Bayangan Seorang Anak

Bayangan Seorang Anak
Sahabat Baru


__ADS_3

“Marina, kau ingin ke perpustakaan?”


Seorang anak laki\-laki mengajaknya untuk bermain di perpustakaan, ia sedang duduk diatas sofa bersama bonekanya, ia hanya melihatnya tanpa memainkannya, perasaan kosong menyelimutinya, matanya kosong seperti sudah tak ada harapan, “Marina, kau ingin ke perpustakaan?” tanya ulang, tetapi Marina tidak mendengarkannya, sehingga anak itu duduk disampingnya, ia merasa khawatir dengan anak angkat tuannya, “Marina, kamu kenapa?” tanyanya penasaran, kini ia menengok kearahnya.


“Kapan ayah pulang?”


“Jika Tuan tidak sibuk, mungkin bisa sore, tapi karena kali ini beliau sibuk, mungkin bisa pulang malam atau mungkin tidak pulang selama beberapa hari”.


Mendengar jawabannya, ia menangis “Aku mau ayah, tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa kuajak bercerita”


Anak laki\-laki itu merasa menyesal atas jawaban yang membuatnya menangis, sehingga ia mengerti perasaan hati gadis itu, “Marina, aku tahu kau merindukan ibumu sehingga kau tidak ingin ayahmu pergi seperti ibumu dahulu, tetapi tuan Jason adalah orang yang bekerja dalam dunia hukum Inggris, kini ada kasus yang harus ia segera pecahkan, dan ia bekerja untuk menjaga keamanan negeri ini”



Marina terdiam, matanya menatap anak itu, “Aku tahu karna aku salah satu pembantu tuanmu” ucapnya dengan optimis, kemudian tangisannya reda dan senyum manis tertampak dari wajahnya, “ ayahmu memintaku untuk menemanimu, jadi kau mau ke perpustakaan?” tanyanya dengan senang, gadis itu akhirnya mengangguk senang.


“Iya, aku mau…..


Tetapi siapa namamu??”


Anak itu tertawa, ia lupa untuk memperkenalkan dirinya, “Namaku Jake, aku sudah disini setahun yang lalu, pembantu yang membuat makanan untuk kami adalah ibuku, orang yang mengurus kebun itu ayahku”



Jake menarik tangannya dan berlari melewati tangga dan berheti didepan pintu coklat besar, ia membuka dan mata Marina bersinar, dihadapannya, rak\-rak buku berdiri tegak, buku\-buku berjejer di rak dengan rapih, lantai perpustakan itu ditutpi dengan karpet bergaya timur tengah, motif bunga karpet itu bewarna warni, sehingga mereka takjub melihatnya. “Ini perpustakaan tuan, kita diperbolehkan membaca disini, sebelum kau ada, tuan menyuruhku untuk membaca buku, biar aku pintar, sekarang ayo kita baca buku”



Mereka melihat isi perpustakaan, luas sekali sehingga mereka bisa berlari\-larian didalamnya sambil mencari buku yang akan dibaca, Jake membawa setumpuk buku tebal keatas meja bundar, sementara Marina membawa sebuah buku, melihat setumpuk buku, Ia terdiam sekaligus merasa heran dengannya. “Uhm… Jake, kau tak jenuh untuk membaca buku sebanyak ini?!”, Jake tersenyum “Tentu saja tidak, justrunya aku merasa senang, dari dulu aku ingin membaca buku, jadinya saat aku lihat buku, aku ingin membaca semuanya” Ia merasa senang sekali hingga ia terjatuh dari bangkunya, namun ia tetap senang, Ia menatapnya yang girang, dan ia kembali ke bacaannya. Buku tentang hewan\-hewan ia baca, Jake menghampirinya, “Kau membaca buku tentang hewan, isinya keren sekali!” girangnya berlanjut.


“Kau pernah membacanya??”


“Iya, itu isinya tentang…..”


“Jangan bocorkan isinya Jake,”

__ADS_1


Ia memotong pembicaraanya, dan Ia kembali ke bangkunya dan membaca buku dengan tenang.


