
“Marina, tangkap!!”
Bola merah melambung di udara, dua anak sedang bermain bola di langit yang cerah, Jake menendang bola dan Marina harus menagkapnya, Ia berlari mengikuti arah bola itu, and Ia menagkapnya dengan kedua tangan mungilnya, dan menendang kembali ke arah lelaki itu, tiba\-tiba sepatunya terlepas dari kakinya sehingga sepatu itu terlempar ke arah pria berpakaian biru tua, mengenakan topi biru tua dengan pita bewarna hitam, mengenai kepalanya sehingga pria itu terjatuh dan mengelus kepalanya yang kesakitan, dengan cepat Ia menghampiri mereka “Maafkan aku kak, Aku tak sengaja melempar bola dan mengenai kakak” Ia meminta maaf dengan kepala tertunduk malu, Ia mengira mereka akan memarahinya, namun tindakan mereka kepadanya jauh dari dugaannya, mereka tertawa dengannya “Kau melempar bolanya kuat sekali nak, kepala ku saja masih kesakitan” puji pemuda itu dengan senyum sambil mengelus kepalanya, Marina tertawa kecil, senyuman malunya diketahui oleh mereka, mereka tertawa di pinggiran jalan, tak lama pemuda itu lari meninggalkannya.
“Kak, kakak mau kemana?”
“Sekolah, pergi dulu ya…”
Marina terdiam, sambil melamabaikan tangannya, Ia mendengar kata sekolah darinya, dengan wajah penasaran Ia kembali ke halaman dan kembali bermain dengan Jake, mereka terus bermain hingga Ia bertanya kepadanya, “Jake, kau tahu apa itu sekolah??” tanyanya sambil melempar, Ia memiringkan kepalanya ke arah kanan sebagai tanda penasarannya, Jake yang melihatnya penasaran langsung menggelengkan kepala sambil mengangkat bahunya, ternyata Ia juga tidak tahu dengan pertanyaan sahabatnya, burung\-burung berkicau menambah kebingungan mereka, sehingga mereka hanya berdiam di lahan rumput yang luas, bahkan bola tetap saja berada di tangan Jake, dan mereka berlari menuju rumah mereka.
Rumah besar itu tak memberikan suara orang dewasa, kaki\-kaki besar itu tak menampakkan jejaknya, hanya dua anak kecil yang berdiri di tengah ruangan luas, diam tak tahu apa yang mereka lakukan, hingga mereka memunculkan senyuman dan langsung mereka berlari di sekitar nya, berkeliaran entah kemana mereka pergi, ke kamar, kamar mandi, ruang kerja, dapur, perpustakaan dan tentu saja halaman belakang rumahnya, hati girang mereka meliarkan kedua anak kecil itu, merasa bebas dari tekanan orang dewasa, “Ayah, Nona Emily, Tuan Milo dan yang lain tak ada disini, hanya Aku dan Jake, terasa rumah ini milik kita!” girang Marina sambil melempar bantal diatas sofa, mereka melakukan perang bantal, pakaian biru mudanya mengembang seiring Ia melompat di atas lantai, anak\-anak menjadi bahagia ketika ruangan besar mereka hanya diisi oleh mereka.
Tak lama, perut seorang anak berkulit hitam itu berbunyi, seakan mereka meminta mainan untuk dicerna, Ia menepuk bahu seorang gadis yang tengah duduk di atas sofa bewarna merah sutra itu, “Marina, kita belum makan dari tadi, mari kita makan” ajaknya, Marina menatap nya dan memegang perutnya, merasa sama dengan sahabatnya, Jake, Ia merasa lapar, “ Jake, aku lapar sekali, ayo kita makan”, ajaknya.
“Tadi itu yang aku katakan kepadamu, Marina….”
“Karna lapar, kau galak, ayo kita makan dulu sebelum marahmu meledak”
Marina menepuk bahunya dan berlari menuju dapur, Jake tertawa dan mengejarnya, “Baik, marahku meledak, menjadi singa ganas!!!!” Kedua anak itu tetap bermain walau mereka lapar.
Dapur diacak oleh mereka, yang sedang kelaparan, lemari mereka periksa satu persatu, memeriksa setiap isi toples, “apa kau menemukan makanan???” tanya Marina kelaparan.
“Belum, ada permen,”
“Ayah melarang kita untuk makan permen, bahkan Nona Emily juga,”
Mata mereka membayangkan marah mereka, wajah mereka yang merah terpampang di pikiran polos mereka, hingga mereka terdiam, tangannya bergetar seiring wajah kedua orang tua mereka menghantui pikiran mereka, “Jake, jangan mengambil itu….coba cari makanan yang lain” Marina membuka lemari di bawahnya, Ia buka dan menemukan toples berisi gandum, “Jake… ada gandum, kita makan ini saja” ajaknya, mereka menatap gandum\-gandum itu, dan memutuskan untuk memakan gandum itu, Jake mengambil sebotol susu dari kulkas, sementara Marina mengambil dua mangkuk, sendok dan gelas, Ia menatanya di meja makan, setelah Ia tata, pikirannya melayang, Ia mengingat meja kecil di tata dengan peralatan makan dengan rapih, tak hanya itu, Ia melihat sosok wanita dan sosok Pria yang duduk di bangku itu dan memanggilnya untuk makan.
