Bayangan Seorang Anak

Bayangan Seorang Anak
Kejanggalan


__ADS_3

“Ya ampun, benar-benar memalukan”


Tubuh kedua anak itu tersandar di belakang pohon cemara, dahan dan daunnya menutup sinar matahari dari mereka, yang sedang lelah dan gelisah setelah kelas matematika yang telah menghantui pikiran mereka, pikiran mereka kusut setelah bermain dengan soal yang tak pernah mereka temui sebelumnya, sekaligus tangan mereka tak sanggup lagi memegang buku ataupun memegang dedaunan yang jatuh, sambil menghela nafas, mereka pun mulai untuk membuka mulut mereka, “kita tak tahu soal itu dan bahkan cara mengerjakannya” keluhnya, “seharusnya, kita tanya atau mungkin bersembunyi di balik Sky” lanjutnya, Marina hanya duduk sambil mengistirahatkanpikirannya, angin sejuk bertiup dari timur mereka, meniupkan dedaunan dan jatuh di pakaian mereka, hingga tak lama, seekor serigala putih berdiri disamping mereka yang sedang tertidur.


“Hai, kalian pasti anak baru bukan?”


Mata mereka terbuka ketika satu pertanyaan itu terlontarkan kedalam pikiran mereka, ketika mata itu terbuka, seekor serigala kecil itu menatap mereka dan penuh sinar kegembiraan, matanya berbinar ketika melihat mereka yang terbangun dari tidurnya, Marina yang awalnya setengah sadar seketika sontak duduk ketika binatang itu duduk di sampingnya, “Apa?!” paniknya, ekornya bergoyang dengan kencang, penuh dengan bahagia, “Kau pasti Marina, bukan?” tanyanya, Ia meloncat dengan antusias, “Iya, aku Marina dan lelaki yang sedang tidur itu, Jake,” katanya, “kami tinggal satu rumah di dekat hutan ini” lanjutnya, Ia duduk dengan manis sambil manatapnya dengan berbinar, “Kalau kau siapa??” tanyanya dengan penasaran, “Aku, Willow, aku murid di sekolah ini” katanya dengan penuh semangat, Jake tiba\-tiba terbangun dari tidurnya, matanya menampakkan samar\-samar abu halus yang sedang berdiri di hadapan sahabatnya, sambil menggosok mata Ia bertanya setengah sadar.


“Marina, apa itu yang ada di depanmu??”


“Willow, seekor anak serigala”


“serigala, tunggu?!”


Matanya langsung terbelalak, seketika melihat sosok abu itu, “Serigala!!” kagetnya, “Marina, hati\-hati, mungkin dia akan memakanmu, walau Ia masih kecil tak berarti Ia jinak, Marina, jauhi dia!!” paniknya sambil mengambil tongkat dari ranting pohon yang Ia tempati untuk beristirahat, Jake mencoba untuk mengusirnya, namun Willow merasa bahwa dia ingin mengajaknya bermain, sehingga ekornya bergoyang dan bersiap untuk mengejarnya, Ia melolong dengan keras dan nada bahagianya keluar dari mulutnya.


“kau ingin mengajakku bermain???


Aku mau menangkapnya!!



Ayo, lemparlah, aku adalah pelari tercepat dari hutan ini!!”


Gairah semangatnya muncul, Jake yang mencoba untuk mengusirnya mulai bertanya\-tanya, Ia mengerutkan dahinya, lalu berbisik kepadanya.


‘Marina, kenapa dia bahagia, padahal aku membencinya??”


“Entahlah, aku membayangkan bahwa binatang buas ini lucu dan baik,


dan ternyata Ia ingin bermain denganmu, Jake”


“bermain, apa maksudmu?”


“Bukankah serigala itu binatang buas, Mar??”


Ia tersenyum diam, sementara Willow berguling di atas rumput sambil menunggu mereka, “Ayolah, kenapa kalian lama sekali…..” keluhnya.


“Ayo, lempar saja, kasihan dia sudah lama menunggumu…”

__ADS_1


“Mar, tetapi apa dia akan memakanmu??”