………


Setelah mereka membaca buku, Marina mengajak Jake ke kamarnya, Jake pun mengiyakannya dan mereka berjalan menuju kamarnya yang berada tak jauh dari perpustakaan, ketika mereka masuk laki\-laki itu merasa takjub dengan kamarnya, warna hijau cerah menyambutnya dengan hangat, “selamat datang di kamarku, Jake” ia melihat sekelilingnya, memegang perabotannya ‘kamarnya begitu bagus, warna\-warni, jangan sampai ia ke kamarku, pasti ia tak menyukainya’ gumamnya, lalau mereka duduk diatas kasur, Jake melihat bingkai foto bergambar keluarga bahagia, warna hitam putih namun tertampak wajah\-wajah yang bahagia, dan ia mengambil foto itu, ia bertanya kepada Marina dan ia menjawab bahwa itu adalah foto keluarganya dahulu, ia memberikan foto itu kepada gadis itu, dan ia menatapnya dengan rasa rindu, ia menceritakan tentang keluarganya hingga terakhir ia melihat mereka. “Aku turut berduka, Marina, tetapi kau memiliki keluarga baru disini” hibur Jake untuknya, “Terimakasih Jake”



“Jake, aku ingin ke kamarmu” Marina ingin ke kamarnya, tiba\-tiba ia terdiam, “Marina…..mungkin kita ke kamarku nanti saja…..”, “Tetapi aku mau ke kamarmu sekarang” ia memotong pembicaraan sahabatnya, ia merasa bahwa gadis yang berada disampingnya sangat penasaran dengan kamarnya, “Jangan Marina,” tolaknya


“Tapi aku mau lihat kamarmu”


“Tak usah Mar, lagipula kamarku berantakan”


“Kita rapihkan, kan kita satu rumah sekarang,”


Marina tetap memaksakan keinginannya, sehingga ia mendesah dan pergi kekamarnya yang berada di bawah tanah, sesampai di kamarnya ia melihat ruangannya hanya disinari matahari dari atas jendela, pintu kamarnya dari kayu, lantainya beralaskan semen, temboknya dari semen juga, kasurnya hanya dilapisi sprei bewarna putih, tak ada selimut dan perabotannya sudah tua, “Marina, ini kamarku, maaf agak jelek” Ia merasa malu dengannya, “Apakah ayah tahu hal ini?” tanyanya khawatir, Jake merasa malu untuk berbicara dihadapannya seketika “Sebenarnya…..kami tidak ingin mengatakannya kepada tuan, sejak kami pertama kali disini, kami menemukan kamar ini, awalnya tuan bertanya apakah kami mendapatkan tempat tidur dan kondisinya, kami menjawab iya dan kualitasnya bagus, beliau ingin meliihatnya untuk memastikannya, namun ayahku menolaknya, khawatir merepotkannya, sehingga kami membiarkan kamar\-kamar kami seperti ini dan tak pernah memberitahukannya kepadanya bahkan kepadamu” Ia menceritakannya dengan jujur sambil menundukkan kepalanya, “Walau hujan dan ketika musim salju datang ruangannya dingin, kami tidak memiliki selimut sehingga kami selalu mengandalkan pakaian\-pakaian tipis kami kami memakainya berlapis\-lapis, terkadang aku sering sakit karna cuacanya yang dingin tetapi aku baik\-baik saja” lanjutnya, Ia menahan tangisannya, seakan\-akan ia merasa baik\-baik saja, air mata ia tahan agar tak keluar, namun rasa sedihnya diketahui olehnya, Marina merasakan kesedihan dan penderitaan sahabatnya, ia memikirkan caranya agar sahabatnya merasa lebih baik.