“Marina….
Ayo makan….”
Air matanya ingin keluar namun Ia berhasil untuk menahannya, merasa bahwa ini bukan waktunya untuk menangis, dan Ia menatap sahabatnya dengan senyuman manis, mereka memasukkan gandum itu kemudian memasukkan susu kedalam mangkuk, ketika sudah siap mereka menikmatinya, mereka memakan dengan lahap, setelah menahan rasa lapar, makanan yang ada tersedia di meja.
__ADS_1
Setelah makan mereka berlari lagi ke kamar Marina, mereka baru saja lapar, langsung kembali energetik setelah semangkuk gandum habis, mereka melompati kasurnya dengan girang, mereka bersenang\-senang hingga terdengar suara terompet dari telinga mereka, Jake melihat kearah jendela dan mendapati tuannya sudah pulang dari kerja, “Marina….” Ia melihat kearahnya, “ada apa?” tanyanya dengan penasaran, Ia turun dari kasur, Jake menunjuk ke arah jendela dengan jari telunjuknya, mulutnya terbuka ketika sosok Pria itu turun dari mobilnya. Dengan cepat mereka merangkak ke bawah ranjang, dengan rasa senang mereka, tawa kecil keluar dari mulut mereka.
‘ayah, tidak akan tahu kalau kita ada disini’
………
Lelaki itu memasuki rumahnya dan mendapati rumah besarnya berantakan, barang\-barang tak berdiri di tempat seharusnya, ruangan ynag semulanya luas kini sempit akibat rumahnya yang berantakan seakan ada angin \*\*\*\*\*\* beliung yang memporak\-porandakan seisi rumah. Matanya terbelalak kearah rumahnya, tubuhnya membeku tak bisa berkata apa\-apa ataupun bergerak, semuanya membeku seakan salju telah mengurungnya seharian, matanya berputar ke segala sisi, ‘mereka benar\-benar anak yang nakal’ gumamnya, beliau menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Marina, Ia memperhatikan sekitar kamar anak angkatnya, dan kondisinya sama dengan ruang tengahnya, berantakan, Jason melihat sekeliling dan tiba\-tiba beliau mendengar suara tawa kecil, matanya tertuju pada kasur anaknya, perlahan beliau mendekatinya dan di kasur itu terdengar suara tawa namun tak ada batang hidung yang ada.
‘anak-anak mengajakku bermain petak umpet
dan aku sudah menemukan kalian,
Marina dan Jake’
Marina dan Jake tak menyadari keberadaannya, mereka tertawa kecil, “Ayah tak tahu kita ada disini…., kita harus membuat kejutaaaaaa….!!!!!” kaki Marina ditarik keluar tiba\-tiba, kondisinya yang terlentang, langsung terkejut ketika ayahnya menemukannya di bawah kasur, matanya membelalak kearahnya, Jason tersenyum melihatnya, merasa bahwa beliau memenangkan permainan tak berencana ini, Marina yang sudah ditemukan langsung tertawa kecil, Jake juga tertarik keluar setelah sahabatnya keluar terlebih dahulu, “Halo…Marina dan Jake”.
“Kenapa, kau juga mengacaukan seisi rumah?!”
“Tidak, kau yang memulainya, Marina!”
Mereka menuduh satu sama lain, “Kalian berdua salah, kalian bermain dengan barang yang seharusnya tak boleh dipakai untuk bermain, kalau ada yang jatuh terus pecah, bahaya\-kan? nanti Nona Emily, Tuan Milo, atau mungkin siapa saja bisa saja terluka!!” marahnya, kedua anak itu tertunduk menyesal, “Maafkan kami, ayah, kami tak akan melakukannya lagi…..” mereka menyesal dengan perbuatannya, sehingga amarah sang ayah mereda dan menunjukkan senyumannya, “Oke, lain kali jangan diulangi lagi, dan kalian bertanggung jawab disini untuk membersihkan kekacauan yang kalian buat hari ini” mereka langsung diam membeku ketika melihat seisi rumah yang berantakan akibat kesenangan mereka yang melewati batas, mereka menelan ludah, “kalian harus segera membersihkannya sebelum Nona Emily dan Tuan Milo datang, mereka akan marah dengan kalian”, mendengar hal itu, mereka langsung mengambil sapu dan membersihkan seisi ruangan dengan cepat. Jason tertawa melihat kelakuan mereka yang panik secara tiba\-tiba.
