
“Kau selalu saja salah, rambut sarang!!”
Seorang guru wanita memarahinya dan memanggilnya “rambut sarang” karna rambut Marina yang teracak, Ia tak merapihkan rambut sehingga mereka menganggap bahwa rambut Marina adalah sarang burung, saat belajar tentang cara jalan wanita bangsawan, mereka meletakkan buku diatas kepalanya dan memintanya untuk belajar berjalan dengan kepala yang ditumpuk oleh buku, para siswi melakukan tugasnya dengan baik, tetapi Marina tidak sanggup, Ia langsung terjatuh, tubuhnya begitu lemas, matanya sayup, tetapi gurunya menendang punggungnya dan memaksanya untuk berdiri, “Bangun, pemalas, wanita bangsawan tak pernah jatuh sekalipun!!” teriaknya, Marina pun memaksakan diri untuk berdiri, dan berusaha untuk berjalan dengan tegak. perlahan Ia coba dan menahan rasa lelahnya dan laparnya yang menusuk perut kecilnya, hingga ketika jam pelajaran selesai, Ia terjatuh lumpuh dan tak sanggup berdiri di saat mereka berdiri dengan anggun, seragam mereka berkembang dengan baik, rok mereka begitu lebar.
“Bagus sekali anak-anakku, kalian bisa berjalan layaknya putri-putri di istana”
Wajah mereka tampak senyuman bahagia, sementara beliau menengok ke arah gadis yang sedang duduk lumpuh, dengan wajah masam.
“Dan untuk Marina Herlock, cara jalanmu begitu buruk sekali, tak mencerminkan bangsawan sejati melainkan wanita kotor di Kampung kumuh,
“ dan kami sangat membenci mereka dan mengharapkan kematian mereka!”
Mendengar perkataan beliau, Marina langsung bangkit dan tak ragu mengambil tongkat anggar dari ruang latihan dan menodongnya ke arah dada guru itu, “Bu, kami memang orang kotor, tetapi kami setia untuk melindungi Inggris, dan kata ‘kotor’ sangat menyakiti hati kami semua, kami ingin kedamaian, kami melawan kejahatan bukan menunggu lelaki untuk menyelamatkan kami seperti pelajaran ‘keputrian’ yang kau ajarkan, orang atas yang berkuasa dan berhak berbuat semena kepada mereka yang lemah, bukan melindunginya”
“Sekolah ini memang rumah penyiksaan,
apa kau tahu Nona ‘Belldog’ kau bukan mengajariku melainkan menyiksamu, dan Aku yakin suatu hari kebohonganmu bahwa ini adalah sekolah yang baik akan terbongkar”
Nona Belldock merasa ada pisau yang menusuk jantungnya, dengan perkataan dari salah satu gadis yang menyuarakan perasaan pada dirinya. Hingga wajahnya memerah, beliau meminta para muridnya untuk menyeretnya keluar dari sekolah, beliau menampakkan senyuman jahat, Marina hanya pasrah ketika diseret oleh mereka.
……….
Mereka membawa Marina ke sebuah mobil, lalu mereka mengikat kedua tangan dan kakinya, tak hanya itu, mereka mengikat mulutnya dan menutup kedua matanya, “Selamat bermain di neraka, gadis tak berpendidikan” ejek mereka dan meletakkannya di bangku belakang, Ia hanya menggeliat untuk melepas ikatan itu dari mereka, tetapi apalah daya baginya, ikatannya terlalu kuat baginya sehingga mobil itu berjalan dan membawanya jauh dari sekolah.
Ketika mobil itu berhenti, supir membawa Marina masuk ke rumah besar, Ia tak tahu bagaimana bentuk rumah itu, tetapi Ia mendengarkan suara laut, aromanya dan nyanyiannya begitu tak asing di telinganya.
“Laut….,
mereka ingin melemparku bukan??”
Jantungnya mulai berdegup kencang, Ia megira bahwa dirinya akan dilempar, tetapi Ia masih saja merasakan daratan dari kakinya, Ia merasakan tanah dan kemudian berubah menjadi ubin, licin dan kasar, “apa maksudnya ini, kenapa mereka membawaku kesini, tempat apa ini??” gumamnya, hatinya penuh dengan pertanyaan, hingga ketika penutup matanya terbuka, matanya terbuka, terbelalak ketika Ia melihat apa yang dihadapannya berubah, bukan sebuah sekolah melainkan ruangan yang luas, ubinnya begitu gelap, dan lampunya terbuat dari kristal indah, matanya berkilau melihatnya, “Tuan, ini gadis dari sekolah khusus wanita itu” tak lama muncullah lelaki bertubuh tambun, dagunya memiliki lipatan dan kumis putih yang melengkung, tatapan begitu tajam ke arahnya, dan berhenti di hadapannya, “Kau pasti anak yang gagal terus dalam kelas milik istriku”, Ia hanya mengangguk kecil, tanpa perasaan Ia hendak melawan pria itu, hanya saja, Ia diikat dan ujung talinya dipegang oleh supir itu, “Kau saja sama saja dengan istrimu itu, penjahat ter-edan,” marahnya, namun Pria itu tersenyum, “Aku bukan orang jahat nak, mulai hari ini kau menjadi pembantuku” ujarnya, mendengar perkataan beliau, Marina mulai dibawa ke sebuah loteng.
