja milik ayah angkatnya, tawa meramaikan ruangan berukuran 3x3 itu, tiba-tiba pintunya terbuka, Marina berdiri dengan pelan, Sky menggonggong dengan kencang, wajahnya begitu Marah melihat sosok berubah hitam itu memasukinya, Ia berjalan mundur dengan raut ketakutannya, matanya membelalak menatap sosok itu, kemudian bayangannya semakin besar, mendekati gadis itu dan menghilangkan bersama bayangan itu.
Jason bersama teman-temannya mendengar teriakan dari ruangannya, beliau berlari sekencang-kencangnya menuju ruangannya, dan ketika beliau mendekati ruang kerjanya, pintu sudah terbuka, wajahnya menunjukkan raut Khawatir dan segera memasukinya, tetapi beliau hanya menemukan Sky dan bonekanya, mereka terbang di atas lantai, melihat jendela sudah peach, dan meninggalkannya tali yang menggantung, wajahnya me merah ketika Jason menemukan seutas pita berwarna biru Tua.
" MARINA!!!"
__ADS_1