“Dia itu serigala, tetapi Ia adalah serigala yang baik,”


jika kau mengira Willow adalah serigala dan suka memakan manusia,


apakah kau akan mengira jika Sky yang merupakan anjing Siberia itu juga mirip serigala”


Mendengar perkataannya, Ia hanya terdiam dan mencoba untuk memahami perkataan sahabatnya, “benar juga yang kau katakan, Willow itu anak serigala dan dia adalah serigala yang baik, yasudah, kita bermain dengannya”



Jake memanggil Willow, seketika Ia bangkit dan berlari, “Willow, ini tongkatmu, tangkap!” Ia melemparnya sangat jauh sehingga dengan cepat, kakinya bergerak mengejar tongkat itu, Jake terkesima melihat kecepatan Ia berlari, matanya Ia coba teduhkan dengan tangannya, matanya berbinar “astaga, dia cepat sekali! mungkin jika kita balap lari, kita akan kalah!” kagumnya, Marina hanya tersenyum dengannya, “coba saja kalian balapan…” gumamnya.



Sementara mereka bermain di hutan, Sky dan Tuan Beruang berbicara dengan sang guru, mereka duduk di bangku siswa, Ia menatap mereka sambil meminum segelas teh hangat, Ia memperbaiki kacamata bulatnya, “Marina Herlock dan Jake Forger adalah anak\-anak manusia yang belum pernah bersekolah sama sekali, dan ini kali pertama mereka bersekolah”, mereka menganggukkan kepala mereka, Ia membaca hasil belajar mereka, kemudian menunjukkannya kepada mereka, wajah yang awalnya tenang seketika mulai keruh ketika melihat nilai mereka, “ini bisa dibuktikan dari nilai latihan yang kuberi tadi, mereka adalah satu\-satunya murid yang mendapatkan sahil yang tak biasa ini,” ucapnya, Tuan Beruang turun dari kepala anjing itu dan berjalan diatas meja guru, “Apa kau tahu, tuan, bahwa sebenarnya mereka mendapatkan perlakuan sosial yang berbeda, sekolah yang bagus hanya diperuntukkan anak\-anak yang berasal dari keluarga bangsawan, sementara mereka yang bukan bagian dari bangsawan itu tak dapat merasakan pendidikan, mereka hanya belajar di rumah, ataupun membantu orang tua mereka, sayangnya, jika ada sekolah khusus untuk mereka, itu pun tak bagus ataupun cocok untuknya” Tuan Beruang menjelaskan alasannya dengan panjang, Ia hanya mengangguk, “Baiklah, mereka tak hanya didukung dari proses pendidikan ini, melainkan dukungan dari orang tua itu sendiri” tutur singa itu, mereka menatap satu sama lain dengan penuh pertanyaan dan kekhawatiran yang tertulis di wajah mereka.


“Jake memang memiliki orang tua dan mereka sangat mendukung kedua anak itu, termasuk Marina tidak berasal dari rahim yang sama, namun Marina, kedua orang tuanya meninggal beberapa hari yang lalu, sehingga Ia diadopsi oleh pria itu dan tinggal bersamanya. Sejak saat itu juga, Ia sering membayangkan bahwa orang tuanya ada di sampingnya, kerinduannya dengan mereka sangat erat, bahkan Ia tak menganggap bahwa pria yang mengadopsinya adalah bagian dari keluarganya, hanya karna strata sosial yang berbeda, kami khawatir jika Ia terus merasa bahwa dirinya sendirian.”


………


Jason sedang berada di ruang rapat, bersama para rekan kerjanya, mereka membahas tentang kasus yang sedang mereka selesaikan, “pembunuhnya pintar sekali, Ia bisa mengindar dari jalur kami” keluh rekannya, “benar, serigala dalam selimut ini memang pintar membunuh orang, rata\-rata mereka yang berasal dari kelas bawahlah yang menjadi korban”, mereka memeriksa berbagai berkas, “dimulai dari kasus pertama, Catherine Lawson, ditemukan tewas di tepi pelabuhan, disaat itu juga suaminya, Albus tewas di laut”. Kertas\-kertas bertebaran di meja bundar, kala ruangan itu dipenuhi dengan berbagai tekanan seketika senyap ketika teriakan seorang wanita terdengar dari jendela, mereka langsung berlari dan melihat seorang anak teriak ketika dirinya ditarik oleh seorang lelaki bertudung hitam, mereka langsung mengambil senapan lontak dan mengejar nya.


“Tolong aku!!”