Marina ditempatkan di ruangan berloteng, lantai terbuat dari kayu, dan terdapat jendela besar dekat tempat tidur, Ia berniat untuk mencari cara untuk kabur, dan membebaskan dirinya untuk pulang kerumah.
Di Edensor, Jake bermain bersama Tuan Beruang dan Sky, mereka bermain bola hingga tak lama, seekor burung nuri terbang ke arah kamarnya, Ia terjatuh di atas kasur Jake, Sky lansung menghampiri burung yang pingsan, tiba-tiba matanya perlahan terbuka dan terkejut dengan seekor ajing yang lidah menjulur keluar, matanya berbinar bulu burung itu, seketika Ia terkejut, dan mencoba untuk terbang, tetapi jendela segera mereka tutup sehingga ia terjebak, “ chirp-chirp burung kecil, ayo kesini, jangan takut” Ia mencoba untuk memanggil burung yang ketakutan itu, hingga Ia memberikan biji kepadanya, perlahan burung nuri itu turun kepadanya, dan memakan bebijian, tangan Jake tak bisa menahan patukan kecil dari paruhnya, Ia merasa geli dari tangan kirinya, “Terima kasih,” ucapnya, mereka seketika membelalakkan matanya setelah mendengar bicaranya burung itu.
“Sama-sama….
tetapi apa yang membuatmu terburu-buru, apakah anjing ini mengejarmu??”
Sky mendengar hal itu langsung menjilati Jake, “Aku tak mengejarnya, lagipula aku tak suka daging burung…”
Mereka tertawa mendengar gerutunya, Sky hanya mengerut, duduk dengan wajah malunya, mereka tertawa kecil dan mendengarkan burung bercerita, “Ada yang ingin kusampaikan kepada kalian, ini penting sekali!!”
__ADS_1
“Apa…”
Burung itu mulai menceritakan apa yang dia amati panjang kali lebar, mendengarnya membuat mereka mengantuk, sehingga Jake mengambil setoples biskuit dan memakannya, tak lupa Ia membagikan kepada Sky yang selalu menjulurkan lidahnya saat kelaparan, mereka mengangguk-angguk dan burung itu mulai mengakhiri pembicaraanyya, “begitulah ceritanya” ujarnya, selelsai Ia bercerita, mereka langsung membelalakkan mata, bangkit dan berlari keluar kamar, burung nuri itu diam seribu kata melihat tindakan mereka.
“Kalian ingin kemana??”
“Kami harus beritahu ini kepada Tuan Jason!!”
“Siapa??”
“Tuan Jason, ayah angkat Marina!!”
Sesampai di depan pintu, mereka mengetuk dengan kencang, hingga Beliau membuka pintu, dan melihat mereka terjatuh dengan serempak, beliau menatapnya dengan alis terangkat, “ada apa ini?” tanyanya, mereka bangun dan memutar bola matanya ke arah tuannya, dan menarik tangannya ke dalam kamarnya.
“Tuan, ada yang ingin kami bicarakan!!”
Di rumah besar, sepasang suami istri datang, mereka duduk di ruang makan dengan anggun, mereka duduk dengan pelan, termasuk istrinya, beliau duduk dan mengibaskan gaun besarnya, di belakang mereka terdapat banyak pembantu berpakaian hitam-putih, berjejer di belakang meja makan, mereka menunduk, dan ketika makanan telah tersajikan, mereka kerap mengangkatnya dan memindahkannya dari troley menuju meja makan, Marina berusaha untuk mengangkat daging ayam, namun tubuhnya masih anak-anak sehingga Ia keberatan mengangkatnya, Nona Belldock menatapnya yang sedang berusaha itu dengan sinis.
“Anak berkepala sarang itu….
kukeluarkan dia dari sekolah, dan kini Ia menjadi pembantuku….
Melihatnya saja membuatku muak….
Saat Marina sedang menuangkan air kedalam gelasnya, tiba-tiba Nona Belldock diam-diam menumpahkan airnya ke kepalanya saat Ia sedang mengambil garpu yang jatuh, Ia berusaha untuk bangkit dan dirinya di tatapi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, sehingga Ia berjalan mundur dengan tundukan yang menyembunyikan rasa malunya, beliau menikmati makan malamnya tanpa ada rasa salah, padahal beliau sadar akan perilakunya namun beliau menyembunyikan agar tidak ada yang curiga.
“Makanan yang enak sekali….”
“Kalian pintar sekali….
namun lamban!”
Beliau berteriak kepada para pembantunya dengan nada ketus, mereka hanya menunduk terdiam, “Sabar Lilith, mereka memang lelah, biarkan mereka beristirahat”
Nona Belldock mulai merengek, begitu pula gadis yang ada di sampingnya, Ia berteriak dengan lancang kepada ayahnya, “Ayah, mereka sangat lamban sekali, bukankah pembantu yang setia kepada tuannya, mereka lamban sekali, Aku benci mereka!!”, ketusnya.