Malam hari datang, menyambut sang dewi dan anak\-anaknya, sekumpulan keluarga melakukan aktivitas mereka, Nona Emily sedang merajut, Tuan Milo memperbaiki mainan kayu milik anaknya yang rusak, Milo dan Marina bermain boneka, kesibukan mereka memaku mereka untuk tak berinteraksi hingga salah satu diantara mereka mulai mengeluarkan suara, gadis berambut hitam itu mendekati ayahnya dengan polos, menarik lengan tuniknya dengan tangan mungilnya sambil menggendong tuan beruang, “Ayah…..” Jason menatapnya dengan tenang, matanya teralihkan dari buku yang beliau “Ayah, ayah tahu tidak apa itu sekolah??” tanyanya dengan penasaran, “Sekolah itu tempat kita belajar, Marina, belajar tentang alam sekitar,” ujarnya, “Lalu, apa Marina boleh sekolah??” tanyanya lagi, seketika semua menengok kearahnya, Ia bingung kenapa dengan kata ‘sekolah’ yang Ia lontarkan, “Marina, sebenarnya tak ada sekolah untuk anak sepertimu” kata Nona Emily jujur, Ia mendengarnya, “dan sekolah di Inggris semuanya untuk kelas bangsawan, dan jika ada untuk anak sepertimu ataupun Jake, mungkin tak sebagus milik mereka” lanjut suaminya.
“Memangnya, kenapa sekolah hanya untuk pangeran dan putri yang ada dalam cerita dongeng??”
“Sudah aturan negara, nak”
Marina tertunduk, dan Ia kembali bermain dengan sahabatnya.
Jason yang melihatnya mulai merasa campur aduk, Ia ingin menyekolahkan anak angkatnya namun Ia tak menemukan sekolah untuknya, dan pikirannya kembali kearah buku itu.
__ADS_1
Marina terbaring diatas kasur empuknya, membayangkan bangunan yang dipenuhi dengan anak\-anak yang memegang buku, pakaian yang sama, dan senyum dan tawa yang sehati, matanya berimajinasi tentang sekolah yang ayahnya telah ceritakan, Ia bermimpi dengan mata terbuka, bukan tertidur.
‘sekolah……
ayah tahu artinya
apakah Ayah pernah kesekolah,???
Marina masih saja penasaran dengan ayahnya, apakah ayahnya pernah bersekolah, tak hanya itu Ia juga bertanya kepada tuan beruang, “Tuan beruang, menurutmu, ayah pernah bersekolah atau ibu mungkin?” sambil mengangkatnya dengan polos, boneka beruang berpakaian seperti pelaut itu melayang di udara seiring gadis itu mengangkatnya, hingga matanya mulai mereasa lelah, boneka itu terjatuh diatas badannya dan meringkuk di atas tempat tidur, dengan mimpi indah yang bersiap untuk masuk, Marina kini tertidur, gadis kecil dimasuki peri\-peri mimpi indahnya dan menyambut nya dengan hangat.
Jason membuka pintu kamarnya dan mendapati anak angkatnya tertidur tanpa ada selimut yang menutupi tubuhnya, beliau tersenyum dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut, lalu Jason mencium keningnya, hingga Marina tersenyum di tidurnya, beliau keluar dari kamarnya dan mematikan lampu kamar, dengan tenang Ia menutup kamarnya.
“Selamat tidur, anakku”
Di Kota London, sepasang bangsawan berpakaian mewah itu membaca buku coklat, didalamnya terdapat foto seorang gadis yang tersenyum, seorang wanita duduk dan membaca kertas\-kertas yang bertumpukkan, “Jadi, anak bernama Marina Harlock kini menjadi anak angkat dari Jason Frederick??” tanyanya dengan serius, seorang pelayang berpakaian hitam putih itu mengangguk, “Tak hanya itu, Jason memiliki rahasia besar antara dirinya dengan Catherine, dan saat ini mereka tinggal di Edensor dengan damai namun Marina belum saja mendapat pendidikan sama sekali” pembantu itu menjelaskan tentang anak itu, pria itu menghirup rokoknya, dan tersenyum, begitu pula dengan istrinya, kipas ungu tuanya mengibaskan wajahnya, pakaiannya bermekaran dan dipenuhi dengan renda dan sutra.
“Marina Harlock,
anak itu memang merusak posisinya Jason
Seharusnya Ia tak boleh mengangkatnya”
Pembantu itu bingung dengan tanggapan, kata-kata yang berat itu tak bisa Ia tangkap.
“Marina Harlock, anaknya Catherine, wanita kelas bawah itu tak boleh bersama lelaki penegak hukum itu, sekaligus Ia itu polisi
Sekalipun jason ingin mendobrak aturan sosial, tetapi hukum tetaplah hukum
walau Ia adalah orang yang taat dengan hukum
maka hukum sosial harus Ia pegang hingga mati”
Pasangan itu menatap lelaki itu dengan serius, sementara gadis itu dipajang di papan informasi mereka, senyuman jahat muncul di wajah mereka. Jason, seorang penegak hukum itu menjadi incaran dan anak angkatnya akan jatuh dalam jurang bahaya.
__ADS_1