“Ada orang jahat yang ingin mengambilku!!”


Seketika mereka teriak dan menembakkan peluru ke arahnya, malangnya sosok itu melarikan diri dengan mobilnya dan meninggalkan anak kecil yang Ia lempar ke tengah jalan, kondisinya penuh dengan luka\-luka yang berada di sekitar tubuhnya, kakinya tak bisa berdiri karna benturan keras ke jalanan, Ia meraung kesakitan dengan kencang sehinga orang\-orang di sekitarnya segera menghampirinya, Jason mendekatinya dan meminta orang\-orang untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.


“Nak, apa kau baik-baik saja??”


Ia menatap polisi itu dengan mata yang sembab, tubuhnya bergidik ketakutan, namun yang membuat tergencangnya para warga dan polisi yang sedang bertugas adalah bau busuk yang berasal dari tempat mereka berdiri, pertanyaan muncul dari mereka,


“bau busuk apa ini?”


“Sampah??”

__ADS_1


“Bukan, ini seperti bau darah…”


Jason yang sedang menggendong anak yang terluka itu langsung meletakkannya di dalam mobil dan meminta pemiliknya untuk segera membawanya, sebelum mobil itu berangkat, anak itu menarik kerahnya dan membisikkan kearah telinganya.


“Tuan, Ibuku dibunuh…..


Tolong makamkan dia disamping ayahku


dan bunuh pelakunya…


dendamku terhadapnya tak bisa kutahan lagi….”


Mobil itu pergi, Jason berlari menuju kerumunan, berbicara sambil menutup hidung mereka, raut ketakutan muncul diantara para warga di sekitarnya, mereka mengerubungi seorang wanita berpakaian biru langit dengan celemek putih, kini kondisinya membuat disekitarnya, lumpuh tak bisa bertindak lagi, mulutnya mengeluarkan cairan merah, matanya terbuka lebar, tak hanya itu, tubuh wanita itu dipenuhi dengan luka\-luka dan celemek putihnya pun dilumuri dengan darah, mereka yang berada di sekitarnya ketakutan, “Apa yang terjadi???” tanyanya, “wanita ini tewas oleh sosok berjubah itu sebelum Ia hendak menculik anaknya,” jawab mereka, para polisi langsung memeriksa wanita itu, dan membawanya dengan truk untuk diinvestigasikan, “hampir setiap hari, selalu ada kejadian yang sama,” ujar salah satu dari mereka.


“Banyak sekali, ibu dari anak itu juga tewas dengan kondisi yang sama, dan kini dia berada di panti asuhan”


“Kasihan, kuharap dia segera diadopsi”


Mendengar hal itu, beliau menghampiri para warga yang sedang berbincang “mohon maaf bu, anak yang ibu maksud apa??”


“Marina Herlock, dia melihat kejadian itu”


“Bagaimana kau tahu??”


“Kulihat dia menangis dengan kencang disamping mayat ibunya, cuaca kala itu sedang hujan, sehingga tangisannya terndam oleh lebatnya air, dan kami, para tetangganya tak mengetahui kejadian itu, sehingga dengan cepat kami memanggil polisi dan Marina sendiri kami bawa ke panti asuhan”


Mereka menceritakan kejadian Marina, dan berdoa agar Ia segera mendapat pengasuhan yang layak, dan keluarg yang baik, kemudian beliau berlari ke kantornya dan membaca kembali berkas itu, dan ternyata ada halaman kertas yang tertempel dan ketika beliau buka, tertampang foto anak perempuan yang berada di samping mayat ibunya sebelum dimulainya investigasi, mereka memotretnya sebelum kasus itu dilaporkan, Jason kembali melihat dengan cermat foto itu. Apa yang dikatakan oleh warga saat itu benar, ternyata Marina ada di foto itu, duduk di samping mayat ibunya, sambil memeluk boneka beruangnya, wajahnya sembab dan basah karna tangisan langit atas kejadian pada dirinya.


“Marina…..


dialah jawaban dari semua ini!!”


Salah satu rekannya melihatnya membelalakkan mata, “ada apa, menemukan pelaku??” tanyanya, beliau menengok ke arahnya, “bukan, Aku telah menemukan saksi”


“dan dia adalah….


anak angkatku!!”

__ADS_1


__ADS_2