Mereka bermain bersama di lahan hijau di halaman rumahnya, mereka berguling diatasnya, hingga rok kuningnya terselimuti oleh rumput\-rumput hijau dari halamannya, rambut hitam panjangnya dipenuhi dengan mahkota bunga, begitu pun juga dengan Jake, pakaiannya dipenuhi dengan rerumputan dan kepalanya penuh dengan bunga\-bunga bewarna\-warni, mereka tertawa bersama sambil membaringkan tubuh mereka diatas bukit hijau didekat rumah mereka, “Ternyata Jake orngnya seru” girangnya, menatap langit biru yang dipenuhi dengan kapas\-kapas putih. Kedua anak ini merasa bahagia seharian, “Langit di Edensor bagus, Mar biru cerah indah mata memandang” pujinya. “Jake, kamu orangnya jarang sekali terlihat disini, bahkan orang\-orang sepertimu jarang terlihat” Marina merasa ada hal yang tak biasanya ia lihat, ia merasa bahwa orang\-orang seperti Jake jarang muncul di rumahnya, “Oh iya, aku lupa kalau sebenarnya aku bukan orang asli Inggris” kata nya sambil menunjukkan giginya.


“Kamu memangnya dari mana?”


“Aku dari Afrika”


“Dimana Afrika?” tanyanya penasaran


“Jauh sekali, kau harus berlayar dulu untuk kesana, dan lagipula aku disini sebagai imigran”


“Imigran??” Marina merasa bingung dengan perkataanya, bahkan itu merupakan kata baru baginya.


“Imigran itu orang yang pindah dari negara asalnya ke negeri orang untuk bekerja dan tinggal”

__ADS_1


“Ohh, jadi kau tinggal di sana dan ke sini untuk bekerja bersama keluargamu, pasti seru sekali di Afrika??”


“Tentu saja, kakek-nenekku ada di sana, bedanya disana tidak ada salju dan banyak hewan-hewan seperti yang kau baca di buku”


Kemudian mata Marina berbinar “ Hewan apa saja??”


“Ada… singa, gajah, rusa, kijang, serigala, rubah, buaya, kuda nil dan masih banyak lagi”


Mereka menatap langit, “Wahh, hebat nya, suatu hari nanti aku ingin kesana ah”


Jake tertawa, ia menatap gadis itu, “Kalau kamu dari mana??” tanyanya balik, “Aku dari London” jawabnya.


“London itu seperti apa??”


“Ramai dengan orang dewasa, bajunya mewah sekali, dekat laut tapi lautnya kotor karna sampah, gedung-gedungnya mewah, dan orang-orang disana sangat royal”


“Pasti kau merasa senang?


Aku penasaran seperti apa kotanya


dan berarti, kau orang asli London,?”


“Iya, sebelum ibuku pergi ke surga”


Ia terdiam, dan kembali ke pandangannya, “Tetapi aku senang memiliki keluarga baru disini”, lanjutnya sambil melihat burung\-burung yang berterbangan, “Syukurlah…., Marina” Ia tersenyum, hingga kemudian Jake bangun dari rebahannya “Marina, karna kita satu rumah, kurasa kita adalah sahabat”, mendengar hal itu, Ia langsung bangun, melihat Jake menunjukkan jari kelingkinnya, dengan senang Ia menyambungkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sahabatnya, “Baik, kita adalah sahabat, sahabat selamanya” kini mereka mulai bersahabat setelah ucapan janji mereka ucapkan.



Bel makan siang berbunyi, “Marina, Jake, ayo makan!” teriak sang pembantu, mereka langsung bangkit dari tanah dan berjalan menuju rumah mereka, mereka merangkul satu sama lain, pembantu yang melihat mereka bersama senang, ‘akhirnya mereka berteman,’ gumamnya.


“Uhm…Jake, kau tahu tidak nama ayah angkatku?”


Mendengar pertanyaan Marina, Ia langsung menepuk keningnya karna Ia lupa, “Oh iya, aku lupa, nama ayah angkatmu adalah Jason Frederick, Kami memanggilnya tuan Jason”


“Iya, maaf tidak menanyakan ini dari awal, karna aku terlalu asyik untuk bermain denganmu, sehingga aku lupa tentang ayahku”

__ADS_1


Mereka berjalan bersama, Marina dan Jake yang memiliki perbedaan besar diantara mereka mampu menjadi sahabat karna serumah, sehingga janji mereka pun terikat untuk menjadi sahabat selamanya.


__ADS_2