“Nak, Ruby sayang, mereka sudah bekerja setiap hari, maafkan mereka, lagipula mereka itu bagian dari keluarga kita”
“MEREKA BUKAN BAGIAN DARI KELUARGA KAMI, MEREKA HANYA ORANG-ORANG YANG DIPUNGUT DI JALANAN, BUKAN LAHIR DARI KETURUNAN BANGSAWAN”
Mendengar hal itu, Marina mulai menggenggam tangannya, Ia ingin bertindak namun Ia tak bisa melakukan gegabah kepada orang yang menganggapnya sebagai tuan setianya.
Setelah makan, Marina pergi untuk membersihkan ruang tengah, Ia mengelapnya, lalu Ruby datang dan menendang ember sehingga lantai menjadi basah, “ Kau tidak bisa bersih-bersih dengan baik?! kau tidak diajarkan adab oleh bapak-ibumu??!”, “Maaf nona, mereka sudah meninggal….” jawabnya dengan penuh rasa takut, bukan ampunan, Ia menarik rambutnya, “Siapa suruh mereka mati, lebih baik kau hidup di jalanan saja, anak kotor”, dan membantingnya dengan keras. Ia mulai geram, di dekatnya terdapat pria yang juga mengepel lantai, Ia merasa kesal dengannya, tangannya geram mendengarnya, Ia memeras lap yang Ia pegang sehingga air yang didalamnya menetes ke lantai dan membasahi sekitarnya.
__ADS_1
“dasar wanita tak beradab, apa kau tidak diajarkan adab oleh kedua orang tuamu?!
pantas saja kau dibenci oleh Tuan Jason, kau cantik tapi hatimu busuk seperti ikan busuk yang terdampar di pantai selatan,
Kuharap kau mendapatkan pelajaran atas perbuatan yang kau buat!”
Rasa benci mulai tumbuh diantara mereka, dan setelah mereka bekerja, Marina berjalan menuju kamarnya diatas loteng, hanya dirinya yang tidur disitu, tak lama seekor burung nuri bertengger di jendelanya, Marina menghampirinya dan burung itupun mulai berbicara.
“Marina, bagaimana kabarmu??”
Ia hanya mengangguk kecil, “Kau…, bagaimana kau namaku??” tanyanya balik.
“Ayolah, kau mirip sekali dengan ayah angkatmu, bisa berbicara dengan binatang ataupun boneka…
bahkan setiap apa yang kau imajinasikan, pasti bakal terwujud, kecuali jika itu terkait dengan kematian…”
Marina mengangguk, namun wajah burung yang semulanya normal seketika mulai serius, tatapanya tajam , “Bukan itu yang ingin kubicarakan!!” teriaknya.
“Lalu apa??”
“Kau harus keluar dari sini, sudah kuberitahu Jake dan yang lain, agar mereka tahu keadaanmu, dan untuk ini kau harus keluar harus ini!!”
Mendengar hal itu, Ia mulai mengintip lantai bawah, disana, Tuan Belldock duduk dan menyadari keberadaan gadis itu, “Marina, masuklah” panggilnya, Ia langsung menuruti dan masuk ke ruang milik tuannya, “Ada apa??” tanyanya.
“Kau harus keluar dari sini…”
“Sebelum Ruby dan Lilith tahu!”
“Ada apa sebenarnya ini…??”
Marina ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka, tak ingin bergerak dari kursinya, beliau menghembuskan nafas, “Nak, sebenarnya mereka ingin membunuhmu karna ayah angkatmu sangat mencintai ibumu ketimbang mereka” jawabnya, Ia terdiam, “karna mereka ingin dia, mereka rela membunuh para pembantu yang malas untuk menarik perhatiannya” lanjutnya, mendengar hal itu, Marina bangkit, matanya mulai serius
“Aku tak akan kabur, sebelum mereka mulai menyesal atas kesalahan mereka, kita lawan mereka, lagipula kau adalah suaminya dan juga ayah, kau berhak melawan perbuatan mereka, para pembantu dirumah ini senang karna kau menyelamatkan mereka, kini biarlah kita berjuang melawan mereka,”
“Tetapi Marina, Aku sudah menelepon Ayah angkatmu, dia pasti akan khawatir jika kau berada di medan perang seperti ini…”
Ia bertahan dengan pendapatnya, hingga tak lama, para pembantu mulai datang, mereka tersenyum kepada tuannya, “kalian…..
“Tak perlu khawatir kawan, kita akan memberi mereka pelajaran, dan membantu gadis ini keluar”
Mereka mengangkat tangan beliau, Tuan Belldock terdiam, matanya mulai mengeluarkan air mata, ada yang mendukungnya untuk memberi mereka pelajaran, dirinya mengeluarkan gairah semangat untuk membantu para pembantunya untuk memberontak sekaligus membantu gadis itu untuk keluar dari rumahnya.
“Baik, ayo kita lakukan!!”
__ADS_1